
...~•Happy Reading•~...
Setelah pulang ke rumah, Bu Selvine menyiapkan minuman panas untuk mereka berdua. Karena menurut Bu Selvine, tekad harus dibarengi dengan tenaga yang kuat. Agar mampu melaksanakan tekad itu.
Bu Selvine mengajak Kandara duduk di meja makan untuk minum minuman panas yang telah dibuat dan juga makan roti yang telah dibuatnya tadi pagi.
Setelah selesai makan dan minum, mereka mulai berbicara dari hati ke hati. Bu Selvine perlahan melupakan kekecewaannya kepada Kandara dan berusaha tenang untuk membagi pengalamannya ketika mengandung.
"Dara, kedepan hidupanmu tidak akan mudah, apalagi dengan kondisimu. Mama tidak bermaksud untuk mengecilkan hatimu, tetapi ini adalah kenyataan yang harus kau hadapi." Ucap Bu Selvine memulai percakapan mereka.
"Seorang wanita hamil dalam ikatan pernikahan saja tidak mudah, apalagi seperti dirimu. Kau harus menjadi Ibu dan juga Ayah bagi anak-anakmu." Kandara menunduk dan mendengar dalam diam.
"Mama tahu, kau anak yang cerdas. Jadi akan mudah memahami dan mengerti apa yang Mama katakan. Mama akan terus mengingatkanmu, oleh sebab itu dengarkan baik-baik setiap apa yang Mama katakan kepadamu." Ucap Bu Selvine lagi, karena beliau menyadari, Kandara terkejut dengan kondisinya, tetapi dia sedang berusaha tegar.
"Kehamilan bukan suatu pekerjaan, seperti pekerjaanmu. Dimana kau bisa dengan mudah menyelesaikan pekerjaan kantormu. Kau tidak bisa merencanakan atau mengatur sesuai keinginan hatimu."
"Ketika hamil, kondisi tubuh dan emosi sering tidak stabil. Semua selalu berubah-ubah, dan kau harus belajar tetap baik dalam setiap kondisimu."
"Ketika berpikir, berucap atau berlaku, kau sudah tidak bisa memikirkan diri sendiri lagi. Semua yang ada padamu akan berhubungan dan diserap oleh anak-anakmu. Jadi kau sudah harus berhati-hati ketika berpikir dan berucap sesuatu."
"Karena bukan makanan saja yang diserap oleh anak-anakmu, tetapi semua pikiran, perasaan dan suasana hatimu akan diserap oleh mereka. Karena kalian selalu terhubung."
"Jika mau marah, kau tidak bisa meletakan mereka di mana dulu lalu marah-marah, nanti setelah itu baru kembalikan mereka lagi. Kau akan terus membawa mereka kemana saja kau pergi. Jadi kau harus lebih ekstra menjaga pikiran, perasaan dan suasana hatimu." Ucap Bu Selvine sambil menatap Kandara yang masih diam tertunduk.
"Seorang anak sudah belajar tentang etika dan perilaku hidup dari Ibunya, semenjak ada di dalam kandungan. Seperti apa mereka kelak, kau harus mengajarinya semenjak mereka ada dalam dirimu."
"Ada orang tua yang mengatakan nanti setelah anak mereka lahir dan mengerti, baru mereka mengajari anaknya tentang banyak hal. Tetapi bagi Mama, tidak demikian. Seorang anak telah belajar semenjak dia hidup. Dan mereka hidup semenjak dalam kandungan ibunya."
"Jadi semua keputusan yang kau ambil untuk hidup mereka kelak, pikirkan itu baik-baik. Mau seperti apa mereka kelak, mau jadi apa mereka kelak, kau sudah mulai mengarahkan dan mengajari mereka semenjak mereka ada di dalam kandunganmu."
"Mama hanya bisa membantu mengajari mereka, ketika mereka telah lahir. Sebelum itu, hanya kau yang bisa melakukannya. Mama percaya kau sudah bisa mendidik mereka dengan baik semenjak mereka ada dalam dirimu. Karena kau adalah anak Mama yang baik." Ucapan Bu Selvine membuat mata Kandara berembun.
"Mama ada bersamamu, menerima dan mendukung semua keputusanmu. Mama akan bantu merawat anak-anakmu, cucu-cucu Mama." Ucap Bu Selvine dengan mata berembun.
...°-° Pengalaman seseorang akan berarti, jika bisa dapat menginspirasi orang lain °-°...
Bu Selvine memegang dan mengelus tangan Kandara yang ada di depannya dengan sayang dan hangat. "Jadi jangan ada rasa bersalah terhadap siapapun. Jangan merasa terhina oleh ucapan siapapun. Supaya anak-anakmu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tidak minder dengan orang lain."
"Semenjak mereka masih di dalam kandunganmu, mereka bukan saja berkenalan dengan orang tua, lingkungan atau saudara. Tetapi yang utama dan terutama mereka harus berkenalan dengan Tuhan mereka." Ucap Bu Selvine serius, tapi melihat Kandara dengan sayang.
"Ajarkan mereka untuk mengenal Tuhan dengan baik dan benar. Ajarkan mereka takut akan Tuhan. Karena Tuhanlah yang memberikan kehidupan bagi mereka." Ucap Bu Selvine sambil terus menatap Kandara dengan sayang.
"Seringlah membaca Alkitab, bernyanyi dan berdoa. Itu harus kau ajarkan setiap saat, agar mereka terbiasa dan mengerti ketika lahir dan tumbuh besar dalam tuntunan dan perlindungan-Nya." Ucap Bu Selvine, pelan.
Kandara mendengarkan semua yang dikatakan Mamanya dengan hati membunca, meluap dengan rasa syukur, karena memiliki Mama yang hebat. "Iyaa Ma, makasiii..." Kandara berdiri dan memeluk erat Mamanya dari belakang dan meletakan dagu di bahu Mamanya.
Kandara hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk semua yang dilakukan Bu Selvine untuknya. Karena dalam kondisi yang dialaminya, dia masih terkejut dan belum siap secara mental. Oleh sebab itu, apa yang dikatakan Bu Selvine membuka wawasan baru untuknya. Mau atau tidak mau, dia harus menjalaninya.
Kandara kembali duduk, karena teringat pekerjaannya di kantor. "Ooh iya, Ma. Dara akan berbicara dengan Pak Ari. Kalau tidak bisa bekerja lagi, Dara mau mengundurkan diri. Apakah Dara bisa bantu Mama bekerja di butik untuk sementara ini?" Tanya Kandara mengingat peraturan perusahan tempatnya bekerja.
"Iyaa, boleh saja. Tetapi kalau sementara ini kau di rumah saja juga ngga papa. Engkau bisa menjaga kehamilanmu dengan baik. Kita masih bisa hidup dari penghasilan butik." Ucap Bu Selvine mengerti maksud Kandara.
"Tetapi alangkah baiknya juga, kau punya kesibukan. Jangan hanya berdiam diri di rumah. Tidak baik untuk perkembangan dan kesehatan anak-anakmu." Ucap Bu Selvine, sambil berpikir.
"Karena kau seorang programmer, mungkin kau bisa bekerja dari rumah. Mungkin kau bisa membuat aplikasi atau Web dari rumah. Kau bisa bicarakan itu dengan Mala dan Toby." Ucap Bu Selvine memberikan ide.
"Iyaa, Ma. Nanti setelah bicara dengan Pak Ari dan mendengar keputusannya baru Dara bicara dengan Mas Mala dan Mas Toby." Ucap Kandara mengerti maksud Mamanya.
"Iyaaa, yang penting kau harus ada kesibukan. Karena ketika kau bekerja, anak-anakmu juga ikut belajar dari apa yang kau kerjakan." Ucap Bu Selvine lagi, dan Kandara mengangguk mengerti.
Kandara telah mendapatkan ide pekerjaan dari pembicaraannya dengan Mamanya. Jika nanti tidak diijinkan bekerja di perusahan lagi, dia sudah tahu apa yang akan dikerjakannya selama masa kehamilan dan ketika anak-anaknya masih kecil.
Kandara sudah bisa berpikir dengan baik dan fokus. Agar selama masa kehamilannya dia tetap bisa bekerja, melakukan apa dan tetap menghasilkan uang untuk keperluan anak-anaknya.
Bu Selvine dan Kandara mengakhiri hari dan pembicaraan mereka dengan menyerahkan semua kondisi yang sedang dialami dalam rencana dan penyertaan Tuhan.
Mereka berdoa bersama-sama dengan hati yang sangat terharu. Terutama Kandara, karena dia menyadari segalanya tidak akan mudah. Air matanya terus mengalir saat berdoa.
...°-° Pengalaman adalah guru yang baik, tetapi seorang Ibu yang berpangalaman adalah guru terbaik °-°...
...~***~...
...~●○¤○●~...