Me And You For Us

Me And You For Us
Behavior.



Kemudian Bu Richel melihat Darel.


"Darel, segera peluk Dara dan tenangkan dia. Jangan sampai dia pingsan di sini." Ucap Bu Richel, Darel langsung meletakan koper di tangannya dan memeluk Kandara.


"Sorriii,," ucap Darel sambil mencium puncak kepalanya sambil mengelus punggungnya. Dia tahu, kenapa Mommy menyuruhnya memeluk Dara, jantungnya berdetak tidak beraturan.


"Tenanglah.." Bisik Darel. Kandara mengangguk dan melepaskan pelukannya. Wajahnya benar-benar memerah. Kandara langsung menyapa Pak Darpha dan Pak Darpha juga memeluknya dengan sayang. Pak Darpha jatuh hati kepada calon menantunya.


'Dia seorang gadis cantik yang sederhana. Pantas Darel sangat mencintainya.' Batin Pak Darpha.


Kemudian Mikha memberikan salam dan memeluk Kandara.


"Jangan pingsan di sini, kalau kau tidak membawa minyakmu." Ucap Mikha disambut pukulan pelan di tangannya oleh Kandara. Mereka semua tersenyum. Darel bersyukur, Kandara sudah bisa mengendalikan dirinya.


Darel dan Mikha hanya membawa satu koper. Sehingga mereka hanya membawa dua koper. Setelah koper mereka telah dimasukan ke dalam mobil Kandara., Darel duduk di depan di samping Kandara. Orang tua Darel di tengah dan Mikha di belakang. Untuk menenangkan Kandara, Darel mengajaknya berbicara. Karena Darel tahu, Kandara sedang grogi bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Anak-anak tidak rewel.?" Tanya Darel.


"Yaaa.., lumayan. Mereka tidak mau ke sekolah, ketika tahu Grandma dan Grandpanya mau datang. Walau pun Omanya sudah bilang ; masuk sekolah  tapi tidak usah ikut kegiatan eks-school. Mereka tetap merayuku dan bilang; kali ini saja ijinnya."


"Dan kau ijinkan.?" Tanya Darel, tersenyum.


"Iyaa.. bagaimana tidak diijinkan. Nanti kau dan Mikha lihat saja mata popinya Efri jika sedang memohon." Ucap Kandara tersenyum.


"Astagaaa, kenapa kau bawa-bawa Mikha.? Jangankan lihat mata popinya, dia baru bilang mau sesuatu, Unclenya langsung hayoooo..." Ucap Darel tersenyum., dan mereka semua tertawa.


"Kau sudah lihat Mikha, kau belum lihat Grandmanya.. seperti kata Mikha, lebih baik kau siapkan minyak itu di dekatmu, agar kami bisa membangunkanmu." Ucap Darel, dan mereka kembali tertawa.


"Daraa, mobilmu sepertinya sudah lama, tapi terawat baik,, yaa." Ucap Bu Richel.


"Iyaa.. Mom,. Dara ganti ketika anak-anak sudah mulai besar. Karena kalau pergi-pergi bawaan mereka banyak. Sebelumnya lebih kecil, karena hanya berdua dengan Mama." Jawab Kandara tanpa curiga, sedangkan Darel sudah mengirim pesan untuk Mikha agar bisa menghentikan Mommynya. Karena dia tahu maksud dari ucapan Mommynya.


*- Status ekonomi seseorang berpengaruh dalam melihat dan menilai sesuatu -*


Sebelum matahari terbenam, mobil Kandara memasuki kompleks perumahan. Setelah mendekati rumah, sebelum Kandara membunyikan klakson, anak-anaknya telah mendorong pagar rumahnya. Karena anak-anaknya telah menunggu dan mengenal suara mobil Kandara.


Melihat apa yang dilakukan kedua cucunya, Pak Darpha dan Bu Richel tersenyum. Setelah mobilnya berhenti, Darel langsung turun dan memeluk kedua anaknya dengan sayang..


"Anak-anak Daddy tambah besar, yaa.." ucapnya sambil memeluk mereka erat.


Ketika melihat Pak Darpha dan Bu Richel turun, mereka melepaskan pelukan daddynya dan membungkuk memberi hormat kepada Pak Darpha dan Bu Richel. Tetapi mereka langsung memeluk kedua cucunya erat dan sayang.


"Wuuaaah.., kalian sudah besar sekali. Grandpa dan Grandma sudah tidak kuat menggendong kalian." Ucap Pak Darpha dan Bu Richel sambil mencium mereka bergantian. Setelah itu mereka dipersilahkan masuk oleh Bu Selvine yang sudah menunggu.


Darel melihat Efrima masih tidak beranjak dari pintu mobil


"Efrii, apa yang kau lakukan di situ., ayoo masuk." Ucap Darel.


"Daddy,, Uncle Mikha tidak ikut.?" Tanya Efrima dengan wajah sedih.


"Astagaaa,, bagaimana Uncle bisa keluar jika kau berdiri di depan pintu mobil.?" Ucap Darel tersenyum melihat putrinya. Mendengar demikian, Efrima langsung mundur dan Mikha yang sengaja belum turun, membuka pintu mobil dan langsung memeluk Efrima.


"Sama dong,,.. Ayooo,, kita masuk sebelum Daddymu kering." Ucap Mikha sambil merangkul bahu Efrima dan jalan masuk ke rumah.


"Daddy tidak bawa tas.?. Grandma dan Grandpa tidak tinggal di sini.?" Tanya Efraim, ketika melihat daddynya tidak membawa tas. Kandara juga tidak berani mengingatkan.


"Efra dan Efri mau Grandpa dan Grandma tinggal di sini.?" Tanya Pak Darpha. Kedua cucunya mengangguk kuat dengan wajah penuh harap.


"Kalau begitu, coba tanya Oma. Bisa tidak Grandpa dan Grandma tinggal di sini." Ucap Pak Darpha lagi., melihat wajah kedua cucunya. Mendengar itu, Bu Selvine langsung mengangguk ketika kedua cucunya melihat kearahnya. Mereka langsung berlari dan memeluk Omanya.


"Terima kasih, Oma." Mereka juga memeluk Grandpa dan Grandmanya.


"Terima kasih Grandpa, terima kasih Grandma." Mereka memeluk cucunya dengan sayang. Mendengar itu, Darel dan Mikha meminta kunci mobil dari Kandara untuk menurunkan koper mereka dari bagasi. Sekalian menutup pagar rumah dan menguncinya.


Setelah mereka masuk ke rumah dengan koper, Kandara mendekati mereka.


"Darel,, koper Mommy dan Daddy taruh di kamarku saja. Kalau kalian berdua di kamar atas." Bisik Kandara dan Darel mengikutinya tanpa bertanya lagi. Dia mengerti yang dimaksudkan Kandara.


Bu Selvine sudah menyiapkan minuman hangat dan kue-kue buatannya. Mereka semua duduk di ruang tamu sambil berkenalan dan mengakrabkan diri. Terutama Pak Darpha, Bu Richel dan Bu Selvine. Karena Darel dan Mikha sudah pernah bertemu.


"Karena kami tinggal di sini, jadi setelah ini kami akan bersihkan diri dan berkumpul lagi untuk  menyampaikan maksud kedatangan kami." Ucap Pak Darpha, dan semua mengangguk mengerti.


Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri. Bu Selvine dan Kandara mempersiapkan makan malam yang sudah di kirim oleh GW Restaurant di atas meja makan.


Setelah itu, Kandara naik ke kamar Efrima untuk mandi dan bersihkan diri. Semua keperluannya sudah dia letakan di kamar Efrima. Anak-anak sudah mandi dan berpakaian rapi, langsung turun ke ruang tamu.


Begitu pun dengan Mikha, dia telah turun mempersiapkan kamera. Karena dia akan menjadi kameramen untuk acara pertunangan Darel.


Setelah selesai mandi, Kandara mengenakan baju hijau lumut bermotif bunga-bunga kecil warna krem dan merah. Model lehernya bulat melebar, sehingga terlihat sekitar leher dan bahunya. Panjang gaunnya selutut dan berlengan 3/4. Sangat serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.


Dia hanya berdandan tipis, menjepit rambut ikal lebatnya dan melengkapi dandannya dengan anting mutiara hadiah dari Alm. Papanya. Tanpa asesioris lainya. Hal itu tidak mengurangi kecantikan Kandara., justru  membuat Kandara makin cantik dan anggun.


Setelah melihat semuanya sudah cukup, Kandara keluar dan mengetuk pintu kamar tamu untuk melihat Darel dan berbicara dengannya. Darel membuka pintu dan terpesona melihat Kandara di depannya.


Darel langsung memeluknya di depan pintu.


"Kau cantik sekali., aku menyukainya." Ucap Darel sambil mencium puncak kepalanya.


"Kau juga sangat tampan. Ternyata warna kemejamu sangat cocok dengan bajuku." Ucap Kandara tersenyum senang. Karena kemeja lengan panjangnya berwarna krem mewah sekali. Sehingga membuat Kandara ingin melihatnya berlama-lama.


Kandara cepat mengendalikan dirinya dari pesona Darel dan menyampaikan tujuannya kepada Darel.


"Ooh iya,,.Darel... Nanti kita akan melakukan seperti ini (sungkem) kepada orang tua kita, ya.. Ini kebiasaan yang selalu dilakukan Alm. Papa., di dalam keluarganya.." Ucap Kandara.


"Apa itu dan bagaimana caranya." Tanya Darel tidak mengerti dan Kandara menjelaskan dan memberi contoh kepada Darel.


"Oooh.., Ok,,. aku akan mengikuti caramu. Tolong kau yang menuntunku." Ucap Darel berusaha menyesuaikan diri dengan tata cara Kandara, dan Kandara mengangguk.


*- Sikap dan perilaku seseorang, menunjukan tingkat sosial dan intelektualnya -*