Me And You For Us

Me And You For Us
Punggung.



Sore menjelang malam, mereka sekeluarga telah rapi menunggu mobil yang akan menjemput mereka untuk pergi makan malam. Mereka tidak berpakaian resmi, terutama Pak Darpha, Bu Richel, Mikha dan Darel, tetapi penampilan mereka tetap elegan.


Bu Selvine, Kandara dan anak-anak ikut menyesuaikan dengan keadaan mereka. Kandara bersyukur, mereka ada memiliki beberapa baju yang lumayan baik. Sehingga tidak terlalu timpang dengan keluarga Darel.


Pak Darpha, Darel dan Mikha tetap menggunakan masker. Untuk menghindari kemungkinan adanya ganggunan. Karena mereka bertiga cukup dikenal, terutama Darel.


Setelah tiba di restsurant, Kandara menyebut namanya dan mereka langsung dilayani secara khusus. Karena Kandara pesan ruangan yang privat. Mereka diantar ke ruangan yang telah dipesan oleh Kandara.


Sebuah ruangan yang cukup luas dan nyaman untuk tempat makan malam.


Ada meja panjang dan kursi kayu antik untuk delapan orang yang cukup mewah.


Interiornya cukup bagus dan lumayan mewah. Sehingga mereka sekeluarga bisa duduk dengan santai dan nyaman, untuk menikmati makan malam.


Anak-anak duduk diantara Darel dan Kandara. Sedangkan di depan mereka Pak Darpha dan Bu Richel duduk di antara Mikha dan Bu Selvine.


Melihat putranya duduk bersama anak-anak dan Kandara di depan mereka, Pak Darpha dan Bu Richel kembali bersyukur dan terharu. Dalam hitungan hari, mereka telah memiliki penerus dari keturunan mereka.


Melihat mereka sangat serasi sebagai keluarga. Pak Darpha dan Bu Richel bersemangat untuk secepatnya laksanakan rencana pernikahan mereka. Agar orang lain tidak menghina keluarganya.


Darel menyadari, kedua orang tuanya sedang memandangnya, anak-anak dan Kandara. Dia mengerti arti tatapan kedua orang tuanya. Mereka pasti sedang terharu, dilihat dari mata mereka yang berembun. Hatinya bersyukur bisa membahagiakan kedua orang tuanya.


Setelah semua makanan yang dipesan telah disajikan dan para pelayan meninggalkan ruangan, Pak Darpha, Mikha dan Darel melepaskan masker mereka. Bu Selvine berdoa sebelum mereka makan malam bersama.


Melihat Darel sekeluarga bisa menikmati makanannya, Bu Selvine dan Kandara bersyukur. Anak-anak juga bisa menikmati makanan yang mereka pesan.


'Tidak percuma membayar mahal, jika mereka bisa menikmatinya' Kandara membatin.


Setelah selesai makan malam, mereka menikmati dessert sambil bercakap-cakap. Membicarakan semua hal yang tertunda tadi siang dan apa yang akan dilakukan di esok hari.


"Dara, alangka baiknya reservasi di sini lagi untuk makan siang kita besok,.. Dan mobil yang kita pakai sekarang, disewa lagi untuk besok., ya.. Sekalian antar kita ke Bandara." Ucap Bu Richel, karena beliau tahu besok tidak mungkin bisa masak sendiri. Masing-masing memiliki kesibukan yang perlu diselesaikan sebelum berangkat ke Seoul.


"Baik, Mom.." Ucap Kandara mengerti yang dimaksudkan Bu Richel. Dia bersyukur, Bu Richel memberikan saran seperti itu. Karena besok mereka semua akan sibuk untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.


"Oooh,, iya.. mengenai sekolah anak-anak bagaimana, apakah mereka bisa libur panjang." Tanya Pak Darpha.


"Kalau mengenai anak-anak, tadi Darel sudah bicara dengan Dara, Dad. Nanti besok Dara ke sekolah mereka untuk minta ijin dari guru dan kepala sekolah mereka." Ucap Darel, Pak Darpha mengangguk mengerti.


"Kalau Dara bagaimana, bisa cuti seperti yang kita bicarakan tadi malam.?" Tanya Pak Darpha lagi.


"Nanti besok Dara akan ajukan cuti panjang ke kantor, sekalian ke sekolah anak-anak juga, Dad.,." Ucap Kandara.


"Baiklah,.. Semoga besok semuanya lancar. Dan untuk tanggal pernikahan kalian, akan kita bicarakan setelah memdapatkan hasil dari Dara besok." Ucap Pak Darpha., yang lain mengangguk mengerti.


Setelah mereka merasa cukup membicarakan hal yang akan dilakukan besok, mereka kembali ke rumah untuk beristirahat. Ketika tiba di rumah, mereka tidak bercakap-cakap lagi, semua masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Karena besok adalah hari yang sangat sibuk bagi mereka.


*- Segala sesuatu perlu dibicarakan, apalagi sebagai keluarga -*


*((**))*


Setelah berada di kamar, Darel belum bisa beristirahat.


"Dara,, kau istirahat duluan ya.., aku masih kerja di kamar tamu dengan Mikha. Di Amerika masih siang, jadi ada yang perlu kami kerjakan." Ucap Darel dan kembali ke kamar tamu. Kandara mengangguk mengerti, dia mulai berpikir, Darel mungkin bukan musisi saja.


Sebelum istirahat, Kandara menyiapkan surat ijin cutinya dan juga surat ijin libur untuk anak-anaknya. 'Supaya besok pagi tidak terlalu repot.' Pikirnya.


Tidak lupa juga dia melakukan reservasi untuk makan siang mereka besok. Dia juga pesan mobil untuk kebutuhan mereka dari siang sampai sore ke Bandara.


"Daraa, belum istrahat.?" Tanya Darel terkejut, Kandara mengangguk.


"Aku masih menyelesaikan ini, supaya besok tidak terlalu buru-buru." Ucap Kandara sambil menunjukan layar monitor laptopnya ke arah Darel.


"Masih lama..?" Tanya Darel sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Sudah selesai ko'.." Ucap Kandara, sambil meletakan laptopnya di meja belajar Efrima.


Melihat Darel yang sudah memejamkan mata, Kandara menyadari mungkin Darel kelelahan. Dia menarik selimut dan membaringkan tubuhnya di samping Darel.


Menyadari Kandara telah berbaring di sampingnya, Darel membuka matanya perlahan dan melihat Kandara sedang memandangnya.


"Ada apa.., mmm..?" Tanya Darel sambil memainkan alisnya. Kandara tersenyum.


"Cape' sekali.?" Tanya Kandara, melihat mata Darel yang mulai memerah.


"Yaaa,, lumayan.." Jawab Darel., singkat.


"Kalau begitu, balik badanmu biar aku pijit pundakmu." Ucap Kandara, sambil mengisyaratkan dengan tangan agar Darel berbalik.


"Tidak usah, nanti setelah tidur akan hilang." Ucap Darel. Tetapi karena Kandara memaksa, Darel membalikan badannya. Kandara memijit pundaknya, dengan setengah tenaga. Ternyata pundak Darel sangat tegang dan kaku.


Beberapa saat kemudian, mulai berkurang dan terdengar suara nafas Darel yang teratur. Darel tertidur., Kandara menarik selimut dan menutupi mereka.


Kandara memeluk Darel dari belakang. Tiba-tiba Kandara terkejut, punggung Darel sangat hangat dan sangat nyaman untuk dipeluk. Kandara mendekatkan pipinya ke punggung Darel pelan dan berusaha untuk tidur.


*((**))*


Bunyi alaram membangunkan mereka. Darel membuka matanya perlahan dan hendak mengerakan tangannya, dia melihat tangan Kandara sedang memeluknya.


Darel terkejut, karena Kandara belum bangun. Bahkan bunyi alaram tidak bisa membangunkannya.


Darel mengingat tadi malam Kandara memijitnya. 'Apakah dia cape'?' Darel membatin dan hendak berbalik untuk melihat Kandara.


"Biarkan begini dulu.., sebentar lagi." Ucap Kandara, sambil tidak mau melepaskan pelukannya.


"Astagaaa Daraaa.., kau sudah bangun rupanya." Ucap Darel, berusaha melepaskan tangan Kandara dan berbalik.


"Ada apa ini.., mmmm..?" Tanya Darel bingung.


"Punggungmu sangat hangat dan nyaman." Ucap Kandara


"Hhhhhhh... Daraa.., aku kira ada apa.. Kau membuatku tertawa pagi-pagi." Ucap Darel sambil tertawa dan memeluk Kandara erat.


"Sekarang bangun, banyak yang mau dikerjakan sebelum siang. Nanti aku akan berikan punggungku, setelah semua ini selesai." Ucap Darel tersenyum mengingat ucapan Kandara.


Mereka bangun dan bersyukur, karena bisa bangun dalam segala baik. Darel ke kamar mandi dan Kandara merapikan tempat tidur. Setelah itu dia keluar kamar menuju kamar Bu Selvine untuk membersihkan wajahnya.


Setelah itu Kandara ke dapur untuk melihat dan membantu Bu Selvine menyiapkan sarapan untuk mereka sekeluarga.


Bu Selvine sudah bangun dari pagi dan sudah membakar roti manis dan roti tawar. Harum roti memenuhi dapur dan ruang makan.


*- Ada hal sederhana, tanpa biaya bisa membahagiakan orang lain -*