
Darel membuka matanya perlahan dan melihat tangan Kandara, dia mengambil tangan Kandara dan meletakan di pipinya.
"I'm.., ok.." Ucap Darel, ketika melihat Kandara masih khawatir. Darel mengelus pelan tangan Kandara.
"Marii bangun.,., dan tidur di dalam lagi." Bisik Kandara sambil mengajak Darel berdiri.
"Tidak apa-apa.., marii,,. duduk di sini." Ucap Darel sambil menepuk kursi di sampingnya. Kandara mengikuti yang dikatakan Darel, dan duduk di samping Darel. Kemudian, Darel meminta air mineral dari Pramugari untuk mereka.
Ketika Pramugari memberikan air mineral yang di mintanya, Darel melihat jam tangannya.
"Tolong siapkan makan malam, yaa.." Ucap Darel kepada Pramugari, karena sudah hampir lewat jam makan malam.
"Baik, tuan muda." Ucap Pramugari, sambil membungkukan badannya., hormat.
Mendengar percakapan Darel dan Pramugari, kedua orang tuanya dan semua yang lagi tidur jadi bangun.
"Berapa jam lagi penerbangan kita.?" Tanya Pak Darpha kepada Pramugari yang hendak menyiapkan makan malam.
"Satu jam 20 menit lagi, Pak Darpha." Jawab Pramugari.
"Baiklah,., mari kita makan malam dulu." Ucap Pak Darpha, setelah melihat jam di tangannya.
Mikha mendekati Darel dan memeriksa suhu badannya. Dia tersenyum lega, karena suhu badannya telah turun. Mikha menepuk pelan pundak Darel, sebagai ungkapan rasa senangnya.
Bu Richel juga mendekati Darel dan memegang tengkuknya, beliau pun tersenyum lega, sambil mencium kepala putranya dengan sayang.
"Syukurlah.., sudah lebih baik." Ucap Bu Richel.
"Thank u.., Mom.." Ucap Darel sambil mengambil tangan Bu Richel yang sedang mengusap kepalanya dan meletakan ke pipinya.
Kemudian Bu Richel kembali ke tempat duduknya.
"Mari kita makan sebelum mendarat." Ucap Bu Richel setelah melihat Pramugari telah menyediakan makan malam, dan mereka berdoa untuk mensyukuri makan malam mereka.
"Selamat makan semua." Ucap Pak Darpha.
"Selamat makan." Ucap mereka bersamaan.
Ketika melihat makan malam mereka di pesawat, Kandara bersyukur telah mereservasi makan malam mereka di restaurant yang tadi malam.
Walaupun makan malam tadi malam lumayan mahal, tidak terlalu beda jauh dengan makan malam mereka di pesawat.
Tetapi harus diakui, makam malam mereka di pesawat jauh lebih enak. Kandara jadi menyadari standart calon keluarga barunya.
Setelah makan dan semua perangkat makan dibersihkan, Kandara menatap keluar jendela. Dalam kegelapan malam, dia mulai menyadari, ternyata dia tidak terlalu mengenal Darel dan keluarganya.
Mungkin saja, Darel tidak terbiasa atau belum pernah tidur di tempat tidur kecil yang berukuran 120 cm. Atau belum terbiasa makan seperti yang dia lakukan di rumahnya, sehingga bisa membuatnya sakit.
Kandara semakin menghormati dan menyayangi orang tua Darel dan Mikha, karena ketika Darel sakit, mereka tidak panik atau berkata apapun tentang kondisi rumah atau makanannya.
Kandara makin mencintai dan menghormati Darel, karena mau berusaha keras mengerti dan menyesuaikan hidupnya dengan kondisi keluarganya tanpa mengeluh.
Kandara menyandarkan kepalanya ke bahu Darel yang sudah tertidur di sampingnya. Hatinya bersyukur dengan mata yang berembun.
Begitupun juga yang dirasakan oleh Bu Selvine. Ternyata kehidupan calon mertua Kandara bukan seperti orang kebanyakan. Atau orang berada yang dikenal di lingkungan sekitarnya.
Bu Selvine makin mengaggumi Darel dan Mikha, karena bisa menyesuaikan kehidupan mereka dengan kehidupan keluarga Kandara waktu pertama kali bertemu.
Karena waktu di Indonesia, mereka tidak mempersoalkan apa pun. Mereka menerima keberadaan Bu Selvine, Kandara dan anak-anak apa adanya.
Melihat reaksi Kandara, Bu Selvine jadi mengerti. Sepertinya Kandara tidak terlalu mengenal Darel dan keluarganya. Setelah bertemu pertama kali dengan Darel, Kandara hanya mengatakan, daddy anak-anaknya adalah seorang Idol boyband yang harus dijaga nama baiknya.
Bu Selvine makin memahami, sikap Darel dan mengaguminya. Karena dia tidak perlakukan dirinya berbeda dengan mommynya. Sebagaimana dia menghormati mommynya, dia juga menghormati dirinya. Sebagaimana dia sayang mommynya, dia juga sayang dirinya.
Bu Selvine mengingat Alm. Suaminya.
'Tenanglah di sana, putri kita mendapat calon suami yang baik.' Bu Selvine membatin.
Bu Selvine menatap keluar dari jendela pesawat, hanya ada kegelapan. Tetapi hatinya penuh dengan rasa syukur, karena Tuhan memberikan yang terbaik untuk putri dan kedua cucunya.
*- Berbahagialah setiap orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan -*
*((**))*
Setelah mendengar pilot mengatakan untuk memasang sabuk pengaman karena pesawat akan mendarat, Darel membangunkan Kandara yang sedang bersandar di bahunya.
"Dara,, bangun.. sebentar lagi mendarat." Bisik Darel sambil menepuk pipi Kandara pelan. Kandara langsung membuka matanya dan memandang Darel. Melihat itu, Darel tersenyum.
"Banguunn,,.., nanti diteruskan tidurnya di mobil atau di rumah." Ucap Darel, dan Kandara menegakan badannya dan memasang sabuk pengaman.
"Ooh iya,, Dara.., nanti saat keluar dari Bandara,; kau, Mama dan anak-anak ikut Mikha ya.,. Kita tidak bisa keluar bersama-sama. Jangan lupa memakai maskernya." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk mengerti.
Seperti yang dikatakan Darel, hal yang sama juga dikatakan oleh Pak Darpha saat mereka hendak keluar dari Bandara.
"Bu Selvine, Dara dan anak-anak keluar dengan Mikha, ya." Ucap Pak Darpha, Mikha juga sudah mengenakan masker.
Anak-anak membawa ransel mereka, sedangkan koper, Mikha dan Kandara yang membawanya. Setelah di pintu keluar, sudah ada yang menjemput.
"Selamat malam, tuan muda." Ucap Pak Berdy dan membungkuk hormat kepada mereka. Bu Selvine, Kandara dan kedua anaknya membungkuk juga.
"Pak Berdy,, tolong dibawa kopernya." Ucap Mikha sambil menunjuk koper yang ada di tangan Kandara. Pak Berdy mengambil koper di tangan Kandara., kemudian mengajak mereka ke mobil yang telah menunggu.
Kemudian Bu Selvine, Kandara dan anak-anak berjalan mengikuti Mikha dalam diam.
"Ayooo,, semua langsung masuk ke mobil, yaa.." Ucap Mikha sambil memasukan koper ke bagasi.
Ketika Mikha masuk ke mobil, dia menjelaskan:
"Itu tadi Pak Berdy, Asisten Daddy.. dan kenapa harus segera masuk mobil, karena banyak wartawan di luar dan mobil ini menyolok, sangat menarik perhatian." Kandara dan Bu Selvine mengangguk mengerti. Mobilnya selain besar, juga memiliki kursi-kursi terpisah yang nyaman.
Tidak lama kemudian, Darel keluar dan langsung masuk ke mobil. Dia duduk di belakang bersama kedua anaknya. Mikha pindah ke depan setelah Pak Darpha dan Bu Richel masuk. Kandara dan Bu Selvine duduk di tengah.
Mereka segera meninggalkan Bandara.
"Efriii,, kenapa diam saja.. Tidak ada yang mau ditanyakan.?" Tanya Pak Darpha mengajak bercanda cucunya. Kandara jadi teringat pertanyaan Efrima di pesawat, dan berharap Efrima tidak menanyakannya.
"Ada sih, Grandpa.., tapi kata mommy, nanti tanya Uncle saja." Ucap Efrima.
"Oooh.., mau tanya apa, Efri.?" Tanya Mikha tersenyum dari depan, ketika mendengar namanya disebut oleh Efrima.
*- Setiap orang memiliki hidup dan kehidupan yang berbeda -*