Me And You For Us

Me And You For Us
Serious.



Darel terkejut mengetahuinnya, dan menyangka kedua teman kantor Kandara menjadi orang tua baptis anak-anaknya.


"Ooooh.., apakah bersama Pak Mala.?" Tanya Darel, mengingat nama kedua teman Kandara.


"Tidak.., Pak Mala Muslim. Jadi Pak Toby bersama sahabatku Manche yang di New York, yang jadi orang tua rohani untuk Efra dan Efri.


"Kalau Manche, dia pulang ke sini waktu aku melahirkan. Jadi waktu melihat anak-anak, langsung minta jadi Mama rohani bagi mereka dan tidak boleh dibantah." Ucap Kandara, menjelaskan.


"Sedangkan Pak Toby, aku dan Mama yang minta supaya anak-anak tidak terlalu kehilangan pigur. Pak Toby sudah menikah 5 tahun lalu. Sudah punya anak laki-laki satu, tetapi masih sering main dengan Efra dan Efri." Cerita Kandara.


Kandara bercerita tentang teman-temannya, karena dia berharap Darel bisa menerima mereka dengan baik. Sebab dia menyayangi Toby dan Mala beserta keluarganya.


"Nanti aku akan bertemu dan berterima kasih pada mereka." Ucap Darel, hal itu membuat hati Kandara senang dan lega.


"Dan mengapa kau tidak bilang kalau ada sahabatmu di New York.? Mungkin aku bisa bertemu dengannya." Ucap Darel., sambil memandang Kandara dengan serius.


"Astagaaa.., saat ini jangan bertemu dengan dia.., Darel. Nanti saja tunggu waktu yang pas. Bisa-bisa kau dinyanyiin tanpa nada." Ucap Kandara tersenyum sendiri, ketika mengucapkan kalimat itu.


"Kenapa kau tersenyum.?" Tanya Darel.


"Aku ingat dia nyanyiin aku panjang pendek tanpa nada waktu tahu aku hamil dan tidak mau memberitahukan siapa nama pria yang menghamiliku." Jawab Kandara, menceritakan lagi.


"Kau tidak memberitahukan padanya.?" Tanya Darel lagi.


"Astagaaa,, kalau aku memberitahukan, dia akan mencarimu. Oleh sebab itu dia bilang, mungkin aku sudah gila. Tetapi aku melahirkan dia pulang ke Indonesia untuk menemaniku dan Mama." Ucap Kandara dengan rasa terharu.


"Oooh,, pasti dia sangat menyayangimu." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk kuat.


"Aku setuju denganmu, kita akan memberitahukan dia saat kita menikah nanti." Ucapan Darel membuat Kandara terkejut, dan menatap Darel dengan wajah yang tertegun.


"Mengapa kau terkejut mendengar ucapanku.? Kau tidak mau menikah denganku.?" Ucap Darel sambil melihat Kandara dengan serius.


"Kau bicara mau menikah, seperti itu hal biasa saja." Ucap Kandara dengan wajah yang mulai merah dan jantung berdegup kencang. Membayangkan dia akan benar-benar menikah dengan Darel.


"Yaaa, aku bicara sekarang, agar kau bersiap-siap. Nanti kalau sudah kembali ke Seoul, baru aku bicara dengan orang tuaku untuk melamarmu." Ucap Darel, tapi Kandara tetap diam tertegun. Dia tidak menyangka Darel akan mengatakan tentang itu secepat ini.


"Aku sudah bilang, jangan pikir yang terlalu jauh dan berat. Dan ingat yang kukatakan waktu di Puncak., apa pun yang terjadi di depan, kita akan hadapi bersama." Ucap Darel tetap serius.


"Sekarang ini aku lagi sibuk urus beberapa hal di sini. Nanti kalau sudah selesai, aku akan kembali ke Seoul untuk bicara dengan kedua orang tuaku." Ucap Darel tetap serius.


"Jadi sekarang, kau perhatikan baik-baik kata-kataku, karena mulai besok, aku akan sangat sibuk di sini. Surat-surat apa yang perlu disiapkan di situ, tolong disiapkan. Nanti aku bilang Mikha kirim uang untukmu." Ucap Darel makin serius.


"Tidak usah, Darel.. yang di kasih waktu itu saja belum habis."


"Astagaaa.., aku sudah bilang digunakan untuk keperluanmu."


"Iyaa,,.., sudah.. keperluan kami tidak banyak, Darel... Nanti saja kalau kurang, aku akan kasih tahu." Ucap Kandara untuk menghindari membahasnya lagi.


"Baiklah.., aku ikut ucapanmu. Lain kali dengar dan ikut ucapanku." Ucap Darel dan Kandara mengangguk mengiyakan. Dia tahu Darel sedang berbicara serius.


"Dara, apa anak-anak rewel karena aku jarang menghubungi mereka.?" Tanya Darel mencairkan suasana, karena dia melihat Kandara terdiam. Dia tahu, mungkin Kandara tidak menggunakan uang yang ditransfer Mikha. Karena Mikha transfer tidak terlalu banyak.


Mungkin bagi Darel yang ditransfer Mikha tidak banyak. Tetapi yang ditransfer Mikha itu berkali lipat gajinya Kandara. Belakangan ini tidak terlalu banyak keperluan diluar keperluan rutin.


"Pertama-tama sih, iya.. tapi setelah dijelaskan, mereka mengerti. Efri yang lebih rewel, tetapi Efra suka mengingatkannya bahwa dia sudah janji sama daddy. Dia harus pegang janjinya: 'percaya sama daddy', jadi tunggu saja." Kandara bercerita.


"Syukurlah,, tolong hibur mereka. Aku akan berusaha agar kita bisa kumpul dalam waktu yang lama. Kau juga Dara, harap bersabar." Ucap Darel, tapi tersenyum masam.


"Mengapa kau tersenyum begitu.?" Tanya Kandara heran melihat Darel agak tersenyum.


"Kau sudah mau tidur.?" Tanya Darel., untuk memgalihkan pembicaraan.


"Belum, aku masih kangen, ingin bicara denganmu. Ingin mendengar ceritamu." Ucap Kandara, karena merindukan Darel.


"Sudahlah.., nanti kita bicara lagi. Aku ingin berbicara saat memelukmu, jadi lebih baik kita tidur saja. Jangan lupa doakan semua yang kukerjakan di sini agar lancar dan lekas selesai. Biar kita bisa bertemu lagi." Ucap Darel.


"Baiklah.., mari kita istirahat. Miss u.." ucap Kandara dengan hati yang berat.


"Miss u .. Gd Night." Darel mengakhiri telponnya dengan hati yang merindu.


*((**))*


Mentari telah bersinar menyapa setiap orang yang telah bangun dan bersyukur.


Demikian juga dengan keluarga Kandara.


Mereka semua sudah bangun dan bersyukur dan telah bersiap-siap untuk beraktivitas. Kandara, anak-anak dan Bu Selvine telah duduk di meja makan untuk sarapan.


Tiba-tiba ponsel Kandara berdering dan wajah Darel muncul di layar ponselnya, Kandara segera menerimanya.


"Allooo,, Dara.. morning.. Anak-anak sudah bangun.?" Tanya Darel


"Morning.., Morniiing Dad.." jawab Kandara dan anak-anaknya. Mendengar pertanyaan Daddynya.


"Morning., kids.. morning, Ma." Darel menyapa anak-anaknya dan Bu Selvine.


"Morning, Darel.." Jawab Bu Selvine


"Morning, daddy.." Jawab kedua anaknya, ketika Kandara menghadapkan ponselnya kepada anak-anak dan Mamanya di meja makan.


"Dara, tolong berikan ponselnya untuk Efri. Aku ingin melihat wajahnya." Ucap Darel, dan Kandara memberikan ponselnya kepada Efri.


"Heeiii, ada apa dengan wajah putri daddy yang cantik ini.. Efri tidak merindukan daddy.?" Tanya Darel, karena melihat wajah Efri sudah memerah, karena mulai sedih. Sehingga Darel mengajaknya bicara dan bercanda.


"Rinduuu.., Daddy.." mata Efrima sudah mulai berkaca-kaca.


"Lalu kenapa tidak senang kalau daddy telpon.? Apa daddy tidak usah telpon saja.?" Tanya Darel, menggoda putrinya.


"Jangan daddy.., Efri hanya rindu saja.. Efri sangat senang ko'." Ucap Efrima sambil menghapus air matanya.


"Itu baru putri daddy.., tidak boleh sedih pagi-pagi, nanti cantiknya berkurang." Darel mengajak bercanda putrinya.  Efrima mengangguk kuat.


"Belakangan ini, Daddy sibuk di Amerika, dan waktu kita berbeda jauh, jadi daddy sulit untuk hubungi kalian. Kemaren daddy sudah tiba di Jepang, jadi akan sering hubungi kalian. Efri tidak boleh sedih lagi. OK..?" Darel menjelaskan, dan Efrima mengangguk mengiyakan.


"OK, Daddy.. luv u.." Ucap Efrima, tersenyum.


"luv u too,,., tolong berikan ponselnya untuk Efra, yaa.." Efrima mengangguk dan menyerahkan ponselnya untuk Efraim.


Allooo, daddy.." ucap Efraim sambil melambaikan tangannya.


"Allooo Efra.., bagaimana kegiatanmu.? Kenapa tidak kirim pesan untuk daddy seperti biasanya.?" Tanya Darel.


"Baik daddy., sekolah dan eks-school ku lancar.. Efra kira daddy lagi sibuk, jadi nanti mengganggu daddy." Jawab Efraim.


"Jangan diulang lagi, ya.. kirim pesan saja seperti biasa. Setelah sibuk, daddy akan membacanya. Itu hiburan bagi daddy, karena tahu kalian baik-baik saja. Ada yang ingin Efra minta dari daddy.?" Tanya Darel dengan serius. Efraim melihat ke mommynya dan menggeleng kepalanya.


*- Jika sudah mengetahui tujuanmu, tidak perluh berliku liku -*