Me And You For Us

Me And You For Us
Karena Jacket



Bu Selvine mengambil kotak tissu dan meletakannya di kursi. Karena mereka semua dalam keadaan terharu. Walau pun mereka telah duduk, Darel terus mengusap lengan Kandara untuk menenangkannya.


"Ayooo.., kita foto bersama dulu., jangan lupakan moment ini. Darel, mari kita tarik kursi sedikit ke depan agar kita bisa berdiri di belakang kursinya." Ucap Mikha untuk menghangatkan suasana. Dia mengatur tempat untuk berfoto dan juga waktu pada kameranya.


Mereka semua merapikan wajah mereka yang berurai air mata. Setelah itu, Mikha mengatur posisi untuk berfoto.


Pak Darpha duduk diantara kedua cucunya dan Bu Richel di kiri dan Bu Selvine di kanan. Kandara berdiri dibelakang kursi di antara Darel dan Mikha.


Darel meletakan tangan di bahu Kandara dan Kandara memegang tangannya dengan tangan kiri, sehinga terlihat cincin pemberian Bu Richel. Karena dia ingin memperlihatkan cincin yang sangat berarti bagi keluarga ini.


Tidak lupa juga ada sesi foto lainnya. Mereka difoto dalam berbagai fose yang sudah diatur oleh Mikha. Jadilah foto pertunangan yang sangat indah.


Darel dan Mikha kembali mengatur kursi dan meja seperti sebelumnya. Mereka duduk kembali, karena ada hal yang akan disampaikan oleh Pak Darpha.


"Darel dan Mikha, Daddy harap apa yang dilakukan tadi kalian pertahankan dan lakukan terus menerus. Daddy sangat senang dan terinspirasi untuk melakukannya juga untuk keturunan Daddy. Mengutamakan Tuhan dalam hidup kita." Ucap Pak Darpha, terharu.


"Iyaa,, Daddy.." jawab Darel dan Mikha bersamaan.


Setelah itu, Bu Selvine dan Kandara menyiapkan makanan yang telah di pesannya di meja makan. Bu Richel ikut ke ruang makan untuk membantu mereka.


"Mari silahkan makan, tetapi mohon maaf tidak bisa makan bersama di meja makan. Karena kursinya terbatas, jadi setelah ambil makanan, kita bisa makan di ruang tamu." Ucap Bu Selvine, dan mereka mengangguk setuju.


"Sebelum makan, kiranya Pak Darpha bersedia berdoa bagi kita." Ucap Bu Selvine lagi, karena menurutnya Pak Darpha adalah kepala keluarga bagi mereka semua saat ini.


Pak Darpha mengangguk setuju untuk memimpin doa. Pak Darpha mempersilahkan mereka semua berdiri untuk berdoa :


"Ya,, Bapa


Terima kasih untuk semua hal yang Engkau kerjakan dalam hidup kami selama ini. Terima kasih untuk berkat rohani dan jasmani yang Engkau sediakan bagi kami hari ini. Biarlah semua rencana kami kedepan terjadi atas kehendak-Mu, jangan kehendak kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.!"


"Amiiin.! Selamat makan..!" Ucap mereka


semua mengaminkannya dan beranjak ke meja makan untuk mengambil makanan.


Setelah selesai makan malam, mereka masih berbincang-bincang di ruang tamu sambil menikmati dessert lezat, puding coklat buatan Bu Selvine.


Bu Richel duduk menikmati puding bersama kedua cucunya. Dia sangat menyukai jacket yang digunakan kedua cucunya. Jacket warna marun bercorak abstrak, sangat serasi dikombinasikan dengan celana jeans bagi Efraim dan rok bagi Efrima. Bu Richel tahu, jacket yang dikenakan mereka bermerek.


"Efra n Efri., jacket kalian bagus sekali. Membuat kalian makin cantik dan tampan." Ucap Bu Richel.


"Benarkah,, Grandma.? Ini hadiah dari daddy dan Uncle. Ini baru pertama kali kami memakainya." Ucap Efrima., dahi Bu Richel berkerut, namun sebelum Bu Richel bertanya, Darel sudah bertanya.


"Looh,, kenapa baru dipakai.?" Tanya Darel heran, karena mereka telah memberikannya beberapa bulan lalu.


"Yaaa,, Daddy.. Mommy tidak ijinkan kami pakai ke sekolah." Ucap Efrima. Darel melihat Kandara tidak mengerti.


Ketika mendengar ucapan Efrima, Efraim khawatir Mommynya dimarahin Daddynya, sehingga dia menjelaskan.


"Ooh.., Ok. Daddy mengerti nanti ke depan Unclemu akan memperhatikan itu." Ucap Darel, karena itu adalah idenya Mikha untuk membeli jacket tersebut. Mikha hanya bisa garuk kepalanya yang tidak gatal.


Mendengar itu semua., Bu Richel jadi khawatir keadaan kedua cucunya dan Kandara. Bu Richel menyadari ada hal yang harus dibereskan.


Bu Richel menatap Kandara dan Darel bergantian dengan cucu-cucunya. Beliau menyadari, sekarang adalah kesempatan yang baik. Tidak perlu menundanya lagi, harus diputuskan sekarang. Karena kedua cucunya juga makin besar.


"Darel., segera saja kalian menikah. Soal kedepan bagaimana, nanti kalian bicarakan setelah menikah. Sekarang yang penting kalian menikah saja dulu., karena kasihan Dara dan anak-anakmu. Status mereka tidak jelas, membuat orang bisa berlaku tidak sopan terhadap mereka." Ucap Bu Richel sambil melihat Darel.


"Daddy, jangan biarkan begini. Jangan biarkan ada yang berlaku tidak sopan untuk keluargamu." Ucap Bu Richel kepada suaminya. Mendengar itu, Pak Darpha mengangguk mengerti, karena beliau juga berpikiran yang sama ketika melihat Kandara dan kedua cucunya.


"Baiklah,, Darel dan Mikha segera kita kembali ke Seoul dan siapkan pernikahan di Gereja dan daftarkan pernikahan Darel. Daddy setuju dengan Mommy, tidak usah di tunda-tunda." Pak Darpha merespon.


"Bu Selvine, tidak mengapa kalau kami melakukannya secara cepat.?" Ucap Pak Darpha, dan Bu Selvine membuka tangannya mempersilahkan.


"Bagaimana baik menurut Pak Darpha dan Bu Richel saja." Ucap Bu Selvine sambil membuka tangannya.


"Dara,,, siapkan surat-suratmu dan apakah kalian semua sudah punya pasport.?" Tanya Pak Darpha, dan Kandara hanya bisa mengangguk mengiyakan., dia masih terkejut dengan situasi yang berubah begitu cepat.


"Mikha,, tolong mengurus keperluan mereka semua selama di Seoul. Nanti besok baru kita putuskan kapan kembali ke Seoul setelah Darel dan Mikha mengurus yang diperlukan." Ucap Pak Darpha tegas.


"Dara,, tolong minta cuti di kantor untuk dua minggu ke depan, ya.? Sekalian minta ijin libur sekolah untuk anak-anak." Ucap Pak Darpha, dan Kandara hanya bisa mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Darpha. Darel kembali mengelus punggung Kandara untuk menenangkannya.


"Mommy, nanti besok baru kita putuskan tanggalnya.. Ok.?"


"Ok, Dad.. Thank u..., Daraa, tenang saja. Nanti setelah ini baru kalian bicarakan. Yang penting, intinya dulu.., Daddy sudah putuskan." Ucap Bu Richel, dan Darel tersenyum sambil hanya bisa gelengkan kepala ke Mommynya.


Bu Richel pamit masuk ke kamar untuk beristirahat sambil tersenyum senang, karena rencanya berhasil. Ketika mendengar itu, Pak Darpha juga pamit untuk beristirahat.


"Mari kita semua istirahat dulu, dan ini semua nanti besok baru dibereskan. Bu Selvine jangan dibereskan, nanti besok pagi kita bersama membersihkannya." Ucap Pak Darpha, dan Bu Selvine mengangguk mengiyakan.


Bu Selvine mendekati Efrima dan mengajaknya untuk tidur bersamanya. Bu Selvine menyadari, Kandara dan Darel membutuhkan waktu bersama untuk membicarakan perkembangan yang tidak terduga ini.


Melihat itu, Darel mengerti tindakan Bu Selvine dan mengangguk hormat. Mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Demikian juga Kandara dan Darel.


Setelah di kamar Efrima dan melihat tempat tidur yang kecil, Kandara langsung melihat Darel.


"Apakah kau tidak apa-apa tidur di sini.?" Tanya Kandara cemas.


Darel mengangguk dan memeluknya.


"Tidak usah mencemaskan banyak hal. Kau ganti bajumu, aku akan ke kamar tamu untuk ganti bajuku." Ucap Darel dan beranjak ke kamar tamu.


Setelah Darel kembali ke kamar Efrima, dia sudah mengenakan kaos dan celana pendek santai.


*- Pengertian akan kebaikan akan mendatangkan sukacita -*