Me And You For Us

Me And You For Us
Kontak Batin.



...~•Happy Reading•~...


Beberapa waktu kemudian, ketika bangun pagi, Darel merasa kondisi tubuhnya tidak sehat. Sehingga dia memutuskan tidak ke Agency untuk latihan. Hal itu disampaikan kepada Asistennya untuk dibicarakan dengan Managernya.


Darel turun ke ruang makan dan melihat Bu Richel sedang duduk di meja makan. "Morniiing, Mom." Sapa Darel, sambil mencium pipi Mommynya.


"Morniiing, sayang. Eeeh, ada apa denganmu?" Tanya Bu Richel, terkejut melihat wajah Darel yang tidak segar.


"Entaah, Mom. Hari ini Darel merasa tidak enak untuk beraktivitas. Daddy sudah berangkat kerja, Mom?" Tanya Darel mengalihkan perhatian Mommynya. Karena Bu Richel memandangnya dengan wajah yang khawatir.


"Daddy, sudah berangkat dengan Pak Berdy. Nanti malam baru pulang. Kau tunggu yaa, Mommy akan siapkan sarapan untukmu." Ucap Bu Richel, dan segera ke dapur untuk berbicara dengan kepala pelayan, agar menyiapkan sarapan kesukaan Darel.


Tetapi ketika sarapannya telah disajikan, Darel hanya memakannya sedikit. Melihat itu, Bu Richel menjadi cemas. "Mengapa, Darel? Apakah sarapannya tidak enak?" Tanya Bu Richel.


"Tidak, Mom. Darel lagi tidak berselera saja. Mungkin nanti saja, baru Darel makan lagi." Ucap Darel, untuk menenangkan Mommynya.


"Kalau begitu, Mommy telpon dokter Lim untuk datang memeriksamu, yaa." ucap Bu Richel, dan hendak berdiri untuk menghubungi dokter keluarga mereka.


"Tidak usah, Mom. Nanti Darel ke Rumah Sakit saja untuk periksa di sana. Karena Darel akan bertemu Mikha jadi bisa sekalian. Kalau ada yang menanyakan Darel, Mommy bilang saja Darel lagi ke dokter." Ucap Darel, dan Bu Richel mengangguk mengerti


Darel memang merasa kondisi tubuhnya tidak baik untuk beraktivitas. Sehingga dia berencana akan ke dokter Lim untuk memeriksakan kondisinya, sebelum bertemu dengan Mikha.


Tadi malam Mikha mengatakan ada hal penting yang harus dia putuskan berhubungan dengan perusahaan. Mikha tidak bisa memutuskan sendiri, oleh sebab itu Mikha meminta bertemu dengan Darel untuk membicarakannya.


"Baiklah kalau begitu, tetapi kau harus diantar sopir yaa. Nanti Mommy telpon dokter Lim, untuk memberitahukan kedatanganmu." Ucap Bu Richel sambil memeluk sayang putranya. Darel mengelus pelan lengan Mommynya untuk menenangkannya.


Darel diantar oleh sopir dan mobil Mommynya ke Rumah Sakit tempat praktek dokter Lim. Darel langsung ditangani oleh dokter Lim, karena Bu Richel telah memberitahukan kedatangannya.


Dari apa yang disampaikan oleh Bu Richel, dokter Lim menyadari Bu Richel sedang khawatir dengan kondisi putranya. Sehingga dokter Lim menunggu kedatangan Darel di lobby Rumah Sakit.


Setelah berada dalam ruang praktek, dokter Lim menanyakan keluhan dan apa yang dirasakannya. Darel mengatakan bahwa, dia merasa badannya kurang fit, tidak seperti biasanya. Tidak dalam kondisi sehat untuk bekerja.


Bangunnya malas, juga malas untuk beraktvitas dan selera makan berkurang. Mendengar hal itu, dokter Lim merasa heran, karena kondisi fisik Darel baik-baik saja. Untuk memastikannya, dokter Lim melakukan pemeriksaan. Dan hasilnya memang menunjukan kondisi tubuh Darel baik-baik saja.


"Tuan muda kesehatan fisikmu baik-baik saja. Mungkin karena kurang istrahat dan banyak yang dipikirkan. Jadi sementara ini, kurangi sedikit kegiatanmu." Saran dokter Lim.


"Itu yang tidak bisa dokter Lim. Sekarang Melo sedang persiapan untuk comeback. Kami akan merilis Mini Album bulan depan, jadi sedang sibuk-sibuknya." Ucap Darel menjelaskan.


"Tapi kalau kondisi tuan muda tidak sehat akan terganggu semuanya. Saya akan memberikan multi vitamin saja dan usahakan untuk istirahat di sela-sela kesibukan." Ucap dokter Lim lagi dan Darel mengangguk mengiyakan


Setelah itu Darel bersama sopir ke Apotik untuk membeli multi vitamin yang diresepkan dokter Lim. Kemudian mereka menuju ke hotel untuk bertemu dengan Mikha.


"Pak, tidak usah menunggu saya, ya. Langsung pulang saja." Ucap Darel kepada sopir Bu Richel setelah tiba di Hotel.


"Baik, tuan muda." Ucap sopir sambil membungkuk hormat.


Mikha telah menunggu kedatangannya di lobby dan mereka langsung ke ruang kerjanya. Para karyawan yang melihat kedatangan Darel, merasa pernah melihatnya. Tetapi mereka lupa di mana, karena Darel masih memakai masker dan kaca mata hitam.


"Mikha, kita makan dulu ya. Mungkin karena tadi sarapanku sedikit, sekarang sudah mulai merasa lapar." Ucap Darel sambil berjalan ke ruang kerja Mikha.


"Baiklah kalau begitu, aku akan minta mereka membawa makanan ke sini." Ucap Mikha setelah mereka berada di ruang kerjanya.


Ketika mereka sedang makan, Darel merasa ada yang memanggil namanya. "Mikha, kau memanggilku?" Tanya Darel sambil berhenti makan. Mikha juga berhenti makan dan menggeleng.


"Makanlah, hanya kita berdua di sini. Jangan membuatku merinding." Ucap Mikha lagi.


...°-°Batin yang bersih memiliki, frekwensi sendiri°-°...


Setelah selesai makan dan perlengkapan makan telah dibersihkan oleh karyawan hotel, Darel menanyakan Mikha tentang apa yang disampaikannya tadi malam.


"Begini Darel. Ini ada sebuah Resort di pulau Jeju yang dalam kondisi hampir bangkrut dan mereka akan menjualnya. Pemiliknya menghubungiku menanyakan apakah kita berminat untuk membelinya." Ucap Mikha.


"Resort di Pulau Jeju?" Tanya Darel, sambil berpikir.


"Mereka ingin menyelamatkan Resortnya, karena itu adalah warisan keluarga. Mereka berharap, orang yang membelinya tetap mempertahankannya, karena Resort itu adalah warisan orang tua mereka." Ucap Mikha lagi.


"Resortnya tidak terlalu moderen, tetapi masih terawat baik. Jumlah kamarnya tidak terlalu banyak dan dua lantai. Soal harga yang ditawarkan, lumayan murah." Ucap Mika lagi.


"Kenapa mereka bisa hampir bangkrut? Apakah di sana kurang pengunjung?" Tanya Darel, curiga tentang lokasinya.


"Bukan, di sana sering dikunjungi banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri. Tetapi pengelolahan keuangannya sangat parah. Mungkin karena keluarga sendiri yang mengelolahnya." Ucap Mikha, mencoba menganalisa.


"Mungkin karena menghidari ribut antar saudara, mereka membiarkan saja tikus-tikus kecil yang menggerogoti. Sudah hampir habis dimakan baru mereka menyadari, namanya tikus tetap tikus. Baik tikus kecil atau tikus besar tetap saja merugikan." Penjelasan Mikha lebih lanjut kepada Darel.


"Kau sudah pergi melihat tempatnya?" Tanya Darel.


"Iya, sudah. Ketika mereka menghubungiku, kau sedang sibuk di studio. Jadi aku pergi sendiri untuk memastikannya. Supaya aku bisa menjelaskan dan menggambarkan resortnya padamu." Ucap Mikha.


"Resortnya tidak terlalu besar, tapi berada di atas perbukitan. Jadi view seputar resort sangat indah. Baik di saat sunset atau sunrise. Dikelilingi banyak pohon tua yang rimbun."


"Di kaki bukitnya terdapat hamparan perkebunan jeruk. Sedangkan jalanan kesana juga dalam kondisi baik. Ada tempat perhentian bus di kaki bukit, tidak jauh dari resort.,"


"Jadi menurutku, kalau kau setuju membelinya, kau tinggal tambah sedikit sentuhanmu. Resort tersebut pasti akan menjadi tempat tujuan wisata yang mewah dan nyaman. Seperti sentuhanmu untuk Hotel dan Mall ini." Ucap Mikha untuk meyakinkan Darel.


"Kalau kau ada waktu kosong, kita bisa ke sana untuk melihatnya. Tapi jangan lama-lama, karena pemiliknya ingin cepat menjualnya. Mereka butuh dana segar untuk membayar hutang." Mikha menjelaskan semuanya kepada Darel.


"Aku tidak perluh melihatnya, kalau kau sudah bilang ok, aku percaya pada penilainmu. Tetapi apakah kau bisa mengelolahnya juga? Pekerjaanmu di sini sudah sangat banyak. Sedangkan aku belum bisa bekerja full time untuk mengelola bisnis kita." Ucap Darel, mengingat dia lebih banyak waktu untuk mengurus Melo dan musiknya.


"Kita memiliki banyak karyawan berkualitas baik dan loyal. Kita bisa memilih beberapa orang untuk ditempatkan di sana untuk mengelolahnya. Kita akan sering ke sana untuk mengevaluasinya." Ucap Mikha meyakinkan.


"Kalau kau sudah bilang sanggup mengelolanya, aku setuju untuk membelinya. Jadi kau tolong mengurus semua dokumen dan proses jual belinya. Aku akan tanda tangan setelah kau bilang semua dokumennya clear." Ucap Darel.


"Nanti setelah Mini Album Melo dirilis dan semua promonya selesai, aku akan mengatur schedule ku untuk pergi melihat resortnya. Mungkin ada yang perlu perbaikan, penambahan atau renovasi. Mungkin juga kita mengganti nama resortnya." Ucap Darel lagi.


"Baik. Kalau untuk nama resort nanti aku cek. Jikalau nama resortnya sudah dikenal umum, mungkin kita akan membiarkannya saja. Mungkin juga, pemiliknya meminta kita pertahankan nama itu. Yaa, alasan sentimental karena warisan keluarga." Ucap Mikha.


"Yaaa, coba kau cek dan bicarakan dengan keluarganya. Karena aku ingin nama kita di bisnis yang kita punya." Ucap Darel lagi, dan Mikha mengangguk mengerti.


...°-° Sebuah keputusan yang baik dan tepat, berdampak pada hidup kini dan nanti °-°...


...~***~...


...~●○♡○●~...