
Dibagian bumi yang lain ; Menjelang akhir tahun, di ruang programmer sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Terutama Mala, Toby dan Kandara, yang sekarang telah bernama tim kwak kwak.
Ketika Mala telah masuk kerja, Toby telah menceritakan tentang apa yang terlintas dipikirkannya, Mala setuju menamakan tim mereka dengan nama tersebut.
Mendengar itu, Kandara hanya bisa tersenyum. Karena dia merasa tidak enak dan agak mual. Hari ini dia tidak membawa penangkal, yaitu jacket. Dia menyangka sudah tidak mual dan pusing lagi, karena usia kandungannya sudah memasuki bulan ke lima.
Mala dan Toby yang sedang tertawa, karena menamakan timnya kwak kwak, tiba-tiba terhenti. Karena melihat wajah Kandara yang berubah. "Dara, kau merasa mual?" Tanya Mala, cemas. Kandara hanya mengangguk dan mencoba mencari minyak kayu putih di dalam tasnya. Melihat itu, Toby segera membantu mencari dalam tasnya.
"Kau mencari ini?" Tanya Toby, setelah menemukan botol minyak kayu putih di dalam tasnya. Kandara mengangguk dan mengambil botol tersebut dari tangan Toby. Kemudian dia membuka tutupnya dan menghirupnya perlahan.
"Makasi, Mas." Ucap Kandara setelah merasa lebih baik. Kemudian dia mengambil sedikit minyak kayu putih dan menggosok hidung dan lehernya.
Semua yang dilakukan oleh trio kwak kwak tidak luput dari perhatian Yeni, karena beberapa waktu belakangan ini dia mulai curiga melihat perubahan tubuh Kandara.
"Rina, sepertinya Dara sedang hamil." Ucap Yeni kepada Rina teman perempuan yang ada dalam ruang programmer.
"Ssssttt... Ngga usah dibahas, sana kerja." Balas Rina menegurnya.
Ternyata Rina sudah tahu dari beberapa waktu yang lalu, saat melihat perubahan tubuh Kandara, tetapi dia tidak mau membicarakannya. Karena dia berpikir, kalau benar hamil, pasti akan terlihat. Karena kehamilan bukan sesuatu yang bisa disembunyikan.
"Kau sudah tau, yaa. Benar kan, yang kukatakan? iyaa, kan?" Yeni terus bertanya, tidak mengerti sinyal yang diberikan Rina untuk diam dan abaikan. Sehingga Rina mendorongnya untuk kembali ke mejanya.
Yeni yang masih penasaran, kembali lagi ke meja Rina. "Rina, kenapa kau mendorongku? Sakit tau..." Yeni protes dengan wajah kesal, sambil menggosok belakangnya.
"Abiss kau hanya loading, ngga ngerti-ngerti. Sana ke mejamu, atau mau ku dorong yang lebih kuat lagi?" Ucap Rina, karena merasa tidak enak diperhatikan oleh Mala dan Toby.
"Tapi Rina, aku jadi penasaran dengan sikapmu. Orang tinggal dijawab saja." Ucap Yeni yang tidak mau mengerti situasi.
"Mau jawab apa, njuulll... Aku saja ngga tahu. Sanaaa... Tanya Mas Toby atau Mas Mala, kalau berani." Ucap Rina, sebagai senjata pemungkas untuk mengusir Yeni dari depan mejanya.
"Peliiittt... Aku yakin, kau tahu Dara lagi hamil. Aku tanya itu, karena aku tahu, Dara belum menikah. Kenapa bisa hamil?" Ucap Yeni yang penasaran dan keceplosan dengan suara yang agak keras. Sehingga semua yang dalam ruangan berhenti bekerja dan memandangnya. Para programmer pria yang belum mengetahui kondisi Kandara, terkejut. Mereka semua melihat kearah Kandara dengan berbagai tanya.
Kandara hanya diam menunduk dan mengelus perutnya. Sambil berucap 'tenang Dara', berkali-kali dalam hati untuk menenangkannya. Dia menyadari lambat laun, hal ini akan alaminya.
Melihat Kondisi Kandara dan rekan-rekan programmer pria yang sedang melihat Kandara, Toby langsung berdiri. "Yeniiii... Kau ingin tahu apa? Tanya ke sini, jangan bergosip seperti wanita yang tidak berpendidikan." Ucap Toby, yang sudah berdiri dan emosi melihat sikap Yeni.
Kandara langsung berdiri dan menarik tangan Toby untuk duduk. Begitu juga dengan Mala yang terkejut mendengar suara Toby, langsung memeluk dan mengajaknya duduk.
"Mala, minggir. Bawa Kandara duduk." Ucap Toby sambil menyingkirkan tangan Kandara dan Mala dari tubuhnya. Toby berjalan mendekati meja Yeni.
"Kalau yang di ruangan lain atau di luar sana mau bergosip dan mau berkata buruk tentang Kandara, aku ngga pusing. Itu urusan mereka, kalau bergosip membuat mereka happy, silahkaann..."
"Ini kau, yang hari-hari berhaha-hehee bersama, bisa berucap begitu. Kau pikir Kandara tidak bisa menikah? Kalau dia belum menikah sampai saat ini, pasti ada sebabnya. Dan itu tidak perlu dia umumkan atau tulis di dahinya." Ucap Toby lebih lanjut. Tetapi emosinya mulai turun saat melihat wajah sedih Yeni.
Tiba-tiba, Yeni berlari ke meja Kandara dan memeluk Kandara yang sedang berdiri tertegun melihat tindakan Toby.
"Daraaa, maafin aku. Tadi aku tidak bisa menjaga mulutku. Maafin, yaa." Ucap Yeni sambil terus memeluk Kandara dan menangis sesenggukan. Kandara tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa balas memeluk Yeni dan ikut menangis terharu.
"Ternyata ruangan programmer ini ada banyak rasanya, ya. Yeni dan Dara bisa membuat tawa dan tangis jadi satu." Mala bercanda, karena melihat semua dalam ruangan sedang tertegun dan terharu.
Semua yang dalam ruangan jadi tersenyum mendengar candaan Mala. Begitu juga Yeni dan Kandara. Yeni melepaskan pelukannya dari Kandara, kemudian berjalan mendekati meja Mala dan memukul lengannya.
"Mas Toby, aku minta maaf, ya." Ucap Yeni sambil mendekati meja Toby. Dia mengatupkan kedua tangan di dadanya.
"Aku juga minta maaf, sudah berkata kasar padamu. Kau dan Rina tolong bantu Dara, untuk melewati masa sulitnya." Ucap Toby, pelan. Yeni mengangguk kuat dengan air mata mengalir di pipinya.
Setelah itu, suasana ruang programmer kembali seperti semula. Semua mulai konsentrasi bekerja lagi. Pak Ari yang menyaksikan dari balik tirai di ruangannya ikut terharu.
Sebenarnya, Pak Ari sudah mengetahui situasi di luar ruangannya saat mendengar suara Toby. Tetapi Pak Ari menahan diri untuk keluar. Beliau menanti dan melihat cara bawahannya menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi.
"Alhamdulillah..." Ucap Pak Ari, sambil mengurut dadanya, karena bawahannya bisa menyelesaikan persoalan dengan baik. Dengan demikian, pekerjaan yang dipercayakan kepadanya bisa selesai dengan baik dan tepat waktu. Hatinya jadi tenang dan bersyukur.
Toby duduk terdiam di depan laptop, memikirkan apa yang baru saja dilakukannya. Dia tidak menyangka bisa berkata kasar seperti itu kepada seorang wanita.
Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Dia melihat Yeni yang sudah mulai bekerja dengan mata sembab dan juga masih senggukan.
Mala yang melihat kondisi Toby, jadi terdiam. Dia menyadari, Toby sedang menyesal atas apa yang dilakukannya. Karena Toby yang dia kenal tidak seperti itu.
Kandara juga melihat Toby yang sedang menarik nafas panjang, membuatnya sedih dan merasa bersalah. Kondisi kehamilannya membuat Toby keluar dari kondisi nyamannya selama ini.
'Memang seperti kata Mama, semuanya tidak akan mudah. Karena bukan dirinya saja yang akan merasakan dampak dari keputusannya. Tetapi juga bisa melibatkan orang di sekitarnya.' Kandara membatin.
'Aku berusaha menciptakan duniaku sendiri dengan kenyamanannya. Tetapi aku tidak berpikir, orang lain bisa juga terganggu kenyamanannya karena diriku.' Kandara terus membatin sendri, sambil memikirkan anak-anaknya. Kandara ingin segera pulang, agar bisa mencurahkan kesedihannya.
*- Kadang, rasa hati seseorang bisa terujud dalam suatu tindakan -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡