
...~•Happy Reading•~...
Setelah tiba di Seoul, Darel mengirim pesan untuk Kandara bahwa mereka telahh tiba dan akan sibuk sepanjang hari ini. Jadi mungkin nanti malam baru akan menghubungi Kandara.
Ketika bangun pagi dan melihat pesan dari Darel, Kandara tersenyum dan bersyukur. Mereka telah tiba di Seoul dengan selamat. Kandara langsung membalas pesan Darel.
"Selamat pagi, Darel. Jaga kesehatan dan kiranya Tuhan berkati semua yang dikerjakan hari ini." Pesan balasan Kandara. Tetapi Darel tidak langsung membaca pesannya.
'Pasti sudah sibuk.' pikir Kandara.
Kandara bangun menyiapkan sarapan untuk mereka semua, karena dia dan anak-anak akan berangkat pagi, begitu juga dengan Bu Selvine.
Setelah duduk sarapan, Efrima bertanya.
"Mommy, Daddy sudah tiba di Seoul?"
"Sudah, sayang... Tadi Daddy sudah kirim pesan, tetapi mungkin sekarang sudah sibuk. Karena pesan balasan Mommy belum dibaca." Kandara mencoba menjelaskan kepada anak-anaknya.
"Mommy, lama lagi baru Daddy ke sini, yaa..." Tanya Efraim. Kandara menatap anak-anaknya. Terbesit rasa bersalah kepada kedua anaknya, karena telah menjauhkan mereka dari Daddy nya selama ini. Setelah bertemu, mereka pasti merindukan Daddynya.
Kandara tersentuh dengan pertanyaan Efrima dan Efraim. "Kalian sudah kangen sama Daddy?" Tanya Kndara, dan kedua anaknya mengangguk, kuat.
"Mommy tidak bisa menjawabnya. Tetapi Mommy percaya, Daddy sudah tahu kalian ada di sini, pasti Daddy akan sering mengunjungi kita. Kalian harus yakini itu." Kandara menjawab pelan. Kedua anaknya kembali mengangguk.
"Mommy, apakah Daddy tidak bisa tinggal di sini? Kan boyband Daddy sudah bubar, kenapa Daddy tidak kerja di sini saja, Mom." Tanya Efrima lagi, membuat Kandara terharu mendengarnya.
"Efriii, boybandnya sudah bubar, tapi Daddy masih bermusik. Sekarang Daddy sudah bersolo karier, jadi tetap sibuk. Kalau Daddy telpon, jangan bicarakan itu, yaa... Jangan membuat daddy sedih." Kandara berkata, lalu mencium puncak kepala putrinya.
"Iya, Efri... Sekarang Daddy masih dikenal orang. Waktu Efra pertama kali bertemu daddy di Mall itu, Efra harus menembus kerumunan banyak orang yang mengelilingi Daddy..." Efraim jadi mengingat pertemuan dengan Daddynya.
"Ingat, kau sudah bilang percaya sama Daddy. Jadi kita tunggu saja seperti kata Mommy." Efraim mengingatkan Efrima tentang janjinya kepada Darel.
"Mari kita bersiap ke sekolah, yang penting kita sudah bertemu Daddy dan Daddy sudah tahu ada kita di sini." Ucap Efraim lagi.
Efraim mengingat kembali pertemuan pertama dengan Darel di mobil dan reaksinya. Dia percaya, Darel sangat menyayangi mereka.
Bu Selvine mendengar pembicaraan Kandara dengan kedua anaknya dengan hati terharu. Bu Selvine bisa merasakan kasih sayang yang diberikan Darel kepada mereka. Jadi mana mungkin mereka tidak merindukan kehadirannya.
Setelah sarapan, Efraim dan Efrima naik ke kamar untuk mengambil tas dan pelengkapan sekolah mereka. Kandara yang sudah mengambil tas kantor dan laptopnya sedang menunggu mereka di bawah tangga.
Ketika melihat mereka turun dengan mengenakan jacket dan tas mereka, Kandara langsung melongo dan matanya membulat. Dia tahu itu pasti pemberian Darel dan Mikha.
"Efra dan Efri, lepasin jacket kalian dan ganti tasnya. Pakai saja jacket dan tas yang lama." Ucap Kandara, tegas. Kedua anaknya terkejut mendengar ucapan Mommynya.
"Tapi, Mom... Ini pemberian Daddy dan Uncle." Efrima protes, karena dia sudah senang sekali bisa memakainya.
"Mommy tahu, karena mommy bisa menghabiskan uang untuk beli jacket dan tas seperti itu untuk kalian." Kandara berkata tegas dan serius.
"Sekarang kalian berdua dengar Mommy, jacket dan tas itu kalian bisa pakai jika pergi bersama Mommy atau Oma. Tidak boleh dipakai ke sekolah, atau acara sekolah." Kandara berkata lagi dengan serius.
"Jika kalian memakai itu dan dilihat orang yang berperilaku buruk, kalian bisa dirampok. Karena mereka mengira kalian banyak uang atau anak orang yang banyak uang."
"Jadi Mommy harap kalian mengerti. Atau Mommy akan marah kepada Daddy dan Uncle, karena telah memberikan itu kepada kalian." Kandara berkata lagi dengan tegas dan serius, karena dia tahu harga jacket dan tas mereka.
Mendengar ucapan Mommynya, dengan hati yang berat Efrima dan Efraim kembali ke kamar untuk melepaskan jacket dan menggantinya dengan yang biasa mereka pakai ke sekolah.
Setelah itu mereka turun dan berangkat ke sekolah dengan hati yang mendung. Kandara yang mengantar ke sekolah dan melihat wajah mereka hanya bisa menarik nafas dalam.
'Nanti setelah pulang kerja, aku akan jelaskan kepada mereka, kenapa tidak boleh mengenakan pemberian Darel dan Mikha ke sekolah.' Kandara berkata dalam hati.
...*- Perlu bijak melihat segala sesuatu, agar tidak mendatangkan hal buruk -*...
Ketika tiba di kantor, Kandara mulai sibuk bekerja, tetapi dia sering-sering melihat ponselnya. Mungkin saja ada pesan dari Darel. Ternyata Darel belum membaca pesan balasan yang dikirimnya.
Pada saat makan siang, ada pesan masuk dari Darel. Dia hanya menjawab pesan Kandara dengan singkat. "Ok, thanks." Kandara berpikir lagi, pasti Darel sangat sibuk.
Memang Darel sedang super sibuk. Selain menghadiri pemutaran perdana drama yang soundtraknya dibuat dan dinyanyikan oleh Darel, dia harus segera kembali ke New York. Karena kantor pusat di sana sedang bermasalah.
Hal itu membuat Darel segera bertemu dengan Pak Darpha di kantornya, setelah acara pemutaran perdana drama. Mereka membicarakan persoalan yang sedang terjadi dengan perusahaan di Amerika. Kondisi ini membuat Darel tidak bisa pulang ke Mansion untuk bertemu dengan Mommynya. Dari gedung Jion Comp, Darel langsung diantar oleh sopir Pak Darpha ke Bandara.
Setelah tiba di Bandara Incheon dan menunggu boarding, dia teringat belum telpon Kandara.
'Semoga Dara belum tidur.' Batinnya.
Dia lakukan VC, karena sangat merindukan mereka, walau baru berpisah 24 jam.
Selama ini, Darel sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Melakukan perjalanan dalam sehari ke berbagai tujuan. Tetapi sekarang terasa berbeda, karena dia telah memiliki keluarga. Sehingga dia harus belajar membagi perhatian untuk keluarganya yang mungkin belum mengerti ritme kerjanya.
Pada dering pertama langsung diterima oleh Kandara, karena memang mereka sedang menunggu telpon darinya.
"Allooo, Daddy..." Anak-anaknya yang menyapanya riang.
"Allooo, kids... Belum tidur?" Tanya Darel, melihat anak-anaknya yang merespon panggilannya.
"Belum, Daddy... Lagi tunggu Daddy telpon." Mereka menjawab, jujur.
Inilah yang menjadi pemikiran Darel setelah bertemu dengan Dara dan anak-anaknya. Kalau orang tuanya sudah terbiasa, jadi bisa mengerti. Sedangkan Dara dan anak-anak, mungkin akan sulit mengerti karena baru bertemu.
"Ooh, iya.. sepanjang hari ini Daddy sibuk sekali jadi baru bisa telpon kalian." Darel coba menjelaskan, kenapa baru bisa menghubungi mereka.
"Ini, Daddy sudah di Bandara lagi, sedang tunggu boarding. Kalian baik-baik di situ bersama Oma dan Mommy, ya." Darel berkata lagi.
"Iyaa, Daddy." Jawab kedua anaknya pelan.
"Sekarang kalian tidurlah, karena sebentar lagi Daddy mau boarding. Daddy mau bicara sebentar dengan Mommy." Kedua anaknya mengangguk mengerti, lalu memberikan ponselnya kepada Kandara.
"Ya, Darel..." Sapa Kandara.
"Dara, tolong menjauh dari anak-anak." Darel meminta demikian, karena dia tidak ingin anak-anak mendengar pembicaraan mereka.
"Iya, Darel... Ini sudah." Kandara berkata setelah berada di meja makan dan terus memandang wajah Darel.
...*-Keluarga dapat mendukung atau menjatuhkan kehidupan kita-*...
...~•••~...
...♡Jangan lupa like, komen dan Favorit, ya.♡...
...🙏🏻Dukunganmu sangat menyemangatiku. Makasih.🙏🏻❤️🤗...