
Kandara masuk ke kamar dengan hati yang lega dan bersyukur setelah berbicara dengan Mamanya. Kemudian dia teringat kepada sahabatnya, Manche. Sekarang Kandara merasa sudah siap untuk berbicara dengan Manche tentang kehamilannya. Dia mengirim pesan kepada sahabatnya.
"Che, kalau ada waktu senggang, tolong hubungi aku, yaa. Karena ada yang mau aku bicarakan denganmu." Kandara menulis pesan dengan hati yang was-was.
Walaupun sudah siap berbicara dengan Manche, Kandara tetap cemas. Karena pasti sahabatnya akan kecewa terhadapnya, ketika mengetahui dirinya sedang hamil.
Kandara menguatkan hatinya, apa pun komentar atau yang dikatakan Manche, dia akan menerimanya dengan hati yang lapang. Karena dia mengenal baik sahabatnya, Manche. Apa yang ada di pikirannya, pasti akan diucapkannya.
Setelah mengirim pesan kepada Manche, Kandara menyiapkan semua keperluannya untuk besok ke kantor. Mumpung kondisi tubuhnya sedang baik. Agar besok tidak perlu buru-buru, sehingga tidak ada yang tertinggal.
Dia tidak bisa memgetahui apa yang akan dialaminya besok pagi. Karena semua kemungkinan bisa terjadi pada dirinya di besok pagi. Kehamilannya bisa membuat kondisi tubuhnya terganggu dan itu akan membuat dia tidak berkonsentrasi dengan baik.
Dia masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi dan mengganti bajunya dengan baju tidur yang longgar dan nyaman. Bu Selvine telah membawa beberapa baju hamil yang nyaman dari butik untuk Kandara gunakan di rumah atau tidur.
'Nanti kalau perutku sudah mulai membesar, aku akan pergi dengan Mama ke butik untuk memilih beberapa baju kantor.' Kandara membatin, sambil mengenakan baju tidurnya dan melihat pantulan tubuhnya di depan cermin.
Perutnya belum terlalu kelihatan sedang hamil, tetapi dia suka memakai baju yang agak longgar di rumah. 'Biar anak-anak merasa lega.' Pikir Kandara.
Setelah semuanya telah rapi, Kandara naik ke tempat tidur, bersyukur dan beristirahat. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan nama Manche ada di layar ponselnya. Kandara bersyukur, Manche tidak melakukan VC.
"Allooo, Dara. Maaf, baru telpon. Tadi lumayan sibuk, jadi baru sekarang telponnya. Gimana?" Tanya Manche, setelah Kandara merespon telponnya.
"Allooo, Che. Ngga papa, dan makasi sudah telpon." Ucap Kandara dan kemudian dia diam sejenak. Dia mengambil nafas dalam, sebelum melanjutkan ucapannya.
Manche tetap diam menunggu, dia bisa mendengar Kandara sedang menarik nafas dan menghembuskannya. Dia menyadari, pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya.
"Begini Che, aku sedang hamil." Ucap Kandara pelan.
"Apaaa...? Coba ulang lagi, apa aku salah dengar?" Tanya Manche dengan suara yang bernada tinggi, karena terkejut.
"Benar Che, aku sedang hamil." Ucap Kandara lagi untuk meyakinkan Manche.
"Astagaaa, Kandaraaa... Siapa lelaki itu? Jangan bilang dengan lelaki itu..." Ucap Manche, was-was.
"Bukan, Che." Kandara buru-buru menjawab, karena dia mengerti yang dimaksud Manche yaitu Lucha.
Karena selama ini, yang Manche tahu, Kandara berpacaran dengan Lucha. Jadi jika benar Kandara hamil dengannya, Manche tidak tahu harus mengatakan apa. Dia akan benar-benar tidak happy, jika Kandara bersamanya.
"Kandara, aku tidak tahu mau bilang syukur atau apa, karena tidak dengan Lucha. Tetapi, sudahlah... Sekarang, siapa lelaki itu? Dia mau bertanggung jawab bukan? Tanya Manche lagi mulai kepikiran dan cemas.
"Aku mohon maaf, Che. Saat ini aku belum bisa bilang padamu, siapa orangnya. Tetapi nanti, suatu waktu aku akan memberitahukanmu." Ucap Kandara dengan suara memohon maaf kepada sahabatnya.
"Astagaaa, kau sepertinya sudah mulai miring Kandara. Bagaimana mungkin kau bisa tanggung sendiri semuanya. Apakah lelaki itu tahu kau sedang hamil?"
"Tidak, Che." Jawab Kandara pelan dan singkat.
"Astagaaa, kau itu sudah gila Kandara. Kenapa kau tidak beritahu dia?"
"Aku belum bisa beritahukan alasannya untukmu saat ini, Che." Kandara menjawab pelan, karena dia tahu, Mache sedang Emosi.
"Tidak, Che." ucap Kandara tetap pelan.
"Astagaaa, kau ini membuatku makin s'newen dengan pikiran gilamu. Kalau kau tidak mau kasih tahu dia, biar aku yang kasih tahu." Ucap Manche lagi.
"Makanya tadi aku bilang, Che. Aku belum bisa memberi tahukanmu, karena aku tahu kau akan melakukannya." Ucap Kandara, dengan suara yang lebih jelas. Dia tahu Manche akan melakukannya jika mengetahui siapa orangnya.
"Astagaaa, Kandara. Apa yang ada di pikiranmu itu? Apakah Tante Selvine sudah tahu kau sedang hamil?" Tanya Manche, mengingat Mama Kandara.
"Sudah, Che." jawab Kandara, cepat.
"Lalu apa kata Tante? Apakah Tante menerima semua keputusan gilamu itu?" Tanya Manche yang sudah emosi.
"Iyaa, Che." Jawab Kandara, pelan.
"Astagaaa. Aku tahu Tante sangat sayang padamu, tetapi kenapa membiarkanmu menanggung semuanya sendiri?" Tanya Manche heran, Bu Selvine bisa menerima kondisi Kandara tanpa meminta pertanggung jawaban dari lelaki yang telah menghamili putrinya.
"Tante juga tidak tahu siapa lelaki itu?"
"Iyaa, Che."
"Astagaaa... Kandara, Kandara. Aku sudah tidak tahu mau ucapkan apa lagi. Jika aku bertanya lagi, bisa-bisa bukan kau yang gila, tetapi aku yang gila." Ucap Manche lagi, Kandara hanya mendengar dalam diam, karena menyadari telah mengecewakan sahabatnya.
"Aku tahu kalau kau sudah putuskan seperti itu, tidak ada yang bisa mengubahnya." Ucap Manche dengan suara pelan, karena dia sangat mengenal sifat Kandara.
Sekarang ini, Manche tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Kandara. Karena Kandara tidak terbuka memberi tahukan siapa laki-laki yang telah menghamilinya.
Jika sudah tahu orangnya dan orangnya tidak mau bertanggung jawab, dia akan menyeretnya untuk bertanggung jawab. Walaupun Tante Selvine tidak mau sekalipun, dia akan pulang ke Indonesia untuk menyeretnya.
Sekarang memikirkan masa depan Kandara saja, membuatnya sangat frustasi. Dia sangat menyayangi Kandara dan Bu Selvine, karena mereka adalah keluarga keduanya.
Kandara dan Mache sama-sama diam, karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Mereka tahu hati dan perasaan masing-masing, yang sedang sedih. Sehingga mereka tidak tahu, siapa yang mau hibur siapa. Karena mereka sama-sama merasa sedih. Manche bersyukur, tadi dia tidak melakukan VC.
Kandara akan melihatnya sudah menangis sedih, membayangkan masa sulit yang akan dihadapi Kandara. Akhirnya dia menghapus air matanya dan menormalkan suaranya dengan berdehem.
"Daraaa. Karena aku jauh darimu, aku hanya bisa berharap, kau bisa hadapi dan kuat menjalani semua yang telah kau putuskan." Ucap Manche lagi, setelah menguatkan hatinya.
"Kalau sudah dekat waktu melahirkan, kasih tahu. Aku akan datang ke Indonesia." Ucap Manche dan mengakhiri telponnya dengan hati yang sangat sedih.
'Maafkan aku, Che.' Hanya itu yang bisa Kandara ucapkan di dalam hatinya, setelah Manche mengakhiri pembicaraan mereka. Karena ketika tadi Manche sedang bicara, Kandara hanya mendengar tanpa menjawab atau bersuara.
Kandara menutup mulutnya dengan tangan, agar Manche tidak mendengar suara tangisannya. Saat ini, Kandara khawatir Mamanya mendengar suara tangisannya, dia mengangkat wajahnya untuk menenangkan hatinya. Seketika dia melihat poster Melo besar di dinding kamarnya, dia melihat Darel sedang tersenyum.
Kandara jadi teringat anak-anaknya. Dia menghapus air matanya dan mengelus perutnya pelan dan berucap. 'Maafkan Mommy yang telah membuat kalian sedih. Tadi Mommy bicara dengan Aunty Manche dan kami bersedih. Tapi sekarang Mommy tidak sedih lagi, karena ada kalian bersama Mommy. Mari kita berdoa dan istirahat.' Kandara menguatkan hatinya dengan mengajak bicara anak-anaknya dan berdoa.
*- Kadang seorang sahabat memukul dengan maksud baik -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡