Me And You For Us

Me And You For Us
Darel - Mikha - Efraim.



Mikha menatap Darel tertegun. "Kalau begitu, aku akan mengajaknya membeli ole-ole di Mall sesuai dengan uang yang dikirim mommynya." Ucap Mikha berharap, karena dia ingin bersama dengan Efraim.


"Astagaaa, Mikha. Uang yang dikirim mommynya hanya bisa untuk beli ole-ole di pasar tradisional. Tadi aku melihat uang yang diambil oleh Efrain dariku, jadi aku tahu itu hanya untuk berbelanja di pasar tradisional." Darel menjelaskan.


"Nanti besok kita lihat, apakah bisa mengajak Efraim keluar dari rombongannya. Kalau bisa, kita akan mengajaknya jalan-jalan. Kalau tidak bisa, yang penting dia bisa bertemu unclenya." Ucap Darel, dan Mikha mengangguk mengerti.


*((**))*


Keesokan harinya, Efraim telah bangun pagi dengan hati yang bersyukur dan riang. Karena dia akan bertemu dengan Daddy dan Unclenya. Bagaimanapun caranya, walau hanya sebentar. Dia tidak mau guru pendampingnya mengetahui kalau dia ada bertemu dengan seseorang dan melaporkan kepada Oma atau Mommynya.


Jika Efraim ditanya tentang pertemuan dengan Daddynya, dia akan menceritakan karena tidak bisa berbohong. Dia akan menyampaikan, sudah bertemu daddynya. Sedangkan dia sudah berjanji kepada daddynya, tidak akan menceritakan kepada Mommy dan Oma. Sehingga dia berdoa: "Tuhan Yesus, ijinkanlah Efra bertemu dengan Daddy dan Uncle hari ini. Amin."


Efraim langsung mengirim pesan untuk daddynya. "Selamat pagi, Daddy. Hari ini, jam 10 kami akan ke pasar tradisional HG untuk beli ole-ole dan makan siang di sana. Setelah itu kami pulang ke penginapan untuk siap-siap ke Bandara." Isi pesannya, tidak langsung dibaca oleh daddynya. Efraim berpikir; mungkin daddynya belum bangun.


Seperti yang dipikirkan Efraim, Darel masih tidur. Karena tadi malam Darel dan Mikha berbicara sampai larut malam. Bunyi alaram membangunkannya. Darel langsung bangun dan melihat ponselnya. Ternyata sudah ada pesan dari Efraim. Dia membalas pesan Efraim dan menelpon Mikha untuk memberitahukan isi pesan Efraim.


"Ok, nanti aku ke kamarmu untuk sarapan dan setelah itu, kita berangkat." Ucap Mikha, dan disetujui oleh Darel. Tidak lupa Darel menelpon Hyun untuk mengosongkan schedule nya sampai sore dan mobilnya masih akan dipakai oleh Darel.


Darel segera mandi sebelum Mikha datang untuk sarapan dengannya. Setelah itu dia mencari dua buah kaosnya yang tidak terlalu menyolok. Dia menggunting brand yang ada di leher kaos tersebut, mengenakannya sebentar dan membukanya lagi. Dia menggulungnya dan memasukan dalam kantong loundry yang ada di kamarnya.


Darel mengenakan baju yang tidak menyolok, supaya tidak menarik perhatian. Begitu juga dengan Mikha yang datang sarapan dengan baju yang tidak menyolok. Selain memakai masker, mereka juga akan memakai topi.


Setelah sarapan, mereka langsung menuju ke pasar yang dikatakan Efraim, karena waktunya tidak memungkinkan untuk ke tempat penginapan Efraim. Darel mengirim pesan kepada Efraim, bahwa mereka sudah menunggu di tempat parkir pasar HG. Ketika membaca pesan itu, Efraim tersenyum riang. Walau hanya sebentar, yang penting bisa bertemu Daddy dan Unclenya.


"Darel. Aku mendapat ide, mari kita menyamar. Kita akan beli ole-ole untuk mereka semua dan mengajak mereka makan siang di sini. Kita tidak perlu makan, karena harus membuka masker." Ucap Mikha dan Darel tersenyum senang, menyetujui ide Mikha.


Darel langsung kirim pesan untuk Efraim, kalau mereka akan ikut rombongan Efraim dan setuju saja dengan apa yang dikatakan Uncle Mikha yang memakai topi Biru.


Darel dan Mikha turun masuk ke pasar, tidak lupa Darel membawa kantong plastik loundry. Melihat itu, Mikha bertanya: "Apa itu...?"


"Ini kaosku yang diminta Efraim. Usahakan kita bisa memberikannya." Ucap Darel dan Mikha mengangguk mengerti.


*- Sesuatu yang terbaik akan datang bagi mereka yang tidak pernah menyerah -*


Setelah melihat dua orang pria mendekati rombongan mereka yang sedang membeli ole-ole, Efraim tahu itu Daddy dan Unclenya yang bertopi Biru. Hatinya tersenyum gembira.


"Mikha, itu mereka dan kau cukup beli ole-ole satu-satu untuk mereka. Jangan membuat ribut di tempat ini dengan memborong banyak ole-ole." Mikha memberikan isyarat OK dengan jarinya, karena mengerti yang dimaksudkan Darel.


Ketika mereka akan membeli kaos souvenir ciri khas dari Korea Selatan, Mikha mendekati mereka dan Darel mengikutinya sambil berusaha santai. Darel menatap putranya dari jauh dengan sayang.


"Efraim, Uncle." Ucap Efraim sambil membungkuk dan teman-temannya ikut membungkuk. Mikha mendekati Efraim.


"Yaa, Efraim. Saya suka sekali permainan pianomu." Ucap Mikha sambil memeluk Efraim. Darel sudah menduganya, sehingga dia melihat ke sembarang arah.


Efraim yang kaget, tapi langsung membalas pelukan Unclenya dengan erat dan mata berembun. Ketika mendengar batuk Darel, Mikha segera melepaskan pelukannya.


"Saya senang juga bisa bertemu dengan kalian di sini, jadi saya akan membeli kaos ini buat kalian. Silahkan kalian pilih yang kalian suka." Ucap Mikha, dan mereka semua menatapnya tidak percaya.


"Pak Guru, boleh ambil lebih dari satu untuk istri atau anak, bapak." Ucap Mikha sambil mempersilahkan dengan tangannya.


"Benarkah...?" Tanya Pak Guru seakan tidak percaya yang didengarnya. Mikha mengangguk mengiyakan. Pak Guru mengucapkan terima kasih dan tersenyum senang.


"Kau juga Efraim, kau boleh ambil lebih untuk orang di rumahmu." Ucap Mikha, karena dia sudah tahu Efraim ingin membeli untuk adik, Mommy dan Omanya. Makanya dia sengaja menawarkan untuk Gurunya.


"Benarkah, Uncle?" Tanya Efraim juga, seakan tidak percaya. Mikha mengangguk sambil mengacak rambutnya dengan sayang.


"Terima kasih, Uncle." Ucap Efraim lalu kembali memeluk Mikha.


Efraim memilih tiga kaos lagi yang berbeda dari kaosnya. Setelah membayar semua belanjaan, Mikha mengajak mereka makan siang.


"Sekarang kalian pasti lapar. Ayooo, kami akan traktir kalian makan siang. Silahkan pilih tempat makan yang kalian suka." Ucapnya sambil mengajak mereka ke tempat makan yang mereka suka dan cocok dengan menu nya. Pak Guru pendamping mengucapkan terima kasih berulang kali.


Ketika duduk di meja makan, Darel duduk di samping Efraim. Sambil menunggu makanan yang telah dipesan, Darel menanyakan kegiatan mereka selama di Seoul.


Pak Guru menjelaskan semua tentang kegiatan mereka selama lima hari di Seoul. "Kami datang untuk ikut Pagelaran Musik Anak, di Seoul. Kalau di Relkha Mall itu adalah undangan dari pengelolah Mall untuk beberapa Negara yang mengikuti dan juara di acara tersebut."


Salah satunya adalah kami dari Indonesia, karena kami juara favorit dalam acara tersebut. Mendengar itu, Darel bernafas lega. Karena Efraim memiliki kegiatan yang positif.


Melihat perhatian Mikha dan Darel terhadap Efraim, Pak Guru menceritakan. "Efraim ini adalah pianis andalan di tempat kami. Oleh sebab itu, kami sangat bersyukur dia bisa ikut.


"Sebenarnya Efraim tidak diijinkan Mommynya ikut bersama kami. Karena kami kebingungan mencari orang lain yang seusia dengannya dan bisa bermain piano dengan baik, kami minta tolong Omanya." Pak Guru pendamping menceritakan.


*- Jangan pernah meremehkan sebuah doa, karena doa yang sederhana pun bisa mengubah sesuatu -*


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡