Me And You For Us

Me And You For Us
Mini Album Melo



...~•Happy Reading•~...


Setelah melewati berbagai kesibukan untuk mempersiapkan comebacknya Melo, akhirnya Mini Album Melo dirilis pada pertengahan bulan Oktober. Sesuai schedule yang direncanakan.


Seperti dengan prediksi Mikha, Mini Album Melo tidak memuaskan banyak pihak. Walaupun telah dibantu oleh Melons di seluruh dunia, penjualan Album mengecewakan banyak pihak.


Lagu utama Melo kurang greget, sehingga kurang diminati banyak orang. Terutama di Korea Selatan sendiri banyak komentar miring karena kecewa.


Banyak orang merasa heran dengan apa yang dicapai oleh Melo pada masa promosi. Bukan saja menang di berbagai acara musik, mencapai 10 besar ditangga lagu saja tidak bisa.


Para petinggi MD Entertaiment mendadak mengadakan pertemuan untuk evaluasi apa yang terjadi dengan Mini Album Melo.


Ketika telah berkumpul, semuanya diam. Tidak ada berwajah ceria, karena tidak ada yang bisa bergembira dengan apa yang di capai oleh Melo. Karena ini pertama kali dalam kariernya, Melo berada pada titik yang terendah.


Pada saat pertama kali debut Melo, lagunya bisa berada di 5 besar tangga lagu di Korea Selatan. Sedangkan saat ini, untuk mencapai 10 besar di tangga lagu saja tidak mampu.


Setelah semua berkumpul, Darel tetap duduk tenang. Sedangkan member yang lain diam dan menunduk. Terutama Baek, semenjak masuk ruangan hanya diam dan tidak mengangkat wajahnya.


Dalam keheningan, pimpinan MD Entertaiment menanyakan apa penyebab dari kegagalan comeback Melo dan Mini Albumnya. "Darel, kau sebagai Leader Melo, apa mengetahui penyebab semua ini?" Tanya Direktur, sambil menatap Darel.


"Kalau mengetahui, tentu saja tidak, Pak. Kami sudah berusaha bekerja dengan baik selama tiga bulan ini. Kalau produk yang kami tawarkan tidak diminati oleh pasar, berarti harus dievaluasi lagi." Ucap Darel tenang.


"Manager, mengapa kau diam saja? Bukankah sebelum merilis Album, kau sudah harus menyelidiki atau mensurvey pasar? Dan kau tahu apa yang kita jual bukan?" Tanya Direktur.


"Iya Pak, saya mengerti. Kami sudah mensurvey dan kami mencoba tawarkan sesuatu yang baru. Kami tidak menyangka, kalau respon pasar seperti ini." Ucap Manager Melo.


"Astagaa, selama ini saya mengira kau bisa membaca selera pasar dengan baik. Ternyata selera pasar yang kau survey itu, yang begini? Sehingga kau merubah musik Melo yang sudah diminati pasar selama ini?" Ucap Direktur lagi.


"Darel, selama ini kau selalu memberikan masukan untuk musik dan juga pemilihan lagu Melo. Apakah kau juga ikut merubah warna musik Melo yang selama ini sudah terbentuk dan dikenal?" Tanya Direktur lagi kepada Darel.


"Sepertinya saya tidak perlu menjawab pertanyaan itu, Pak. Karena pada rapat perdana untuk membicarakan comeback Melo dan penentuan lagu untuk Mini Album Melo, Pak Direktur juga hadir di tempat ini." Jawab Darel tetap tenang.


"Kalau untuk mencari penyebab kegagalan comeback Melo, kami akan cari bersama penyebabnya. Jika sudah ditemukan, kami akan evaluasi bersama. Apa yang menyebabkan kegagalan, sehingga Melo bisa berada pada titik terendah selama berkarier ini." Ucap Darel.


"Karena sekarang, sudah tidak berguna mencari siapa yang salah. Yang harus kita sadari, Melo bekerja dan berhubungan dengan seni dan musik. Jadi kita harus menghargai para penulis yang telah berkontribusi besar selama Melo berkarier." Ucap Darel lagi.


"Sebagai leader Melo, saya berterima kasih dan sekaligus minta maaf jika hasil kali ini sangat mengecewakan." Ucap Darel, lalu berdiri dan membungkukkan badannya.


"Mungkin Pak Yoon bisa memberikan nasehat kepada kami. Karena beliau lebih senior dari semua penulis lagu saat ini.  Beliau juga telah mendampingi Melo dari awal berkarier." Ucap Darel, dan kembali duduk. Pak Yoon mengangguk sambil menarik nafas dalam.


"Terima kasih Darel, memang benar sudah tidak berguna kita kesal atau marah. Semuanya sudah terjadi, biarlah ini menjadi pelajaran yang pahit bagi semua. Agar ke depan tidak egois dan gegabah dalam memutuskan sesuatu yang menyangkut kepentingan banyak orang." Ucap Pak Yoon.


"Kini kita semua sudah melihat dan merasakan, soal musik itu tidak seperti matematika yang sudah tahu hasil akhirnya. Musik itu menyangkut hati dan perasaan. Jika diantara mereka yang terlibat dalam pengadaan musik tidak selaras hati dan perasaannya, maka musik yang dihasilkannya juga tidak selaras nada dan iramanya." Ucap Pak Yoon lagi.


Akhirnya mereka menutup pertemuan dengan wajah yang tidak happy. Setelah selesai pertemuan dengan Manager Melo dan petinggi MD Entertaiment, Darel hendak ke studionya. Karena baginya, saat ini tidak menyenangkan lagi untuk berlama-lama di Agency.


Ketika hendak keluar ruangan, Baek menahan dan meminta Darel, David, Hwa dan Chih untuk tetap berada di ruangan. Jadi mereka berempat kembali duduk bersama Baek.


...°-° Membangun itu lebih mudah, dari pada mempertahankannya °-°...


Darel sebenarnya sudah tidak ingin berada dalam ruangan rapat lagi. Karena baginya lebih baik menggunakan waktu untuk introspeksi diri. Tetapi karena para member yang lain telah menyetujui untuk tetap tinggal sesuai permintaan Baek,  maka Darel kembali duduk bersama mereka.


Setelah menunggu sekian lama tidak ada yang bersuara, Darel mempersilahkan Baek untuk mengatakan apa maksudnya menahan mereka tetap berada dalam ruangan tersebut. Baek menatap Darel dengan emosi, karena melihat Darel yang tetap tenang seakan-akan tidak terjadi sesuatu.


"Kau marah karena lagumu tidak dipakai dalam Mini Album Melo? Tetapi kenapa kau melampiaskannya kepada grup? Atau kau mau pamer di depan kami dan para petinggi Agency, kalau kau itu hebat?" Tanya Baek beruntun, karena baginya ini adalah kesempatan untuk menjatuhkan Darel di mata ketiga member Melo lainnya.


Kemudian Baek diam, setelah mengucapkan apa yang ada di hati dan pikirannya. Member yang lain menatap Darel dengan wajah memohon, agar tidak terjadi keributan. Wajah Darel sudah memerah.


"Sudah...? Sudah cukupkah kata-katamu? Kalau masih ada lagi, keluarkan semua supaya hatimu clear." Ucap Darel, tetapi Baek hanya diam.


"David, Hwa dan Chih, kalau ada yang mau kalian katakan, silahkan. Keluarkan yang ada di pikiran dan hati kalian, agar clear semua." Ucap Darel, tetapi ketiga member lain tetap diam dan menunduk.


"Sekarang, karena kalian tidak mau berbicara, jadi saya bicara. Jadi angkat wajah kalian, dan simak baik-baik ucapanku." Ucap Darel dingin dan wajah mengeras.


Member lain mengangkat wajah mereka dan terkejut melihat wajah Darel yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Darel sangat serius dan dingin.


"Mari kita bahas satu persatu yang disampaikan oleh Baek tadi. Pertama, dia bertanya: 'Bukankah ini yang aku inginkan?' Jadi menurut Baek, aku menginginkan Melo berada di titik terendah seperti ini." Ucap Darel sambil menunjuk Baek, tetapi menatap ketiga member lainnya.


"Sekarang menurut kalian bertiga, apakah itu yang dimaksudkan oleh Baek dengan ucapannya tadi?" Tanya Darel, lalu ketiga member Melo mengangguk, membenarkan.


"Iyaa, Kak." Ucap David mengiyakan, menjawab pertanyaan Darel.


"Sekarang. Kau, Baek. Berdasarkan apa atau alasan apa yang membuatmu menuduhku seperti itu? Karena bagiku itu sebuah tuduhan." Ucap Darel sambil menatap Baek tanpa mengalihkan pandangannya. Lama menanti, Baek tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Darel.


"Jawaaab...!!!" Ucap Darel sambil memukul meja dengan tangannya. Keempat member Melo terlonjak berdiri karena terkejut akan tindakan Darel.


"Kenapa aku butuh jawaban darimu? Karena jawabanmu menentukan, apakah aku harus membahas pernyataan dan pertanyaanmu selanjutnya." Ucap Darel serius dan tetap menatap Baek.


Mereka berempat kembali duduk.


Baek tetap diam, dia masih shock melihat sikap Darel. Karena Darel yang di depannya ini sangat berbeda dengan Darel yang selama ini dia kenal. Baek seakan tidak mengenalnya.


"Kalau kau tidak punya alasan untuk menuduhku, lebih baik kau tidak usah buka mulutmu. Karena dengan membuka mulutmu, kau sedang menunjukan dirimu yang sebenarnya." Ucap Darel, tetap menatap Baek tajam.


"Sekarang ini, tidak perlu mencari kambing hitam, kambing putih atau kambing pelangi untuk menunjukan bahwa dirimu benar. Cukup introspeksi diri sendiri dan engkau akan melihat dan mengetahui mana kambing yang sebenarnya." Ucap Darel tetap serius dan dingin.


"Untuk kalian bertiga, sekarang kalian sudah tahu. Segala keputusan menyangkut grup, bukan hanya kalian merasakan akibatnya. Tetapi banyak orang di sekitarmu yang selalu membantumu, akan merasakan juga dampaknya." Ucap Darel, mempergunakan kesempatan untuk menasehati ketiga member termuda.


"Mungkin kalian bisa menutup telinga atau mata dari semua cacian dan makian yang dilontarkan kepada kalian. Tetapi kehidupan banyak orang lebih sakit dan menderita dari yang kalian rasakan. Karena menyangkut perut keluarga mereka." Ucap Darel lagi.


"Jadi mulai sekarang, jangan egois; jangan hanya pikirkan diri sendiri dalam bertindak atau mengambil keputusan. Karena kehidupan banyak orang terhubung dengan kita."


"Jangan diam; ketika mengetahui ada hal yang tidak benar. Karena setelah semua itu terjadi, sebuah kata maaf ta'kan mampu mengobati banyak luka." Ucap Darel sambil terus menatap ketiga member termuda.


Ketiga member Melo mengangguk mengiyakan dengan wajah memerah dan mata berembun. Ketika melihat itu Darel tahu, mereka hanya ikut saja dan tidak bisa membantah.


"Dan untukmu, Baek. Melihat banyak asesioris salib di tubuhmu, alangkah baiknya kau lebih sering ke Gereja daripada ke bar atau diskotik." Ucap Darel lagi, dan langsung meninggalkan ruangan.


Baek menjadi kesal, sambil melihat punggung Darel yang meninggalkan ruangan. Sedangkan tiga member yang lain tersenyum, lalu ikut meninggalkan ruangan.


...°-° Iri hati ibarat duri. Jika simpan di hati, suatu saat bisa menusukmu °-°...


...~***~...


...~●○¤○●~...