Me And You For Us

Me And You For Us
Engagement.



Tidak lama kemudian, mereka dipanggil oleh Efraim bahwa semua sudah berkumpul di ruang tamu. Darel menggenggam tangan Kandara untuk menenangkannya dan turun bersama Efraim.


Ketika melihat mereka turun bersama, semua yang sedang duduk di ruang tamu dibuat terpesona. Karena Darel dan Kandara sangat serasi dan mempesona.


Walaupun baju Kandara sederhana, tetapi warna kulit dan kecantikannya membuat baju yang dikenakannya terlihat elegan dan mewah.


Darel dan Kandara duduk di sofa bersama anak-anaknya. Pak Darpha dan Bu Richel melihat mereka berempat, hati mereka penuh dengan ungkapan syukur.


Terutama Pak Darpha yang tidak menyangka, putranya sudah memiliki keluarga lengkap. Sudah memiliki istri dan dua orang anak yang sudah besar. Hanya ada ungkapan syukur di dalam hatinya.


Bu Selvine duduk di sofa tunggal, sedangkan Bu Richel dan Pak Darpha duduk di sofa panjang. Mikha di belakang kamera untuk merekam semua moment yang sedang terjadi. Meja ruang tamu telah disingkirkan oleh Kandara dan Bu Selvine.


Ketika melihat semua sudah berkumpul, Pak Darpha mengungkapakan maksud kedatangan mereka menemui keluarga Kandara..


"Karena semua sudah berkumpul, jadi kita bisa memulai maksud dan tujuan kami datang ke sini." Ucap Pak Darpha mulai membuka pertemuan.


"Begini Bu Selvine, mungkin anak kami Darel telah meminta putri anda untuk menjadi istrinya. Hari ini, kami sebagai orang tuanya juga datang untuk meminta Kandara untuk menjadi menantu kami." Ucap Pak Darpha., sambil melihat Bu Selvine.


"Kiranya Bu Selvine berkenan memberikan Kandara menjadi bagian dari keluarga kami juga." Ucap Pak Darpha dengan tenang dan serius.


Kandara langsung menunduk terharu mendengar ucapan Pak Darpha. Darel terus mengusap punggungnya untuk menenangkannya.


"Terima kasih Pak Darpha dan Bu Richel telah datang sendiri untuk meminta putri kami. Terima kasih telah menghargainya begitu tinggi." Ucap Bu Selvine yang mulai terharu.


"Dengan senang hati dan rasa syukur saya mempercayakan putri kami dan anak-anaknya untuk menjadi bagian keluarga besar Pak Darpha." Ucap Bu Selvine dengan mata berembun. Begitu juga dengan Bu Richel yang merasa terharu mendengar ucapan Bu Selvine.


"Terima kasih Bu Selvine., telah menerima maksud baik kami." Ucap Pak Darpha dengan menunduk hormat. Bu Selvine juga ikut menunduk, hormat.


"Silahkan Mommy, mungkin mau mengatakan sesuatu.?" Tanya Pak Darpha kepada istrinya. Bu Richel menatap putranya dengan sayang. Karena Darel sedang menatapnya.


"Terima kasih daddy.,, dan terima kasih juga Bu Selvine. Telah menerima kami dengan baik. Karena ini acara resmi kami melamar Dara, dan Dara tidak meminta sesuatu dari kami. Jadi untuk acara ini, kami tidak tahu apa yang diperlukan Dara." Ucap Bu Richel, sambil melihat Kandara.


"Kami hanya bisa memberikan ini sebagai bukti pengikat antara Dara, Darel, dan keluarga kami." Ucap Bu Richel sambil berdiri dan membuka tangannya ada sebuah kotak kecil berwarna hitam.


Bu Richel mendekati Darel dan Kandara yang telah berdiri, dan menyerahkannya kepada Darel. Darel membukanya dan memandang Mommynya terharu. Darel langsung memeluk mommynya dengan sayang dan matanya mulai berembun.


"Dara, itu adalah cincin pemberian daddy saat melamar Mommy. Terima itu dan jaga baik-baik., karena itu adalah pengikatmu dengan keluarga kami" Ucap Bu Richel., dengan mata berembun.


Darel menatap Kandara, mengambil tangannya dan memasang cincin tersebut di jari manisnya. Darel mencium dahi Kandara lembut dan memeluknya dengan sayang. Kandara menerimanya dengan hati membuncah.


Wajah Kandara sudah basah air mata. Begitupun dengan yang lain, yang ada dalam ruang tamu Kandara. Darel terus memeluk Kandara dan mengusap punggungnya pelan untuk menenangkannya.


*- Jika engkau mengasihi seseorang, engkau akan menghargainya -*


Kandara menghapus air matanya perlahan, dan menggenggam tangan Darel. Mereka menuju Bu Selvine dan diikuti oleh anak-anaknya.


"Kiranya Tuhan memberkati kalian dan melindungi kalian."  "Amiiin.!"


Darel dan Kandara mengaminkan. Bu Selvine memberkati dengan tangan yang bersilang.


Giliran Efraim dan Efrima berlutut di depan Omanya. Bu Selvine meletakan tangan kanannya di atas kepala Efraim tidak bersilang, karena Efraim berada di sebelah tangan kanannya.


"Kiranya Tuhan melindungi kalian dari segala yang jahat dan memagari kalian dengan kebaikan." "Amiiin.!"


Efraim dan Efrima mengaminkannya. Melihat hal itu, Pak Darpha mengerti. Itu bukan prosesi minta maaf, tetapi meminta berkat. Pak Darpha sangat senang dan terharu. Begitupun dengan Bu Richel yang mulai memahami tindakan itu.


Darel yang mulai mengerti ketika melihat posisi Efraim, langsung menggenggam tangan Kandara dan berjalan mendekati Pak Darpha dan berlutut di depannya. Pak Darpha langsung meletakan tangan kanannya di kepala Darel dan tangan kiri di atas kepala Kandara untuk memberkati mereka.


"Kiranya Tuhan menyinari kalian dengan wajah-Nya dan memberi kalian kasih karunia." "Amiiin.!"


Mereka mengaminkan apa yang diucapkan Pak Darpha dan berdiri. Giliran Efraim dan Efrima berlutut di depan Grandpanya. Pak Darpha sangat terharu melihat kedua cucunya sedang berlutut di depannya.


Pak Darpha menguatkan hatinya dan meletakan tangan kangannya di atas kepala Efraim dan tangan kiri diatas kepala Efrima.


"Kiranya Tuhan memberkati kalian dengan segala yang baik dari sekarang sampai selama-lamanya."  "Amiiin.!"


Efraim dan Efrima mengaminkanya dan berdiri. Darel dan Kandara berjalan mendekati Bu Richel dan berlutut di depannya. Mata Bu Richel sudah berair, tetapi dia menguatkan dirinya dengan meletakan tangan di atas kepala Darel dan Kandara seperti suaminya dan memberkati mereka.


"Kiranya Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada kalian dan memberi kalian damai sejahtera."  "Amiiin.!"


Mereka bersama-sama mengaminkan dan berdiri menanti anak-anaknya berlutut di depan Grandmanya. Bu Richel sudah berurai air mata melihat kedua cucunya berlutut dan menunduk dengan menahan tangis. Dia meletakan tangannya di atas kepala mereka dan memberkati mereka.


"Kiranya Tuhan menunjukan kasih-Nya dan kebaikan-Nya di sepanjang jalan hidup kalian." "Amiiin.!"


Mereka mengaminkan dan berdiri memeluk Grandma nya. Darel dan Kandara berjalan ke arah Mikha dan memeluknya. Mikha hanya bisa ucapkan 'Selamat' karena dia sudah sangat terharu.


Ketika Efraim dan Efrima datang dan berlutut di depan Mikha, dia mengerti. Mikha langsung duduk dan meletakan tangannya di atas kepala mereka dan memberkati mereka.


"Kiranya Tuhan menjadikan kalian kebanggaan keluarga dari sekarang sampai selama-lamanya." "Amiiin.!"


Efraim dan Efrima mengaminkan dan berdiri memeluk Unclenya. Mikha sudah tidak bisa menahan air matanya, langsung memeluk mereka dengan erat sambil mencium mereka bergantian.


Melihat akan hal itu, Kandara langsung memeluk Darel di sampingnya dan menangis dalam diam di dadanya. Darel mencium puncak kepalanya dan mengelus punggungnya untuk menenangkan Kandara dan hatinya, karena dia sendiri sedang terharu.


Menyadari suasana yang demikian, Mikha langsung melepaskan pelukan dari Efraim dan Efrima untuk mengajak mereka foto bersama.


*- Tuhan selalu membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya -*