
Di bagian bumi yang lain ; Kandara dan Bu Selvine sedang berada di Swalayan Buah Segar. Karena Kandara sangat suka dengan buah-buahan segar.
Tadi setelah pulang kerja, Kandara dijemput oleh Mamanya. "Ma, kita ke swalayan untuk membeli buah-buahan, ya." Usul Kandara, mengajak Mamanya berbelanja. Bu Selvine menyetujuinya, sehingga mereka bersama-sama ke swalayan khusus, menjual buah-buahan segar.
Ketika mereka tiba di Swalayan, banyak buah segar yang baru datang. Membuat Kandara senang dan bingung memilih. "Dara, pilih beberapa saja yang lagi disukai. Jangan mengikuti matamu, bisa-bisa semua buahnya kau bawa pulang." Ucap Bu Selvine, melihat Kandara yang kebingungan memilih buah.
"Iyaa, yaa, Ma. Habis buah-buah ini kelihatan segar dan enak." Ucap Kandara tersenyum, mengerti yang dimaksudkan Mamanya.
"Pilih saja beberapa yang paling disukai, nanti kalau sudah mau habis, kita datang beli lagi." Ucap Bu Selvine sambil mengelus pelan lengannya.
"Ma, kalau kita datang lagi, masih bisa dapat yang segar-segar begini, ngga?" Tanya Kandara, karena khawatir kehabisan.
"Iyaa dong, namanya juga swalayan 'Buah Segar'. Pasti akan menyediakan buah-buah yang segar. Tidak usah khawatirkan hal itu." Ucap Bu Selvine lagi, untuk meyakinkan Kandara.
"Ooh, iyaa, Ma." Ucap Kandara tersenyum sambil mengisi keranjang dengan buah yang diinginkannya. Bu Selvine ikut tersenyum melihat tingka putrinya.
"Selamat sore. Apakah benar, ini Nona Dara?" Tiba-tiba seorang ibu yang sedang memilih buah di depan Kandara, menyapanya. Kandara dan Bu Selvine terkejut mendengar dan melihatnya.
"Selamat sore juga, Bu. Iyaa, saya Dara. Apakah ibu mengenal saya?" Tanya Kandara yang masih bingung, sambil memandang ibu dan bapak yang sedang memandangnya, dengan tersenyum.
"Kami orang tua Toby, Nona Dara. Kami mengenalmu dari foto yang ada di kamar Toby. Foto kalian bertiga waktu di Seoul. Jadi ibu tahu namamu dan Mala dari Toby." Ibu Asri menjelaskan, kenapa bisa mengenal Kandara.
"Oooh. Maaf ya, Bu." Ucap Kandara langsung mendekati orang tua Toby dan menyalami mereka. Bu Asri tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan Kandara yang sedang memberikan salam padanya. Begitupun dengan Pak Danny, Ayah Toby.
Bu Asri sudah memperhatikan Kandara dan Bu Selvine dari tadi. Karena wajah Kandara terasa familier baginya. Ketika teringat foto di kamar Toby, Bu Asri langsung bertanya untuk memastikannya. Toby beberapa kali bercerita tentang Kandara dan Mala kepada orang tuanya, terutama setelah mereka ditugaskan bersama ke Seoul.
"Ini Mama saya, Bu, Pak." Ucap Kandara memperkenalkan Bu Selvine kepada orang tua Toby. Bu Selvine mendekat dan menyalami kedua orang tua Toby.
"Apakah Nona Dara sudah dapat yang dicari?" Tanya Bu Asri lagi untuk mengakrabkan diri.
"Sudah, Bu." Jawab Kandara sambil menunjuk keranjang ditangannya.
"Ibu belum dapat yang dicari, yaa." Ucap Kandara, karena melihat keranjang Bu Asri masih kosong.
"Iyaa, niiih. Jadi bingung pilihnya... Oooh iyaa, Nona Dara sudah menikah?" Tanya Bu Asri, membuat Kandara terkejut. Begitu juga dengan Bu Selvine.
"Belum, Bu." Jawab Kandara berusaha tersenyum dengan wajah memerah.
"Kami duluan yaa, Bu, Pak. Ini sudah dapat yang di cari. Permisiii..." Ucap Kandara dan Bu Selvine ikut pamit.
"Ooh, iyaa. Silahkan Nona, Bu. Hati-hati." Ucap Bu Asri dan Pak Danny mengangguk dan tersenyum.
Setelah ditinggal Kandara dan Bu Selvine, Ayah Toby menegur istrinya. "Bu, kenapa tadi tanya begitu? Itu membuat Nona Dara tidak enak. Ibu ngga lihat, tadi wajahnya memerah?"
"Iyaa, Yah. Tadi Ibu penasaran saja. Karena Ibu lihat, sepertinya putra kita menyukai Nona Dara. Nanti di rumah baru kita bicarakan." Ucap Bu Asri kepada suaminya, sambil memasukan pisang ambon ke keranjangnya.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Bu Selvine dan Kandara telah di dalam mobil untuk pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah, Bu Selvine membuat minuman panas untuk mereka. Sedangkan Kandara membersihkan buah-buahan yang baru dibelinya. Setelah membersihkan diri, mereka duduk di meja makan untuk minum minuman yang telah dibuat oleh Bu Selvine.
"Dara, kejadian yang tadi itu, baru awal. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan kau dengar ke depan. Tidak usah dipikirkan atau dimasukan ke hati." Ucap Bu Selvine sambil mengusap tangan Kandara.
"Iyaa, Ma. Dara mengerti." Kandara mulai memahami yang disampaikan Mamanya.
"Mama tidak tahu maksud dari pertanyaan Ibu Toby tadi. Tapi Mama bisa lihat, orang tua Toby, orang yanh baik. Jadi kalau bertemu Toby dan mau dibicarakan, bijak-bijaklah." Ucap Bu Selvine lagi.
"Iyaa, Ma. Dara mengerti." Ucap Kandara sambil mengangguk.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Orang tua Toby telah tiba di rumah, dan melihat Toby yang baru keluar dari kamarnya. "Toby, sudah pulang kerja? Mengapa ngga kasih tahu Ibu, biar kami tidak lama-lama di luar." Ucap Bu Asri, ketika melihat Toby yang sudah selesai mandi.
"Tadi Ayahmu pulang kerja masih sore, jadi Ibu minta diantar ke swalayan. Karena keperluan rumah kita sudah hampir habis." Jawab Bu Asri.
"Ooh... Toby kira Ibu sedang di kamar dan Ayah belum pulang. Jadi Toby langsung ke kamar untuk mandi. Toby sudah lapar, Bu." Ucap Toby sambil memegang perutnya.
"Ooh, iya. Sebentar, yaa. Ibu akan siapkan." Ucap Bu Asri dan segera ke belakang untuk berbicara dengan Mbo'. Toby mengambil kantong belanjaan dari tangan Ayahnya dan menyusul Ibunya ke belakang.
Pak Danny langsung ke ruang makan, kemudian Toby datang dan duduk di meja makan bersama Ayahnya. "Apakah pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Pak Danny, ketika Toby telah duduk di depannya.
"Masih, Yah." Jawab Toby, sambil melihat Ayahnya yang sedang memandangnya.
"Apakah temanmu yang bernama Dara, masih bekerja bersamamu?" Tanya Pak Danny lagi, membuat Toby terkejut. Toby melihat wajah Ayahnya dengan seksama, karena tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba Ayahnya menyebut nama Dara.
"Mengapa tiba-tiba Ayah bertanya tentang Dara?" Tanya Toby, masih heran.
"Tadi kami bertemu dengannya di swalayan. Dia gadis yang baik, selain itu, sangat cantik." Ucap Pak Danny sambil tersenyum.
"Waaah, ada yang ngga sabar membicarakannya." Ucap Bu Asri ketika mendengar Pak Danny menyebut nama Dara. Pak Danny makin tersenyum mendengar komentar istrinya.
"Toby, mungkin tadi Ibumu salah berucap, karena tiba-tiba wajah Dara memerah." Ucap Pak Danny mengingat kejadian di swalayan.
"Memangnya Ibu ada katakan apa?" Tanya Toby mulai curiga, dan khawatir.
"Ibumu tanya, apa Dara sudah menikah?" Pak Danny menjawab pertanyaan Toby.
"Astaga, Bu. Kenapa harus tanya yang begitu? Apa tidak bisa tanya yang lain? Yaaa, sesama wanita... Mengapa bisa cantik, Dara?" Toby mencoba tersenyum untuk menghilangkan khawatirnya.
"Kau itu, orang tua lagi serius, tapi diajak bercanda terus. Ayooo... Berdoa dan makan. Katanya, sudah lapar. Nanti selesai makan baru di teruskan." Ucap Bu Asri sambil mengacak rambut Toby.
"Bu, ko', bisa tahu itu Dara?" Tanya Toby setelah selesai makan. Karena saat makan, dia terus berpikir tentang hal itu.
"Ibu melihat fotonya di kamarmu bersama Mala. Jadi ketika masuk swalayan, Ibu sudah melihatnya. Ibu ingat pernah lihat wajahnya di mana, yaaa. Lalu teringat foto di kamarmu. Jadi Ibu dekatin dan tanya untuk memastikan." Ucap Bu Asri dan Toby geleng kepala mendengarnya.
"Dara pasti kanget dan heran mendengar itu." Ucap Toby.
"Iyaa, dia langsung bertanya dengan wajah heran, apa Ibu memgenal saya?" Ucap Pak Danny tersenyum.
"Dan Ibumu lagi, bukannya tanya sudah punya pacar atau belum. Mala bertanya sudah menikah atau belum." Ucap Pak Danny geleng kepala.
"Yaaa, Ayah. Dosen tapi, ngga kreaktif. Untuk apa tanya sesuatu yang sudah tahu jawabannya. Masa gadis secantik Dara belum punya pacar. Tanya langsung ke tujuannya, buktinya dia jawab belum." Ucap Bu Asri tersenyum.
"Iyaa, tapi dijawab dengan wajah memerah. Ibu telah membuatnya malu." Ucap Pak Danny lagi. Toby hanya melihat kedua orang tuanya bergantian dengan was-was.
"Tapi, Yah. Ibu suka sekali melihat wajahnya yang memerah. Banyak wanita harus makeup tebal untuk bisa seperti itu, tapi Dara bisa seperti itu dalam sekejab. Ibu langsung membayangkan dia jadi mantu Ibu." Ucap Bu Asri sambil tersenyum dan mengingat wajah Kandara.
"Astagaaa, Bu. Halu'nya jangan kelewatan." Ucap Toby, sambil geleng kepalanya.
"Kenapa kau bilang Ibu halu? Kalau kau menyukainya, tidak usah banyak mikir. Sana dekatin dia, nanti Ibu dekatin Mamanya. Ibu bisa tahu, Mamanya juga baik. Urusan Papanya, nanti bagian Ayah sebagai sesama lelaki."
"Astagaaa, Bu. Berhenti halu'nya. Selain Papanya Dara sudah meninggal, soal perasaan bukan seperti pelajaran matematika yang Ibu ajar sama murid-murid Ibu, yang semua sudah ada jawabannya.
"Tidak ada salahnya berusaha, Toby. Ketika melihat dia secara langsung, Ibu jatuh hati padanya." Ucap Bu Asri serius.
"Sudah, Bu. Yang penting sudah kasih tahu Toby. Selanjutnya biar Toby yang mengaturnya." Ucap Pak Danny, sambil mengisyaratkan cukup bicaranya. Karena melihat Bu Asri masih ingin berbicara lagi.
*- Setiap orang tua menginginkan anaknya mendapatkan pasangan hidup yang baik -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡