
Di rumah keluarga Pak Danny sudah ramai, karena hari ini adalah ulang tahun Pak Danny. Semua saudara Pak Danny dan Bu Asri telah berkumpul untuk merayakan ulang tahun Pak Danny yang ke 55 tahun.
Kesibukan masing-masing membuat saudara Pak Danny dan Bu Asri jarang bertemu. Hanya pada moment-moment seperti ini, mereka bisa berkumpul. Sehingga di saat bertemu seperti ini, mereka bisa saling berbagi cerita.
"Bu, bukannya tadi Toby sudah dikasih tau, kalau hari ini pada ngumpul?" Tanya Pak Danny sambil berbisik kepada Bu Asri.
"Iyaa, Yah. Sudah dikasih tau, mungkin masih di jalan." Jawab Bu Asri pelan, dan mengelus lengan Pak Danny, agar bersabar.
"Semoga tidak kena macet atau tidak diminta lembur." Ucap Bu Asri lagi dan berharap.
"Semoga bukan karena permintaanmu, dia terlambat pulang." Ucap Pak Danny.
"Permintaanku yang mana, Yah." Tanya Bu Asri, sambil melihat suaminya.
"Ibu sudah lupa, atau sedang pura-pura lupa?" Pak Danny balik bertanya.
"Oooh, ituuu." Ucap Bu Asri sambil menggerakan tangannya melukiskan tubuh wanita.
"Iyaaa, ituuu." Ucap Pak Danny sambil meniru yang dilakukan istrinya.
"Sepertinya tidak jadi, Yah. Toby tidak memberi kabar, kalau dia bisa datang." Ucap Bu Asri dengan wajah kecewa.
"Bukannya tadi Ibu bilang dia sudah bersedia datang?" Tanya Pak Danny dengan dahi berlipat, melihat wajah kecewa istrinya.
"Dia sudah bilang mau, tetapi mau bicara dulu dengan Toby dan Mamanya. Mungkin saja diantara mereka ada yang tidak mengijinkan. Atau dua-duanya tidak mengijinkan. Tetapi Ibu lebih curiga pada putramu yang tidak mengijinkan." Ucap Bu Asri, sambil mengingat pembicaraannya dengan Toby, tadi siang.
"Sudahlah, jangan dipaksakan. Ibu juga, baru bertemu satu kali, sudah ke'PD'an ngundang. Dia pasti kepikiran dan banyak tanya di kepalanya. Sudaaah, siapkan makanannya." Ucap Pak Danny, sambil mengelus lengan istrinya agar tidak usah dipikirkan.
"Tapi, Yah. Dari suaranya tadi, Ibu merasa dia menerima undangan Ibu." Ucap Bu Asri yang masih berharap.
"Iyaaa, iyaa, Bu. Injak lantai yang kuat dan tolong siapkan makanan." Ucap Pak Danny, sambil meninggalkan istrinya dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Toby dan Kandara yang sedang jalan masuk ke rumahnya. Sayup-sayup terdengar suara canda tawa dari arah dalam rumah Toby.
"Mas, ternyata ada banyak orang." Ucap Kandara tertegun, lalu berdiri.
"Tenang saja, yang di dalam semua sudah pada jinak. Nanti kalau ada yang belum jinak, kita 'smess' ke Mala." Ucap Toby bercanda untuk menenangkan Kandara.
"Mas, Tobiii. Kata-kata itu hanya untuk kalangan terbatas ruang programmer. Ngga boleh dipublikasikan, tanpa ijin dari Mas Mala. Bisa-bisa Mas Toby yang dikrangkeng." Ucap Kandara sambil tersenyum.
"Sssstttt..." Ucap Toby, sambil memberikan isyarat kepada Kandara untuk diam dan berdiri agak ke kiri dari pintu. Kemudian, Toby mengetuk pintu rumahnya.
"Selamat malam, Bu." Toby memberikan salam, ketika Bu Asri membuka pintu rumahnya.
"Astaga, sejak kapan kau masuk rumah pake ketuk segala?" Tanya Bu Asri ketika melihat Toby berdiri di depan pintu.
"Yaaaa, sejak ada yang berulang tahun ke 55." Ucap Toby, tetap berdiri di depan pintu dan melihat Pak Danny mendekat.
"Masuk, sebelum Ibu jewer telingamu. Kau yang ngga ijinin, Dara datang ke sini bukan?" Tanya Bu Asri lagi dengan nada pasti, yang kecewa.
"Siapa yang bilang, Bu. Jangan suka menuduuu..." Ucap Toby sambil tersenyum. "Iniii... orangnya sudah datang." Ucap Toby lagi, sambil memberikan kode kepada Kandara untuk mendekat.
"Astaga. Mari masuk, Dara. Kenapa tidak b'ri tahu Ibu?" Ucap Bu Asri sambil memukul lengan Toby.
"Memangnya, Ibu doang, yang bisa bikin kejutan?" Ucap Toby sambil berjalan mengikuti Ibunya yang sedang berjalan dengan Kandara di depannya.
Pak Danny datang mendekati mereka dengan wajah berseri. "Selamat malam, Pak. Selamat Ulang Tahun." Ucap Kandara mendekati Pak Danny, dan memberikan salam.
"Wuuaaah... Terima kasih, Dara. Ayooo, masuk." Pak Danny mengajak Kandara ke tempat keluarganya yang sedang berkumpul.
"Ayaaah, ada apa dengan wajah Ayah?" Tanya Toby, ledekin Ayahnya yang sedang tersenyum, happy. Pak Danny tidak menyangka, Kandara benar-benar bisa datang. Hal itu membuatnya sangat bahagia di hari ulang tahunnya.
Seperti Bu Asri, Pak Danny juga sudah jatuh hati kepada Kandara dan sangat mengharapkan dia bisa menjadi menantunya. "Ini kan ulang tahun Ayah, jadi senanglah, bisa pada kumpul semua." Jawab Pak Danny menghindari ledekan Toby lebih lanjut.
Semua keluarga yang ada di ruang tamu terdiam ketika melihat Pak Danny dan Bu Asri masuk bersama Toby dan Kandara. Mereka semua mengira, Kandara adalah pacarnya Toby.
Melihat reaksi keluarganya, Toby makin menyesal menyetujui Kandara menerima undangan Ibunya. "Selamat malam semua, kenalkan ini TEMAN KANTOR Toby. Namanya Dara." Ucap Toby menekankan teman kantor bagi keluarganya.
"Benarkah, Mba' Dara kerja di kantor yang sama dengan Mas Toby? Benarkah Mba' Dara kerja bersama Mas Toby?" Tanya salah seorang sepupuh Toby, tidak percaya.
"Astagaa... Vera, kalau Dara bukan teman kerja Mas Toby, lalu teman main boneka? Katup mulutmu, sebelum banyak serangga membuat tempat tinggal di dalamnya?" Ucap Toby, yang menggelengkan kepalanya melihat tingka sepupuhnya.
Kandara hanya bisa tersenyum malu, membuat wajahnya mulai memerah. Vera menatapnya dengan takjub. "Mba' Dara bukan artis atau model?" Tanya Vera yang masih penasaran, karena melihat wajah Kandara yang sangat cantik.
"Iya, Vera. Saya teman kerja Mas Toby, lebih tepatnya, kami satu tim kerja. Saya programmer, sama dengan Mas Toby." Jawab Kandara untuk meyakinkan Vera.
"Kau pikir, yang cantik ngga boleh jadi programmer? Kasihan banget, programmer pria. Hanya melihat kotak tiap hari. Sudah cukup, bengongnya. Kasih tempat duduk buat Mba' Dara." Ucap Toby, lalu mencolek dagu Vera.
"Ibu juga, ikutan Vera bengong. Sudah ngundang, tapi dibiarkan berdiri terus." Ucap Toby membuat Bu Asri jadi tidak enak hati. Beliau segera mempersilahkan Kandara duduk.
"Oooh, iya Bu. Saya hanya bisa bawa ini. Karena kami lagi banyak kerjaan, jadi ngga bisa minta ijin keluar." Ucap Kandara sambil menyerahkan kotak kue yang masih dipegangnya.
"Terima kasih, Dara. Kami jadi merepotkanmu." Ucap Bu Asri, merasa tidak enak kepada Kandara.
"Ngga merepotkan ko' Bu, tapi kami beli sekalian jalan ke sini." Ucap Kandara, pelan.
"Ayooo, Bu. Ini sudah pada lapar, mari kita makan. Nanti kita ngobrol lagi." Ucap Pak Danny, mengingatkan istrinya.
"Oooh, iya, Yah. Ibu sampai lupa." Ucap Bu Asri yang tidak bisa berkonsentrasi, karena kehadiran Kandara. Hatinya sangat senang.
"Ayoo, Toby. Berdoa untuk ulang tahun Ayahmu dan makan malam kita." Ucap Bu Asri. Toby langsung membeku mendengar permintaan Ibunya.
"Bu, Ibu saja yang berdoa. Kalau Toby yang berdoa, bisa stop di tengah jalan." Ibu dan Ayahnya langsung melihatnya dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.
Harapan mereka, Toby yang berdoa sehingga ada point tambahan di mata Kandara. Seorang calon Imam yang baik bagi keluarganya. Mereka tidak menyadari, Toby belum pernah berdoa di depan banyak orang. Hal itu bisa membuatnya grogi dan salah ucap, apalagi ada Kandara bersamanya.
"Oooh, iyaa. Dara, tolong bantu doa, yaa." Toby sengaja meminta Kandara, supaya Ibunya yang akan berdoa. Kedua orang tua Toby hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat sikap cuek putranya yang tidak berkurang.
"Ooh, iyaa, Mas. Tapi mohon maaf, kalau hanya doa sederhana saja, ya." Ucap Kandara sambil berdiri. Toby terkejut, Kandara menerimanya, padahal Kandara belum mengenal keluarganya dengan baik. Toby mengharapkan Ibunya yang berdoa.
*- Harapan bisa membuat seseorang semangat, untuk tetap berjuang meraih yang di inginkan -*
β‘β’~Jangan lupa like, komen, vote danΒ favorit, yaa... ππ» Makasih~β’β‘