
Di bagian bumi yang lain ; Belakangan ini, Kandara disibukkan dengan berbagai proyek 'kejar tayang' (sebutan gang programmer untuk proyek yang harus selesai dalam waktu yang singkat), sehingga membuat dia memiliki sedikit waktu untuk bisa bertemu dan berkumpul dengan anak-anak dan Mamanya.
Hari ini, Kandara tidak bekerja lembur di kantor. Dia sengaja menyelesaikan semua pekerjaannya sepanjang minggu ini, agar bisa pulang tepat waktu untuk bermalam sabtu bersama orang-orang yang disayanginya.
Kandara akan menyiapkan semua keperluan untuk dibawa berakhir pekan. Mereka akan berakhir pekan di Puncak, karena Kandara telah booking vila di Puncak untuk mereka berlibur selama dua hari, Sabtu dan Minggu.
Malam ini mereka akan makan malam bersama. Karena itu, Kandara sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam dan ditemani Efrima. Bu Selvine yang baru pulang dari butik, jadi sedang di kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat sebelum makan malam. Karena ada banyak orderan, sehingga membuatnya sangat sibuk di butik.
Sedangkan Efraim belum kembali dari tempat latihannya. Tadi sore dia dijemput oleh Pak Guru dari music school untuk latihan dengan temannya-temannya. Karena mereka akan mengikuti pentas musik.
Tiba-tiba bel rumah Kandara berbunyi. "Efri, coba lihat siapa yang datang, mungkin Kak Efra sudah pulang." Ucap Kandara, sambil menata piring di meja makan. Efraim sering dipanggil kakak, karena dia lahir lebih dahulu dari Efrima.
"Ok, Mom...." Efrima berdiri dari kursi dan berlari ke pagar untuk melihat siapa yang datang.
Sesampai di pagar dan melihat siapa yang datang, Efrima menutup mulut dengan kedua tangannya. "Deddiii..." Jeritnya pelan tak percaya, sambil mengucak kedua matanya yang sudah berembun.
"Sssst... Efri, buka pagarnya." Ucap Darel sambil meletakan jari telunjuk di bibirnya. Efrima membuka pagar dengan tangan bergetar dan air mata berlinang. Dia langsung memeluk Darel dengan erat.
Darel balas memeluk anaknya dengan erat. Matanya berembun melihat putrinya dari dekat dan bisa memeluknya. Darel menarik nafas panjang untuk mengendalikan hatinya.
"Ooh iya, Efri. Ini Uncle Mikha." Darel melepaskan pelukannya dan memperkenalkan Mikha. Efrima tidak menyambut tangan Mikha, tapi langsung memeluknya.
"Uncle...." Efrima berkata, sambil air mata mengalir di pipinya.
"Haiii, Efri..." Mikha menyapa sambil membalas pelukannya dengan sayang. Setelah melepaskan rindu, mereka bertiga segera masuk ke rumah.
Kandara yang merasa Efrima terlalu lama di luar dan tidak mendengar suaranya, dia beranjak dari dapur untuk keluar melihat siapa yang datang. Sambil melepaskan c'lemeknya, Kandara menuju pintu rumah.
Tiba-tiba pintu rumahnya dibuka oleh Efrima dan ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu, Kandara membeku. Dia menatap wajah di depannya lamaaa, tidak percaya.
Kandara menutup mulut dengan kedua tangan untuk menahan jeritannya dan matanya membulat. Tangan kanannya turun memegang dadanya, karena jantungnya berdenyut tidak beraturan. Kandara sangat terkejut, tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya mulai memucat. Tubuhnya bagaikan tidak bertulang.
Melihat kondisi Kandara seperti itu, Darel melepaskan tas di tangannya dan langsung memeluk Kandara sebelum dia jatuh ke lantai.
Darel menjadi panik ketika menyadari Kandara pingsan dalam pelukannya. Dia langsung membopong Kandara ala bridle dan berkata kepada Efrima: "Efri, mana kamar Mommy?" Efrima berlari untuk membuka pintu kamar Mommynya.
Darel masuk ke kamar dan membaringkan Kandara di tempat tidur. Dia menepuk pipinya pelan sambil terus memanggil namanya. Tetapi Kandara tetap diam, tidak merespon.
Darel makin panik, Efrima yang berada di sampingnya sudah mulai menangis sambil memanggil mommynya. Darel semakin panik, karena tidak tahu harus melakukan apa dan melihat wajah Kandara yang makin pucat. Dia tidak menyangka Kandara akan berada dalam kondisi seperti ini ketika melihatnya.
*- Setiap goncangan memiliki dampak, begitu pun dengan hati -*
Mikha yang melihat kejadian itu, langsung menutup pintu rumah. Dia meletakan tas begitu saja dan menyusul Darel ke kamar. Mikha menjadi panik juga, karena tidak menyangka akan terjadi seperti itu. Mereka hanya berpikir Kandara mungkin akan terkejut, karena mereka tiba-tiba datang bertemu dengannya.
Mikha berbisik di telinga Darel. "Kita sedang tidak di Seoul." Setelah itu, Mikha beralih melihat Efrima yang sedang menangis sambil mengusap tangan dan memanggil nama Mommynya.
"Efri, punya nomor telpon dokter?" Tanya Mikha.
"Punya Uncle, tapi sama Mommy." Ucap Efrima, tetapi dia mengingat Omanya. Dia hendak berlari keluar untuk memanggil Omanya.
Tiba-tiba Bu Selvine masuk ke kamar Kandara, karena mendengar ribut-ribut. Melihat dua pria asing di dalam kamar putrinya, Bu Selvine terkejut dan menanyakan Efrima.
"Ada apa ini, Efri. Apa yang terjadi dengan Mommymu, dan siapa mereka?" Tanya Bu Selvine beruntun, dan juga panik. Bukan saja karena Kandara yang sedang pingsan, tetapi karena ada orang yang tidak dikenal berada di dalam kamar putrinya.
"Mommy pingsan, Oma. Nanti Efri jelaskan yang lainnya. Tolong Mommy dulu, Oma." Ucap Efri sambil terus mengusap tangan Mommynya dan menangis.
Darel dan Mikha mundur untuk memberikan ruang untuk Bu Selvine. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Darel merasa sangat fustrasi, karena tidak bisa melakukan sesuatu, sehingga diusap wajahnya berulang kali.
"Efri, tolong ambil minyak kayu putih Mommymu." Bu Selvine berkata sambil menepuk perlahan wajah putrinya yang dingin dan pucat. Bu Selvine mencoba tenang melihat kondisi Kandara.
Efrima berlari ke meja rias Kandara untuk mengambil minyak kayu putih dan memberikannya kepada Bu Selvine yang sedang menunggunya dengan tidak sabar. Diolesnya beberapa kali di hidung dan dada Kandara sambil mengurutnya. Tidak lama kemudian, Kandara mengangkat tangannya. Sedikit batuk dan membuka matanya perlahan.
Kandara menatap Bu Selvine yang berdiri di depannya yang sedang mengurut dadanya dengan wajah khawatir dan telah bernafas lega.
Melihat itu, Darel menghembuskan nafasnya lega. Mikha pun bernafas lega, dia mengusap punggung Darel pelan untuk menenangkannya.
Efraim yang baru pulang, melihat ada tas di lantai tetapi tidak menemukan seorang pun di ruang tamu, ruang makan dan dapur. Segera berlari ke kamar Mommynya.
Efraim melihat Mommynya sedang berbaring dan Efrima yang senggukan disampingnya. "Mommy, kenapa?" Efraim bertanya karena khawatir melihat kondisi Mommynya.
"Ngga papa, sayang. Tadi Mommy agak pusing, Mommy kira melihat Daddymu. Semoga Daddymu baik-baik saja." Ucap Kandara tanpa menyadari kehadiran Darel di kamarnya.
Bu Selvine sontak melihat ke arah dua orang pria yang ada di kamar putrinya dan langsung mengenali Daddy dari kedua cucunya. Wajahnya telah diwariskan kepada cucu-cucunya.
Melihat tatapan dan reaksi Bu Selvine yang mundur memberikan ruang untuknya, Darel datang mendekat. Bu Selvine memberikan isyarat kepada yang lain untuk keluar dari kamar.
Kandara masih tidak percaya melihat Darel datang mendekat dan berdiri di depannya. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Dia mencubit lengannya ; "Auuuu, sakit." Langsung mengusap lengannya yang sakit, tapi matanya terus menatap Darel, tak percaya.
Darel menyingkirkan tangan Kandara dari lengannya yang memerah dan mengusapnya perlahan. Seketika, kehangatan menjalar ke seluruh tubuh Kandara. Wajahnya makin memerah, menerima perlakuan Darel.
*- Tidak perlu banyak kata, ketika hati mulai berbicara -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡