
Setelah pertemuan Kandara, Toby, Mala dan Rina di AY Mall, tadi malam. Hari ini Toby datang ke ruangan Mala dan menginterogasi Mala dengan serius. "Malakaaa, kau benar pacaran dengan Rina?" Tanya Toby, setelah duduk di kursi depan meja kerja Mala. Dia masih belum percaya, dengan yang dilihatnya tadi malam.
"Iyaa, Tobiiaas. Aku sudah melamarnya akhir tahun lalu. Jadi awal bulan depan, kami akan menikah." Ucap Mala, serius. Mendengar itu, Toby menjadi kesal.
"Dan kau tidak bilang apa-apa kepada kami?" Tanya Toby, emosi.
"Ini, aku sudah bilang. Hehehee..." Mala mencoba bercanda, karena melihat Toby emosi.
"Sebenarnya, aku sudah mau bilang, hanya Rina yang ngga enak hati. Jadi katanya nanti kasih undangan saja." Ucap Mala pelan untuk meredakan emosi Toby.
Mendengar itu, Toby makin marah. "Aku akan plester mulutnya." Ucap Toby sambil berdiri.
"Dia calon istriku, Tobiiaass..."
"Memangnya, aku pikirin." Ucap Toby, sambil mengambil ponsel dari sakunya.
"Dara, tolong bilang gang programmer kumpul di ruangan Mala. Tidak ada terkecuali, aku tunggu sekarang." Mendengar itu, Mala hanya bisa garuk kepalanya yang tidak gatal. Kandara langsung menghubungi rekan-rekannya yang di ruang programmer. Karena dia tahu, pasti sedang terjadi sesuatu di ruangan Mala.
Tidak lama kemudian, semua telah kumpul di ruangan Mala. "Siapa yang mau duduk, duduk. Yang mau berdiri, berdiri. Malaka, berdiri dari kursimu. Yenii, jangan biarkan dia dekatin Rina." Ucap Toby, sambil duduk di kursi Mala. Toby mengabaikan Mala yang berdiri di sampingnya.
"Kalian tahu, kenapa aku marah saat ini? Dia sudah melamar Rina dan tinggal nikah. Dia tidak bilang apa-apa kepada kita, dan Rina mau jadikan kita tamu undangan." Ucap Toby sambil melihat Rina. Ketika Rina mau mengucapkan sesuatu, Yeni langsung menutup mulutnya.
"Bagus Yeni, kau mengerti maksudku." Ucap Toby, sambil mengangkat jempolnya kepada Yeni.
"Tobiiaas, jangan begini. Sebelum kau datang tadi, aku berniat mau minta tolong kau dan istrimu jadi Among tamu di pernikahan kami. Kau juga Dara, nanti sama Pras." Ucap Mala dengan wajah bersalah. Yeni langsung melepaskan tangannya dari mulut Rina.
"Aku tidak mau jadi Among tamu." Ucap Kandara dan semua terkejut mendengar suara Kandara yang serius dan tegas. Mereka memandangnya dengan tidak percaya.
"Bukan aku tidak mau berpasangan dengan Pras, yaa. Tapi wajah cantikku ini, mau bersanding dengan wajah cantik ini, di tempat penerima tamu saja." Ucap Kandara sambil mencolek dagu Yeni. Semuanya langsung tertawa, suasana ruangan Mala jadi berubah.
"Tapi aku mau kau jadi Among Tamu. Karena aku ada undang orang kantor." Ucap Mala, pelan.
"Tidak bisa dibantah, emangnya orang kantor ngga lewatin meja tamu? Cukup Mas Toby saja yang jadi Among tamu. Wajahnya dikenal semua orang kantor." Ucap Kandara.
"Jadi sekarang, Mas Mala dan Rina diam dan dengar. Karena lebih baik, aku yang bicara dari pada Mas Toby. Tolong dicatat, ya. Aku dan Yeni di meja penerima tamu, Mas Toby dan Mba' Tress di Among Tamu. Empat pria ganteng ini, bantu info untuk Mas Toby dan WO kalau orang kantor datang. Ada WO kan?" Tanya Kandara dan Rina menggangguk.
"Ok, sekarang sudah selesai. Ada yang kurang Mas Mala dan Rina?"
"Makasi, Dara." Ucap Rina dengan mata berembun. Dia sebenarnya mengharapkan itu, tetapi tidak enak hati untuk memintanya.
"Ada yang kurang, Dara." Ucap Mala sambil mengangkat tangannya. Semua dalam ruangan langsung melihat Mala.
"Tidak boleh ada yang datang saat Ijab Kabul." Ucap Mala tegas.
"Hahahahaaaa... Malakaaa, siapa yang mau datang saat kau Ijab Kabul? Dara sudah bilang tadi, kami hanya bertugas di Resepsi Pernikahan. Jadi silahkan buang anganmu itu." Ucap Toby, berusaha membuat Mala tenang.
Dia tahu perasaannya Mala, karena dia pernah melewatinya. Mala hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sekarang, Mala dan Rina silahkan keluar. Mau duduk di mana, silahkan. Mau ke ruanganku, juga boleh." Ucap Toby sambil membuka tangannya.
"Kenapa kau memintaku untuk keluar dari ruanganku sendiri, Tobiiaass?" Ucap Mala dengan dahi berlipat. Yang lain melihat Toby dengan wajah bertanya-tanya.
"Malakaaa, aku tidak memintamu. Tetapi sedang mengusirmu. Jadi cepat keluarrr." Ucap Toby sambil mengibaskan tangannya. Yang lain tersenyum melihat yang dilakukan Toby dan juga wajah kesal Mala.
"Malakaaa, kenapa tidak membawa laptopmu? Tuuh...ย Jangan cari alasan. Aku sudah satu langkah di depanmu." Ucap Toby dengan muka kering.
"Aku akan membuatmu melihat kunang-kunang." Ucap Mala, sambil mengepalkan tangannya ke arah Toby. Tetapi Mala tetap melangkah juga, ke arah meja untuk mengambil laptopnya.
Beberapa saat kemudian, Toby berbisik. "Siapa yang bisa datang saat mereka Ijab Kabul?" Tanya Toby pelan, dan semua mengangkat tangan.
"Ok, kalau begitu. Pras kau keluar jaga pintu, jangan sampai Mas Mala kembali. Kalau kembali, kasih kode yaa? Untuk info yang kami bicarakan, nanti disampaikan Yitno padamu." Ucap Toby.
"Baik, Mas." Ucap Pras, langsung keluar ruangan.
"Begini, nanti Ijab Kabul, kita datang semua. Tetapi tidak boleh sampai Mas Mala dan Rina tahu. Setelah acaranya mau mulai, baru kita duduk atau berdiri di belakang, supaya Mas Mala bisa konsetrasi. Saat sudah dikatakan SAH, baru kita mendekatinya." Toby menjelaskan rencananya.
"Aku tahu permintaan Mas Mala tadi, karna dia tidak akan bisa berkonsentrasi. Ini Acara Sakralnya, jangan sampai Mas Mala terganggu dengan kehadiran kita. Sedangkan kita juga ingin hadir mendampinginya." Toby menjelaskan rencanya, agar jangan sampai Mala tahu.
"Kalau di resepsi, ngga papa. Mereka senyum malahan bagus. Mengenai baju yang akan kita kenakan di resepsi, Dara tolong bicarakan dengan Rina. Kalau mereka ..." Toby berhenti menjelaskan rencananya.
Tiba-tiba terdengar dari luar. "Maaf Pak Mala, daerah ini sudah disteriil." Ucap Pras, yang di dalam ruangan langsung tersenyum mendengarnya
"Kau sedang ngapain di situ, Pras." Ucap Mala heran, karena hendak balik ke ruangannya.
"Saya sekarang beralih profesi menjadi security, Pak Mala. Jadi mohon segera meninggalkan area terlarang." Ucap Pras sambil menahan tawa, yang di dalam ruangan langsung tertawa pecah.
"Tobiiaass, laptopku low... Mau charge." Teriak Mala dari luar ruang kerjanya.
"Pakai punyaku saja, alasan. Lima menit lagiii." Toby membalas teriakan Mala. Mendengar itu, Mala langsung memukul lengan Pras dan meninggalkannya.
"Kita lanjutkan lagi. Kalau mereka ngga siapkan baju untuk kita, tenang saja. Karena waktunya sudah dekat, nanti Dara bicara denganku. Kita akan siapkan sendiri. Dara dan Yeni bicara secepatnya dengan Rina, supaya dia jangan kepikiran baju untuk kita." Ucap Toby.
"Seprtinya pernikahan mereka kalau ngga salah, tinggal seminggu atau 10 hari lagi, karna ini sudah akhir bulan. Ngga usah bicara dengan Mala, ujung-ujungnya buyaarr semua." Ucap Toby, dan mereka meninggalkan ruangan Mala.
*((**))*
Delapan hari kemudian, mereka semua berkumpul di rumah Rina. Karena Acara Ijab Kabul Mala dan Rina akan dilaksanakan di sana. Di rumah Rina sudah ada tenda yang besar dan dihiasi indah. Karena ada menerima tamu di rumah juga untuk tetangga dan keluarga Rina.
Gang programmer juga sudah berkumpul dan Toby sudah berbicara dengan adiknya Mala. Sehingga mereka telah di sediakan tempat oleh adiknya Mala. Sebelum Ijab Kabul, Toby melihat Pak Ari juga hadir dan diantar oleh adiknya Mala ke tempat duduk disediakan. Karena Toby sudah memberikan kode untuknya, saat melihat kedatangan Pak Ari.
Setelah Mala dan Rina duduk di depan Penghulu, semua gang programmer berjalan pelan dan duduk di samping Pak Ari. Membuat Pak Ari terkejut, tetapi Toby mengisyaratkan kepada Pak Ari untuk tidak bersuara.
Ijab Kabul berjalan hikmat dan lancar. Ketika mendengar yang hadir mengatakan SAH, semuanya senang. Gang programmer langsung mendekati Mala dan Rina untuk mengucapkan selamat.
Mala terkejut melihat mereka, tetapi dia menerima ucapan selamat dengan hati yang terharu. "Tadi aku ngga bisa konsent ikut acara Mas Mala dan Rina." Ucap Yeni, dengan cemberut.
"Kenapa dengan wajahmu, Yeni.?" Tanya Toby.
"Abis... Tadi Dara menutup mulutku terus." Ucap Yeni, lalu semua melihat Kandara.
"Abis... Tadi aku lihat Yeni mau ngomong. Yaaa... Mencegah lebih baik, dari pada mengobati." Ucap Kandara, sambil tersenyum.
"Padahal aku cuma mau bilang buat Dara: Mas Mala ternyata sangat ganteng, yaa." Ucap Yeni, polos. Mereka semua tertawa dan memukulnya.
"Sudah benar, Dara menutup mulutmu. Kau kira Mala tidak kenal suaramu? Telinganya seperti wajan." Ucap Toby, lalu mereka kembali tertawa.
"Tobiiaas, yang penting telinga wajan yang ganteng. Sudah dengar yang dibilang Yeni? Jadi aku tidak kalah ganteng darimu." Ucap Mala.
"Malakaaa... Ternyata diam-diam kau mengagumiku. Hahahaaa..." Ucap Toby sambil menghindar dari pukulan Mala. Mereka semua tertawa. Pak Ari hanya bisa gelengkan kepala sambil tersenyum. Begitupun dengan istri Toby.
*- Kebahagiaan dapat kita rasakan, saat kita saling mengasihi dan menghormati -*
โกโข~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... ๐๐ป Makasih~โขโก