
Kandara jadi panik dan tidak enak hati dengan Toby dan Mala. Kedatangan Darel dan keluarganya yang mendadak membuat dia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.
"Kalau kau tidak bisa datang, aku dan Mala akan coba bicarakan agar kita presentasikan secara online saja. Bagaimana, Ok.?" Tanya Toby memberikan solusi, karena dia sudah diberitahukan bahwa Kandara tiba-tiba minta cuti.
"Oooh, Ok, Mas.. tolong kasih waktu sepuluh menit untuk aku siap-siap, yaa,. Jangan lupa kirim link zoom meetingnya." Ucap Kandara, agak lega.
"Ok,, siiip." Ucap Toby dan mengakhiri pembicaraan mereka.
"Efraa, tolong bantu mommy.." ucap Kandara sambil meminta maaf kepada semua yang ada di ruang tamu.
"Nanti Dara jelaskan setelah ini.,yaa.. Grandma, Dara permisi ke kamar lagi,.." Ucap Kandara dan berjalan cepat diikuti Efraim.
Darel melihat tanpa bertanya., tetapi Efrima menjelaskan kondisinya untuk Daddynya. Darel mengangguk mengerti.
Bu Selvine mencairkan suasana yang tiba-tiba hening dengan mempersilahkan mereka menikmati puding dan buah-buahan yang sudah disajikan Kandara.
Efraim yang baru keluar dari kamar, langsung meletakan laptop mommynya di atas meja dan menghidupkannya. Sekalian dia menyiapkan kabel untuk charger laptop.
"Kau tahu password laptop Mommymu.?" Tanya Darel heran melihat apa yang dikerjakan Efraim.
"Iyaa, Dad.. passwordnya nama Daddy." Bisik Efraim tersenyum. Darel mengacak rambut anaknya ta' percaya.
Pak Darpha yang berada di ruang tamu bertanya ada apa, dan Darel menjelaskan kepada mereka. Mereka mengangguk mengerti.
Kandara yang baru keluar dari kamar telah mengenakan blazer untuk menutupi baju rumahnya dan memakai lipstik tipis dan menggulung rambut dan menjepitnya.
"Daddy, maaf.. Dara pakai ruang tamu sebentar yaa.." ucap Kandara sambil menyalakan TV. Pak Darpha mengangguk mengiyakan sambil menuju ke meja makan. Mikha ke kamar tamu, karena ingin ke kamar mandi.
Bu Richel dan Bu Selvine ikut pindah ke meja makan. Bu Selvine menjelaskan, kadang-kadang Kandara bekerja seperti itu. Walaupun hari libur dia suka dicari. Pak Darpha dan Bu Richel mengangguk mengerti.
Sedangkan Darel tetap di ruang tamu, bersama kedua anaknya karena Kandara terlihat agak panik, Darel mendekati Kandara dan mengusap punggungnya untuk menyemangatinya.
Setelah Kandara merasa siap, dia masuk ke ruang zoom meeting. Di sana sudah ada Toby, Mala dan Pak Jinwoo bersama Asistennya. Toby telah mengirim pesan bahwa Kandara yang pertama presentasi.
Kandara menyapa dan mulai presentasikan aplikasi yang dibuatnya. Beberapa waktu kemudian, Mikha yang baru turun dari kamar terkejut melihat Kandara lagi meeting dengan orang yang ada di layar TV.
Mikha langsung memberikan kode kepada Kandara untuk berhenti dengan tanda X dengan tangannya. Kandara menjadi bingung, langsung berhenti presentasi, menutup kamera dan menon aktifkan speaker.
"Ada apa, Mikha." Tanya Kandara panik, begitupun juga Darel.
"Jangan diteruskan.. lepaskan hardisk externalnya... Daddy tolong ke sini., Dad." Mendengar suara Mikha, mereka segera ke ruang tamu.
"Daddy, itu Dara sedang meeting dengan Pak Jinwoo." Ucap Mikha sambil menunjuk ke layar TV.
Pak Darpha terkejut ketika melihat ke layar TV. Melihat ada yang tidak beres, Kandara mematikan materi presentasinya. Kemudian dia mengangkat penutup kamera dan mengaktifkan kembali speakernya, karena Toby sudah telpon berkali-kali.
Mikha berbisik kepada Darel untuk memberi tahukan, siapa Pak Jinwoo. Darel tidak kenal Pak Jinwoo, karena dia mengelolah perusahan di luar negeri. Kandara segera menguasai dirinya dan menarik nafas dalan dan menghembuskannya perlahan.
"Maaf, Pak Jinwoo., Pak Toby dan Pak Mala, tadi ada sedikit gangguan. Saya sudah presentasikan 25 % dari aplikasi saya. Selanjutnya, saya menunggu pendapat Pak Jinwoo mengenai aplikasi saya.
"Silahkan selesaikan presentasi anda baru kami putuskan." Ucap Pak Jinwoo lagi.
"Maaf, Pak Jinwoo., kalau saya setuju dengan penawaran anda baru akan saya lanjutkan presentasi saya.
"Tidak, Pak Jinwoo... saya hanya memastikan keseriusan anda saja." Ucap Kandara lagi.
"Anda pikir ada orang lain berminat dengan apa yang anda kerjakan.? Ucap Pak Jinwoo mulai emosi., karena tidak menyangka Kandara tiba-tiba berhenti.
"Saya berlaku begini, karena bukan anda saja yang berminat, tetapi ada perusahan dari negara anda juga yang berminat. Jadi saya mengamankan aplikasi saya."
"Hahaaa.., anda mau menaikan penawaran dengan menggertak saya.?" Ucap Pak Jinwoo.
"Untuk apa mengertak anda untuk mendapatkan harga yang bagus.? Saya tahu harga aplikasi saya." Mikha berdiri di depan Kandara sambil menulis sesuatu dan Kandara mengerti.
"Apakah anda tahu Jion Comp.? Perusahan ini juga berminat dengan aplikasi kami." Ucap Kandara sambil membaca yang dituliskan Mikha.
"Anda jangan menggertak saya dengan Jion Comp. Mana mungkin anda bisa mengenal orang di Jion Comp.? Dan mana mungkin mereka berminat dengan aplikasi anda.?" Tanya Pak Jinwoo, sinis. Mendengar itu, Darel dan Mikha emosi. Karena mereka berbicara pakai bahasa korea.
"Karena anda berbicara seperti itu, saya lebih memilih Jion Comp. Karena saya lebih percaya pada Pak Darpha dari pada anda." Ucap Kandara sambil melihat Mikha memberi isyarat tangannya menunjuk Pak Darpha.
"Haahaaaa.., anda bukan menggertak saya, tetapi anda seorang pembual." Ucap Pak Jimwoo, sambil tertawa sinis.
"Loh,, kenapa anda katakan saya pembual.? Kalau begitu, berapa pun yang anda mau tawarkan, saya tidak akan menjualnya kepada anda. Lebih baik saya memberikannya secara gratis kepada Pak Darpha." Ucap Kandara tidak senang dan menjadi emosi karena dibilang pembual.
"Heeiii., tunggu.. apakah kau serius dengan ucapanmu.? Kau kenal dengan Pak Darpha.?" Ucap Pak Jinwoo panik.
"Apakah anda lihat saya dari tadi tidak serius.? Saya bukan hanya mengenal Pak Darpha tetapi juga istrinya Bu Richel... Maaf, saya sedang sibuk mengurus keluarga saya. Nanti anda di urus oleh rekan saya. Terima kasih." Ucap Kandara langsung mematikan monitor, menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Tolong kirim pesan untuk temanmu, jangan teruskan meeting dengan Pak Jinwoo." Ucap Mikha, dan Kandara langsung mengirim pesan untuk Toby bahwa yang disampaikan itu benar. Dan jangan presentasikan aplikasi mereka kepada Pak Jinwoo. Tidak lama kemudian, Toby dan Mala membalas OK.
Setelah itu, Kandara meminum air putih yang diberikan Darel.
"Thank u.." ucap Kandara., Darel mengusap lengannya agar tenang.
"Daddy, mohon maaf tadi membawa nama Daddy. Habis tadi Mikha menunjuk ke Daddy, jadi Dara mengartikannya untuk menyebut kenal Daddy. Semoga Daddy tidak kesulitan karenanya." Ucap Kandara dengan wajah mulai merona karena malu.
"Astagaaa, Dara.., kau pernah dengar nama Jion.?" Tanya Mikha tersenyum. Darel tersenyum dalam diam.
"Pernah.., itu nama belakang Darel, Efra d an Efr i.." ucap Kandara pelan ketika baru menyadari kesamaan nama itu.
"Astagaaa,,, itu nama belakang Daddy.? Pantas dia tidak percaya aku kenal Pak Darpha. Kenapa tadi tidak terpikirkan olehku saat Mikha bilang nama itu.." Ucap Kandara sambil mengetuk dahinya. Kalau sudah panik, tidak bisa berkonsentrasi.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Coba ceritakan, kenapa kau bisa berhubungan dengan orang itu." Ucap Pak Darpha.
"Ooh.., itu Dad.. perusahan kami bekerja sama dengan perusahannya 10 tahun yang lalu, sehingga kami ke Korea waktu itu untuk survey dan bekerja di sana selama 10 hari.
"Beberapa tahun belakangan ini, Pak Jinwoo sering berkomunikasi dengan kami secara pribadi di luar perusahan. Dan menanyakan kami sedang mengerjakan apa selain proyek di kantor." Ucap Kandara.
"Pak Toby cerita beberapa aplikasi yang sedang kami buat dan beliau berniat membelinya. Kami sudah membuat janji bertemu hari ini, tetapi karena ada acara ini, Dara jadi lupa." Ucap Kandara menjelaskan.
"Daddy harap kau tidak berhubungan lagi dengannya, karena dia bukan orang yang baik. Nanti setelah semua acara ini selesai, kau dan teman-temanmu bisa presentasikan aplikasinya kepada kami." Ucap Pak Darpha lagi.
*- Jika pintu yang satu tertutup, masih ada pintu yang lain. Selalu ada peluang bagi setiap orang yang bekerja dengan baik dan jujur -*