
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Kandara berada di kantor, sedang bekerja bersama dengan Mala dan Toby. Tiba-tiba Kandara menerima pesan dari Pak Ari. "Dara, segera ke ruanganku." Isi pesan Pak Ari. "Baik, Pak." Kandara membalasnya, singkat.
"Mas Mala dan Mas Toby, sebentar, ya. Aku di minta ke ruangan Pak Ari." Ucap Kandara kepada kedua rekannya.
"Ooh, Ok. Mungkin sudah ada keputusannya." Ucap Mala menebak. Toby mengangguk mengiyakan, karena berpikiran yang sama.
"Mungkin, Mas." Kandara dengan cepat menutup laptopnya. Dia segera menuju ruang kerja Pak Ari dan mengetuk pintunya. Kandara masuk setelah mendengar suara Pak Ari mempersilahkannya masuk.
Biarpun Kandara sudah siap menerima apapun keputusan perusahaan, tapi tetap saja jantungnya dag dig dug ketika masuk ke ruangan Pak Ari.
"Ayoo, duduk Dara." Pak Ari berkata, saat melihat Kandara telah masuk ke ruangannya.
"Terima kasih, Pak." Ucap Kandara lalu duduk di kursi yang ada di depan meja Pak Ari.
"Begini, Dara. Saya sudah berbicara dengan pihak terkait, dan hasilnya kau tetap bisa bekerja. Sebab kalian sedang mengerjakan beberapa proyek penting, jadi tenaga dan ilmumu sangat dibutuhkan." Pak Ari menyampaikan hasil keputusan perusahaan terhadap persoalan Kandara.
"Terima kasih, Pak." Ucap Kandara pelan dan tertunduk dengan mata berembun. Hatinya sangat bersyukur, mendengar apa yang disampaikan oleh Pak Ari. Dia sudah menunggu keputusan itu, agar ada kepastian baginya.
"Iya Dara, sekarang kau bisa kerja dengan tenang. Untuk soal hati dan perasaan, saya serahkan padamu. Karena kau yang akan menjalaninya. Semoga itu tidak mempengaruhi kinerjamu." Pak Ari menyampaikan harapannya dan juga harapan perusahaan pada Kandara.
"Iya Pak, saya mengerti. Terima kasih untuk semuanya, Pak." Kandara berkata sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya.
Pak Ari sangat tersentuh memikirkan kondisi Kandara. Sebab selama ini, Kandara dinilai sebagai pribadi yang baik. Baginya, ini adalah sebuah kecelakaan yang menyakitkan.
Pak Ari tidak bertanya lagi kepada Kandara, mengapa tidak menikah saja dengan orang yang menghamilinya. Menurutnya, itu adalah pertanyaan yang sudah tidak berguna. Sebab jika bisa menikah, Kandara tidak akan datang kepadanya untuk berbicara tentang kehamilan dan rencana pengunduran dirinya. Pak Ari hanya bisa menarik nafas berat sambil melihat punggung Kandara yang meninggalkan ruangannya.
Setelah selesai bicara dengan Pak Ari, Kandara berjalan keluar meninggalkan ruangan Pak Ari dengan hati yang terharu dan bersyukur. Dia makin menyayangi dan menghormati pimpinannya, yang telah telah berjuang hingga dia masih diijinkan bekerja.
Kandara berjalan ke meja kerjanya dengan mata berembun. Mala dan Toby sedang menunggu di meja kerjanya, karena penasaran. Mereka sudah tidak sabar mendengar hasilnya. "Bagaimana, Dara. Apa keputusannya?" Tanya Mala ketika Kandara duduk di mejanya. Toby juga ikut mendekat untuk mendengar.
"Aku masih bisa bekerja, karena pertimbangan beberapa proyek penting yang masih kita kerjakan. Jadi aku diijinkan untuk tetap bekerja, Mas." Kandara menjelaskan apa yang dikatakan Pak Ari padanya.
"Syukurlah...!" ucap Mala dan Toby bersamaan, lalu mereka saling tos, dengan nafas lega. Hal itu sangat melegakan hati Mala dan Toby, karena mereka adalah tim kerja yang sudah biasa bekerja bersama-sama dan solid. Mereka sudah saling mengerti dan memahami, sehingga pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka bisa selesai dengan baik dan tepat waktu.
Kandara pun merasa bersyukur, karena masih bisa bekerja dengan timnya. Masih bisa tetap menikmati kebersamaan dengan tim dan rekan-rekan kerjanya. Tinggal ke depannya dia harus lebih kuat, karena situasi akan berbeda.
Karena tidak jadi mengundurkan diri, dia mulai bekerja seperti biasanya. Tidak perlu terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya lagi.
Toby menatap Kandara dengan hati senang dan tenang, sebab Kandara masih bisa bekerja lagi. Beberapa waktu yang lalu ketika mengetahui Kandara hamil, dia sempat berpikir. Jika pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab, dia bersedia menikahi Kandara.
Tetapi dia berpikir lagi, apakah Kandara mau menerimanya. Walaupun dirinya menyayangi Kandara, tetapi Kandara akan berpikir dia hanya kasihan padanya. Nanti hubungan mereka bukannya jadi baik, mala akan membuat Kandara tidak enak dan makin menambah beban pikirannya.
"Dara, sekarang kau harus berkuping tebal terhadap semua pembicaraan negatif, baik di depan atau di belakangmu. Seiring dengan bertambah usia kehamilanmu, akan terjadi banyak pertanyaan dan perbincangan." Toby berkata pelan.
"Iyaa, Mas. Makasih." Jawab Kandara pelan, terharu mendengar yang dikatakan Toby. Dia tahu, Toby sedang mengkhawatirkannya.
Setelah pulang kerja, Kandara langsung masuk ke kamarnya. Dia meletakan tasnya dan sujud berdoa.
...~°Yaa, Tuhan. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih, Engkau masih mengijinkanku bekerja bersama rekan-rekanku. Kiranya Engkau memberkati Pak Ari, Mas Mala dan Mas Toby yang telah mengasihiku. Amin°~...
Setelah itu, Kandara membersihkan dirinya dan keluar mencari Mamanya. "Eeh, Mama. Dara baru mau keluar cari Mama." Kandara terkejut, ketika buka pintu kamarnya dan melihat Bu Selvine mau mengetuk pintu kamarnya.
"Mama juga belum lama pulang, tadi lagi di kamar mendengar suara pintu terbuka. Mama pikir kau sudah pulang, jadi Mama ke sini menemuimu." Bu Selvine menjelaskan maksud kedatangannya.
"Bagaimana kondisimu dan anak-anak hari ini?" Tanya Bu Selvine, lalu mengajak Kandara ke dapur.
"Kami baik-baik saja, Ma. Nanti setelah makan baru Dara cerita ya, Ma." Kandara berkata, sambil berjalan mengikuti Bu Selvine ke dapur. Dia bantu Mama nya menyiapkan makan malam.
Setelah makan malam, mereka masih duduk di meja makan sambil menikmati buah-buahan yang di bawa pulang oleh Bu Selvine.
"Ma, tadi Pak Ari sudah kasih tahu, keputusan perusahaan. Dara masih bisa terus bekerja." Ucap Kandara, sambil melihat Mamanya yang sedang kupas apel.
"Mama ikut senang, tinggal Dara baik-baik bekerja. Karena mereka masih mempercayakan pekerjaan itu untukmu." Ucap Bu Selvine senang, tetapi juga ada rasa khawatir akan kondisi Kandara terhadap pembicaraan teman kantornya.
"Mama juga bersyukur, kau masih bisa kerja lagi. Tetapi harus Mama ingatkan, sekarang mungkin belum ada yang bertanya atau berpandangan negatif terhadapmu. Tetapi, nanti itu akan terjadi ketika perutmu mulai membesar."
"Mama berharap, Dara bisa menerimanya dengan hati yang kuat. Karena semua ucapan dan tindakan seseorang tidak bisa diprediksi. Jadi jangan terkejut dan masukan ke hati semua yang dilontarkan orang-orang dikantormu."
"Karena kau tidak boleh berpikir, semua orang di kantor akan bersikap seperti Pak Ari, Mala dan Toby. Yang mau menerima dan mengerti kondisimu, tidak banyak tanya tentang kondisimu." Ucap Bu Selvine terharu mendengar apa yang dilakukan Pak Ari, Mala dan Toby.
"Iyaa, Ma. Dara akan ingat semua yang dikatakan Mama dan berusaha menjalani dengan baik bersama anak-anak." Ucap Kandara sambil mengelus perutnya dengan mata berembun.
"Iyaa, Dara. Mama hanya bisa mengingatkan, tetapi kau yang menjalani dan merasakannya." Ucap Bu Selvine sambil berdiri dan memeluk Kandara dengan sayang.
Setelah selesai bercakap-cakap, Bu Selvine dan Kandara masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat dengan hati bersyukur.
...*- Terkadang, hidup berdampingan dengan orang lain tidaklah mudah, disaat kondisi sedang tidak baik-baik saja -*...
...~°°°~...
...~●○♡○●~...
...♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡...