Me And You For Us

Me And You For Us
Family Dinner.



Kandara terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Darel, membuat wajahnya memerah. "Apa yang kau lakukan pada lenganmu? Ini aku, Darel." Sambil menatap Kandara lamaaa, dengan berjuta rasa. Melihat tatapan Darel, jantung Kandara berdegup keras dan seketika itu wajahnya makin memerah.


"Masih belum percaya aku ada di depanmu, mmmm...? Iniiii, pegang wajahku." Darel lalu menunduk dan hendak mendekatkan wajahnya ke arah Kandara yang masih menatapnya.


Kandara menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sudah memerah. "Aku percaya..." ucapnya pelan, sambil berusaha untuk bangun. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya.


Kandara menguatkan dirinya, dengan bersandar pada sandaran tempat tidur. Tiba-tiba alaram alam diperutnya berbunyi. "Kau lapar?" Tanya Darel, dan Kandara mengangguk malu.


"Aku akan bilang anak-anak untuk membawa makanan ke sini." Ucap Darel, dan hendak beranjak, tetapi Kandara mengelengkan kepalanya dan menahan Darel keluar dari kamar.


"Makan di luar saja. Kita bisa makan bersama." Ucap Dara dengan wajah yang masih memerah.


"Baiklah kalau begitu. Mau kugendong?" Tanya Darel dan disambut dengan gelengan kepala Kandara yang sedang malu.


"Aku jalan sendiri saja." Ucap Kandara, lalu turun dari tempat tidur. Darel memegang lengannya, ketika Kandara turun dari tempat tidur.


Melihat Mommy dan Deddynya telah keluar dari kamar, Efraim dan Efrima langsung berdiri dan berlari mendekati dan memeluk mereka. Darel dan Kandara memeluk anak-anaknya dengan sayang.


"Mommymu lapar." Bisik Darel ke telinga Efrima. Efrima mengangguk mengerti dan menyampaikan hal itu kepada Omanya. Bu Selvine berdiri, hendak ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Ma, ini Darel. Daddynya Efra dan Efri." Ucap Kandara memperkenalkan Darel kepada Bu Selvine. Darel membungkuk memberi hormat. Bu Selvine hanya bisa mengangguk.


Darel menyadari juga, Kandara belum mengenal Mikha. "Ini Mikha, sahabat dan juga saudaraku." Ucap Darel, memperkenalkan Mikha kepada Kandara dan Bu Selvine. Mikha berdiri dan membungkuk memberi hormat.


Bu Selvine dan Kandara hanya bisa mengangguk. Tetapi di dalam hati Kandara, dia senang sekali melihat Uncle anak-anaknya. Kebaikan hatinya terlihat jelas di wajahnya. Hatinya makin menghangat, karena Uncle anak-anak ada juga bersama Darel. Hal itu membuat Kandara merasa tenang dan menyemangatinya.


"Kami tinggal ke dapur dulu, yaa." Ucap Kandara, lalu berjalan ke dapur mengikuti Bu Selvine disusul oleh Efrima untuk membantu mommynya. Mereka menyiapkan makan malam dalam diam. Bu Selvine yang masih terkejut, tidak bisa berkata sepata katapun.


Kandara hanya perlu menambahkan 2 perangkat makan lagi untuk Darel dan Mikha. Sedangkan Bu Selvine menyiapkan nasi dan lauk pauknya tetap dalam diam. Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.


Ketika semua makanan sudah tersedia di meja, Kandara mengatakan kepada Efrima agar memanggil Deddy, Uncle dan Efraim untuk makan malam. Darel tetap melihat Kandara saat masuk ke ruang makan, dan duduk di meja makan.


Efraim duduk di antara Darel dan Mikha. Sedangkan Efrima, duduk di antara Kandara dan Bu Selvine. Kandara tidak melihat ke arah Darel, karena dia tahu Darel sedang melihatnya. Hal itu membuat wajahnya memerah dan hal itu tidak luput dari perhatian Darel.


Di dalam keluarga, Kandara menerapkan mereka akan berdoa secara bergantian. Sebelum makan, mereka berdoa syukur. Karena giliran Efraim berdoa, dia berdoa. "Tuhan Yesus, kami bersyukur bisa bertemu Daddy dan Uncle Mikha. Kami bersyukur untuk makanan dan minuman yang Engkau berikan bagi kami. Amin."


"Amin... Selamat makan," sahut mereka bersamaan.


"Mohon maaf, hanya makanan ini yang kami siapkan. Jika kurang cocok, biar nanti dipesan dari restaurant saja untuk Daddy dan Uncle." Ucap Kandara sambil melihat Darel dan Mikha dengan perasaan tidak enak. Darel mengangguk mengerti, melihat kekhawatiran di wajah Kandara.


Kandara merasa tidak enak, hanya menyuguhkan makanan yang sederhana, menurutnya. Karena melihat keberadaan Darel dan Mikha yang sangat berbeda dengan keadaan mereka. Walaupun mereka sudah berusaha untuk berpenampilan sesederhana mungkin, mereka tetap terlihat orang berada. Orang gedongan, kata anak muda.


*- Ketika hati menghangat, akan ada senyuman hangat di wajah -*


"Itu apa...?" Tanya Darel kepada Kandara sambil menunjuk mangkuk soup yang telah diisi oleh Kandara.


"Ini soup kacang merah. Mau coba?" Tanya Kandara. Darel mengangguk dan mengambil sedikit soup dengan sendoknya dari mangkok Kandara untuk mencicipinya. Darel mengangguk dan memberikan kode OK kepada Kandara dan Mikha. Melihat itu, Kandara mengisi soup ke mangkok mereka masing-masing.


Tanpa terasa, mereka telah menghabiskan dua mangkuk soup kacang merah dengan roti sebagaimana yang di lakukan oleh Efraim dan Efrima. Sedangkan Kandara dan Bu Selvine makan dengan nasi ditambah ayam goreng berbumbu. Darel dan Mikha juga ikut mencoba ayam gorengnya.


"Waaah, masakannya enak sekali. Terima kasih." Ucap Darel dan Mikha sambil tersenyum.


"Soup buatan Oma memang the best." Ucap Efraim, lalu membersihkan mulutnya.


"Kalau ayam gorengnya buatan Mommy." Ucap Efrima, lalu memberikan dua jempol untuk mommynya.


Kandara tersenyum senang dan bersyukur, mereka bisa makan makanan yang disediakan.


'Untung tadi masak lebih banyak untuk besok di bawa berlibur. Jadi makanan bisa cukup untuk mereka berenam.' Batin Kandara.


Yaaa... Kandara masak semuanya lebih, karena hendak dibawa untuk mereka berakhir pekan. Karena kedua anaknya sangat suka makanan tersebut.


Selesai makan malam, Mikha, Darel dan anak-anak kembali ke ruang tamu. Efrima dan Efraim terus menempel dengan mereka. Karena tidak menyangka bisa bertemu dengan Daddy dan Unclenya. Sedangkan Kandara dan Bu Selvine membersihkan meja dan mencuci perangkat makan yang telah digunakan oleh mereka untuk makan malam.


Setelah semuanya telah bersih dan rapi di dapur, Kandara dan Bu Selvine kembali ke ruang tamu untuk berkumpul dengan yang lain. "Apakah Daddy dan Uncle tidur di sini?" Tanya Efrima sambil melihat Daddynya. Darel menatap Kandara yang masuk ke ruang tamu, meminta pendapatnya.


Ketika melihat tatapan Darel, Kandara mengangguk mengiyakan, membuat kedua anaknya berlari dan memeluknya, senang.


"Thank u, Mom." ucap mereka berdua tersenyum girang. Kandara tahu kedua anaknya sangat merindukan Daddynya oleh sebab itu, dia menyetujuinya.


"Tapi kamar tamunya hanya satu. Apakah tidak mengapa?" Tanya Kandara dengan wajah was-was kepada Darel. Mikha dan Darel mengangguk, sambil memberikan tanda OK dengan jari mereka.


Kandara segera ke kamar mengambil yang diperlukan untuk menyiapkan kamar tamu. Bu Selvine ikut naik ke lantai atas untuk membantu Kandara menyiapkan kamar tamu.


"Tidak usah terlalu cemas, Dara. Sediakan saja sesuai keberadaan kita. Karena kecemasanmu tidak bisa membuat semuanya ini lebih baik. Mama lihat, mereka juga mengerti dengan kondisi kita." Ucap Bu Selvine menenangkan putrinya. Bu Selvine tahu, Kandara sangat grogi ketika berhadapan dengan Darel dan Mikha. Karena kondisi mereka sangat berbeda, itu bisa terlihat dengan jelas.


Setelah semua rapi, Kandara dan Bu Selvine turun ke ruang tamu. Kandara mempersilahkan Darel dan Mikha naik untuk menunjukan kamar tamunya. "Kalau ada yang kurang, tolong kasih tahu, ya." Ucap Kandara, Mikha dan Darel mengangguk mengiyakan.


Setelah mereka di kamar dan hendak mandi, mereka menyadari kalau tidak ada handuk dan mereka pun tidak membawa handuk. Darel kembali keluar kamar dan bertanya kepada Kandara yang sudah turun di tengah tangga.


*- Kadang kita sering mengkhwatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi -*


โ™กโ€ข~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... ๐Ÿ™๐Ÿป Makasih~โ€ขโ™ก