
Darel balik memeluk mereka, terasa sangat berat untuk meninggalkan anak-anak yang baru ditemuinya. Darel terus mengusap punggung mereka dengan sayang.
"Belajar yang baik dan ikuti kegiatan di luar jam sekolah juga dengan baik. Kalau memang kalian menyukai musik, ikuti dan belajar dengan tekun." Ucap Darel pelan.
"Daddy akan mendukung, jika itu yang kalian suka. Bukan karena Daddy, tetapi karena kalian memang menyukainya." Ucap Darel, tetap memeluk mereka. Kedua anaknya mengangguk dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Daddy tahu, kalian anak-anak kami yang baik. Kalian selalu mendengar dan melakukan nasehat Mommy dan Oma. Daddy berharap, kalian tetap seperti itu. Menuruti apa yang dikatakan Mommy dan Oma." Ucap Darel, memeluk mereka dengan erat dan memcium kepala mereka bergantian.
"Sekarang berdoa dan beristirahatlah..." Ucap Darel lalu mengajak mereka berdoa. Efraim dan Efrima berdoa dengan air mata mengalir.
"Good Night, Daddy." Ucap Efraim dan Efrima setelah mereka berdoa.
"Good Night..." Darel memeluk dan mencium anak-anaknya sekali lagi dan menyelimuti mereka. Setelah itu dia menutup pintu kamar, lalu keluar menemui Kandara.
Ketika Darel tiba di kamar Kandara, dia telah tertidur. Melihat itu, Darel membatin. 'Dara pasti lelah karena tadi membawa mobil ke Pucak Pas, sehingga dia tertidur, menungguku.'
Darel merapikan selimut dan berbaring di sampingnya dengan perlahan. Kandara yang sudah tertidur, merasa ada orang di sampingnya. Dia terkejut dan langsung bangun dan duduk. Dia duduk sambil mengumpulkan kesadarannya dengan menatap Darel.
Melihat wajah Kandara demikian, Darel tersenyum tipis. "Daraa, ini aku, Darel. Aku lagi sadar, jadi tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Berbaringlah lagi." ucap Darel sambil menepuk tempat di sampingnya. Darel berpikir, mungkin Kandara masih trauma dengan peristiwa yang lalu.
Kandara perlahan membaringkan tubuhnya di samping Darel. "Aku hanya ingin memelukmu, karena besok akan kembali ke Seoul." Ucap Darel sambil memeluk Kandara dan mengusap punggung Kandara untuk menenangkannya.
Kandara perlahan dan tenang menikmati kasih sayang Darel kepadanya. Kandara membenamkan wajahnya di dada Darel dan menghirup wangi tubuh yang selalu dirindukannya.
"Aku tahu, ada banyak pertanyaan di benakmu. Bertanyalah." Ucap Darel lagi. Kandara menarik wajah dan tubuhnya dari dekapan Darel, lalu mengangguk.
"Mmmm, dari mana kau mengetahui keberadaanku dan anak-anak?" Tanya Kandara, karena dia ingin tahu, kenapa Darel bisa datang menemuinya dengan anak-anak. Padahal dia sudah cukup menutupi keberadaan mereka.
"Pasti pertanyaan ini yang mengganggumu sejak kemarin, bukan?" Jawab Darel sambil menopang pipinya dengan tangan kirinya. Kandara mengangguk mengiyakan.
"Aku tahu dari Efra." Ucap Darel.
"Dari Efra?" Tanya Kandara terkejut dan Darel mengangguk.
"Masih ingat beberapa waktu lalu Efra ke Seoul dengan teman-temannya?" Tanya Darel, dan Kandara mengangguk sambil mengingat kegiatan yang diikuti Efraim bersama teman-temannya di sekolah musik pertengahan Mei lalu.
"Saat itulah aku bertemu dengan Efra. Dia dan teman-temannya bermain musik di Relkha Mall. Sebenarnya yang bertemu dengannya adalah Mikha. Ketika melihat wajah Efra mirip denganku, Mikha menelponku meminta aku datang ke Mall." Darel menceritakan pertemuannya dengan Efra.
Kandara mendengar dengan takjub. "Tapi kenapa Efra tidak menceritakan kepadaku, kalau sudah bertemu dengan Daddynya?" Tanya Kandara heran.
"Aku yang melarangnya, agar dia tidak menceritakan pertemuan itu kepada Mommynya." Ucap Darel.
"Tapi kenapa begitu?" Tanya Kandara lagi.
"Karena aku belum bertemu dan mengetahui hati Mommynya padaku. Aku khawatir Mommynya menghilang lagi." Ucap Darel sambil memainkan alisnya. Kandara tersenyum, melihat apa yang dilakukan Darel.
Disela-sela senyumnya, Kandara berpikir mungkin saja Darel juga ingin bertanya sesuatu kepadanya. "Adakah yang ingin kau tanyakan padaku?" Tanya Kandara.
"Kau sudah selesai dengan pertanyaanmu?" Tanya Darel mengelus pipi Kandara lembut.
"Masih ada, tapi bergantian saja. Kau pasti ingin bertanya juga, bukan?" Tanya Kandara, karena dia berpikir, mungkin saja ada yang mau ditanyakan Darel.
"Iyaa, benar. Banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi aku akan memulai dari anak-anak. Mmmm... Kenapa kau tidak memberitahukanku tentang kehamilanmu." Tanya Darel, serius. Kandara menarik nafas dalam dan menghebuskannya perlahan.
"Kejadian itu tidak terduga dan terjadinya beruntum. Yang terjadi diantara kita, perpisahanku dengan Lucha, kemudian kehamilanku. Semua itu membuatku sangat terkejut, sehingga tidak bisa berpikir dengan baik." Kandara menceritakan dengan pelan.
"Aku sudah berjanji padamu tidak akan mengganggumu dan hatiku selalu ingin melindungimu. Hal itu membuatku sangat bingung. Kalau tetap hamil, mereka akan lahir tanpa Ayah. Kalau digugurkan, aku menjadi seorang pembunuh." Ucap Kandara mengingat kejadian 10 tahun lalu.
"Aku membicarakannya dengan Mama. Mama bisa menerima penjelasanku. Apalagi setelah mengetahui bayi dalam kandunganku kembar. Mama mendukungku untuk tetap merawat mereka. Akhirnya aku menerima dan menjalaninya." Ucap Kandara lagi.
"Kau pasti sangat kesulitan dan menderita selama menjalaninya." Ucap Darel dan memeluk Kandara dengan erat. Darel membayangkan kondisi Kandara saat itu, ketika mengetahui dirinya hamil. Darel mencium puncak kepalanya, lamaaa.
Kandara mendonggakan kepalanya memandang wajah Darel dengan hati yang membuncah, merasakan kasih sayang Darel terhadapnya.
"Yaaa, kadang ada saatnya aku kesulitan di masa kehamilan dan ketika anak-anak masih kecil. Apalagi ketika mereka sakit, kadang aku terdorong untuk mengirimkan pesan untukmu.
Tapi hatiku selalu ragu dan khawatir, mungkin saja kau telah memiliki kekasih dan hidup bahagia." Ucap Kandara lagi, mengingat masa-masa hampir dia menghubungi Darel.
"Hal itu membuatku mengurungkan niatku dan bertahan untuk menjalani apa yang telah menjadi pilihanku. Hidup bersama anak-anak dan Mama." Kandara terus mengisahkan yang terjadi dengannya.
"Disaat-saat seperti itu, aku hanya bisa berdoa dan berharap, biarlah kehendak Tuhan yang jadi atas hidupku dan anak-anak." Ucap Kandara, dan Darel mendengar dalam diam.
"Tapi, tahukah kau, ada hal yang meringankan dan melegahkanku dalam masa-masa seperti itu?" Tanya Kandara sambil memandang Darel.
"Apa itu?" Tanya Darel sambil menatapnya dalam.
"Jacketmu selalu menolongku."
"Jacketku...? Maksudmu...?
"Yaa, jacketmu yang aku bawah saat itu." Ucap Kandara, dengan hati tersenyum.
"Aah, yaa. Aku ingat, tetapi apa hubungannya?" Tanya Darel tidak mengerti.
"Ketika hamil, kadang-kadang aku merasa mual, pusing atau gelisah. Sehingga aku tidak bisa makan atau tidur dengan baik. Dalam kondisi seperti itu, aku akan mencium atau meletakan jacketmu di atas perutku. Seketika semuanya itu berkurang dan bisa tidur dengan tenang." Ucap Kandara dan Darel mendengar cerita Kandara dengan takjub.
"Ketika anak-anak telah lahir, kadang mereka sakit. Kadang mereka panas, demam atau rewel, aku akan menyelimuti mereka dengan jacketmu bergantian. Setelah itu mereka akan membaik, tenang dan tertidur."
"Benarkah...?" Tanya Darel, tidak bisa mempercayainya. Kandara mengangguk meniyakan.
"Mungkin karena bau tubuhmu yang membuat mereka merasakan kehadiranmu. Sehingga jacketmu tidak pernah aku cuci sampai saat ini." Ucap Kandara dengan wajah memerah karena malu.
'Thanks Lord. Engkau telah menolong dan melindungi mereka dengan cara yang tidak terpikirkan olehku.' Darel bersyukur dalam hati.
Darel mengingat permintaan dua kaosnya dari Efraim. 'Mungkinkah karena semenjak di kandungan mereka telah terbiasa dengan hal itu?' Pikirnya dan membatin.
"Dara, aku ingin sekali mendengar cerita tentangmu, tentang anak-anak dan Mama. Tentang semua hal dan semua orang yang ada di sekitarmu selama 10 tahun ini." Ucap Darel dengan hati terharu.
*- Tekad hati yang baik, akan diberkati -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡