
Pak Guru pendamping terus menceritakan kepada Darel dan Mikha tentang Efraim. "Jadi kami mendekati Omanya agar bisa berbicara dengan Mommynya. Akhirnya Mommy Efraim mengijinkan ikut dengan persyaratan yang ketat, karena Efraim belum pernah pergi jauh dari Mommynya." Ucap Pak Guru, sambil mengingat Mommynya Efraim yang berat hati mengijinkan Efraim ikut dengan rombomgan.
"Kami semua bersyukur, Efraim bisa ikut. Karna selain pemain piano andalan kami, dia juga bisa berbahasa Korea dengan fasih. Jadi bisa menolong teman-temannya dalam berkomunikasi."
"Ketika berlomba dan wawancara, dia bisa mewakili teman-temannya untuk menjelaskan grup kami. Jenis musik dan lagu yang mereka bawakan, saat ditanya tentang kebudayaan Indonesia. Dia juga dapat menceritakan dengan baik, tentang Indonesia." Pak Guru pendamping menjelaskan panjang dan lengkap tentang Efraim.
Darel mengangguk mengerti, tanpa sadar dia mencium kepala Efraim dan mengajak rambutnya dengan sayang. Hati Darel begitu bangga mendengar penjelasan Guru pendamping tentang putranya.
Darel bisa mengerti kenapa Kandara tidak mengijinkan Efraim untuk ikut. Mengingat selama ini dia telah diam dan menutupi keberadaan anak-anaknya. Apalagi ini perlombaan di Seoul, dia pasti mengkhawatirkan hal yang seperti ini bisa terjadi.
Ketika Mikha melihat apa yang dilakukan Darel terhadap Efraim, Mikha terkejut. Dia tidak bisa mencegah gerakan spontan yang dilakukan Darel kepada Efraim. Karena itu berhubungan dengan suasana hatinya Darel.
"Setelah ini, Pak Guru dan anak-anak semua mau kemana lagi?" Tanya Mikha untuk mengalihkan perhatian mereka dari Darel dan Efraim yang begitu jelas terlihat, suatu hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang.
"Kami masih di sini sebentar dan akan kembali ke penginapan untuk bersiap-siap ke Bandara untuk pulang ke Indonesia, Pak." Ucap Pak Guru dengan sopan, dan Mikha mengangguk mengerti.
Darel meletakan kantong loundry di paha Efraim dan Efraim memasukannya ke dalam kantong belanja ole-olenya. Dia yakin, yang diberikan Darel adalah kaos yang diminta dari daddynya. Hatinya tersenyum senang.
Darel berbicara atau melakukan sesuatu, tetapi tidak melepaskan tangannya dari bahu Efraim. Hal itu membuat Mikha sangat terharu. Dia segera pamit, jika tidak air matanya bisa tergenang.
"Pak Guru, kami pamit yaa. Kalian semua hati-hati di jalan dan penerbangan." Ucapnya sambil mengacak rambut anak-anak didekatnya dan terutama Efraim.
Demikian juga dengan Darel, memperat tangannya di bahu Efraim sambil berucap: "Kalian semua hati-hati, ya." Efraim perlahan mengulurkan tangannya dan memeluk pinggang Daddynya. Hatinya sangat sedih, akan berpisah dengan Daddy dan Unclenya. Dia tidak tahu, kapan lagi baru bisa bertemu dengan mereka.
Apa yang dilakukan Efraim, membuat Darel langsung membeku. Dia tidak menyangka, Efraim akan memeluknya. Darel menarik nafas pelan dan menghebuskannya perlahan. Melihat reaksi Darel, Mikha segera berdiri dan pamit. Sebelum Darel melakukan tindakan yang lebih ekstrim. Efraim langsung melepaskan tangannya dan Darel segera mengontrol dirinya. Dia berdiri dan menggerakan tubuhnya.
"Kalian masih mau makan lagi? Biar akan ditambahkan." Tanya Mikha untuk mencairkan suasana. Mereka semua menggelengkan kepalanya. Mikha langsung ke kasir untuk membayar.
Darel kembali mengelus bahu Efraim sesaat, dan segera melepaskan tangannya dari bahu Efraim.
Dia langsung berjalan keluar tanpa menengok lagi ke arah Efraim. Dia sedang mengendalikan dirinya, agar tidak kembali untuk memeluk putranya. Dadanya sedang bergemuruh, karena harus berpisah dengan putranya. Setelah tiba di mobil, dia duduk menyandarkan punggungnya dan menghirup udara dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkannya.
Mikha yang telah masuk ke mobil, menepuk bahu Darel untuk menenangkannya. "Yang penting kita sudah tahu dan bisa menguhubunginya. Kita akan bertemu dengannya lagi." Ucap Mikha, menghibur Darel.
Darel mengangguk dan menegahkan punggungnya. "Iyaa, kau benar. Seharusnya aku bersyukur, karena Tuhan sudah membuka jalan untukku. Sekarang aku harus menjalani jalanku bersama anak-anakku, keluarga baruku." Ucap Darel, menyemangati dirinya.
"Aku sangat senang, Efraim anak yang tampan, dan juga anak yang baik. Anak yang sopan, hangat dan ceria. Mengingat dia tumbuh tidak bersama seorang daddy, dia tetap percaya diri berkumpul dengan teman-temannya." Ucap Mikha masih mengingat sikap dan perilaku Efraim yang baru ditemuinya.
"Kau benar Mikha, tadi melihat dia berkumpul dengan teman-temannya tanpa rendah diri, aku sangat terharu. Dia bisa melakukan hal yang baik, walaupun tanpa seorang Daddy." Ucap Dare, sambil mengingat Efraim.
"Dara telah mendidik mereka dengan luar biasa, tanpa kehadiranku. Aku sangat berterima kasih padanya." Ucap Darel pelan, sambil mengingat Dara yang dilihat tadi malam di ponsel Efraim.
"Ketika mereka melihatku untuk pertama kali tidak membenciku, mala menyebutku Daddy dan memelukku. Kalau mengingat Efrima melihatku, dan menyebutku Daddy sambil menangis, membuatku ingin berlari untuk memeluknya." Darel berkata dengan hati yang terharu.
"Aku sangat berterima kasih kepada Dara yang tidak menghilangkan aku dari kehidupan anak-anak. Jangankan aku tidak hadir di tengah-tengah mereka, mengetahui bahwa mereka ada saja aku tidak tahu. Tetapi mereka tetap mengganggapku Daddy mereka." Ucap Darel makin terharu.
"Mikha. Mendengar cerita Pak Guru tadi, bagaimana kau bisa memiliki ide untuk mengundang mereka pagelaran seni di Relkha Mall?" Tanya Darel takjub, mengingat pertemuannya dengan Efraim, karena dia perfom di Mallnya.
"Ooh... Itu adalah ide Manager Pemasaran, Darel. Dia yang mengusulkan dan aku menyetujuinya. Karena itu masih dalam rangkaian Hut Relkha Mall & Hotel. Aku berpikir itu kegiatan yang positif untuk menghibur para pengunjung. Dan banyak pengunjung yang antusias terhadap kegiatan tersebut." Ucap Mikha menjelaskan.
"Aku tidak menyangka, ada Efraim di grup itu. Karena sambutan pengunjung sangat riu ketika mereka pentas. Musik dan lagu yang mereka bawakan sangat unik dan enak didengar. Hal itu membuat aku pergi melihatnya dan mereka di pertengahan perfom."
"Karena aku suka dengan permainan pianonya, makanya aku perhatikan pemainnya. Aku terkejut ketika melihat wajahnya. Setelah menelponmu, aku tanya Manager Pemasaran tentang grup yang sedang perfom dan dia bilang dari Indonesia. Aku makin terkejut, sampai terlambat menjemputmu di lobby. Karena mengambil video di akhir perfom mereka." Ucap Mikha lagi.
"Tuhan mengatur semuanya dengan ajaib."ย Ucap Darel dan Mikha bersamaan.
"Iyaa, kau benar Mikha. Mereka ikut lomba bertepatan dengan aku sedang kembali ke Seoul untuk membuat soudtrack." Ucap Darel, sambil merenungi yang sedang terjadi. Hatinya makin bersyukur.
"Iyaa... Dan juga, jika kemaren aku tetap di hotel, tidak pergi ke Mall untuk melihat rangkaian acara ulang tahun, mungkin akan jadi lain ceritanya." Ucap Mikha mengingat kejadian kemaren.
"Kemaren sebenarnya, aku ada janji dengan Manager hotel untuk bertemu orang yang akan menyewah Ballroom Hotel. Tetapi orangnya terlambat datang, entah apa alasannya kepada Manager." Ucap Mikha, menceritakan.
"Aku langsung meninggalkan ruangan dan menyuruh Manager saja yang akan menemui mereka. Aku langsung datang ke Mall, karena sedang ramai dengan pentas musik." Ucap Mikha lagi, juga merasa takjub.
*- Pertemuan dan perpisahan selalu memiliki rasa yang berbeda -*
โกโข~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... ๐๐ป Makasih~โขโก