
Selesai acara makan malam, para crew dan ex member Melo telah pulang. Keluarga besar Jion masih duduk santai di halaman belakang sambil berbincang-bincang dengan santai, karena mereka semua juga sudah berpakaian santai.
Pak Darpha duduk di antara kedua cucunya yang sangat membanggakan hatinya. Melihat mereka tadi di Gereja membuat, hatinya membuncah dengan rasa bangga dan ungkapan syukur.
"Manche,, tidur di sini saja ya., biar disiapkan kamar tamu untukmu." Ucap Bu Richel.
"Iyaa,, Auntie.., tetapi tidak usah siapkan kamar. Manche mau tidur dengan Tante Selvine dan Efri saja. Sudah rindu peluk mereka." Ucap Manche sambil menunjuk Efrima dan Bu Selvine.
"Baik, kalau begitu." Ucap Bu Richel.
"Efri, mari ke kamar., sebentar lagi kau akan tidur di pangkuan Grandpa. Efra juga., lebih baik segera tidur." Ucap Kandara karena melihat Efrima sudah mulai bersandar kepada Pak Darpha.
Kandara berdiri dan mengajak Efrima masuk ke rumah. Mikha berdiri juga untuk mengajak Efraim ke kamarnya.
Setelah Kandara kembali, Manche mulai muncul isengnya, ingin menggoda Kandara dan Darel.
"Darel,, karena kalian sudah menikah aku akan ceritakan kelakuan buruk Kandara yang harus kau, tau." Ucap Manche memulai isengnya.
"Astaga.., kau jahat sekali." Ucap Mikha.
"Memang.." Ucap Manche sambil menatap Mikha. Kandara sudah mengatupkan kedua tangannya di dada mengharapkan Manche diam.
"Jangan kalian tau yang baik saja tentang dia, yang buruk juga. Biar kalian tau., karena dia hampir membuatku miring." Ucap Manche sambil meletakan jari telunjuknya di dahinya.
"Aku mulai dari mana ya.." Ucap Manche dengan gaya seperti lagi berpikir. Darel hanya tersenyum melihat tingka Manche dan wajah Kandara yang mulai memerah.
"Mmmm,, aku mulai dari mantan pacarnya dulu.." Ucap Manche, Bu Richel langsung melihat Darel. Tetapi karena melihat putranya sangat santai, Bu Richel tenang.
"Astaga.., apa yang kau lakukan., kau mau membatalkan malam pengantin mereka.?" Ucap Mikha sambil menunjuk Darel dan Kandara.
"Memang..." Ucap Manche santai dan meneruskan ceritanya.
"Begini., mantan pacarnya itu namanya Lucha. Yaaa.., jabatan di kantornya lumayan, wajahnya lumayan., semuanya lumayanlah..., yang tidak lumayan itu, Tante Selvine tidak lumayan menyukainya." Ucap Manche sambil memandang Bu Selvine dan Kandara. Bu Selvine hanya gelengkan kepalanya.
"Mereka pacaran hampir satu tahun., dan yang buruk dari dia itu,, terlalu setia..
Setia itu, buruk atau baik yaa.?" Tanya Manche kepada Mikha.
"Astagaaa,, kau tidak tau setia itu buruk atau baik.?" Tanya Mikha balik bertanya.
"Menurut Uncle,, baik atau buruk.?" Tanya Manche kepada Pak Darpha.
"Baik.." Jawab Pak Darpha., sambil tersenyum., mulai mengerti apa yang sedang dilakulan Manche.
"Tetapi mengapa aku merasakan yang dilakukan dia itu buruk ya.. Begini., mantannya itu bisa dibilang breng***.. uuupsss.." Ucap Manche sambil menutup mulutnya.
"Dara tetap sabar, sabar, sabar.., tetap bersamanya. Didoakan saja, Che.. siapa tahu berubah. Dia terus bertahan dengannya, walaupun kelakuannya agak minus. Akhirnya ketika mantannya itu tidak sopan dengan teman kantornya baru dia melawan dan akhirnya putus."
"Beberapa saat kemudian, baru aku tahu. Dia melawan itu bukan karena dia, tetapi karena kehamilannya. Itu karena hormon ibu hamil, yang membuatnya galak." Ucap Manche.
"Astagaa.., benarkah..?" Tanya Kandara kaget, dan semua memandangnya. Kandara langsung menutup mulutnya.
"Coba lihat dia.." Ucap Manche sambil menunjuk Kandara.
"Berarti kedua anakku hebat sekali, sebelum aku tahu mereka ada di perutku,." Ucap Kandara sambil tersenyum dan mengelus perutnya.
"Itu karena aku Daddynya." Ucap Darel ikut ledekin Manche.
"Yes, u are right..!" Ucap Kandara dan mengajak Darel tos.
"Uuuueeeekkk.." Manche dan Mikha membuat seakan-akan mau muntah.
"Mikha,, sejak kapan kau hamil.?" Ucap Kandara ledekin Mikha, yang lain tersenyum mendengar pertanyaan Kandara
"Sejak Darel narsis.." Jawab Mikha, yang lain mulai tertawa.
"Wuuuuaah.., kau hebat ya.., baru dua hari sudah mual.., aku dua bulan baru mual.." Ucap Kandara lagi.
"Itu karena aku tinggal dekat dengannya." Jawab Mikha, sambil menunjuk Darel., yang lain hanya bisa tertawa mendengar Kandara dan Mikha. Manche langsung berdiri dan memeluk Kandara..
"Thank u .., sudah kembali." Ucap Manche melihat kembali keceriaan Kandara.
"Kandara kehilangan hal yang baru dia lakukan, lebih dari sepuluh tahun ini. Aku sangat merindukan Kandara yang itu, dan pasti Tante juga." Ucap Manche sambil melihat Bu Selvine yang tersenyum.
"Sekarang aku sudah bisa tidur dengan senang." Ucap Manche sambil pamit kepada yang lain untuk beristirahat, yang lain juga ikut masuk untuk beristirahat.
*((**))*
Darel dan Kandara masuk ke kamar mereka dengan hati bersyukur. 'Terima kasih Tuhan, dia telah menjadi milikku.' Darel mengucap syukur dalam hatinya. Kandara juga mengucap syukur untuk hal yang sama dalam hatinya.
Setelah itu, Darel masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Kandara menyiapkan baju mereka berdua untuk beristirahat. Kandara bergantian dengan Darel ke kamar mandi.
Setelah Kandara keluar dari kamar mandi, Darel sudah berbaring di atas tempat tidur. Kandara ikut berbaring di samping Darel dan Darel langsung memeluknya dengan sayang.
"Hari ini aku hanya bisa ucapkan terima kasih untuk Tuhan yang telah menyatukan kita.
Terima kasih juga untukmu yang telah sabar menganggung semuanya bersama anak-anak." Ucap Darel sambil mencium dahi Kandara lama.
"Aku juga berterima kasih untuk semua hal, terutama untuk tadi yang kau lakukan bersama anak-anak. Aku merasa wanita yang dianugrahi berkat yang tidak terukur." Ucap Kandara dengan hati yang membuncah
"Semua yang kualami selama 10 tahun ini, tidak sebanding dengan anugrah Tuhan, yang kuterima hari ini lewat kau, anak-anak dan kedua orang tuamu." Ucap Kandara dengan mata berembun.
"Kiranya Tuhan melindungi keluarga besar kita." Ucap Kandara lagi.
"Amiiin.!" Kandara dan Darel mengaminkannya.
"Dara,, kau mau kita bulan madu kemana. mmm.?" Tanya Darel sambil memainkan alisnya. Membuat Kandara tersenyum dan memukul lengannya.
"Tidak usah, kita di sini saja bersama anak-anak, Mommy, Daddy dan Mama. Aku tidak mau jauh dari mereka." Ucap Kandara masih tersenyum melihat apa yang dilakukan Darel.
"Benar.., kau tidak mau..?" Tanya Darel lagi, merasa tidak percaya.
"Iyaa., kita di sini saja.. Hatimu seperti ini untukku saja, sudah membuat ini menjadi tempat bulan madu yang tidak bisa digambarkan. Jadi tidak usah pikirkan tentang itu." Ucap Kandara lagi.
"Baiklah.., kalau itu yang kau inginkan. Tetapi kalau kau beruah pikiran, masih berlaku tawaranku." Ucap Darel sambil tersenyum dan memainkan alisnya lagi.
Darel tahu, sangat muda membuat Kandara tersenyum. Sehingga dia sering melakukannya untuk mengganggunya. Kandara langsung memukul lengannya dan tertawa.
"Dara,, kau masih ingat janjiku padamu., kalau semua sudah selesai aku akan berikan apa untukmu.?" Tanya Darel, tetapi tersenyum dalam hati. Kandara mengangguk kuat dengan wajah memerah.
"Haaa.., apa ..?" Tanya Darel yang sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Kau akan berikan punggungmu." Ucap Kandara dengan wajah memerah..
"Hhhhhhhhhh...," Darel tertawa lepas. Kandara langsung menutup mulut Darel, karena khawatir di dengar oleh orang lain.
"Astagaaa.., ternyata kau tidak melupakannya. Ini aku menepati janjiku." Ucap Darel sambil membalikan badannya. Kandara langsung memeluknya dan meletakan pipinya di punggung Darel. Kandara sangat menyukai punggung Darel, sangat hangat.
Beberapa saat kemudian, Darel teringat ini adalah malam pengantin mereka.
"Astagaaa.., kenapa aku berikan sekarang., bisa-bisa kau tertidur." Ucap Darel dan hendak berbalik, tetapi tidak diijinkan oleh Kandara untuk berbalik.
Tiba-tiba ada suara getar telpon di atas meja. Kandara terkejut dan melepaskan pelukannya dan bangun melihat siapa yang telpon di malam begini.
Kandara selalu menyalakan ponselnya dalam model getar setelah memiliki anak dan tidak tidur bersamanya. Agar jika kedua anaknya membutuhkan sesuatu bisa menghubunginya.
Ternyata Manche yang menelponnya.
"Allooo.., Che."
"Maaf, Dara.. aku mengganggumu. Aku harus kembali ke Amerika karena daddy masuk Rumah Sakit." Ucap Manche pelan.
"Astagaaa.., kau tunggu di situ., jangan lakukan apapun. Aku akan bicara dengan Darel dan turun ke situ." Ucap Kandara dan mengakhiri pembicaraan.
Melihat Kandara yang panik, Darel ikut bangun dan mendekatinya.
"Ada apa..?" Tanya Darel.
"Manche mau kembali ke Amerika, karena Daddynya masuk Rumah Sakit." Ucap Kandara, mulai panik dan cemas.
"Kalau begitu, ganti bajumu dan ambil bajuku. Aku akan hubungi Mikha." Ucap Darel dan menghubungi Mikha.
"Allooo, Mikha.. tolong keluar dari kamarmu jangan didengar Efra. Ke kamarku saja." Ucap Darel, ikutan panik.
"Ooh..Ok." Jawab Mikha yang terkejut, sambil keluar dari kamar menuju kamar Darel.
*- Tawa, tangis, susah, senang, silih berganti menghiasi hidup -*