
Sambil menarik nafas dalam dan menghembuskannya, Darel memandang Mikha sambil menggeleng kepalanya.
"Bersyukur waktu itu aku minta nomor telponnya untuk kirim tiket. Kalau tidak, apa jadinya dia dengan Dara. Karena ujung-ujungnya dia akan menghubungi Dara." Ucap Mikha sambil ikut menarik nafas panjang dan duduk di depan Darel.
"Iyaa,, sangat mengerikan hidup dengan orang yang serakah. Harta tidak mengenal keluarga. Pantas Manche waktu itu syok sekali. Aku jadi sedikit mengerti, kenapa Manche lebih suka tinggal dengan keluarga Dara." Ucap Darel.
"Mungkin Dara tahu tentang kehidupan orang tua Manche, tetapi dia tidak mau membicarakannya dengan kita. Dia hanya cerita yang normal-normal saja." Ucap Darel, sambil mengingat cerita Kandara.
"Aku jadi mengerti, kenapa Manche lebih suka tidur dengan Mamanya Dara, seperti yang dikatakan Dara. " Ucap Mikha, dan Darel mengangguk mengerti.
"Aku juga baru mengingatnya sekarang, karena itu hal yang tidak lasim." Ucap Darel sambil menggeleng kepalanya.
Tidak lama kemudian, Manche mengirim pesan apa yang akan diwariskan daddynya untuk Manche, nama dokter dan suster serta namanya dan daddynya.
Ketika membacanya, Darel terkejut. Karena ada nama perusahan yang menjadi rekanan bisnisnya di Amerika.
"Astagaaa.., pantas Mommynya .. " Darel tidak meneruskan ucapannya karena Manche menelpon Mikha.
"Allooo, Mikha.. yang bagian di bawa itu, Mommy tidak tahu dan aku juga tidak tahu. Itu mungkin warisan keluarga. Soal rumah yang sekarang, Daddy tidak mau aku tinggal di sana. Mungkin sebentar lagi Mommyku akan datang."
"Ooh iyaa,, Mommyku masih punya Jabatan di perusahaan, sehingga Daddy ingin sahamku lebih besar dari Mommy agar bisa mengatur perusahaan seperti yang Daddy mau.. Jadi berdua tolong aku, yaa.." ucap Manche
"Ok,, kau bersikap tenang saja kalau Mommymu ada. Jangan lupa getarkan ponselmu, mungkin kami harus menghubungimu. Kalau Mommymu sudah ada, kirim pesan buatku." Ucap Mikha mengakhiri pembicaraan.
Darel mendengar semua yang dikatakan Manche karena Mikha memakai spiker, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Pantas aku tidak pernah bertemu Manche., mungkin Mommynya yang berhubungan dengan perusahaan kita." Ucap Darel sambil menghubungi pengacaranya dan mengirimkan semua data yang dikirim Manche, termasuk nama lengkap Manche dan Daddynya.
Tidak berapa lama kemudian, Manche mengirim pesan bahwa Mommynya telah datang ke Rumah Sakit.
Manche tetap dekat dengan Daddynya, walaupun Mommynya menyurunya pulang dan mengatakan untuk bergantian. Karena dia ingin Daddynya merasa tenang.
Mikha mengirim pesan kepada Manche, meminta nama Rumah sakit dan kamar Daddynya. Manche langsung membalas pesannya.
Beberapa lama kemudian, pengacara Darel telah tiba di Rumah Sakit dan menghubungi Darel. Agar Darel mengatur dengan Manche, bagaimana bisa bertemu dengan Daddynya.
Darel dan Mikha berdiskusi untuk mengatur bagaimana baiknya. Setelah mendapatkan cara yang baik, Mikha kirim pesan.
"Manche..." panggil Mikha untuk mengetahui ponselnya ada pada siapa.
"Yaa.. Mikha."
"Ok, Pengacaranya sudah di tempat parkir. Tolong ajak Mommymu keluar kemana saja, mungkin kantin. Sekitar 20 menit atau lebih, tunggu kabar dariku.
Jangan lupa kasih tahu Daddymu bahwa pengacamu sudah datang, supaya Daddymu tau." Pesan Mikha.
"Kalau kau dan Mommymu sudah di tempat, kirim pesan untukku. Agar pengacaranya segera ke kamar Daddymu." Pesan Mikha lagi.
Manche langsung berdiri dan melihat kondisi Daddynya dan berbicara dengan suster dan dokter jaga.
"Mommy, kondisi Daddy agak tenang. mari kita ke kantin untuk minum hangat sambil membicarakan bagaimana tindakan yang baik untuk Daddy." Ucap Manche, dan Bu Alicia mengangguk. Manche mengajak Bu Alice keluar ruangan dan mengajaknya ke kantin Rumah sakit untuk cari minum hangat.
"Mom, sebentar.. Ponselku tertinggal." Ucap Manche dan berjalan balik ke ruangan Daddynya. Dia membisikan ke telinga daddynya dan mencium pipinya.
Setelah di kantin, Manche mengirim pesan untuk Mikha. Dia mengajak Mommynya berbicara tentang kondisi Daddynya. Mungkin masih bisa lakukan tindakan lain yang bisa menyembuhkan Daddynya. Mommynya hanya menggeleng tanpa memberikan solusi yang baik. Hanya bertahan untuk berombat yang selama ini dijalani.
"Kita hanya bisa membantu sampai di situ dan selanjutnya biarlah Tuhan yang menolong Manche." Ucap Mikha. Dan mereka bersama mengamininya.
*- Kadang harta bisa membuat seseorang lupa pada dirinya -*
*((**))*
Manche yang sedang minum dan bercakap-cakap dengan Mommynya terus berdoa dalam hatinya. Semoga Tuhan berikan kekuatan untuk Daddynya.
Semoga semua yang direncanakan Mikha dan Darel diberkati Tuhan.
Mikha dan Darel bercakap-cakap sambil menunggu kabar dari pengacaranya.
"Melihat kondisi Manche, dia cukup tegar menghadapi persoalan orang tuanya. Tidak mungkin ini persoalan yang baru terjadi. Dan tidak mungkin tidak ada persoalan diantara orang tuanya." Ucap Darel sambil berpikir.
"Iyaa, pasti ada persoalan, karena tidak mungkin Daddynya bisa minta pengacara yang lain. Dalam keadaan sakit, Daddynya masih memikirkan Manche. Pasti beliau tahu betul istrinya, makanya mengamankan masa depan anaknya." Ucap Mikha, juga ikut berpikir.
"Itu yang terpikirkan olehku. Daddy Manche pasti tidak tenang, mengetahui kondisinya yang makin lemah dan belum memberikan wasiat sesuai keinginannya.." Ucap Darel.
"Iyaa,, mengingat Mommy Manche memiliki Jabatan di Perusahan, Daddynya tidak bisa percaya pada pengacara Perusahaannya. Dan mungkin beliau sudah tidak mengurus Perusahaan lagi setelah sakit." Ucap Mikha.
"Tidak bisa mengurus Perusahaan lagi tidak masalah, asal yang menggantikan bisa dipercaya. Yang menjadi masalah adalah beliau tidak percaya, istrinya bisa mengelolanya dengan baik." Ucap Darel.
"Bukan itu saja, ada yang lebih beliau khawatirkan adalah Manche tidak bisa memperoleh haknya jika semua jatuh ke tangan istrinya." Ucap Mikha
"Astagaa,., beliau pasti tidak tenang hidupnya. Karena bagaimana bisa hidup tenang dengan orang yang tidak bisa dipercaya." Ucap Darel sambil geleng kepala.
"Kau benar, mungkin ada hal yang lebih dari ini, yang tidak dibicarakan Manche. Karena tadi dia katakan, dia belum bisa bicarakan yang lain." Ucap Mikha sambil mengingat apa yang dikatakan Manche.
"Astagaaa.., aku bersyukur punya orang tua seperti Mommy dan daddy. Bukan karena mereka kaya raya., tetapi mereka mengajarkan tentang ketenangan hidup. Saling mengerti dan saling percaya."
"Itu tidak bisa dibeli dengan uang. Berapa pun banyaknya uang yang kita punya, tidak bisa membelinya." Ucap Darel sambil mengingat kedua orang tuanya.
"Aku sekarang bersyukur memiliki istri seperti Dara. Dalam banyak hal tidak sebanding dengan Mommy. Tetapi dia memiliki dasar hidup untuk bisa berbagi hidup bersama."
"Aku merasa tenang bersamanya, bisa mempercayainya. Untuk saling mengerti, kami masih harus terus belajar. Karena kami dari latar belakang yang berbeda, bukan saja budayanya tetapi juga ekonomi." Ucap Darel sambil tersenyum mengingat sikap Kandara saat membeli sesuatu yang lumayan mahal.
"Aku tahu Dara berusaha keras untuk bisa hidup di lingkunganku. Seperti contoh, dia akan melihat sembarang arah dengan wajah memerah, ketika kami akan membeli sesuatu yang menurutnya mahal." Ucap Darel tersenyum.
"Itu mungkin karena selama ini, Dara selalu mengatur keuangannya untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup dengan gajinya. Sehingga dia terbiasa membeli yang dibutuhkan saja." Ucap Mikha.
"Tetapi aku sayang dan sangat menghormati Dara, karena dia bukan wanita yang serakah. Ketika mengetahui kau bisa membeli apa saja, dia tidak memanfaatkannya untuk berbelanja sesuka hatinya. Dia tetap dengan pribadinya yang apa adanya." Ucap Mikha mengingat Dara.
"Yaaa,, itu dia.. Kadang aku harus bicara dengannya untuk membeli sesuatu untuknya. Dia sangat sederhana cara berpikir dan hidupnya. Dia merasa ini sudah cukup, ya sudah.. Cukup saja. Hal itu kadang-kadang membuatku terkejut." Ucap Darel.
"Lihat saja, jangankan diberikan kado bulan madu dari Mommy dan Deddy., aku sendiri sudah menawarkan padanya. Dia mau kemana, dan jika dia mau kemana saja, aku sanggup. Tetapi dia memilih di rumah saja." Ucap Darel.
"Kau bisa bayangkan lingkungan kita seperti ini, dan jika wanita lain mungkin dia sudah merencanakan bulan madu sebelum acara pernikahan berlangsung." Ucap Darel tersenyum.
"Itu yang membuatku menghormatinya, sikapnya tidak dibuat-buat. Saat pertama bertemu dengannya, yaa.., sampai sekarang seperti itu. Dia tidak berubah, dia hanya berusaha menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, tetapi tidak menghilangkan jati dirinya." Ucap Mikha, mengagumi Kandara.
*- Lingkungan dapat merubahmu, tetapi kau juga dapat merubah lingkunganmu -*