Me And You For Us

Me And You For Us
Dilindungi.



...~•Happy Reading•~...


Dalam perjalanan ke Mansion orang tuanya, Darel dan Mikha mempergunakan waktu untuk membicarakan apa yang akan mereka lakukan kedepan. Terutama tentang semua bisnis yang sedang dikelolah oleh mereka berdua.


Mikha menyampaikan perkembangan Hotel, Mall dan Restaurant yang dipercayakan Darel dalam pengelolahannya. Ditengah kegalauan hatinya, Darel merasa terhibur dengan laporan perkembangan bisnis mereka.


Penghasilan Darel sebagai Idol selama 5 tahun ini, di investasikan untuk membangun bisnis di bidang Hotel, Mall dan Restaurant. Dia juga menyiapkan semua keperluan alat musiknya.


"Ooh iya, Darel. Kita kembali ke kejadian kemaren, apa yang akan kau lakukan kepada Lanna?" Tanya Mikha, mengingat apa yang dilakukan Lanna kepada Darel.


"Sementara ini, aku tidak akan melakukan apa pun kepadanya. Aku akan melihat, apakah dia masih berani menunjukan wajahnya di depanku." Ucap Darel kesal.


"Aku tidak ingin mengingatnya, atau menyebutkan namanya. Karena hal itu membuatku merasa mual." Ucap Darel lagi.


Kemarahannya telah berkurang tetapi rasa kesal dan kecewa membuatnya muak ketika mendengar nama Lanna. Mengingat selama ini, Darel sudah menganggapnya sebagai teman, sering membantunya jika kesulitan.


Darel sering membatunya di studio rekaman, memilih lagu untuknya, bahkan beberapa kali membuat lagu untuknya. Beberapa kali juga Darel membantu finasialnya, tetapi dia bisa melakukan hal jahat kepadanya.


"Kenapa kau bisa bertemu dengannya di cafe hotel malam itu? Apakah dia tahu kau tinggal di hotel?" Tanya Mikha curiga dengan pertemuan mereka.


"Tidak, dia tidak tahu aku tinggal di hotel. Dia menghubungiku untuk meminta bertemu di cafe, karena mau membahas rencana come backnya.


Dia ingin aku menulis satu lagu untuk Mini Albumnya." Jawab Darel, mengingat pertemuannya dengan Lanna malam itu.


"Dia juga meminta pendapatku tentang rencananya untuk pindah Agency. Karena dia merasa Agencynya yang sekarang kurang mensupportnya. Dia berencana pindah ke Agencyku. Tetapi aku katakan padanya, umumnya para Agency seperti itu, mereka lebih fokus mempromosikan artisnya yang lagi diminati banyak orang." Ucap Darel lagi.


"Kemudian dia memesan mimum untuk kami. Setelah minum minuman yang dipesannya, badanku terasa tidak enak. Ketika dia ke toilet, aku langsung balik ke kamar. Cerita selanjutnya engkau sudah tahu." Ucap Darel lagi mengingat kejadian malam itu.


"Aku telah periksa, ternyata Lanna tamu hotel hari itu. Berarti dia telah menyiapkan semua untuk menjebakmu. Dia merencanakan untuk bersama denganmu malam itu." Ucap Mikha sambil menggelengkan kepalanya.


Darel sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Mikha. 'Ternyata wanita itu sudah merencanakan hal sejauh itu.'  Ucap Darel dalam hati.


"Aku jadi teringat ucapan Mommy kepada kita: Darel, Mikha... Jangan lupa berdoa minta Tuhan jauhkan dari segala yang jahat." ucap Mikha mengingat nasehat Mommynya sambil tersenyum. Darel juga tersenyum mengingat itu.


"Itulah mengapa hari ini aku mau pulang dulu ke rumah, sebelum ke Agency. Aku rindu sekali ingin memeluk Mommy." Ucap Darel sambil tersenyum tipis.


"Sebelumnya aku menganggap Mommy cerewet sekali, suka mengatur kita. 'Jangan lupa bersyukur saat bangun pagi, jangan lupa berdoa sebelum bekerja, jangan lupa ke Gereja, jangan lupa mengisi pujian di Gereja ... dan masih banyak lagi." Ucap Darel lagi dan tersenyum memikirkan Mommynya.


"Tapi lihatlah... Jika aku tidak menuruti semua nasehatnya, mungkin sekarang aku sudah dililit ular." Ucap Darel serem.


"Hiiiii..." ucap Mikha sambil membuat lilitan dengan jarinya.


"Sekarang aku sudah merasakan sendiri, efek dari nasehat Mommy. Apa yang akan terjadi denganku jika Tuhan tidak menjauhkan aku dari rencana jahat wanita itu?" Ucap Darel sambil bergidik.


"Bekerja di bidang sepertiku ini, jika tidak bersama Tuhan, kita seperti hidup di tengah ular yang siap melilit dan menggigit tanpa kita menyadari kehadiranya. Atau juga, kita seperti hidup di tengah serigala tanpa perlindungan." Ucap Darel merasa ngeri membayangkannya.


...°-° Hanya Tuhan yang dapat melindungi, dan mengamankan hidupmu °-°...


"Apakah kau tidak tahu kalau Lanna menyukaimu." Tanya Mikha, karena dia tahu, Lanna sering berusaha mendekati Darel dengan berbagai cara.


Darel tidak menjawab, tetapi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Darel menyadarinya dan dia mengira Lanna seorang wanita yang baik, sehingga membiarkan dia mendekatinya.


Tanpa terasa mereka telah tiba di Mansion orang tuanya. Darel segera turun dari mobil, karena Mikha akan kembali ke hotel.


Mikha memanggil orang tua Darel seperti Darel, karena itu adalah permintaan orang tua Darel. Mereka telah menganggapnya anak seperti Darel. Semenjak orang tua Mikha meninggal dalam kecelakaan mobil, Darel mengajaknya untuk tinggal bersama dengannya di Mansion orang tuanya. Karena Darel sangat menyayanginya.


Semua kebutuhan sekolah dan kuliahnya dibiayai oleh orang tua Darel. Sehingga Mikha sangat bersyukur, karena lewat sahabatnya dia bisa mendapatkan orang tua pengganti yang sangat baik hati.


Setelah selesai kuliah, sekarang Mikha mengurus semua bisnis Darel. Salah satunya adalah Relkha Hotel yang terhubung dengan Relkha Mall. Mereka berdua memiliki kamar pribadi di hotel tanpa ada yang mengetahuinya.


Setelah masuk ke dalam rumah, Darel mencari Bu Richel, Mommynya. "Pak Joe... Mommy ada di mana?" Tanya Darel kepada kepala pelayan.


"Nyonya sedang di ruang baca, tuan muda." Jawab Pak Joe, sambil menunjuk ke arah ruang baca.


Darel langsung ke ruang keluarga dan memanggil Mommynya. "Mommiiii..." Teriak Darel.


"Iyaaaa, kenapa teriak-teriak. Pulang bukannya kasih salam." Protes Mommynya yang keluar dari ruang baca.


Darel langsung memeluknya dari belakang dan meletakan dagunya dibahu Mommynya. "Mommyku yang terbaik. Daddy sudah berangkat kerja, Mom?" Tanya Darel, sambil terus memeluk Bu Richel.


"Daddymu sedang ke Jepang. Dari kemaren ada pertemuan bisnis di sana. Nanti malam sudah kembali." Jawab Bu Richel sambil memegang wajah Darel di bahunya.


"Tumben Mommy tidak ikut Daddy." Ucap Darel.


"Bagaimana mau ikut Daddy, kalau anak Mommy sedang uring-uringan tidak jelas. Kemarin Maneger Melo dan David terus menghububgi Mommy. Mommy jawab sesuai pesanmu." Ucap Bu Richel.


"Thank u, Mom." Ucap Darel tanpa melepaskan pelukannya.


"Anak Mommy kenapa? mmmm...?" Tanya Bu Richel, sambil mengusap tangan Darel yang sedang memeluknya.


"Lagi kecewa saja, Mom. Tapi setelah bertemu Mommy sudah berkurang. Jadi sekarang Darel mau ganti baju dan mau berangkat ke Agency." Darel melepaskan pelukannya dan berjalan ke tangga menuju kamarnya.


"Darel. Sebelum berangkat, temani Mommy sarapan, ya." Ajak Bu Richel sambil melihat punggung putranya.


"Ok, Mom." Jawab Darel sambil naik tangga menuju kamarnya.


Bu Richel merasa ada sesuatu yang terjadi dengan putranya. Walaupun dia berusaha tenang, tapi matanya tidak bisa berbohong. Matanya menunjukan telah terjadi sesuatu.


Setelah selesai sarapan, Bu Richel mengambil tangan Darel dan mengelusnya pelan, lalu berkata : "Darel, hidup itu seperti cuaca. Kadang cerah, kadang mendung, kadang hujan. Ketika hujan, kita harus menggunakan payung agar tidak basah. Payung tidak bisa menghentikan hujan, tetapi bisa melindungi kita dari air hujan." Ucap Bu Richel, pelan.


"Begitupun ketika menghadapi masalah, kita harus terus berdoa. Memang doa tidak bisa menghentikan masalah, tetapi bisa memberikan kita kekuatan untuk menyelesaikan masalah." Ucap Bu Richel lagi dengan sayang.


Darel menatap Mommynya takjub, karena mengetahui kegundahan hatinya.


"Mommy percaya, anak Mommy akan melewati semua yang terjadi dengan kekuatan yang Tuhan berikan." Ucap Bu Richel untuk menguatkan Darel.


"Amen. Thanks, Mom." Ucap Darel, sambil berdiri dan memeluk Mommynya dengan sayang.


...°-° Setiap masalah akan terasa ringan, jika Tuhan bersamamu °-°...


...~***~...


...~●○♡○●~...