Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 87



Perpisahan


"Pe-pelatihan khusus!?"


Wajah Naori langsung panik mendengar kata pelaatihan khusus dari mulut Merlin, karena tidak tau lagi harus berbuat apa, Naori langsung duduk di dekat Cyren dan berbisik di dekat telinganya.


"Bibi, tolong aku"


Lalu Naori kembali berdiri dan menunduk sedikit kepada kedua orang utusan dari ibukota dan segera pergi ke dapur untuk kembali ke tujuannya dari awal, mencari makanan.


Sesaat sebelum masuk ke dalam dapur, karena menyadari ada sesuatu di meja makan, Naori mengurungkan niatnya dan menuju meja makan lalu membuka tutup meja yang ada di atasnya.


Daging, Sayuran, Buah, Minuman semuanya ada di balik tutup meja itu, karena ragu Naori melihat ke arah Cyren yang duduk di sofa, Cyren yang melihat Naori menoleh ke arahnya tersenyum dan mengangguk.


Karena sudah di izinkan oleh Cyren, Naori langsung duduk dan menyantap makanan yang ada di meja secara perlahan.


Tidak lama setelahnya, semua yang ada di sofa langsung berdiri dan mendekati Naori, Naori yang menyadari hal itu langsung cepat-cepat makan dan bersikap seperti biasa.


"Nak, bisakah kami mengujimu sebentar?"


"Menguji bagaimana paman?" tanya Naori.


"Pegang bola ini dan masukkan sedikit Magic Powermu ke dalamnya" ujar Merlin sembari memberikan bola warna putih itu kepada Naori yang sedang makan.


"Apa kau yakin dia memiliki Elemen ganda?"


"Entahlah, tapi mari kita lihat melalui pengujian ini"


Kedua orang dari Ibukota itu pun bergumam di belakang sambil melihat Naori yang mencoba memasukkan Magic Powernya ke dalam bola putih itu.


Bola itu bersinar dengan dua cahaya, satu berwarna kuning keemasan dan yang satunya lagi hijau tua, lalu setelah beberapa saat bersinar kedua cahaya itu menghilang dan di ganti dengan cahaya biru di sertai dengan campuran cahaya putih yang sangat terang hingga semua yang ada di sana hampir tidak bisa melihatnya.


"Transcendent Rank!?"


"... Dia memiliki Inti Magic Transcendent Rank dengan Elemen ganda!"


"Tidak mungkin, anak sepertinya di sia-siakan seperti ini sungguh sayang sekali, cepat hubungi markas pusat! kita harus segera membawanya ke Ibukota untuk melatihnya mengendalikan Magic Power" ucap salah satu utusan itu dengan terburu-buru setelaah menguji Naori dengan bola itu.


"Baik pak"


Lalu orang itu mendekati Naori dan berjongkok di depannya, "Selamat telah lulus tesnya, segeralah berkemas! kita akan segera berangkat ke Ibukota" ujarnya.


"Tidak!"


Seketika semua orang terkejut, Merlin yang mendengar jawaban Naori langsung menunjukkan ekspresi marah dan memperingatkan Naori.


"Nak, apa yang kau bilang? ini adalah sebuah peluang untukmu"


"Tidak, paman salah paham, aku akan mengikuti pelatihan khusus seperti yang selalu kalian bilang"


Naori berdiri dan menatap semua orang seraya berkata "Tapi tidak! ... tidak akan pernah sebelum Kaori membiarkan aku untuk pergi mengikuti pelatihan khusus" jawab Naori yang kemudian berjalan dan menaiki tangga.


"Anak itu ..." Cyren menatap Naori dengan tatapan murung.


"Tidak sopan! apa anak itu itu lupa soal sopan santun!?" gumam Galoth yang melihat perilaku Naori yang tidak sopan karena langsung pergi tanpa menghiraukan kedua utusan dari Ibukota tersebut.


Melihat hal itu Cyren pun mengerti perasaannya, karena Naori sudah meminta tolong padanya, Cyren mencoba meyakinkan dirinya untuk meminta utusan dari Ibukota menunda keberangkatan.


"Pak, bisakah kalian menunda keberangkatan kalian sampai sore ini? aku berani menjamin, anak itu akan pergi ke Ibukota bersama kalian setelah bertemu dengan adiknya"


"Baik, akan aku abaikan sifatnya itu karena dia adalah seorang Awakener begitu berharga" ujar Utusan itu.


Cyren yang mendengar hal itu langsung menunduk dan berkata "Terima kasih" sambil tersenyum.


Karena tidak mengerti apa yang Cyren lakukan, Galoth pun segera pergi mengikuti kedua utusan tersebut keluar rumah.


Merlin yang masih bingung kemudian bertanya "Hey Cyren, apa kau mengerti kenapa anak itu tiba-tiba saja bersikap agresif? tidak seperti biasanya dia menolak seperti ini"


"Mungkin anak itu sedang merindukan adiknya, kau tau Merlin, perpisahan itu begitu menyakitkan ... mungkin saja anak itu mendapatkan sedikit ingatannya kembali" ujar Cyren menjelaskan.


"Begitu kah? aku tidak begitu mengerti tapi Intuisi milikmu itu sangat tajam, jadi mungkin saja tebakanmu itu benar" ucap Merlin yang percaya dengan perkataan Cyren.


Pagi hari berganti siang hari, dan siang hari pun berlalu hingga akhirnya sore hari pun tiba, Kaori dan Segawa pulang ke rumah bersama-sama.


Naori yang sudah menunggu dari tadi dengan kopernya yang berisi pakaiannya duduk di sofa dengan ekspresi gelisah.


"Kak, aku pulang"


"Selamat datang" ucap Cyren menjawab perkataan Kaori.


Kaori yang berjalan masuk ke ruang tamu, melihat kakaknya dengan jaket hitam dengan koper di sampingnya sedang duduk dengan ekspresi gelisah.


"Kak!? kakak mau kemana?" tanya Kaori yang secara tidak sadar bertanya karena melihat koper yang berada di samping kakaknya.


Lalu Naori pun berdiri dan mendekati Kaori seraya berkata "Kakak akan pergi ke Ibukota untuk menjalani pelatihan khusus" jawab Naori membalas perkataan adiknya.


"Pelatihan khusus!?" Segawa terkejut dan secara tidak sadar mengatakan itu kemudian berjalan pergi menaiki tangga.


"Kakak akan pergi?" tanya Kaori.


"Iya dan mungkin untuk waktu yang agak lama" ucap Naori sambil memalingkan wajahnya.


"Pergilah!"


"Eehh!? Kenapa rasnya kakak seperti sedang di usir diusir? kenapa?"


"Sekarang, kakak sudah memiliki Inti Magic seperti yang selalu kakak impikan dulu waktu kakak kecil, dan sekarang kakak bahkan belum mengetahui apa itu Magic Power karena kakak belajar di sekolah biasa"


"Kakak pikir bisa melawanku yang merupakan Kontraktor Transcendent Power sepertiku!?"


"Eehh!?" Naori terkejut mendengar perkataan Kaori.


"Kak, apa kakak ingat? dulu kakak sering menyakitiku dan selalu marah padaku karena mengeluh, Kenapa bukan aku yang mendapatkan Kontrak dari Konstelasi milik ibu? itu yang selalu kakak bilang padaku"


"Di akademi nanti ... aku akan mengahajar kakak untuk membalas semua perbuatan yang pernah kakak lakukan padaku" ujar Kaori sembari menunjuk kakaknya dengan jari telunjuk dengan ekspresi marah.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Karena kakak sangat menyebalkan" ucap Kaori yang kemudian berjalan pergi mengabaikan kakaknya.


Naori menunduk dan kemudian tersenyum sebentar di wajahnya lalu berjalan keluar rumah membawa kopernya dan segera pamit kepada Merlin dan Cyren.


"Aku pergi dulu Paman, Bibi" ucap Naori melambaikan tangannya dan membuka pintu.


"Hati-hati di jalan nak" ucap Cyren yang melambaikan tangannya.


Naori pun pergi dari rumah itu dan segera menuju ke Stasiun kereta di di tengah-tengah wilayah Distrik 17, karena begitu bersemangat setelah mendengar perkataan adiknya Naori kembali tersenyum dan bergumam "Menghajarku? hahaha ... adik ku benar-benar naif"


"Beraninya dia berkata seperti itu dan membuat perpisahan ini menjadi begitu menyedihkan, lihat saja Kaori! kakak akan menunjukkannya padamu kalau seorang adik tidak akan pernah bisa mengalahkan kakaknya"


To be Contiuned*