Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 126



Kembali ke Ibukota


Keesokan harinya di saat fajar telah tiba, Naori pergi dengaan cepat tanpa berpamitan dengan Kaori, Naori membuka pintu rumah untuk keluar, ternyata Segawa sudah bangun dan ada di luar sedang menatap langit di pagi hari yang mendung.


"Hah ..." Naori menghela nafasnya lalu berjalan melewati Segawa tanpa berkata apa pun, Segawa yang melihat hal itu langsung menghentikan Naori dengan berkata "tunggu!"


"Ada apa? aku akan berangkaat ke Ibukota, jadi aku tidak punya banyak waktu" ucap Naori menggerakkan posisi tubuhnya ke samping sedikit agar maatanya adapat melihat Segawa yang ada di belakangnya, Segawa mengambil sebuah lencana dengan lambang Organisasi Murder dan memberikannya kepada Naori seraya berkata "Ambill ini! di masa depan aku ingin kau bergabung dengan kami, karena kau seorang Awakener Transcendent Rank, kami akan saangat terbantu" ucap Segawa menggenggam kedua tangannya di depan dadanya sambil menunjukkan ekspresi berharap.


Naori mengambil lencana itu dari tangan Segawa lalu mengangkat lencana itu ke atas unntuk melihartnya lebih detail, Naori menutup satu matanya lalu berkata "Untuk apa lencana ini?" tanya Naori kepada Segawa untuk menanyakan fungsi lencana yang ia berikan secara tiba-tiba.


"Itu adalah lencana keanggotaan, dengan lencana itu kau bisa menunjukkan diri kalau kau berasal dari ... Murder"


"Itu artinya kau merekrutku?"


"Begitulah, jadi kau mau bergabung?" tanya Segawa memastikan pillihan Naori.


....


Naori diam karena ia masih berpikir, di dalam hatinya ia berkata "Aku memang sudah menduga Segawa mengetahui kalau aku tau sesuatu soal Murder, aku hanya tidak menyangka kalau dia langsung merekrutku setelah aku memiliki kekuatan"


Lalu Naori melihat singkat wajah Segawa yang berharap pada pilihannya dan kembali melihat lencana itu sseraya berkata di dalam hatinya Ini "memang terlambat tapi hatiku tidak tenang, perkataan Paman Trista selalu membuatku teringat pada Paman Galoth, apalagi Segawa adalah keponakannnya"


Naori pun berbalik sembari menggenggam lencana yang di berikan Segawa dengan kepalanya yang menunduk.


"Jika saja itu memang benar, ... Paman Galoth ... Kau akan merasakan kemmatian yang lebih kejam lagi dari yang di alami Trista ... tidak mungkin akan lebih kejam dari apa yang akan aku lakuka pada Theodore!" batin Naori sembari menggertakkan giginya dengan perasaan marah.


"Sial ... Karena perkataannya itu aku menunda penyiksaan jiwa-jiwa orang-orang yang berhubungan dengan kerluarga Arnolt di Soul Punisment Box"


....


Melihat Naori yang diam saja Segawa lantas bertanya kepada Naori dengan perkataan "Apa kau akan bergabung?"


Naori berbalik, ia menyeka wajahnya lalu memandang Segawa dengan ekspresi tersenyum seraya berkata Aku akan bergabung


Benarkah? aku senang mendengarnya ucap Segawa tersenyum kepada Naori untuk pertama kalinya sehingga membuat Naori memalingkan kepalanya karena sedikit terkejut melihat wajah Segawa yang cantik seraya berkata di dalam hatinya "Benar juga, dia memang cantik"


Kalau begitu aku pergi dulu ucap Naori berbalik lagi dan mulai berjalan pergi meninggalkan Segawa, namun Segawa menghentikannya lagi dengan bertanya, "Tunggu! aku masih punya sesuatu untuk di tanyakan"


Naori berhenti berjalan, ia berbalik sedikit ke arah Segawa seraya berkata "Apa lagi?"


Segawa tidak lagi menghentikan Naori, ia menggigit bibirnya saat melihat Naori pergi meninggalkannya setelah berkata sesuatu yang mengejutkan, Tenang saja Segawa, Naori berkata mungkin, itu berarti aku masih memiliki kesempatan di masa depan yang akan datang ucap Segawa meyakinkan dirinya sendiri.


Di saat matahari telah terbit, taman tempat Naori biasa membeli minuman kaleng rasa kopi, ia duduk di sebuah bangku di mana banyak orang berjalan-jalan di taman untuk olahraga, Naori melihat banyak orang lalu bersandar ke punggung bangku lalu melihat ke atas.


"Kurasa sudah saatnya pergi menemui kak Chloe"


"Aku masih merasa ada banyak latihan yang belum aku jalani ... tapi ... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naori yang menyadari keberadaan seseorang di sampingnya.


"Aku hanya memastikan, apa kau benar-benar menganggap tantanganku begitu remeh? kenapa tidak pergi ke Ibukota dan berlatih sekarang?" tanya perempuan berambut perak yang duduk di samping Naori.


"Perempuan ini, apa dia menyelidiki informasi mengenai diriku? bagaimana cara dia tau kalau aku mendapat latihan khusus di Ibukota?" batin Naori.


Naori berdiri, ia pun menjawab perkataan perempuan itu dengan berkata J"angan mencampuri urusanku!"


Naori pun berjalan menjauh meninggalkan perempuan itu di bangku sendirian dengan mengabaikan keberadaannya seolah-olah Naori membenci sosok dirinya, melihat tingkah Naori yang seperti itu membuat perempuan itu malah semakin bahagia.


"Pfft lucu sekali" ucap perempuan itu tertawa kecil melihat Naori pergi dengan menutup mulutnya menggunakan tangan, perempuan itu berdiri, ia berjalan ke arah yang sama seperti yang Naori lewati seraya berkata sekali lagi "Masih pagi, aku harus segera menyiapkan sarapan untuk nenek" ucap perempuan itu kemudian berlari meninggalkan taman.


Hup* Hup* Hup*


Suara Naori melompat di antara atap gedung terdengar, sesaat setelah sampai pada sebuah atap gedung yang biasa ia gunakan untuk melihat Sunrise, Naori berhenti berlari dan duduk bersila menghadap ke timur di mana matahari terbit dengan cahayanya yang begitu cerah.


Naori memejamkan matanya, ia pun membuka mata kanannya lalu mengumpulkan Magic Power di sekitarnya dengan cara memadatkannya menjadi sebuah bentuk lapisan yang melapisi seluruh tubuhnya, Magic Power itu pun mulai menyebar secara perlahan dari tubuh Naori dan hanya meninggalkan beberapa bekas Magic Power yang telah terbentuk mengelilingi Naori.


Magic Power itu pun bergerak dan melapisi kepala Naori dengan perlahan-lahan, saat semuanya telah di lapisi, Naori pun menggunakan semua Magic Power yang ada di sekitarnya sekaligus dengan berkata Teleportasi


Naori menghilang dari tempat itu seketika dan tiba di Ibukota, lebih tepatnya berpindah tempat di depan gerbang Gedung pelatihan khusus, setelah sampai di sana Naori pun bangun karena merasakan adanya bahaya dari Killing Intent yang mengarah pada dirinya.


"Kemari kau bocah nakal!" teriak pak Seisen yang terbang dengan cepat lalu menyambar leher Naori dan mencengkramnya seraya berkata sekali lagi "Bocah nakal, apa yang telah kau perbuat?"


"Eugh ..." Naori kesakitan, lehernya di cengkram pak Seisen sehingga membuat dirinya tidak bisa bernafas dan memberontak dengan cara membalas cengkraman tangan pak Seisen di tangannya, Naori mencengkram tangan pak Seisen agar pak Seisen melepaskan dirinya, namun itu malah membuat cengkramannya semakin kuat lagi sehingga wajah Naori semakin pucat karena tidak bisa bernafas.


"Le- ... Lepaskan aku!" ucap Naori dengan mata kirinya yang berubah warna menjadi warna biru, sedangkan mata kanannya yang di selimuti Magic Power.


Advanced In the Next Chapter~