Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 150



Permulaan Pertarungan


Setelah mengalahkan semua orang, Naori meminta izin kepada pak Seisen untuk segera di luluskan dari pelatihan khusus setelah menunjukan Teknik-teknik yang telah Naori pelajari di tempat ini selama dua bulan lebih ia tinggal disana, melihat Naori sudah menguasai semuanya, pak Seisen mengakui kalau Naori sudah benar-benar memenuhi syarat untuk meninggalkan pelatihan khusus.


"Ambil surat ini nak! surat ini akan membantumu memasuki Akademi dengan lebih mudah" ucap pak Seisen menyerahkan sebuah kertas yang pak Seisen ambil dari Dokter Nevario yang ada di sampingnya.


Naori mengambil kertas itu dengan tersenyum seraya berkata "Jarang sekali kau bersikap baik pak tua"


"Bocah ini!"


Pak Seisen marah, Naori yang sebenarnya menjahili pak Seisen mulai tertawa lalu berkata "Hahaha, inilah pak Seisen yang aku kenal" dengan menyeka sedikit air mata yang keluar karena tertawa.


Pak Seisen segera berbalik dan mengambil botol kecilnya lalu meneguknya beberapa tegukan, pak Seisen kembali berbalik lagi dan berkata "Pergilah dari sini bocah nakal! aku sudah kesal melihatmu membuat onar kali ini"


"Baiklah-baiklah, aku juga ingin segera pergi, tolong sampaikan salam perpisahanku pada kak Chloe ... pak Seisen" ucap Naori berbalik membelakangi pak Seisen dan Dokter Nevario untuk bergegas pergi ke kamar dimana Naori meletakkam baju-bajunya saat ia pertama kali pindah ke tempat pelatihan khusus.


"Hahh ..." Naori menghela nafasnya di kamar yang sempit dan pengap itu seraya berkata "Sebenarnya untuk apa aku membawa baju sebanyak ini? lagipula aku juga tidak pernah mandi dan ganti baju sejak berlatih di dalam air bersama kak Chloe" ucap Naori bertanya-tanya dengan pikirannya yang heran.


Naori pun segera membereskan barang-barangnya lalu meletakkannya di Inventory system, Naori segera keluar dari kamar dan bergegas ke gerbang, disana Naori pergi dan mulai terbang setelah berkata "Twillight Wings"


Di atas awan dengan kabut awan yang begitu tebal, Naori terbang menuju ke Distrik 17 tempat ia tinggal, Naori terbang dengan cepat mengepakkan kedua pasang sayapnya yang berwarna sebelah kuning dan sebelah hijau.


Setelah sekian lama terbang, Naori akhirnya sampai di pinggiran kota Distrik 17, karena ingin memasuki kota, Naori mendarat lalu memutuskan untu berlari melewati atap-atap gedung dengan berlari menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Naori membuka pintu rumahnya sembari berkata "Kaori~ kakak pulang"


"Suara ini Naori ya?"


"Mmm~ Bibi Cyren?" ucap Naori sedikit terkejut mendengar suara Cyren agak serak dengan nada yang tidak nyaman.


Naori pun melepas sepatunya dan berjalan ke ruang tamu, disana Naori melihat perban yang terpasang dengan rapi di leher Cyren yang sedang duduk di sofa, Naori terkejut langsung berkata "Bibi!? Apa yang terjadi?"


"Tidak apa-apa, bibi hanya sedikit terluka saat melawan Bahemoth" ucap Cyren menjawab pertanyaan Naori.


"Syukurlah~" ucap Naori bernafas lega.


Ngomong-ngomong, kau tadi mencari adikmu kan? Tanya Cyren.


"Mmm~" Naori mengangguk, "dimana Kaori bi?" tanya Naori melihat ke sekitar ruangan rumah.


Sebenarnya Segawa mengajak adikmu untuk tinggal di asrama akademi, meskipun biayanya mahal, setidaknya mereka tidak harus pulang jauh-jauh ke rumah setelah selesai sekolah" ucap Cyren memberitahu dengan nada suaranya yang serak.


"Benar juga, aku agak merasa aneh, Kaori kan sudah SMA kelas satu, dia harusnya masuk ke Akademi beberapa bulan yang lalu, tapi kenapa satu bulan lalu Kaori masih di rumah?" ucap Naori berpikir karena merasa sedikit bingung.


....


"Bibi, kapan Kaori pindah ke asrama?"


"Sekitar tiga minggu yang lalu" jawab Cyren.


"Begitu ya, sepertinya aku juga harus segera masuk ke Akademi" gumam Naori.


"Masuk Akademi? apa kau sudah menyelesaikan Latihan yang Pemerintah sediakan untukmu nak?" tanya Cyren setelah mendengar Naori bergumam barusan.


"Sudah bi, aku sudah lulus tadi pagi" jawab Naori.


"Kalau begitu bibi akan segera mengurus kepindahanmu ke Akademi" ucap Cyren segera berdiri dari sofa.


"Tidak perlu bi, aku akan mengurusnya sendiri, lagipula aku harus segera pergi" ucap Naori menyuruh Cyren duduk kembali dengan mendorong tubuhnya untuk duduk ke sofa lalu berbalik dan berjalan pergi seraya berkata "Aku pergi dulu bi, tolong awasi Leona dan Alya ya"


"Baiklah, jaga dirimu nak"


Di taman Naori menghampiri mesin minuman yang biasa ia kunjungi setelah berolahraga sedikit di taman, Naori membeli sebuah minuman rasa kopi lalu duduk di bangku sembari membuka minuman kalengnya dan meneguknya beberapa tegukan, tanpa mengalihkan pandangannya dan terus menghadap ke depan, Naori berkata "Apa kau sudah menunggu lama?"


"Lumayan, ... bukankah seharusnya laki-laki yang menunggu perempuan?" ucap seseorang di samping Naori yang sudah duduk dari tadi di saat Naori mulai masuk ke taman dan membeli minuman sampai Naori duduk di bangku.


"Aku tidak mau basa-basi, dimana kita akan melakukannya?"


"Battle Arena! aku sudah memesan tiket untuk satu kali pertandingan hari ini" ucap perempuan berambut perak di samping Naori sembari menunjukkan dua kertas tiket untuk bertarung di tempat yang di sebut Battle Arena.


"Jadi ... apa yang aku dapat jika menang?" tanya Naori dengan ekspresi datar tanpa melihat perempauan berambut perak itu.


"Kau bisa memiliki tubuhku, tapi jika aku menang, tubuhmu adalah milikku" ucap perempuan itu menjawab pertanyaan Naori.


"Perempuan gila!" batin Naori di dalam hatinya..


"Hahh ..." Naori menghela nafasnya lalu menoleh ke arah perempuan itu seraya berkata "jujur saja, aku tidak tertarik memiliki tubuhmu karena aku sudah punya seorang budak (Leona)" ucap Naori mencoba menyangkal pertaruhan yang baru saja di sebutkan perempuan itu.


"Oh~ tapi aku tertarik" ucap perempuan itu tersenyum licik.


"Daripada hanya mengobrol saja, lebih baik kita langsung memulainya sekarang!"


"Tidak sabaran sekali" ucap perempuan itu bersnjak berdiri dari bangku dan segera berjalan lalu mengajak Naori dengan berkata "Ikuti aku!"


Naori pun segera menghabiskan minumannya lalu membuangnya ke tempat sampah dan mengikuti perempuan berambut perak itu berjalan di belakangnya.


Mereka pun sampai di suatu tempat setelah berjalan sangat jauh hingga menghabiskan satu jam lebih, Naori yang agak kesal dengan hal itu bertanya dengan berkata "Sebenarnya kita ini mau kemana?"


....


Perempuan itu hanya diam.


"Oi!"


Perempuan itu pun berhenti lalu berbalik ke belakang untuk melihat Naori seraya berkata "kita sudah sampai"


"Huh? sudah sampai? tapi ini kan ..." ucapan Naori terputus sesaat ia melihat dua orang bertarung sengit di atas air dengan ukuran area yang begitu luas serta banyak orang yang melihat kedua orang itu bertarung dari samping kursi-kursi yang di sediakan di pinggiran danau.


"Apa-apaan!? aku kira ini tempat pemancingan ikan" batin Naori terkejut melihat tempat itu saat teringat dengan kejadian dimana dirinya heran dan mengira tempat itu sebagai tempat pemancingan di saat sedang berjalan-jalan di malam hari waktu itu. (Plot Twist di Chapter 119)


"Tampaknya mereka sudah hampir selesai" ucap perempuan berambut perak itu menunjuk kedua orang yang sedang bertarung di danau dengan ukuran cukup luas yang di gunakan sebagai tempat untuk bertarung.


"Ayo kesana untuk menyerahkan tiketnya! setelah ini adalah giliran kita" ajak perempuan itu ke tempat yang begitu mencolok di pinggir danau dengan tulisan Battle Entry.


Naori mengikuti ajak perempuan itu lalu menyerahkan tiket masuknya, perempuan itu menyerahkan tiket kepada seseorang yang mengelola tempat itu, setelah menyerahkannya, perempuan itu mengajak Naori untuk bersiap-siap di pinggir danau untuk menunggu salah satu dari dua orang yang sedang bertarung di tengah danau tumbang.


"Hey ... sebagai permulaan sebelum kita bertarung, ... siapa namamu?" tanya perempuan itu dengan ekspresi canggung.


"Naori ... Naori Asake" jawab Naori.


"Kalau kau? siapa namamu?" tanya Naori balik.


"Aine ... Aine Kryler" jawab perempuan itu memperkenalkan namanya.


"Kryler? aku seperti pernah mendengar marga itu" batin Naori di dalam hatinya.


"Sepertinya mereka sudah selesai, jadi ... kau sudah siap mati Naori?" ucap perempuan itu dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi mengerikan setelah melihat pertarungan yang ada di tengah danau sudah selesai.


"Sayang sekali, tapi aku tidak berniat untuk mati" jawab Naori membalas perempuan bernama Aine dengan membuat raut wajah menakutkan.


Advanced In the Next Chapter~