
Memasak
Blar!
Suara petir menyambar di sertai hujan yang deras membuat keadaan di Distrik itu menjadi mencekam.
Tok* Tok*
Suara ketukan pintu terdengar, lalu sebuah suara dari seseorang terdengar dari luar
"Kaori, kakak pulang"
"Eehhh itu kakak" ucap Kaori yang langsung bergegas dan berlari menuju pintu.
Klek*
Pintu itu terbuka dan terlihat sosok Naori yang badah kuyup serta membawa beberapa bungkus keripik kentang di tangannya.
"Kak!? kenapa kau hujan-hujanan? tunggu di sini sebentar! aku akan mengambil handuk" ucap Kaori yang panik dan langsung berlari mengambil handuk untuk Naori.
"Sungguh beruntung memiliki adik yang baik, kurasa aku terlalu mengkhawatirkannya" gumam Naori sambil menunggu Kaori yang sedang mengambil handuk.
Lalu Kaori berlari lagi dan mennyerahkan handuk yang dibawanya kepada Naori.
"Ini kak!" ucap Kaori menyerahkan handuknya.
"Terima kasih Kaori, tapi ... kenapa kau mengambil 2 handuk?" tanya Naori dengan heran.
"Tentu saja untuk membantu mengeringkan tubuh kakak" ucap Kaori dengan ekspresi kesal.
"Ada apa dengannya? apa aku berbuat salah?" ucap Naori di dalam hatinya saat melihat ekspresi Kaori.
"Duduk disini!" perintah Kaori.
Lalu Naori menurut dan duduk di depan Kaori.
"Buka bajumu kak!"
"Hah? apa yang ingin kau lakukan?" ucap Naori terkejut mendengar perintah dari Kaori.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, cepat buka saja bajumu kak!" Ucap Kaori yang memerintah Naori dengan wajahnya yang memerah.
"Baiklah" ucap Naori menurut.
Lalu Naori membuka bajunya dan terlihat ada banyak otot-otot yang ada pada tubuh Naori, Perut, Punggung serta tangannya semuanya di penuhi oleh urat-urat otot.
Kaori yang melihat itu langsung terkejut dan berkata "Kak, sejak kapan kau memiliki tubuh sebagus ini?"
"Hhmmm? Entahlah, kakak sendiri tidak tau sejak kapan"
"Apakah kakak benar-benar sudah bekerja selama ini? tapi kapan? aku tidak mengetahuinya sebelum kakak memeberutahuku waktu itu" ucap Kaori di dalam hatinya.
Lalu Kaori mengusap tubuh Naori yang basah dengan handuk yang ada di tangannya.
"Kak apa kau lelah?" ucap Kaori dengan nada lembut.
"Entahlah, kakak mungkin memang lelah tapi mau bagaimana lagi, kakak harus mencari Koin untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari"
"Kak ..". Kaori menggenggam handuk yang di pegangnya dengan kuat, "kalau kakak lelah aku bisa memijit kakak, jadi bilang saja ... eemmm, kalau kakak lelah" Ucap Kaori terpatah-patah.
"Benarkah? mungkin lain kali" jawab Naori.
Lalu setelah Kaori mengusap semua tubuh Naori yang basah, Naori memakai bajunya kembali.
"Kak, aku akan menyiapkan air hangat dulu, kakak tunggu saja di kamar mandi!" ucap Kaori.
"Tidak perlu Kaori, kakak akan langsung mandi ... Oh iya ngomong-ngomong di mana Segawa?"
"Kak Segawa pergi karena ada urusan mendadak hari ini, besok kak segawa akan kembali ke sini" jawab Kaori.
"Ohh begitu"
Lalu Naori masuk ke kamar mandi dan segera mandi, Kaori yang melihat itu khawatir dan berkata "Kakak sudah bekerja keras"
"Sejak ibu pergi, kakak jadi lebih sering keluar malam untuk bekerja, bahkan kakak sudah tidak pergi ke sekolah seminggu ini, dan hari ini kakak mendapat surat panggilan dari sekolahnya"
"Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk" ucap Kaori sambil memejamkan matanya dan berdoa.
Setelah beberapa saat, Naori keluar dari kamar mandi dan pergi ke kamarnya.
Lalu Naori melepas handuknya, membuka lemari di kamarnya dan berkata "Apakah ada yang mencuci baju ku? Apa itu Kaori ... aku rasa tidak mungkin, jadi itu pasti Segawa"
"Yah aku tidak akan segan untuk memakainya"
Krucuk* Krucuk*
Step* Step* Suara seseorang menuruni tangga.
"Kak, kau sudah selesai? kemarilah sebentar!" ucap Kaori melambaikan tangannya.
"Hhmmm? ada apa?" ucap Naori mendekat dan duduk di sebelah Kaori.
"Lihat ini kak!" Kaori mengeluarkan sebuah surat dan meletakkannya di meja itu.
"Surat? apa ini untukku?" tanya Naori.
"Iya kak, itu dari sekolah kakak" jawab Kaori dengan ekspresi khawatir.
Naori mengambil surat itu dan membukanya dan membacanya, seketika susana antara kakak beradik itu menjadi hening, ekspresi Naori mulai menjadi datar saat membaca surat itu.
"Surat peringatan? apa aku akan dikeluarkan?" gumam Naori.
"Apa? kakak akan dikeluarkan?" ucap Kaori yang terkejut mendengar perkataan Naori.
"Tenanglah! kakak hanya di beri surat peringatan kok" ucap Naori sambil mengelus kepala adiknya.
Lalu Naori berdiri dan mendekati meja makan, lalu ia pun membuka penutup makanan yang ada di meja dan berkata "Kaori, apa tidak ada makanan?"
Lalu Kaori menjawab dengan nada keras "Tidak ada kak, aku kan tidak bisa memasak"
"Lalu? apakah kau sudah makan?" tanya Naori.
Kaori yang duduk di sofa langsung bangun dan mendekati Naori serta menarik sedikit bajunya, "Aku belum makan" ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
"Hah ..." Naori menghela nafasnya.
"Mungkin karena inilah aku khawatir dan segera pulang" ucap Naori di dalam hatinya.
Lalu Naori memgambil sebuah panci dan mengisinya dengan sedikit air.
Ceklek* Suara kompor yang dihidupkan berbunyi.
"Kemarilah! akan kakak ajari caranya memasak" ucap Naori mengajak adiknya untuk memasak.
"Tapi kak ..." ucapan Kaori terpotong.
"Sudah jangan takut! ada kakak di sini" ucap Naori sambil menarik tangan Kaori.
Lalu Naori membuka lemari yang berisi bahan-bahan makanan mentah yang ada di atas, "Apakah hanya ini?" ucap Naori melihat-lihat dan berpikir akan membuat makanan apa.
"Kurasa sup daging dan sedikit daging panggang masih bisa" gumam Naori.
Lalu Naori mengambil seluruh bahan makanan itu dan meletakkannya di depan Kaori.
"Kupas beberapa bawang dan potong daging yang ini menjadi kecil! kakak akan menyiapkan bumbu untuk daging panggang"
"Tapi ..." Ucap Kaori yang tampaknya ragu dengan ekspresi takut.
"Pegang pisau ini!" perintah Naori.
Lalu Kaori mengambil pisau itu, Naori yang berdiri di belakang Kaori memegang tangan Kaori.
Naori mengambil 1 biji bawang yang meletakkannya di depan Kaori dan menggerakkan tangan Kaori untuk memotong bawang.
Lalu Naori mengambil 1 potong daging yang lumayan besar dan kembali menggerakkan tangan Kaori untuk memotong daging menjadi beberapa bagian.
Naori memisahkan setengah dari daging itu dan berkata "Kakak akan mengambil ini untuk di buat daging panggang"
"Potong daging itu menjadi lebih kecil! kau bisa kan?" tanya Naori.
"Aku bisa kak" jawab Kaori dengan ekspresi ceria dan yakin.
Lalu Naori menyiapkan mentega dan sebuah bumbu yang terdiri atas Garam, merica, ketumbar, bubuk cabe, kecap manis dan beberapa bahan lainnya untuk dijadikan bumbu pada daging yang akan di panggang.
Lalu Naori melapisi daging yang sudah di potong itu dengan bumbu yang sudah di raciknya.
"Kurasa sudah cukup" ucap Naori yang mengambil sedikit bumbu itu dan merasakannya.
Lalu Naori menyalakan Oven dan memasukkan daging yang sudah di bumbui itu ke dalam oven.
"Kaori apa kau sudah selesai memotong semua daginya?" tanya Naori yang berbalik dan melihat keadaan adiknya.
"Kak ..." ucap Kaori merintih kesakitan.
Naori yang melihat itu langsung berteriak "Kaori!" dan mendekatinya.
To be Contiuned*