Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 76



Odd Gate Berwarna Ungu


Naori dan Kaori tiba di kota, suasana di kota penuh dengan orang-orang yang berjalan di tengah jalan, ada yang bersama temannya, ada yang membawa barang belanjaannya, dan ada juga yang membawa pasangan mereka.


Naori memegang tangan adiknya dan menggandengnya, lalu segera berjalan di tengah kerumunan itu.


"Kak!?"


"Diamlah dan ikuti kakak!"


Ting!


[Skill Fate of Blessing aktif karena kondisi tertentu]


"... Ada apa?" Batin Naori.


[Master, segeralah pergi dari sana]


[Saya sudah memperingati Master kalau Energy Dimensional akan segera penuh]


"Lalu? Apa Questnya akan segera muncul?" ucap Naori di dalan hatinya bertanya kepada Alter.


[Saya salah, mungkin saya harus mendisiplinkan Master lebih keras]


[Sudah terlambat, Gatenya akan segera muncul Master]


"Gate!?"


Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!


Suara notifikasi System terdengar sangat keras di telinga Naori hingga membuatnya melepas tangan adiknya dan segera menutup telinganya.


"Ugh ..."


[Peringatan!]


[Kapasitas Energy Dimensional telah penuh]


[Main Quest pertama System Dimensi akan segera di mulai]


[Skill Fate of Blessing aktif karena kondisi tertentu]


Seketika setelah suara notifikasi System yang banyak, sebuah Gate aneh yang berwarna ungu terbentuk di samping Naori.


Ting!


[God of Destiny melihat anda!]


God of Destiny berkata: Selamat tinggal dan semoga saja kau selamat


Bruk!


Seorang wanita yang memakai jaket, topi, dan masker untuk menutupi wajahnya menabrak Naori dan membuatnya masuk ke dalan Gate itu, Kaori yang melihat kakaknya masuk, terkejut dan secara insting langsung bereaksi untuk mencoba meraih tangan kakaknya.


"Kak!!!"


Kaori berteriak sangat keras dan mencoba menghentikan kakanya memasuki Gate namun gagal, pintu Gate itu mengeras dan sudah tidak bisa di masuki lagi seperti di khususkan hanya untuk di masuki satu orang.


Lalu Kaori berbalik dan mencoba mencari orang yang menabrak kakaknya dan membuatnya masuk ke dalam Gate.


Terlihat wanita itu berlari menjauh dari sana, dari pundaknya Kaori melihat warna rambut perak dari orang yang menabrak kakaknya.


"Uuhh ..." Kaori menggertakkan giginya, "lihat saja nanti, aku akan menemukanmu tidak peduli apa pun yang terjadi dan membalaskan kematian kakak" ucap Kaori sembari meneteskan air matanya yang sudah tidak tertahankan melihat kakaknya masuk ke dalam Gate berbahaya sendirian.


Lalu Kaori terjatuh karena tubuhnya yang lemas, "Kakak! ..."


"Hiks Hiks" Kaori mulai menangis dengan kencang meratapi kakaknya yang masuk ke dalam Gate sendirian, sedangkan Naori sendiri adalah manusia biasa.


Namun sebenarnya di dalam Gate Naori menghabisi seluruh Bahemoth yang ada di dalam Gate dan segera duduk setelah menghabisi Bahemoth yang menyerangnya.


"Oi Alter! apa maksudnya ini?"


[Saya sudah memperingati Master, namun Master tidak mempedulikannya]


"Bagaimana caraku tau kalau Quest utamanya harus memasuki Gate! dan siapa juga yang menabrakku? ... Tidak, dia mendorongku masuk ke sini!" ucap Naori.


[Saya tidak tau Master]


... Naori menggertakkan giginya, dan memejamkan matanya, berpikir bagaimana caranya untuk segera keluar dari Gate.


"Sialan! kenapa ini terjadi? Kaori pasti mengira aku mati karena aku sudah masuk ke dalam Gate sendirian"


"Dan apa-apaan God of Destiny? dia berkata selamat tinggal seperti tau aku akan pergi ke sini"


"Aahhh Sial, kenapa kejadian ini seperti sudah di rencanakan!?" ucap Naori yang kembali bangun dan bersiap untuk menyerang Bahemoth yang mengepungnya.


Di luar Gate hari berlalu sangat cepat,' sampai sore hari Kaori masih menunggu di luar Gate dan melihat orang-orang dari Asosiasi Awakener dan Kontraktor bekerja sama dalam penyelidikan Gate itu.


Lalu tampak sosok Segawa dari arah matahari terbenam sedang berlari dan mendekati Kaori dengan cepat.


"Hah ... hah ... Apa yang terjadi Kaori!?" tanya Segawa dengan nafas yang terengah-engah karena berlari.


Wajah Kaori yang tadinya sudah mulai tenang kembali meneteskan air matanya dan mulai menangis.


"Hiks ... Ka-Kakak ... Kakak- ..." ucap Kaori tergagap-gagap.


Segawa langsung memeluk Kaori dan mencoba menenangkannya, "tidak apa-apa menangislah sekeras mungkin!"


Kaori langsung menangis dengan keras di pelukan Segawa dengan air matanya yang mengalir deras, "Hhuaaa!"


"Kakak! ..."


Segawa langsung mengelus punggung Kaori dan menenangkannya, "Aku yakin ini sangat berat, tapi aku akan selalu ada di sampingmu Kaori" ucap Segawa.


Kaori yang menangis bukannya tenang setelah mendengar perkataan Segawa malah semakin menangis lebih keras.


"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, di situasi seperti ini apa yang kau lakukan pada Kaori ... Naori!?" batin Segawa.


"Aku sudah memanggil Paman Merlin, Bibi Cyren dan Paman Galoth jadi tenanglah! aku yakin mereka akan mencari cara untuk menyelamatkan kakakmu" ujar Segawa.


"Hiks ..." Kaori yang menangis mulai sedikit lebih tenang setelah mendengar perkataan Segawa kali ini.


Krucuk* Krucuk*


Perut Kaori berbunyi dengan keras, Segawa yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya dan segera melihat wajah Kaori lalu bertanya "Apa kau sudah makan?"


"... Belum" jawab Kaori singkat sambil mengusap air matanya yang mengalir dan mengusap ingus yang keluar dari hidungnya karena terlalu lama menangis.


"Ayo makan dulu! nanti malah sakit jika tidak segera makan" ajak Segawa.


"Baik kak" ucap Kaori dengan ekspresi murung dan mulai meneteskan air matanya lagi, Segawa yang mulai gelisah berkata di dalam hatinya "Paman Galoth segeralah kemari!"


Di sebuah toko penjual makanan Yakitori ( Makanan sejenis sate dengan bahan dasar ayam panggang yang dibumbui dengan garam dan juga ditambahkan dengan saus, gula, jeruk nipis, dan kecap di atasnya ).


"Pak", Segawa mengangkat tangannya untuk memesan makanan, "Tolong dua Yakitori dengan dua mangkok nasi"


"Baiklah tunggu sebentar ya"


Beberapa saat kemudian penjual Yakitori membawakan pesanan Segawa dan menaruhnya di meja makan, "Silahkan di nikmati" ucap pelayan itu bersikap ramah kepada Segawa dan Kaori lalu segera pergi dan kembali ke dapur di toko itu.


"Ayo makan Kaori!" ajak Segawa.


Kaori mengangguk dan segera memakannya, namun raaut wajahnya tidak berubah, wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan dan keputusasaan.


Segawa kembali menatap Kaori lalu memalingkan wajahnya sambil memakan Yakitori miliknya.


"Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini? aku harap Naori masih bisa selamat" batin Segawa berharap kepada takdir.


Di luar toko Yakitori, tepatnya di depan Gate tempat Naori masuk, tiga orang mencoba menghancurkan pintu Gate dengan paksa menggunakan Magic Power.


Merlin, Cyren, dan Galoth meletakkan tangan mereka di pundak seseorang yang tidak di kenal dan menyalurkan Magic Power mereka ke orang itu.


Absorbtion


Skill yang di gunakan orang itu tidak mampu menghancurkan pintu Gate namun hanya melunakkannya sebagian.


"Sialan! ini tidak berhasil, bagaimana ini Merlin!?" tanya Galoth.


"Aku tidak tau, kita hanya bisa mencoba cara ini" ujar Merlin.


"Apa katamu!?" Galoth mencengkram kerah Merlin dan mengangkatnya ke atas.


"Anak itu di dalam sana Merlin! anaknya Liori! apa kau tidak memikirkannya!?" Teriak Galoth.


"Jangan bercanda! apa kau pikir aku bisa menghancurkan pintu Gate hanya dengan pemikiranku!?" teriak Marlin membalas perkataan Galoth.


"Sudah cukup kalian berdua" ucap Cyren memisah pertengkaran keduanya.


"Maaf ini salahku, aku tidak bisa menghancurkan pintu ini karena keterampilanku yang rendah" ucap orang yang menggunakan Skill Absorbtion.


"Tidak apa-apa Koriko, kau sudah berusaha sekuat tenaga, hanya saja pintu Gate ini yang terlalu kuat" ucap Merlin sembari menatap tajam pintu Gate berwarna ungu yang di masuki okeh Naori.


"Lagipula Gate ini masuk ke dalam kategori Odd Gate ( Gate Aneh )".


To be Contiuned*