Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 110



Tunduknya Leona


Di rumah kecil di puncak bukit yang tak jauh dari kota, seorang wanita tua sedang melihat air di dalam sebuah wadah yang bergerak dengan begitu cepat.


Pyar!


Seketika air yang di lihat wanita tua itu bergerak ke atas menyerang wanita tua itu hingga terpental, "Bagaimana bisa? hanya aku tinggal sebentar saja anak itu sudah memiliki seorang pasangan!?" ucap wanita tua itu terkejut


"Bagaimana ini? rencanaku menjodohkannya dengan cucuku hancur begitu saja"


...


Nenek itu terdiam dengan raut wajah putus asa, entah apa yang ia lihat di dalam air di dalam wadah hingga membuatnya terlihat putus asa.


Sedangkan di dalam Distorsi ruang Naori, Leona memeluk Naori dan tidak mau melepaskannya dengan air matanya yang terus mengalir, Naori yang memeluk Leona malah merasa iba, Perasaannya tergerak karena Leona, bahkan jika ia membencinya sekalipun, siapa yang akan menolak pelukan dari gadis yang cantik saat itu datang begitu tiba-tiba.


Ting!


Notifikasi System berbunyi, namun Naori mengabaikannya, ia lebih memilih memikirkan Leona yang saat ini berada di dalam pelukannya daripada melihat sesuatu di panel Systemnya.


"Apa aku terlalu kejam? ... Tidak, ini adalah hal yang biasa di dunia ini, jika aku tidak kejam, maka tidak akan ada tempat bagiku di dunia ini" batin Naori.


Leona mencengkram baju Naori lebih erat, Naori mulai mengigit bibirnya, ia merasa tidak enak, tubuh Leona begitu dekat dan menempel padanya, bahkan ia bisa merasakannya dengan jelas, bukan hanya itu saja, tubuhnya yang langsing membuat rangsangan yang mendalam kepada Naori sehingga ia pun memutuskan untuk melepas pelukan Leona dengan berkata "Kau mau minum?"


Leona langsung melepas cengkraman baju Naori lalu mendongak untuk melihat wajah Naori, Leona terdiam, ia berpikir apa lagi yang akan di lakukan Naori padanya, karena itulah ia berlutut dan berkata "tolong beri aku minuman"


"Kau lupa? panggil aku Master! Dan bicara dengan sopan! ucap Naori.


"B-Ba-Baik Master"


Naori berdiri, ia membersihkan kotoran di bajunya bekas cengkraman tangan Leona yang kotor seraya berkata kurasa "aku harus mandi" ucapnya dengan ekspresi santai.


"Alter, berikan satu gelas air! aku ingin keluar sebentar" ucap Naori berjalan dan mendekati dinding hitam yang menyelimuti tempat itu, Leona hanya duduk dan diam melihat Naori berjalan karena termenung mendengar perkataan Naori.


Naori keluar dengan mudahnya, dinding hitam yang selamaa ini menjebak merega ternyata mampu di lewati Naori dengan mudahnya, Leona pun bangun, ia berlari dan bergegas menyusul Naori mendekat ke arah di mana dinding hitam yang Naori lewati.


Buk!


Leona terbentur dengan sangat keras hingga terjatuh ke tanah karena tidak mampu melewati dinding hitam itu, Leona bangun kembali, ia memukul-mukul tembok itu seraya berkata "Keluarkan aku ... kumohon"


Leona meneteskan air matanya kembali, "Aku mohon ... Master" ucap Leona dengan nada yang tersedu-sedu karena menangis, Leona akhirnya dapat berpikir kembali, ia berpikir bagaimana caranya Naori mampu keluar dengan mudahnya, sedangkan ia bahkan tidak bisa keluar dengan tembok hitam itu yang menjadi sangat keras sesaat setelah ia memukulnya.


Leona diam sejenak, namun air matanya masih mengalir melihat Naori meninggalkannya sendirian di tempat itu, rasa kesendirian mulai di rasakan Leona, ia takut Naori tidak kembali lagi, perasaan kesepian juga di rasakan olehnya, hingga akhirnya ingatan Leona terlintas di pikirannya karena berbagai macam perasaan yang ia alami saat ini.


Krak! Suara retak terngiang-ngiang di dalam pikiran Leona, cahaya putih mulai menyilaukan, ia melihat ingatan masa kecilnya yang bahkan ia sendiri tidak ingat kapan ia pernah mengalami hal itu.


Ayah pergi dulu ya nak ucap seorang pria berpamitan dengan Leona yang masih kecil dengan memeluk boneka beruang menggunakan kedua tangannya, Leona pun berkata "Kapan paman akan kembali pulang?"


Krak! suara retakan itu semakin terdengar lebih keras di pikiran Leona.


"Ya~ akan aku pastikan Rune yang aku pasang tidak akan pernah lepas" ucap pria di belakang Leona kemudian mendekapnya dan membuat Leona pingsan, ingatan itu semakin kabur, soalnya mata Leona menutup secara perlahan.


Krak! suara itu kembali tedengar, Leona yang sadar melihat ingatan itu meneteskan lebih banyak air mata seraya berkata "Tidak!"


Krak! ...


Suara itu terdengar sangat keras di pikiran Leona untuk terakhir kalinya, ia pun menggingatnya, ingatan masa kecilnya yang begitu kelam di segel di otak bagian dalamnya oleh orang bernama Akron atas permintaan Ayahnya, lebih tepatnya pamannya yaitu Trista Arnolt.


"Apa!? ... jadi dia bukan ayah kandungku?" ucap Leona meneteskan lebih banyak air mata, ia terjatuh karena kakinya lemas mengingat ingatan yang begitu tersembunyi dari dalam otaknya, kemudian sebuah tulisan Rune yang membentuk lingkaran muncul di belakang Leona dan berputar sebentar lalu hancur.


Beberapa saat setelahnya Naori kembali, ia melihat Leona duduk lemas di tanah dengan menundukkan kepalanya, di bawahnya tanah begitu basah karena air matanya, Naori menghela nafasnya dan mendekati Leona dengan berkata "Kau baik-baik saja?"


Ting!


[Skill Fate of Blessing telah aktif karena kondisi tertentu]


Leona berdiri, ia merentangkan tangannya seraya berkata "Apa kau akan menjagaku jika aku selalu menurut?" tanya Leona tiba-tiba.


Naori terdiam, ia terkejut dengan apa yang di ucapkan Leona, "Apa yang dia bicarakan?" batin Naori.


Leona berjalan mendekat dan kembali memeluk Naori dengan erat seraya berkata "Aku akan menurut padamu, bahkan jika aku harus menyerahkan tubuhku"


"Tu-Tunggu! apa yang kau katakan?"


"Aku hanya meminta dua syarat, tolong jaga aku mulai sekarang dan aku tidak ingin memanggilmu master ... aku ingin memanggilmu dengan nama depanmu, Naori" ucap Leona menerobos percakapan dan membuat Naori tidak mampu menyela perkataannya.


"Ada apa ini? kenapa tiba-tiba?"


"Kau ingin balas dendam kan? aku akan membantumu ... dengan senang hati aku akan membantu jika targetmu adalah Theodore" ucap Leona dengan cepat.


Naori tidak mampu berkata-kata, Leona yang tadinya tidak berdaya sekarang mampu membuat dirinya terdiam, Naori berpikir sejenak dengan perubahan yang terjadi dengan Leona, di sisi Alter, melihat Naori yang kebingungan ia pun mulai berbicara.


[Master, setujui saja permintaannya]


Naori mendengarkan Alter namun tidak merespon, ia masih teringat dengan notifikasi system yang ia terima, sejak beberapa bulan yang lalu saat Naori mendapat Skill Fate of Blessing ia selalu beruntung, entah apa yang di lakukannya saat dalam keadaan tertentu rencana Naori selalu berjalan dengan lancar sesaat setelah notifikasi Skill Fate of Blessing muncul.


Ia terus berpikir hingga akhirnya menemukan suatu jawaban dengan berkata di dalam hatinya "Inikah kekuatan Statistik Luck ( Keberuntungan ) Unlimited di dunia ini?"


Leona melihat Naori yang melamun dengan berkata "Jadi, apa jawabanmu?"


Naori melihat ke bawah untuk menatap mata Leona, ia tersadar kembali dari pemikirannya karena harus menjawab permintaan Leona, mulut Naori terbuka secara perlahan saat ia akan berbicara.


"Terserah kau saja" jawab Naori sembari memalingkan wajahnya karena menerima rangsangan dari Leona yang sedang memeluknya dengan begitu erat, lalu ia pun melirik sedikit ke arah Leona yang kembali menempelkan wajahnya pada leher Naori karena pelukannya seraya berkata di dalam hatinya "Apa memang begini yang aku inginkan?"


To be Contiuned*