
Soul Body
"Apa kau tau sesuatu soal Soul Power?"
Sesaat setelah Naori menanyakan pertanyaan itu Hamka terdiam, suasana di situ mulai menjadi dingin karena Hamka belum menjawab pertanyaan Naori.
Naori yang tidak ingin menunggu langsung mengambil sebuah garpu dan pisau lalu memakan Steak daging yang ada di depannya.
Hap*
Naori melahap potongan daging besar itu dalam sekali makan dengan ekspresi puasnya yang tidak bisa di sembunyikan.
Lalu Pelayan yang ada di belakang Naori maju dan menawarkan pelayanan kepada Naori, "tuan biarkan saya menyuapi anda" ucap pelayan itu menunduk kepada Naori.
"Tidak perlu, aku ingin makan sendiri" jawab Naori yang mencoba untuk memotong potongan daging steak itu lagi dan segera memakannya.
Hap*
Naori memakan daging itu lagi dan menatap Hamka yang masih berpikir dengan raut wajah serius, lalu setelah selesai mengunyah makanan dan menelannya Naori berkata kepada Hamka "Jangan di pikirkan jika kau tidak tau"
"Lagipula aku ke sini hanya untuk menanyakan itu dan segera pergi dari sini" ujar Naori.
"Tidak tuan, saya mengetahui soal Soul Power ... hanya saja saya tidak begitu tau soal fungsinya"
"Apa!? jadi kau tahu? cepat jelaskan padaku secara detail!" ucap Naori dengan raut wajah semangat dan menatap Hamka dengan wajah serius.
"Sebelum itu ... bolehkan saya mengatakan sesuatu tuan?"
"Boleh, katakan saja!"
"Kenapa anda menolak pelayan itu? apakah anda kurang puas dengan penampilannya?" tanya Hamka.
"Kenapa kau membahas soal dia?" ucap Naori yang bertanya balik kepada Hamka.
"Soalnya jika para pelayan di tolak maka itu artinya anda kurang puas dengan pelayanannya" ujar Hamka.
"Lalu ...?"
"Pelayan itu akan di usir dari sini" ujar Hamka.
Naori menelan ludah dan segera berbalik menatap pelayan yang ada di belakangnya, Naori terkejut melihat pelayan itu menangis diam-diam di belakangnya karena sudah di tolak oleh Naori.
"Apa-apaan kejadian ini? itu seperti dia menyatakan cintanya padaku dan aku tolak tanpa basa-basi" batin Naori.
"Hah ..." Naori berbalik lagi dan menghela nafasnya, "tolong berhentilah menangis! aku menolakmu bukan karena tidak puas ... aku hanya ingin makan daging lezat ini menggunakan tanganku sendiri" ujar Naori berkata kepada pelayan yang ada di belakangnya.
"Baik" jawab pelayan itu singkat sembari menahan tangisannya yang tersedu-sedu dan mengusap air matanya.
"Jangan mengusirnya Hamka!" ucap Naori memperingati Hamka.
"Baik tuan" jawabnya.
"Jadi ... jelaskan secara detail" ucap Naori menggunakan tangan kiri untuk menopang pipinya dan memasang wajah serius.
"Baik tuan, beberapa tahun yang lalu saya memiliki seorang teman, dia bercerita panjang lebar padaku tentang kekuatannya soal memanipulasi jiwa karena kami memiliki kekuatan yang hampir sama" ujar Hamka menjelaskan.
"Soul Power, kalau tidak salah ingat itu adalah sebuah kekuatan untuk menyimpan jiwa seseorang dan menggunakannya secara bebas"
Lalu Hamka kembali berpikir dan mengingat kejadian yang ingin dia ceritakan kepada Naori soal temannya, "Soul Power ... semakin banyak kapasitasnya semakin banyak pula jiwa yang bisa di kendalikan" ujar Hamka menjelaskan.
Naori yang mendengar penjelasan Hamka sembari memakan daging steak miliknya berpikir dan mendapat sebuah pertanyaan
"Itu artinya Soul Power adalah Statistik untuk menyimpan Jiwa?" tanya Naori dengan ekspresi santai.
"Lalu untuk apa jiwa itu di simpan? mereka hanya jiwa ... mahkluk yang sudah mati, apakah mereka begitu kuat untuk menyerang seorang manusia biasa yang masih hidup" gumam Naori berpikir tentang bagaimana cara menggunakan Statistik Soul Power miliknya.
"Anda terlalu meremehkan jiwa tuan, jika saja ada satu Soul Body dengan jiwa tingkat tinggi di dalamnya, jiwa itu bahkan bisa menghancurkan seluruh kota hanya dalam semalam" ujar Hamka menjelaskan.
"Soul Body itu adalah sebuah jiwa yang memiliki sebuah tubuh, bisa di bilang jiwa itu bisa menyentuh sesuatu namun tidak bisa di sentuh" ujar Hamka
"Selama jiwa itu masih memiliki Magic Power, jiwa itu tidak bisa di bunuh ataupun di hancurkan karena tubuhnya hanyalah sebuah jiwa"
"Itu artinya ..." Naori mendobrak meja dan langsung berdiri karena bersemangat setelah mendengar penjelasan Hamka lalu segera membuka panel System.
Panel System terbuka, Naori menekan tombol Shop lalu menekan tulisan Skill dan menggeser layar Sysyem ke bawah untuk mencari sebuah skill.
[Apa yang anda cari Master?]
Naori mengabaikan Alter karena terlalu bersemangat untuk mencari sebuah Skill, Hamka yang melihat Naori menggerakkan jarinya dengan aneh mulai memiringkan kepalanya dengan ekspresi heran.
Bukan hanya Hamka, para pelayan yang ada di tempat itu juga heran dengan tangan Naori yang bergerak dengan aneh seperti menyentuh sesuatu.
"Hey Alter, aku memikirkan sesuatu yang sangat hebat setelah mendengar penjelasan Hamka soal Soul Power' batin Naori.
[ Apa itu Master?]
"Satu Soul Body mampu menghancurkan satu kota!? kalau begitu aku yang memiliki statistik Soul Power 10 bisa memiliki sepuluh prajurit Soul Body yang mampu menghancurkan sepuluh kota" batin Naori menjelaskan tentang apa yang ada di pikirannya sekarang.
"Ketemu!"
Naori berteriak dan membuat Hamka beserta para pelayan terkejut, Lalu Naori meminum air berwarna merah yang ada di gelas tanpa sadar.
"Tunggu tuan!" ucap Hamka seperti ingin menghentikan Naori meminum air yang ada di gelas itu.
Glek* Glek*
Naori menghabiskan minuman itu hanya dakam beberapa tegukan, Lalu Naori meletakkan gelas itu di meja dan berpamitan dengan Hamka lalu pergi dengan cepat.
"Aku pergi dulu Hamka! aku punya sebuah urusan mendadak" ucap Naori yang melambaikan tangannya dan pergi.
"Apa tuan akan baik-baik saja" ucap Hamka sambil memandangi gelas yang baru saja di gunakan Naori untuk minum.
Naori berlari dan pergi dari pasar gelap, dengan perasaan bersemangat dengan dirinya yang akan mendapatkan sebuah kekuatan baru yang hebat Naori tidak sabar untuk segera mencoba Soul Power miliknya.
Kemudian Naori mencari sebuah tempat yang sepi dan membuka Incentorynya, Naori mengekuarkan dua mayat Bahemoth yang selama ini dia simpan.
"Ini Bahemoth pertama yang aku dapat dari Gate G Rank dan ini Bahemoth dengan mahkota yang aku simpan beberapa hari lalu" Gumam Naori sambil menyentuh ke dua kepala Bahemoth itu.
Soul Control: Soul Extract
Naori mengambil jiwa dari ke duanya dan sebuah bola bercahaya keluar dari tubuh ke dua Bahemoth itu.
Sembari mengambil ke dua bola itu, Naori mencoba untuk menaruh jiwa itu ke statistik Soul Power miliknya namun tidak berhasil.
Beberapa menit telah berlalu, Naori yang masih bingung masih mencoba untuk meningkatkan Statistik Soul Power miliknya yang masih 0/10 di panel System.
"Sialan! cepat simpan ke dua jiwa ini ke Statistik Soul Power milikku!" Teriak Naori yang kesal karena tidak bisa menyimpan jiwa itu ke dalam Soul Power miliknya.
[Sebuah Jiwa telah terdeteksi]
[Apakah anda ingin menyimpannya?]
"Oi Alter! ..." Naori menggenggam tangannya dengan perasaan marah.
[Itu bukan aku Master!]
[System Pasif (System Dimensi) yang berbicara]
"Jangan Bercanda!"
Advanced in The Next Chapter~