
Soal yang mudah!
Suasana di antara Naori dan Kiyoshi mulai menjadi canggung, karena ke duanya bukanlah seorang teman, susah bagi salah satu dari mereka untuk mencairkan suasana.
"Sudahlah Aku ingin ke kelas" ucap Naori pergi meninggalkan Kiyoshi.
"Lagipula siapa yang ingin tau kalau kau ingin ke kelas?" gumam Kiyoshi.
Naori yang mendengarnya hanya bisa berpura-pura untuk tidak mendengar.
Naori menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya, "lihat saja nanti!" ucap Naori dengan perasaaan kesal.
"Aku benar-benar ingin melihat wajahnya yang putus asa" ucap Naori yang tersenyum jahat.
Ding Dong~
Suara bel masuk berbunyi, seluruh siswa langsung memasuki kelas, Suasana di sekolahan mulai menjadi sepi karena jam pelajaran sudah di mulai.
Di tengah-tengah pelajaran, karena guru yang mengajar kelas 2-1 menyuruh Naori untuk menyelesaikan soal matematika yang baru ia tulis.
"Naori! maju dan kerjakan soal ini! aku takut karena kau sudah tidak berangkat satu minggu, kau ketinggalan materi" ucap Guru itu menunjuk Naori untuk segera ke depan.
"Guru ini ... tidak, seingatku dia bukan guru yang ramah, apa dia sengaja melakukan ini untuk mempermalukanku?" batin Naori.
"Baik bu" ucap Naori membalas perkataan gurunya dan segera berdiri dari kursinya lalu maju ke depan.
Suara Spidol berbunyi, Naori yang mengerjakan soal matematika yang sulit itu menulis dengan sangat cepat sehingga membuat seluruh kelas terkejut.
"Sudah selesai" ucap Naori yang berbalik dan melihat seluruh ekspresi orang-orang di kelas.
"Bagaimana bisa?"
"Asal anda tau bu guru, saat di rumah aku juga belajar" ucap Naori berjalan dan kembali ke tempat duduknya.
[Bagaimana anda bisa mengerjakannya Master?]
[Seingat saya, anda bahkan tidak pernah belajar]
"Itu mudah, tingkat kesulitan materi di sini lebih mudah daripada di bumi, lagipula di sini tidak begitu mengandalkan materi karena mereka lebih memilih mengembangkan Magic Power" ucap Naori di dalam hatinya membalas pertanyaan Alter.
"Itu membuat tingkat pemikiran mereka lebih rendah" ucap Naori memandang ke luar jendela seraya menikmati angin yang menerpanya.
Terlihat guru yang menyuruh Naori mengerjakan soal mulai menelpon seseorang dan melihat banyak murid mulai memandangi Naori, Naori yang menyadari itu hanya menutup matanya dan mulai berpura-pura.
"Sialan! memangnya aku salah apa sampai kalian menatapku begitu" batinnya.
Lalu suara pintu terbuka, orang-orang di kelas langsung melihat ke arah pintu, sosok kepala sekolah muncul dengan nafas yang terengah-engah dan mulai mendekati ibu guru yang mengajar di kelas 2-1.
"Bu guru, ada apa? bagaimana bisa soal sulit itu di pecahkan?" ucap kepala sekolah yang bingung dan segera bertanya untuk memastikan.
"Lihatlah jawaban di papan tulis itu pak!" ujar guru itu menyuruh pak kepala sekolah segera melihat jawaban di papan tulis dan memastikan.
"Luar biasa, jadi begitu ... siapa yang mengerjakannya!" teriak pak kepala sekolah.
"Itu murid bernama Naori yang membolos beberapa hari yang lalu pak" ucap guru itu menunjuk Naori dengan muka penasaran.
"Ada apa ini? kenapa pak kepala sekolah sampai ke sini? dan kenapa pula aku di di tunjuk seperti di salahkan?" batin Naori yang panik karena mengira dirinya di salahkan karena sudah bolos sekolah selama seminggu.
Pak kepala sekolah langsung berjalan dan mendekati Naori dan langsung menepuk pundaknya, "Hebat, bagaimana caramu menyelesaikan soal itu?"
"Eehhh? Sa-saya minta maaf pak, saya akan selalu berangkat sekolah, jadi kumohon jangan keluarkan saya" ucap Naori yang langsung herdiri dan menunduk kepada pak kepala sekolah.
Naori tersenyum dan mulai mendongakkan kepalanya untuk menatap Pak kepala sekolah yang sedang berdiri di depannya.
"I- itu ..." Kaki Naori mulai gemetaran, "Pak wakil kepala sekolah mengancamku ... jika aku bolos sekali saja, beasiswaku akan di tarik dan akan segera di keluarkan" ucap Naori dengan ekspresi seperti akan menangis.
"Apa!? Beraninya dia!"
Lalu Pak kepala sekolah berkata kepada Naori, "duduklah! tenanglah dan katakan semuanya! bapak akan mendukungmu" ucapnya menenangkan Naori.
"Karena ibu saya sudah pergi jadi saya menjadi tulang punggung keluarga, jika saya tidak bekerja saya bisa makan dari mana pak? Karena itu saya bolos sekolah dan pergi bekerja, namun pak wakil kepala sekolah tidak mau mengerti dan malah mengancam saya" ucap Naori menjelaskan.
[Master, apa yang sedang anda lakukan? akting anda buruk sekali]
"Diamlah! aku tidak butuh pemikiran orang lain selain pak kepala sekolah yang sedang tergila-gila dengan jawaban yang aku kerjakan"
"Jadi begitu ... , aku mengerti nak" ucap Pak kepala sekolah yang mulai menoleh kepada ibu guru dan berkata "Bu guru, aku izin untuk meminjam muridmu sebentar"
"Baik pak"
...
Naori yang melihat itu hanya diam dan memasang ekspresi datar, "Aku paham ... soal yang kerjakan tadi ternyata adalah soal sulit yang belum di pecahkan di Treasure, karena tidak begitu mendengarkan aku bingung di awal" batin Naori.
[Benarkah Master? kalau begitu pengetahuan anda begitu luas?]
"Tidak Alter, itu adalah materi kelas 3 SMP yang ada di bumi" ucap Naori di dalam hatinya membalas perkataan Alter
"Ilmu pengetahuan disini tidak begitu maju, karena itulah soal mudah itu di anggap sulit" batin Naori sekali lagi sambil memandangi soal yang dia kerjakan tadi.
"Ayo nak! aku ingin membicarakan sesuatu denganmu" ucap pak kepala sekolah yang mengajak Naori untuk keluar.
"Intuisiku mengatakan kalau ini adalah momen di mana aku bisa menyingkirkan pak wakil kepala sekolah dari sini" batin Naori yang berdiri dan berjalan ke arah depan.
"Saya pergi dulu bu" ucap Naori menatap tajam gurunya.
"Pergilah!" jawab gurunya dengan ekspresi takut yang terlihat di wajahnya.
Naori langaung pergi dan berjalan keluar mengikuti pak kepala sekolah yang mengajaknya, Lalu Guru itu menepuk tangannya dan berkata "Pelajaran akan di lanjutkan" ucapnya menyadarkan beberapa muridnya yang masih bengong melihat Naori.
"Apa anak ini adalah jenius? aku menyesal karena sudah memprovokasinya untuk mengerjakan soal ini" ucap guru itu di dalam hatinya dengan ekspresi gelisah.
Di sisi lain, Naori yang mengikuti pak kepala sekolah ke ruangannya mulai duduk di sofa yang sangat empuk.
"Huff ..." Naori membuang nafas panjang.
"Apa kau kelelahan?" ucap pak kepala sekolah yang tiba-tiba bertanya sambil menyeduh teh di sebuah gelas berwarna putih.
"Itu melelahkan pak" jawab Naori.
"Itu wajar, lagipula kau berhasil memecahkan soal sesulit itu sendirian" ujar pak kepala sekolah yang lalu menyuguhkan gelas berisi teh yang baru saja ia buat.
"Minum ini dan beristirahatlah di sini! jika pikiranmu sudah kembali segar ceritakan padaku semuanya tentang wakil kepala sekolah dan ..." ucapan pak kepala sekolah terpotong dan segera memalingkan wajahnya.
"Apakah bapak ingin aku ajari caranya menyelesaikan soal itu?" tebak Naori.
"Iya" ucap pak kepala sekolah yang kemudian menatap Naori dengan ekspresi serius.
"Eehhh? aku seperti menerima murid saja" batin Naori dengan perasaan tidak enak.
To be Contiuned*