Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 63



Pekerjaan sebagai Informan


Keesokan harinya, Naori berangkat lebih awal dengan berjalan kaki dan meninggalkan adiknya.


"Kakak berangkat duluan ya" ucap Naori yang membuka pintu dan segera keluar dari rumah.


"Hati-hati di jalan kak" jawab Kaori yang melihat kakaknya pergi dan mulai menunjukkan eksresi tidak semangat.


"Ada apa?" tanya Segawa saat melihat raut wajah Kaori.


... Kaori tidak menjawab.


"Sudah-sudah, kakakmu mungkin memliki sebuah urusan pribadi" ucap Segawa mencoba membuat Kaori ceria kembali.


"Apa kakak di incar orang jahat?" ucap Naori dengan ekspresi cemas.


"Apa!?" Segawa terkejut, ia pun langsung terpikirkan dengan luka lebam dan luka gores yang ada di tubuh Naori, "itu seperti bukan luka perkelahian biasa" batin Segawa.


"Jangan berpikiran seperti itu dong Kaori~, Kakakmu mungkin bekerja di pagi hari sebelum ke sekolahnya" ucap Segawa menjawab Kaori untuk menenangkannya dari memikirkan hal yang buruk.


"Tapi ... luka yang kakak dapat beberapa hari lalu"


"Kaori juga memikirkan hal itu! sepertinya Naori terlibat sebuah masalah yang cukup serius" batin Segawa.


Lalu Segawa mengelus kepala Kaori seperti yang selalu di lakukan Naori seraya berkata "Tenanglah! kakakmu masih memiliki Kertas Skill yang di berikan bibi Cyren kan? setidaknya dia bisa aman dengan itu"


"Kamu benar kak, aku yang terlalu khawatir pada kak Naori belakangan ini" ucap Kaori yang mulai tersenyum.


"Baguslah, cepat mandi dan bantu kakak menyiapkan sarapan!" ucap Segawa menyuruh Kaori segera mandi.


"Baik kak" ucap Kaori singkat.


Lalu sesaat setelah Kaori memasuki kamar mandi, Segawa bergumam "Naori, apa yang akan kau lakukan?" ucap Segawa mengingat pembicaraan antara dirinya dengan Naori beberapa saat yang lalu.


<--Waktu sebelum Naori berangkat-->


"Kau sudah bangun?" ucap Naori yang sudah bersiap untuk berangkat sekolah dan memakan sebuah cup mie instan di meja makan.


"Iya" ucap Segawa terkejut melihat Naori, "Apa kau akan segera berangkat? ini baru jam setengah enam loh" ucap Segawa sekali lagi.


Slurp~


Naori memakan mie instan yang di buat dengan lahap, "Itu tidak penting, bukankah seharusnya kau menjelaskan padaku tentang pekerjaan yang kau bicarakan tadi malam?" ucap Naori sambil menatap Segawa.


"Aku lupa tadi malam karena kau pulang sangat larut, jadi aku tidur duluan" ucap Segawa yang mulai duduk di depan Naori.


Slurp~ "... Itu sudah biasa" ucap Naori dengan muka datar.


"Baiklah, akan aku jelaskan ... Pertama, semua informasi yang kau berikan akan di terima meskipun itu adalah informasi tidak berguna"


"Kedua, kau akan memakai jam tangan ini saat bekerja sebagai tanda kalau kau adalah orang organisasi"


"Dan yang terakhir, jika kau berhianat pada organisasi maka ..." ucapan Segawa terpotong.


"Apa? kau tidak bilang aku akan di bunuh kan?" tebak Naori.


"Iya, namun bukan hanya itu, seluruh keluargamu juga akan di bunuh" ujar Segawa menakuti Naori.


"Tenang saja! aku memiliki Loyalitas yang tinggi ( kesetiaan dan kepatuhan seseorang apakah itu terhadap organisasi atau pimpinannya )"


"Baiklah, aku percaya" ucap Segawa memalingkan matanya ke kiri, "Kalau kau ingin memberikan sebuah informasi, kau bisa pergi ke toko takoyaki kecil di pinggir jalan yang ada di jalan 35" ucap Segawa sekali lagi memberikan Naori sebuah informasi.


"Aku mengerti" ucap Naori yang berdiri dan segera berjalan mendekat ke tempat sampah dan membuang wadah yang baru saja ia gunakan untuk memakan mie instan.


Tok* Tok* Tok*


Suara Naori mengetuk pintu, "Kaori~ cepat bangun! kakak akan segera berangkat sekolah" teriak Naori membangunkan adiknya yang masih tidur.


...


"Apa anak ini tidak dengar? ..." Naori mulai mengetuk pintunya kembali namun Kaori tidak merespon.


"Kalau begitu kakak berangkat ya" jawab Naori yang menyerah membangunkan adiknya dan mulai menuruni tangga untuk keluar rumah.


"Tunggu kak!" suara Kaori menjawab pun terdengar, lalu pintu kamarnya terbuka dengan Kaori yang rambutnya acak-acakan karena baru bangun tidur.


Kaori langsung menuruni tangga dan mengejar kakaknya yang akan segera berangkat ke sekolahnya.


Kembali ke Naori yang sedang berangkat, bukannya langsung ke sekolahnya, Naori malah berada di atas gedung yang tinggi.


"Sudah lama aku tidak memegang ponsel, ... untung saja aku memungut ponsel Ojima sebelum Arisu dan Kiyoko sadar" ucap Naori sambil memainkan ponselnya.


"Tapi ... Ojima benar-benar ceroboh ya, dia tidak memasang kunci pada ponselnya, aku beruntung dan mungkin saja itu efek dari Stat Luck unlimited" gumam Naori.


Wush!


Angin pagi menerpa Naori bersamaan dengan cahaya matahari yang mulai terbit, pemandangan Sunrise ( Matahari Terbit ) terlihat sangat indah dari atas gedung itu.


Naori yang melihatnya hanya tersenyum dan berkata "Cantik, kurasa aku ingin ke sini setiap pagi" gumamnya saat melihat indahnya cahaya matahati terbit.


Di belakang sekolah SMA 17 Easteria, Kiyoshi yang berangkat lebih awal bertingkah seperti orang aneh yang mengais-ngais ( menggagaruk-garuk ) tanah.


"Ayolah! kalian semua harus mati!" gumamnya sambil membunuh banyak semut di sebidang tanah yang di tanami banyak pohon bunga mawar.


Plak! Plak!


Kiyoshi membunuh semut-semut itu dengan wajah datar tanpa merasa bersalah sekalipun, lalu Kiyoshi mulai mengais-ngais tanah lagi dan mencoba untuk membongkar sarang semut yang ada di bawah tanah.


Secara kebetulan, Naori yang berpindah tempat menggunakan Teleportasi, melompat pagar untuk memasuki sekolahan, "Huff~ untung aku ingat kalau hari ini ada pemeriksaan kartu pelajar, aku lupa membawanya" ucap Naori yang merasa lega.


Lalu saat Naori mulai berjalan, dirinya tersadar dengan keberadaan Kiyoshi dan mulai memperhatikannya, "Apa yang dia lakukan? ..." , Naori memperhatikan dari jauh, namun dirinya tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan.


Sharp Eye


Naori mempertajam penglihatan matanya dengan skill Sharp Eye, alangkah terkejutnya Naori melihat Kiyoshi membongkar sebuah sarang semut dan menghncurkannya menjadi berkeping-keping.


"Orang ini ... Apa dia pikir kalau membunuh semut-semut itu bisa membangkitkan Systemnya kembali?" gumam Naori.


"Kiyoshi, kau naif sekali ... namun itu bagus" ucap Naori tersenyum.


"Meskipun begitu orang ini bukanlah seseorang yang bisa di jadikan sekutu, aku hanya bisa mengendalikannya dengan memegang Killing System miliknya"


"Aku hanya tinggal menunggu beberapa bulan dan menyiapkan rencana hingga Arisu dan Kiyoko selesai menyiapkan permintaanku" gumam Naori.


"Sampai saat itu tiba, Kau ... Kiyoshi, kau akan menjadi bidak ku yang sempurna untuk pembalasan dendamku" ujar Naori dengan tersenyum jahat.


Lalu Naori berjalan dan mendekati Kiyoshi yang sedang menghancurkan sarang semut dan menyapanya, "Apa yang kau lakukan Kiyoshi?"


"Naori! apa itu urusanmu untuk mengetahui apa yang aku lakukan?" ujar Kiyoshi dengan raut wajah kesal.


"Orang ini ..." Naori yang menyapanya dengan baik juga mulai menunjukkan raut wajah kesal, "emosinya jadi tidak stabil setelah kehilangan System miliknya" batin Naori.


"Tidak bagus ... jika dia sampai berpikir kalau membunuh seseorang adalah cara untuk membangkitkan Systemnya kembali, itu bisa berbahaya baginya" batin Naori dengan tatapan tajam mengarah ke punggung Kiyoshi.


To be Contiuned*