Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 117



Naori VS Organisasi Murder


"Deteksi"


...


"Perception"


Segera setelah Naori mengaktifkan dua skill dengan mengucapkan kata dari Skill itu, Mata kanannya yang terbuka mulai berubah warna menjadi biru karena notifikasi system tiba-tiba saja berbunyi.


Ting!


[Skill Perception telah meningkat]


Naori mengamati keberadaan dan pergerakan mereka semua secara teliti, hingga ia pun memutuskan untuk turun karena melihat beberapa orang telah memasuki kota yang runtuh itu, Wush! Jubah merah Naori berkibar karena kencangnya angin saat ia terjun ke bawah, Twilight Wing ucap Naori mengeluarkan kedua pasang sayapnya dan terbang melaju ke arah orang-orang yang ada di depan.


Wer* Wer* Wer*


Orang-orang Murder melemparkan banyak belati ke arah Naori, Naori membuat pelindung, ia mengabaikan serangan belati itu meskipun beberapa belati mengenainya karena menembus perisai yang ia buat menggunakan Skill Magic Shield, ia terus melaju ke arah luar kota dengan cepat, orang-orang Murder yang melihat hal itu panik dan segera mengejar Naori ke luar kota, bahkan orang-orang yang berpencar mengelilingi kota mulai kembali untuk berkumpul di suatu titik yang Naori tuju.


Saat terbang Naori mengeluarkan pedangnya, ia menyalurkan Magic Power pada pedangnya itu dan menebas sebuah tempat yang di kelilingi banyak sekali pohon.


Slash!


Naori menghancurkan tempat itu dengan gelombang tebasannya yang begitu besar, terlihat di tempat itu seseorang yang sebelumnya pernah Naori tebas di atap gedung sedang membuat pelindung untuk melindungi dirinya dari tebasan Naori.


"Kau! ... bagaimana bisa jarak pendeteksimu sampai sejauh ini?"


Naori diam, dia tidak menjawab pertanyaan orang itu dan mulai menyalurkan Magic Power pada pedangnya, namun Naori tidak menyerang secara langsung, ia terbang ke atas lebih tinggi lagi karena serangan lemparan belati yang di lancarkan banyak orang-orang Murder yang sebelumnya menyusul, orang-orang yang berpencar pun sama, mereka mulai berkumpul kembali menyadari Naori yang mengincar petinggi mereka.


"Bagus ... keadaan ini benar-benar luar biasa!" teriak Naori membuat sebuah bola Magic Power yang begitu besar di pedang yang ia angkat ke atas, lalu Naori pun mengarahkan pedangnya ke bawah dan bola besar itu pun jatuh ke bawah di iringi dengan teriakan Naori yang berkata "Falling Star!" ( Bintang jatuh ).


Ting!


[Skill Falling Star telah di peroleh]


[Skill telah di tambahkan ke daftar Skill]


Orang-orang Murder pun berkumpul dan melukai diri mereka sendiri, mereka membuat darah yang ada di dalam tubuh mereka keluar dan membentuk sebuah tombak yang terbuat dari darah, tombak itu semakin membesar dan semakin panjang mengarah ke bola besar yang Naori jatuhkan, Naori Menyadari hal itu, ia segera melapisi pedangnya dengan Magic Power dan bersiap-siap akan benturan yang terjadi antara Bola besar yang ia buat dan tombak darah milik para Murder.


"Serang, hancurkan bola itu, Blood Spear!" ucap seseorang memerintahkan para Murder meluncurkan tombak darah itu untuk menyerang bola yang Naori jatuhkan, Wush! Tombak darah itu meluncur ke atas dan bertabrakan dengan bola itu hingga akhirnya menembus bola besar itu dan menghancurkannya.


Duar!


Bola itu membuat ledakan yang begitu besar hingga seluruh orang harus menunduk sedikit untuk menghindari efek dari ledakan itu, terkecuali Naori, ia malah terbang ke bawah menuju ke arah ledakan, dari balik ledakan tombak darah itu muncul dengan cepat dan mengarah ke Naori.


Naori menyiapkan pedangnya dan menahan tombak besar itu dengan badan pedangnya, Klang! suara antara tombak darah dan pedang Naori terdengar keras hingga seluruh orang mendengarnya, Naori terdorong ke atas, ia tidak bisa menahan laju dari tombak itu dan mulai panik dengan berkata "Eugh"


Para Murder mengarahkan tangan mereka ke atas, seketika semuanya menggengam tangan dan mengendalikann tombak darah itu untuk menyerang Naori, tombak itu berubah menjadi sebuah tali untuk menjerat Naori, Naori pun melepaskan Tombak itu melaju ke atas dan menghilang dari atas entah kemana, orang-orang Murder terkejut karena keberadaan Naori menghilang secara tiba-tiba.


"Reflex ... Reflex ... Reflex"


Terdengar sebuah teriakan dengan banyak sekali teriakan "Aarrgh" dari sampaing orang-orang di mana orang-orang Murder berkumpul, Naori menebas orang-orang dengan reflek tubuh yang bergerak begitu cepat, setiap kali Naori nengucapkan kata "Reflex", ia pasti akan bergerak di belakang salah satu orang dan menebas punggung mereka hingga mereka terjatuh.


Karena gerakan tubuh Naori yang cepat, hanya beberapa orang dengan tingkat SSS Rank dan Transcendent Rank yang mampu menangkis tebasan Naori dengan berbalik dan menahan pedangnya, Naori kembali bergerak dan mengincar orang-orang di bawah SS Rank satu persatu hingga mereka semua di bunuh tanpa bisa melancarkan satu serangan sekalipun pada Naori.


Buk!


Naori terkena serangan dari salah satu orang Murder dengan dirinya yang berkata "Kena!"


Naori terpental, ia tersungkur ke tanah dan berguling lalu kembali berdiri dengan menggusurkan kakinya ke tanah untuk menghentikan dirinya terpental lebih jauh, tanpa di sadari olehnya saat ia tersungkur banyak sekali orang telah maju dan mengepungnya, Naori tersenyum dengan mata kirinya yang masih tertutup, ia mendongak ke atas untuk melihat orang-orang yang menyerangnya dengan berkata "Time Breaker: Time Stop"


Naori menghentikan waktu lalu menebas orang-orang yang mengepungnya satu per satu lalu membelakangi mereka dengan pedangnya yang di lumuri darah, orang-orang yang melihat hal itu gemetaran, soalnya mereka bahkan tidak bisa melihat gerakan Naori menebas banyak sekali orang sekaligus, apalagi tebasan Naori terlihat begitu acak, tidak mungkin Naori hanya menebas sekali, semuanya gemetaran tidak terkecuali petinggi mereka yang di sebut Grand of Knight oleh system, mereka mundur perlahan menjauhi Naori, namun Naori terjatuh dan menundukkan kepalanya, ia melepaskan gagang pedangnya hingga membuat orang-orang Murder heran, suasana hening terjadi, hingga salah satu orang Murder berjalan dan mendekat perlahan ke arah Naori dengan berani di ikuti dengan semua orang yang mulai berjalan mengepung Naori.


Salah satu orang pun mendekat dan bersiap melancarkan serangan pada Naori.


Jleb!


Orang itu menancapkan belati pada Naori tepat di bahu kirinya, hingga membuat semua orang tersenyum dan mulai mendekat ke arah Naori dan bersiap menyerangnya dengan tatapan membunuh.


Naori tersenyum ia telah menunggu mereka semua mendekat dengan berkata "Reflex" dan menebas orang yang menancapkan belati di depannya lalu berkata "Time Stop"


Naori mengumpulkan Magic Power di pedangnya lalu menebas semuanya sekaligus dengan meutarkan badannya dan membentuk sebuah gelombang tebasan memutar hingga semua orang Murder tertebas sekaligus, notifikasi system berbunyi, Naori melihat panel system dengan darah yang menghujani dirinya.


Ting!


[Skill Spinning Slash telah di peroleh]


[Skill telah di tambahkan ke daftar Skill]


Bruk!


Salah satu orang yang selamat setelah di tebas Naori terjatuh, ia gemetaran melihat Naori yang bermandikan darah dari orang-orangnya dengan perasaan takut, ia pun mengingat sesuatu dan mulai menunjuk Naori dengan tangannya yang gemetaran, Naori melihat orang itu dan melepas kerudung jubahnya dan topeng Dark Mask yang ia kenakan untuk melihat orang itu dengan lebih jelas di hujan darah yang sedang berlangsung singkat itu.


"K-Kau ... Ju-jubah merah itu, Topeng hi-hitam ... dan pe-pergerakan yang a-aneh ..." ucap orang itu dengan tubuhnya yang gemetaran.


"Apa itu wajah aslimu ... Dark Crow dari Sector A Distrik 17!?"


"Entahlah~" ucap Naori menebaskan pedang itu ke arah orang yang gemetaran itu, namun sayang sekali, tebasannya meleset, orang itu menghilang entaha bagaimana meninggalkan kertas yang di tebas Naori menggunakan pedangnya.


"Sialan! itu kertas skill" ucap Naori menghentakkan kakinya karena kesal.


Di sebuah momen yang singkat itu, orang itu sudah bersiap dengan kertas Skill yang ia sembunyikan, melihat Naori mengangkat pedangnya, itu berarti Naori akan menebaskan pedangnya secara Vertikal ( dari atas ke bawah ), orang itu memprediksi serangan Naori dan menempatkan kertas skill di kedua tangannya tepat di arah laju tebasan Naori hingga akhirnya memotong kertas itu dan membuat kertas Skill yang di pegangnya aktif setelah terbelah menjadi dua.


Naori diam sejenak merasakan keberadaan orang itu yang telah menghilang dari tempat itu dan melihat notifikasi system yang ia terima.


Ting!


[Achievement Solo Revenge telah di peroleh]


Ting!


[Quest telah gagal di jalankan]


[Player akan di hukum karena gagal menjalankan misi]


[Player: Naori Asake akan di tangguhkan sementara dari pendapatan EXP yang di peroleh]


[Semua EXP yang di peroleh tidak akan menambah level Player sampai waktu penangguhan selesai]


[Waktu perolehan EXP di tangguhkan]


[99Jam, 58 Menit, 57 Detik]


Naori menggertakkan giginya, ia berkata "Summon: Starlight, Chaos, dan Priestess" dengan perasaan kesal.


Ketiga Knight itu pun muncul di hadapan Naori lalu berlutut, Starlight yang heran karena di panggil secara tiba-tiba oleh Naori bertanya" Ada apa Master?"


"Kalian bisa beristirahat, membunuh Bahemoth untuk sekarang tidak berguna lagi, aku tidak akan bertambah kuat saat kalian membunuh mereka jadi hentikan!"


"Baik Master" ucap ketiganya secara bersamaan.


"Berdirilah! aku memiliki tugas untuk kalian" ucap Naori berbalik dan menyimpan pedangnya di Inventory system.


"Tugas apa Master?" tanya Chaos Knight.


"Selidiki semuanya tentang Organisasi yang bernama Murder! aku akan pergi dan kembali berlatih untuk bertambah kuat untuk membalaskan dendamku" ucap Naori berjalan pergi dan meninggalkan ketiganya, lalu dua Soul Knigjt muncul di depan ketiga Knight itu dengan Naori yang berkata "Bekerjalah bersama Zygmitte dan Zygnitte!"


"Baik Master!" ucap Ketiganya menjawab perkataan Naori.


Naori pergi, ia kembali ke fasilitas bawah tanah dan menghampiri Alya untuk melihat keadaanya, lalu Naori pun menggendong Alya dengan tangannya dan membatalkan pemanggilan Zygtitte lalu menyimpannya di Soul Power, Setelah menggendong Alya Naori meninggalkan ruangan itu dengan semangkuk sup yang belum selesai Alya habiskan, Naori pergi membawa Alya dengan raut wajah sedih, ia teringat dengan Ai, Jvalri, Andras, Gifton, serta Flami yang mayatnya telah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Naori pun berpindah tempat dengan menggendong Alya di luar Distrik 17 dengan berjakan secara perlahan menggendong tubuh Alya yang begitu lemas, orang-orang menatap Naori karena menggendong seorang anak kecil dengan tubuh yang begitu kurus, Naori melirik kembali orang-orang yang menatapnya dengan cepat dan mengabaikan mereka karena perasaannya yang sekarang membuatnya tidak mempedulikan orang-orang yang memperhatikannya.


Naori terus berjalan hingga berada di depan rumah dan membuka pintu rumahnya tanpa berkata apa pun, ia pun masuk ke dalam rumah lalu membaringkan Alya di sofa dengan bantal kecil yamg ada di sana, sedangkan Kaori, Segawa, dan Leona terkejut melihat Naori yang tiba-tiba saja pulang ke rumah dengan membawa seorang anak kecil berambut putih dengan tubuhnya yang begitu kurus.


Kaori pun segera bangkit dari kursi meja makan di ikuti dengan Segawa dan Leona di belakangnya dan berjalan mendekat ke arah Naori di sofa seraya berkata "Kak ...?"


Naori diam mengabaikan Kaori, ia masih memperhatikan Alya dengan raut wajah sedih dan segera berjalan menaiki tangga untuk ke pergi ke kamarnya, di kamarnya ia mengambil selimut dan membawanya ke sofa untuk menyelimuti Alya yang sedang tidur.


Naori tersenyum sedikit setelah menyelimuti Alya dengan selimutnya sembari mengelus kepalanya dan memejamkan matanya, Kaori terkejut, soalnya ia sendiri baru melihatnya sekali di mana kakaknya menunjukkan perasaan rasa sayang kepada orang lain dengan begitu lembut selain dirinya dan ibunya.


Naori pun membuka matanya lalu menoleh ke arah Kaori dan menatapnya dengan raut wajah tersenyum dengan berkata "Ada apa Kaori?"


"Kak, apa yang terjadi padamu?" tanya Kaori khawatir setelah melihat raut wajah kakaknya yang berubah seketika.


"Kakak tidak apa-apa kok" jawab Naori.


"Bohong! kakak berbohong lagi, kakak sangat payah dalam berbohong" ucap Kaori menunjuk kakaknya.


Naori pun menggigit bibirnya lalu memalingkan kepalanya dan kembali melihat Alya, tidak lama setelahnya Naori terjatuh dengan menundukkan kepalanya, Kaori pun berjongkok untuk melihat kondisi kakaknya, Kaori pun terkejut melihat air mata terjatuh dan membasahi lantai di bawah wajah kakaknya, ia pun berinisiatif memeluk kakaknya dan berkata "Kakak kenapa?"


Naori diam, ia tidak menjawab pertanyaan Kaori dan menyandarkan kepalanya pada bahu adiknya yang memeluknya, melihat hal itu Kaori semakin khawatir, ia tidak pernah melihat hal seperti ini lagi semenjak kematian ibunya.


Kaori mengelus kepala kakaknya seperti saat kakaknya mengelus kepala Alya barusan, ia pun melihat tubuh kakakmya yang gemetaran dengan menggertakkan giginya, baru kali ini ia melihat tubuh kakaknya gemetaran begitu hebat, ia pun berpikir sesaat dengan apa yang terjadi dengan kakaknya seraya berkata di dalam hatinya "Apa yang sebenarnya terjadi dengan kak Naori?"


"Bahkan kakak membawa seorang perempuan cantik secara tiba-tiba, sekarang dia membawa seorang anak kecil dan berakhir dengan kondisi tubuhnya yang buruk"


"Apa yang sebenarnya ...?" ucap Naori di dalam hatinya terpotong karena Naori tiba-tiba melepas pelukan dirinya dan Berdiri lalu berjalan ke arah dapur, Kaori hanya mengikuti bersama dengan Segawa dan Leona tanpa berkata-kata, Naori memakai celemek ia mulai memasak dan menyajikan sebuah nasi yang di hancurkan menjadi bubur kepada Alya dan meletakkannya di meja, lalu Naori mendekat ke arah Leona dan menepuk pundaknya, "Tolong jaga Alya, aku akan pergi sebentar lagi, ..." ucap Naori yang kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Leona seraya berkata "Aku mengandalkanmu Leona"


Kaori dan Segawa terkejut, mereka mengira bahwa Leona dan Naori memiliki sebuah hubungan khusus, Naori berbalik, ia mendekat ke arah Kaori dan mengelus kepalanya lalu berjalan pergi seraya Berkata "jaga dirimu baik-baik Kaori, kakak pergi dulu" ucap Naori pergi keluar rumah dan menitipkam Alya kepada mereka dengan kata-kata singkat yang ia ucapkan.


Di luar rumah Naori mendongak ke atas, ia melihat awan mendung sedang berkumpul dan sepertinya cauca akan segera berubah menjadi hujan dengan berkata "Fate of Blessing ... aku sudah muak mengikuti takdir yang di rencanakan ini"


"Oi ... God of Destiny, berikan aku penjelasan!" teriak Naori di depan rumahnya.


To be Contiuned*