Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 147



Pelatihan Naori: Ruangan Voice Ball


Di lantai pertama gedung pelatihan khusus, Naori kembali ke kantin untuk mencari Dokter Nevario, namun Dokter Nevario sudah tidak ada di sana, Naori berjalan mendekat ke arah tempat pengambilan makanan dan bertanya kepada seseorang yang menyajikan makanan dengan berkata "Kemana Dokter Nevario pergi?"


"Dia pergi ke ruangan pengukur Magic power di lantai dua" jawab orang itu merespon pertanyaan Naori dengan menunjuk ke atas.


"Terima kasih, aku akan segera pergi menemuinya" ucap Naori langsung pergi setelah mengetahui keberadaan Dokter Nevario


"Mereka bilang kalau anak ini pembuat masalah, tapi di mataku anak ini hanyalah anak biasa yang akan membalas perbuatan seseorang yang menyakitinya" gumam orang yang menyajikan makanan di kantin melihat Naori pergi dengan ekspresi bosan serta menghela nafasnya.


Naori pun pergi ke lantai dua, ia berlari menaiki tangga sampai ke tempat dimana ia pernah mengukur kapasitas Magic power bersama Dokter Nevario saat pertama kali masuk ke dalam tempat pelatihan khusus ini, setelah sampai di lorong dekat dengan pintu yang menutup ruangan pengukur Magic power yang di beritahu oleh orang penyaji makanan di kantin pada Naori.


Pintu itu tertutup, Naori mencoba membukanya namun gagal, ia tidak bisa mendorong pintu itu, lalu Naori pun teringat dengan Pin yang di. berikan pada Dokter Nevario dengan nomor Ranking yang Naori miliki, Naori mengeluarkan Pin itu dari Inventory system karena sudah lama ia tidak memakainya saat berlatih di bawah bimbingan Chloe, Naori memakainya di baju bagian dada sebelah kiri, seketika pintu yang ada di depan Naori terbuka sendiri setelah Naori memakainya.


Di dalam ruangan itu, terlihat Dokter Nevario sedang duduk di meja melihat seseorang perempuan berambut kuning sedang mengetes kapasitas Magic power di batu berwarna biru yang di penuhi dengan garis-garis Rune, Naori pun berjalan secara perlahan sambil melihat perempuan itu.


Batu itu mulai menghitung mulai dari angka nop sampai mencapai ratusan ribu, hingga akhirnya angka di atas batu mencapai 699.100.


Rank 4.789 (New)


T-Rank 699.100


Acress Cadia


"Monster lainnya" batin Naori di dalam hatinya melihat jumlah angka kapasitas Magic power milik perempuan berambut kuning itu.


Bruk!


Suara buku jatuh terdengar, Naori pun menoleh ke arah Dokter Nevario karena mendengar suara itu, Naori sedikit terkejut, ia melihat Dokter Nevario gemetaran melihat jumlah kapasitas Magic power milik perempuan itu tanpa bisa berkata-kata.


"Mus-tahil, ... angkanya hampir mencapai tujuh ratus ribu!" ucap Dokter Nevario dengan tubuhnya yang masih gemetaran melihat angkanya.


Naori menoleh, ia melihat perempuan itu menatapnya dari atas tempat pengukuran Magic power dengan ekspresi sombong, Naori mengabaikan hal itu, ia merasa perempuan itu bukan tandingannya lagi, meskipun jumlah Magic power miliknya memiliki perbedaan yang sangat jauh, ia lebih memilih mengetahui ruangan Voice Ball dari Dokter Nevario daripada harus melihat seorang perempuan yang sombong hanya karena jumlah Magic powernya sangat tinggi.


[Master perempuan ini ...]


"Tanpa di beritahu aku pun sudah tau" batin Naori menyela perkataan Alter yang tiba-tiba berbicara.


"Dokter Nevario, bisakah aku mengetahui dimana ruangan Voice Ball? pak Seisen menyuruhmu mengantarku ke sana" tanya Naori pada Dokter Nevario yang masih gemetaran melihat angka milik perempuan itu.


"Aahhh ruangan itu ya ..." ucap Dokter Nevario terputus, lalu Dokter Nevario menunjuk ke bawah dan berkata "Itu ada di rungan Gravitasi, kau hanya harus menekan tombol Voice dan Ball Shooters" jawab Dokter Nevario yang sudah tidak kuat lagi dan terjatuh ke lantai karena kakinya yang lemas.


Naori yang melihat hal itu tidak tinggal diam, ia mengulurkan tangannya untuk Dokter Nevario seraya berkata "kau tidak apa-apa Dokter?"


"A-Aku baik-baik" saja ucap Dokter Nevario mengabaikan uluran tangan Naori karena kepalanya menunduk ke bawah.


"Instant Heal ..." ucap Naori menyembuhkan Dokter Nevario tanpa alasan yang jelas, "Untuk jaga-jaga, kalau begitu aku pergi dulu Dokter Nevario"


Naori berdiri lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan itu keluar, namun saat Naori hendak keluar, Naori di tahan oleh sebuah tekanan yang membuat tubuhnya terdorong ke bawah.


"Kau pikir mau pergi kemana? ... kau harus berlutut di hadapanku!" ucap perempuan itu di belakang Naori.


Ting!


[Penggunaan -100 Point Stat telah di konsumsi oleh Mind System]


"Cih ..." Naori mendecakkan lidahnya dengan perasaan kesal lalu berbalik menatap perempuan itu dengan tajam seraya berkata "Padahal aku sudah mengabaikan tindakanmu yang menyerang Dokter Nevario dengan menyembuhkan pikirannya"


"Tapi kau berani menyerangku!? ... coba sekali lagi kau ulangi menyerang pikiranku!" ucap Naori dengan Killing Intent pekat yang terpancar dari tubuhnya.


"Ba-Bagaimana bisa k-kau tidak tu-tunduk?" ucap perempuan itu gemetaran di hadapan Naori.


"Kau pikir aku yang sudah mengalahkan seluruh siswa di sini akan tunduk oleh gadis kecil sepertimu? jangan bercanda! hanya dengan satu jariku saja aku bisa membuatmu tunduk sekarang juga" ucap Naori dengan nada mencekam di sertai dengan raut wajah mengerikan karena kesal.


Perempuan itu menggertakkan giginya lalu mendekatkan wajahnya ke Naori seraya berkata "Co-Coba saja kalau bisa!"


Naori pun langsung menanggapi perkataan perempuaan itu dengan menempelkan jari telunjuknya pada dahi perempuan itu seraya berkata "Magic Exsplosion"


Duar!


Ledakan Magic power membuat perempuan itu terpental seraya berteriak "Kyaa!" hingga jatuh ke lantai.


"Ini membuatku kesal saja, hanya karena kau beruntung dan memiliki sebuah System, jangan kira kalau kau sudah menjadi yang terhebat" ucap Naori memperingati kemudian berbalik dan meninggalkan perempuan itu terjatuh di tanah setelah membuat perempuan itu tunduk di hadapannya.


Perempuan itu terkejut lalu menggertakkan giginya saat melihat Naori yang pergi setelah mempermalukan dirinya tepat di hadapannya, bahkan sampai membongkar jati dirinya sebagai User System tepat setelah mempermalukannya.


[Master, bagaimana anda tau kalau dia User System? padahal saya belum sempat menjelaskan karena anda menyela perkataan saya]


"Itu mudah, karena dia memiliki mata yang sama denganku" gumam Naori menjawab perkataan Alter.


[Saya tidak mengerti Master]


"Sudahlah Alter, suasana hatiku sekarang ini sedang kesal"


[Baik Master]


Setelah pembicaraan singkat tentang identitas perempuan berambut kuning itu, Naori turun ke lamtai satu untuk kembali ke rungan Gravitasi, Naori mencati tombol yang di tekan pak Seisen saat ia membuat seluruh ruangan itu di penuhi tekanan Gravitasi, Naori menekannya, lalu membuat tekanan Gravitasi kembali aktif, setelah itu Naori menekan tombol Voice, seketika suara yang mirip dengan suara kelelawar berdengung di kepala Naori, suara itu membuat Naori terdiam sesaat, seketika Naori merasa kalau telinganya terasa sakit.


Saat menyentuh telinganya untuk memeriksa, Naori merasakan ada banyak darah yang keluar dari telinganya, Naori sedikit panik, lalu ia pun berbicara, suaranya tidak terdengar, Naori semakin panik, ia memeriksa kedua telinganya kembali dan berbicara dengan suara keras, namun suaranya tetap tidak terdengar.


Naori pun memutuskan untuk menyembuhkan telinganya yang mungkin saja terluka dengan berkata "Instant Heal"


....


Naori diam sejenak, ia masih merasa kalau telinganya sakit, kemudian ia pun berkata "Apakah sudah sembuh?" untuk memeriksa pendengaran miliknya.


"Aahhh terdengar, syukurlah" gumam Naori sembari bernafas dengan lega.


Namun setelah meengatakan itu, telinga Naori kembali mengeluarkan darah setelah mendengar suara yang mirip dengan kelelawar lagi, ia memeriksa telinganya yang kembali memgeluarkan darah seraya beekata "Sepertinya suara barusan di gunakan untuk melatih Pendengaranku"


Naori pun menoleh setelah mengabaikan telinganya yang mengeluarkan darah ke arah tombol di mana terdapat satu tombol lagi yang tertulis Ball Shooters, Naori menekannya, seketika beberapa kotak tembok yang ada di ruangan itu terbuka lalu menembakkan beberapa bola yang memantul lalu kembali masuk ke dalam tembok, bola itu di tembakkan lalu kembali masuk ke dalam dinding dengan sangat cepat hingga proses itu terus berulang.


"Reflek tubuh, kecepatan berpikir, pengambilan keputusan, ... sepertinya latihan itu bisa di lakukan hanya dengan menekan satu tombol?" ucap Naori dengan ekspresi khawatir melihat pergerakan bola yang sangat cepat di ruangan itu.


Advanced In the Next Chapter~