
Leona Arnolt
Di taman, Naori kembali berlari sangat lama hingga akhirnya ia meneteskan keringatnya dan berhenti di mesin minuman, ia mengeluarkan Koin perak dan memasukkan koin itu ke dalamnya, Naori menekan tombol yang ada di depan minuman rasa kopi lalu mesin itu menjatuhkan minuman kaleng itu ke bawah lalu Naori mengambilnya.
Naori pergi sambil membawa minuman kaleng itu dan meminumnya saat dirinya berjalan keluar dari taman, ia pun berjalan pergi tempat gang yang sepi lalu berhenti seraya berkata "Keluarlah! aku tau kau di sana"
Lalu seorang perempuan yang cantik dengan rambut panjang berwarba hitam dan membawa sebilah pisau keluar menghadap Naori dengan ekspresi wajahnya yang di selimuti niat membunuh.
"Kau kan ... ehem" Naori pura-pura batuk mengingat kejadian tadi malam saat Albino masuk ke dalam kamarnya.
"Aku hanya tidak menyangka kau masih hidup, mungkin aku terlalu lengah karena fokus bertarung dengan Ayahmu, Leona Arnolt" ucap Naori tersenyum jahat menatap Leona.
Perempuan bernama Leona itu menggertakkan giginya lalu berlari dan menyerang Naori dengan pisau yang ia genggam di tangannya.
Naori meminum minumannya hingga habis lalu melempar kalengnya dan bersiap menerima serangan Leona, ia pun menangkap tangan Leona yang menggengam pisau dan menekuk tangannya ke belakang untuk mengunci pergerakannya lalu memukul lehernya hingga ia pingsan.
"Kau tau Leona, sebenarnya aku sengaja melepaskanmu tadi malam karena kau masih berguna untuk rencana balas dendamku yang selanjutnya" ucap Naori.
Naori tersenyum jahat dan berkata "Tunggu saja Theo, aku akan membuat kakakmu menjadi milikku dan membalaskan dendam ku ratusan kali lipat lebih menyakitkan dari apa yang aku alami saat itu" ucap Naori yang membawa Leona pergi dari tempat itu dan menghilang entah kemana.
Distrik 17 pinggiran kota, di bawah lereng bukit, lebih tepatnya di sebuah rumah tua yang jauh dari pemukiman penduduk, Naori berbicara kepada kakek-kakek dan memberinya seribu keping Koin Platina seraya berkata "Terima kasih kek"
"Sama-sama nak, kakek juga berterima kasih padamu karena telah membeli rumah yang jauh dari pemukiman ini" jawab kakek itu kemudian pergi meninggalkan Naori bersama dengan Leona yang masih pingsan.
Dari jauh kakek itu bergumam "Dasar anak muda, mereka begitu bersemangat saat ingin melakukannya"
"Tidak kek, kau salah paham" ucap Naori yang sepertinya mengerti dengan apa yang kakek itu gumamkan.
Naori membawa Leona ke dalam rumah dan membaringkannya di kasur yang ada di rumah itu, kemudian ia pun ke dapur dan melihat tidak ada apa pun di rumah itu, "Alter, aku ingin dua potong daging dan bumbu yang lengkap" ucap Naori meminta bahan makanan kepda Alter.
[Baik Master]
Kemudian dua potong daging lalu bumbu-bumbu seperti garam, merica, bawang, kentang dan beberapa bahan lainnya muncul, Naori langsung memasak dan mengolah daging itu menjadi sebuah Steak dengan bau yang sangat harum hingga membuat Leona terbangun dan menyadari dirinya pingsan, ia pun mengambil pisau yang tergeletak di sampingnya lalu mengintip di dapur melihat Naori yang masih memasak.
Leona langsung melangkah ke dalam dapur dan mengejutkan Naori dengan menancapkan pisau di dadanya, Leona terkejut, soalnya Naori tidak berteriak ataupun terkejut karena pisau yang menancap pada dirinya.
Boff
Naori menghilang dan pisau itu terjatuh ke tanah, Leona terkejut dan segera mundur, namun seperti ada yang menghalangi, tiba-tiba lehernya di dekap oleh tangan Naori, Leona meronta dan mencengkram tangan Naori agar tangannya segera lepas dari lehernya dengan berkata "Lepaskan aku!"
"Kak Leona, kau kejam sekali ya" ucap Naori.
"Kau tega menusukku dari belakang hanya demi membalaskan dendam ayahmu?"
"Kenapa kau melakukan ini? ... kenapa!?" ucap Leona berhenti meronta dan berteriak untuk menanyakan jawabannya kepada Naori, Naori diam sesaat dan kemudian berkata "Tanyakan saja pada adikmu!"
"Ugkh, lepaskan!"
Naori membaringkan Leona di kasur dan kembali membuat makanan di dapur, selesai membuatnya Naori membawa dua Steak daging di dekat Leona yang pingsan, Naori berkata "Alter, dua minuman kaleng" lalu dua minuman kaleng pun muncul di depannya, Naori membangunkan Leona dengan berkata "Bangunlah, aku sudah menyiapkan makanan" ucap Naori sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk membangunkan Leona.
Leona bangun dan langsung waspada dengan Naori yang membangunkannya, ia pun melirik ke bawah dan mencium bau enak dari Steak yang ada di depannya, Naori yang melihat raut wajah Leona langsung berkata "Alter, dua porsi nasi" dan membuat Leona terkejut.
Soalnya tiba-tiba saja dua mangkok piring muncul di depan Naori dengan cara yang aneh, Naori mengambil satu mangkok dan menyerahkannya pada Leona seraya berkata "makan ini! kau pasti kelaparan kan?"
Leona mengabaikan Naori, ia pun pergi keluar rumah dan melihat semua pemandangan yang ada di luar rumah menjadi hitam lalu berkata "Dimana ini!?"
"Percuma, kita terjebak di dalam sini saat kau pingsan" ucap Naori menjelaskan sambil mengambil mangkok nasi dan mulai memakannya.
"Apa maksudmu?"
"Kita terjebak di dunia yang entah ada di mana, hanya kita berdua" ujar Naori.
"Tidak mungkin! aku tidak percaya" ucap Leona yang kemudian memukul-mukul dinding hitam yang melapisi seluruh rumah itu.
Buk! Buk! Buk!
Leona memukul dinding hitam itu hingga tangannya kesakitan dan berwarna merah, ia pun menyerah dan kembali ke dalam rumah untuk memastikan keadaan yang di alami oleh mereka saat ini, "Apa yang terjadi?" tanya Leona.
"Entahlah~ bukankah sudah aku bilang kita terjebak"
"Dimana ini? dan bagaimana caramu mendapatkan daging itu?"
"Aku menemukannya di dapur jadi aku memasaknya"
"Makanlah! ini mungkin akan menjadi makanan terakhirmu" ucap Naori dengan wajah kesal.
Leona menunduk ia diam tanpa melakukan apa pun sehingga Naori menghabiskan makanannya dan pergi keluar, Leona langsung menyantap makanan itu dengan lahap walau hanya satu potong daging dan satu mangkok kecil berisi nasi, ekspresinya terlihat bahagia seperti ia belum makan selama ini.
Di luar, Naori melompat dan duduk di atas atap runah itu seraya berkata "Dasar perempuan, mereka menang tidak jujur, Yah~ nikmatilah makanan terakhirmu Leona, mulai saat ini kita akan benar-benar terjebak di Distorsi ruang milikku dengan kecepatan waktu 5:1 (Lima banding satu, artinya lima hari di dalam Distorsi ruang sana dengan satu hari di dunia nyata) " ucap Naori dengan senyuman licik yang terlihat di wajahnya.
[Kenapa anda melakukan ini Master?]
[Apa yang akan anda lakukan pada perempuan itu?]
Naori tersenyum lagi, kali ini dari lubuk hatinya yang paling dalam, dengan senyuman yang begitu jahat ia pun menjawab pertanyaan Alter dengan berkata "Balas dendam ..." ucapan Naori terpotong sesaat setelah ia terdiam sejenak.
"Aku akan menggunakan perempuan ini untuk membuat balas dendamku lebih menyakitkan untuknya"
"Theo, aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu merasakannya, meskipun hanya sedikit penderitaan, aku tidak akan membunuhmu sebelum aku benar-benar puas melakukannya!" ucap Naori dengan perasaan bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
To be Contiuned*