Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter OVA 1.7



Shield of Armor


"Be-bergetar!? ... tapi tubuh kakek ..."


"Kau benar nak! aku sendirilah Artefak itu" ucap kakek itu yang mengaku bahwa dirinya adalah sebuah Artefak.


"Bagaimana bisa?"


Di situasi yang membingungkan itu, Naori mencoba mencoba untuk terkejut, namun fakta begitu mengejutkan, Kakek itu menyelimuti tokonya dengan semacam energy aneh dan merubah dirinya menjadi sebuah perisai kecil lalu melayang di depan Naori.


"Kakek ini! ... benar-benar sebuah Artefak!?"


Naori terkejut dan berteriak karena sudah mengetahui kalau energy yang di gunakan kakek tadi untuk menyelimuti toko ini berguna sebagai penghalau suara.


"Nak, Apa kau ingin memiliki diriku sang Shield Of Armor?" perisai kecil itu berbicara.


"Aku ingin!" jawab Naori singkat dengan raut wajahnya yang serius.


"Baiklah, kalau begitu kau lulus tes kualifikasi dariku sebagai pemilik Shield of Armor" ucap perisai itu.


"Berikan satu tetes darahmu sebagai tanda kontrak berikan manamu padaku!"


"Tapi, Aku tidak memiliki mana"


"Lalu kekuatan apa yang ada di tubuhmu itu?" tanya perisai itu.


"Itu adalah, Magic Power"


"Aku tidak peduli apa namanya, yang pasti aku hanya tertarik pada kekuatanmu, jadi segeralah mulai melakukan apa yang aku katakan!"


"Baik" ucap Naori menuruti perkataan perisai itu untuk memenuhi kualifikasinya sebagai pemilik perisai.


Lalu Naori melukai jari telunjuknya dan meneteskan dua tetes darah pada perisai itu, kemudian Naori meletakkan tangannya di atas perisai itu dan mulai menyalurkan banyak Magic Power ke dalamnya.


[Master, sepertinya perisai kecil ini hanya ingin menyerap Magic Power anda].


"Tidak apa-apa Alter, aku masih memiliki skill Charger" batin Naori menjawab Alter.


Di tengah-tengah penyaluran Magic Power, perisai itu berkata kepada Naori untuk segera berhenti, "Hentikan! ini sudah cukup"


... Keduanya diam sejenak.


Perisai kecil itu melayang lebih tinggi lagi, lalu mengeluarkan sebuah cahaya keemasan dan membuat Naori tidak bisa melihat karena cahaya yang di keluarkan perisai itu terlalu terang.


"Ugh* ... silau sekali" ucap Naori yang menutupi matanya dengab tangan dan mencoba membuka matanya untuk melihat perisai itu.


Setelah cahaya keemasan itu menghilang, Naori membuka matanya dan melihat perisai itu sudah hilang di depannya.


"Kemana dia?"


"Di sini nak!"


Naori menundukkan kepalanya karena mendengar asal suara itu dari bawah, namun ternyata suara itu berasal dari tangan kirinya yang di situ terpasang sebuah perisai kecil dengan bentuk dan warna yang berbeda.


Dari yang tadinya perisai itu berbentuk bulat sepurna dengan pola melingkar dan berwarna keemasan, sekarang berubah bentuk menjadi perisai dengan bentuk yang pipih di atas dan berbentuk pipih dan lancip di bawahnya dengan warna hijau dan hitam pekat yang menghiasi perisai itu.


"Kau suka dengan bentukku nak?"


"Keren, itu keren sekali" jawab Naori.


"Aku ingin segera menunjukkannya ke kak Temuo" ucap Naori yang berniat berbalik dan pergi, namun dirinya di tahan dengan perkataan perisai itu.


"Tunggu nak! ambil semua yang ada di toko ini!"


"Baik kek" ucap Naori nenurut dan mengambil seluruh senjata yang ada di toko kecil yang lusuh itu.


"Alter, simpan mereka semua!"


[Baik Master]


Seketika seluruh senjata yang ada di toko lusuh itu hilang bagaikan di telan oleh sesuatu, Shield of Armor, perisai itu kaget melihat seluruh barangnya hilang seraya berkata "Apa yang kau lakukan nak? kenama kau menyimpan mereka semua?"


"Tenanglah kek! Aku menyimpannya di Inventory" jawab Naori.


Kemudian Naori berlari pergi untuk menemui Temuo yang sedang membuat peluru untuk pistolnya.


"Kak! ..." Naori melambaikan tangannya sembari berlari ke arah Temuo.


Temuo yang melihat Naori malah fokus ke arah perisai kecil yang terpasang di tangan kirinya, dan berkata kepada Naori setelah Naori sampai di dekatnya.


"Perisai yang bagus Naori"


"Apa hanya itu yang kau beli?"


"Tidak, aku masih punya banyak senjata pemberian kakek" ujar Naori.


"Kakek?"


"Iya" Naori mengangguk, "Kakek!" ucap Naori sembari menunjukkan perisainya kepada Temuo.


"Begitu ... apa kau sudah siap?"


"Iya aku sudah siap kak" jawab Naori.


"Ayo!" ajak Temuo yang berjalan pergi dari pasar dan segera pergi ke gerbang kota.


"Apa kak Temuo tidak bisa mendengar kakek ya?" batin Naori.


[Aku rasa tidak bisa Master, karena hanya anda yang memiliki Kontrak dengan Artefak itu]


Setelah mendengar perkataan Alter, Naori hanya berjalan dan mengikuti Temuo dari belakang sambil memikirkan sesuatu.


Sesampainya di gerbang,Temuo mendekati penjaga gerbang dan terlihat dari belakang, Temuo memberikan satu kantung Koin kepada para penjaga.


"Ayo Naori!" ajak Temuo kepada Naori untuk segera keluar kota.


"Baik" jawab Naori singkat dan mengikuti Temuo berjalan melewati gerbang.


Saat melewati penjaga gerbang, tatapan Naori menjadi lebih tajam dan melihat penjaga gerbang itu dengan ekspresi waspada lalu berlari kecil dan mendekati Temuo.


"Kak ... kenapa memberikan koin gratis kepada mereka?" tanya Naori membisikkan sesuatu di dekat telinga Temuo.


"Itu adalah pajak Naori, jika ingin segera lewat tanpa di curigai, kau harus menyuap mereka" jawab Temuo.


"Tapi siapa yang mencurigai kita?"


"Kau lihat bangunan tinggi yang ada di dekat gerbang tadi? cobalah rasakan dengan kekuatanmu, siapa yang ada di sana?" gumam Temuo.


Lalu Naori berjalan sambil memejamkan matanya dan mencoba menyebarkan Magic Powernya hingga mencapai bangunan yang di maksud Temuo.


Naori merasakan adanya satu orang kuat sedang bersantai di atap bangunan itu, tiba-tiba ia menoleh dan Naori langsung kaget dan tersandung karena alasan yang tidak di ketahui.


"Ugh*"


"Kau tidak apa-apa Naori?"


"Siapa orang itu kak? ... dia kuat, aku bisa merasakannya dia sangat kuat" ucap Naori.


"Dia adalah seorang Jendral dari Kesatria Grand Cross Wanzeler sang Pemabuk dari kerajaan Kohaku yang sudah pensiun" jawab Temuo.


"Jendaral! dan dari Negeri Kohaku? apa itu negeri sebelah?"


"Benar Naori, kita harus selalu waspada di manapun dan kapanpun" ujar Temuo.


Lalu keduanya pun berjalan lebih cepat untuk meninggalkan kota itu dan segera pergi ke arah pertempuran antara Demon King di garis depan.


Di tengah-tengah perjalanan perut Naori berbunyi, Temuo yang mendengar hal itu memberikan buah yang dia beli di pasar tadi agar Naori segera memakannya.


"Makan ini!" ucap Temuo memberikan sebuah buah apel kepada Naori


"Terima kasih kak" ucap Naori yang mengambil buah apel dari tangan Temuo dan segera memakannya.


"Ayo istirahat di bawah pohon itu! kita akan mencoba mencari makanan di sekitar sini" ajak Temuo.


"Hhmmm" Naori hanya mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah apel.


Setelah beberapa saat mereka duduk di bawah pohon itu, sebuah bahaya muncul dari atas dan menyerang mereka berdua.


Naori dan Temuo yang menyadari adanya bahaya langsung mengeluarkan senjata mereka dan menyerang balik sosok yang memancarkan niat membunuh itu


Jleb* Naori menusuknya dengan pedang, sedangkan Temuo menembaknya dengan pistol Rebolver miliknya.


Duar!


Kepala dari ular itu hancur dan hanya menyisakan tubuhnya yang di tusuk oleh Naori.


"Bagus ... kita bisa memakannya setelah membersihkannya" ucap Temuo.


"Eehh!? memakannya!?" Naori terkejut dengan perkataan Temuo.


To be Contiuned*