Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 144



Pelatihan Naori: Ruangan Gravitasi


"Fuuuu ... Huff, Fuuuu ... Huff, Fuuuu ... Huff"


Naori menarik nafas lalu membuang nafasnya berkali-kali sesuai dengan latihan yang di berikan pak Seisen dan Chloe, kenapa bisa terjadi seperti itu?


<--Kembali di hari kemarin-->


Ciut*


Chloe mencubit telinga pak Seisen dengan sangat kencang dan berteriak marah, dengan menunjukkan raut wajah yang mengerikan di hadapan pak Seisen, melihat hal itu Naori menyingkir, di dalam hatinya Naori berkata "semoga saja aku tidak mendapatkan istri yang galak di masa depan" dengan niat berdoa setelah melihat Chloe yang marah.


Setelah selesai Chloe pun berjalan mendekati Naori lalu berkata "Nak, kau ingin mengalahkan orang itu kan?" tanya Chloe.


"Iya kak" jawab Naori dengan pasti.


"Kalau begitu berlatihlah pak tua ini! aku benar-benar harus pergi kali ini dan tidak bisa melatihmu untuk beberapa hari, ... jadi jangan bertengkar lagi saat aku pergi! kalau tidak ..." ucap Chloe dengan raut wajahnya yang berubah kembali sambil menoleh ke arah pak Seisen, Naori mencondongkan tubuhnya ke samping untuk melihat pak Seisen karena di tutupi Chloe, di sana pak Seisen menunjukkan ekspresi takut, Naori yang melihat hal itu tersenyum dengan sombong.


Di sisi pak Seisen, di dalam hatinya pak Seisen berkata "Bocah ini ..." dengan menunjukkan ssedikit ekspresi marah.


"Apa!? kau tidak terima mengajari muridku!?" ucap Chloe sambil mengepalkan tangannya untuk memukul pak Seisen yang menunjukan ekspresi marah.


"T-Tunggu Chloe, ... aku bisa jelaskan", suara plak! terdengar setelahnya dan membuat pak Seisen tunduk di hadapan Chloe dengan kepalanya yang tertancap di tanah, Naori kembali takut, seluruh tubuhnya gemetaran, soalnya ia melihat sendiri kekuatan Chloe yang mampu menundukan pak Seisen hanya dalam satu pukulan, "Ugh, sialan! aku teringat dengan kejadian saat Segawa memukulku di Magic Market" batin Naori.


"Jadi nak, ikuti saja pak tua ini, jika pak tua ini mempersulit latihanmu, bilang saja pada ikan-ikan di kolam! mereka akan memberitahunya padaku" ucap Chloe menjelaskan bagaimana cara menghubunginya.


"Baiklah kak" ucap Naori dengan senyuman yang terlihat di wajahnya.


"Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Chloe dengan tubuhnya yang seketika berubah bentuk menjadi air.


Naori sedikit terkejut seraya bergumam "Clone!"


"Yah~ karena itu pesan kak Chloe lewat Clone miliknya maka aku akan menurutinya berlatih di bawah bimbingan ..." ucap Naori terpotong karena ia berjalan sebentar mendekati pak Seisen lalu melanjutkan perkataannya "pak tua ini"


<--Kembali ke kejadian sekarang-->


"Fuuuu ... Huff"


Ting!


[Skill Breath of Nature telah di dapatkan]


"Baiklah, dengan ini sudah cukup, ayo ke latihan selanjutnya pak tua!" ucap Naori.


"Hah? apa yang kau katakan? beraninya bocah ini ..." ucap pak Seisen sambil mencengkram kepala Naori dengan kuat.


"Aduh-duh, lepaskan pak tua! kalau tidak aku akan mengadukanmu ke kak Chloe" ucap Naori mengancam pak Seisen.


"Cih, ... aku benar-benar sial harus melatih bocah ini" gumam pak Seisen yang berjalan pergi dari tempat itu.


"Aku bisa mendengarmu pak tua!" teriak Naori dengan kesal.


"Diamlah dan ikuti aku! kali ini aku akan melatihmu bagaimana caranya membuat postur tubuhmu stabil" ucap pak Seisen dengan nada yang terasa meyakinkan.


Naori menunjukkan raut wajah serius lalu berdiri mengikuti pak Seisen, Naori pun di bawa ke gedung, ia sedikit heran, bukankah jika ingin berlatih harus berada di lapangan, kenapa pak Seisen membawanya ke dalam gedung, hal itu membuat Naori terus berpikir saat dirinya mengikuti pak Seisen ke sebuah tempat dengan menggunakan tangga yang menuju langsung ke bawah tanah, Naori sedikir khawatir, soalnya tangga itu semakin lama semakin gelap tanpa adanya cahaya.


Hingga akhirnya Naori tiba di sebuah tempat di ujung tangga menuju ke bawah tanah yang pak Seisen dan Naori lewati, di balik ujung tangga, terdapat cahaya yang begitu terang dengan pintu tembok yang berlubang tanpa pintu, pao Seisen pun langsung berjalan ke sana, Naori mengikuti dari belakang dan melihat sebuah ruangan putih dengan cahaya yang begitu terang, padahal tempat itu bahkan tidak memiliki lampu, namun memiliki sebuah Magic Stone berwarna putih yang memancarkan cahaya sebagai ganti lampu, Naori sedikit penasaran jadia ia mencoba menyentuh Magic Stone dengan jarinya.


Boom!


Magic Stone itu pecah dan membuat Naori terkejut hingga tanpa sadar tubuhnya mundur ke belakang.


"Jangan sentuh itu nak, kita di sini untuk berlatih" ucap pak Seisen menoleh kepada Naori melihat tingkah Naori yang memecahkan Magic Stone.


"Baiklah" ucap Naori dengan nada rendah karena merasa bersalah telah memecahkan Magic stone itu.


Naori mengikuti arahan pak Seisen, ia berjalan dan berhenti di dalam garis lingkaran berwarna hitam setelah memasuki bagian dalam garis itu, melihat Naori telah masuk, pak Seisen langsung pergi kembali ke tangga dan menekan tombol merah yang sebelumnya tidak ada, Naori sedikit waspada.


Seketika tubuh Naori menjadi sangat berat setelah pak Seisen menekan tombol itu hingga tubuhnya jatuh tanpa bisa bergerak, pak Seisen pun berkata "selamat berlatih nak" ucap pak Seisen pergi dan menaiki tangga ke atas untuk kembali ke permukaan.


Naori kesal, bagaimana bisa pak Seisen meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan penjelasan, hingga akhirnya Naori menyimpulkan sesuatu, tubuhnya yang menjadi berat karena tekana yang menekannya ke bawah, Naori memikirkan sesuatu lalu berkata tanpa sadar dengan berkata "Gravitasi!?"


"Eugh, ... tekanannya semakin lama semakin kuat, ... aku bahkan tidak bisa menggerakkan satu jariku ... aku, ... kesulitan bernafas" ucap Naori terpotong-potong karena seluruh tubuhnya di tekan ke bawah.


"Fuuuu ... Huff, Fuuuu ... Huff" Naori mempraktikkan kembali teknik pernafasan yang pak Seisen ajarkan padanya lalu mencoba bangun dengan membuat kedua tangannya sebagai penyangga atau penahan.


"Sialan, Gravitasi ya ... jangan pikir hanya dengan tekanan seperti ini bisa menghentikanku berkembang!" teriak Naori.


Naori pun bangun dengan kedua kakinya yang menekuk untuk menahan tekanan Gravitasi yang begitu kuat, Naori tidak patah semangat, bahkan teladnya semakin kuat setelah di masukkan ke dalam ruangan dengan Gravitasi yang berlipat ganda tanpa penjelasan.


Waktu terus berjalan, setelah sekian lama Naori akhirnya mampu bertahan dan berdiri di ruangan itu dengan stabil, namun tubuhnya masih gemetaran, seluruh tubuh Naori benar-benar di tekan sampai titik maksimal di mana tubuhnya benar-benar kesulitan untuk berdiri, bahkan bernafas saja masih sulit.


Latihan itu berlangsung satu hari, setelah waktu yang lama pak Seisen pun turun ke bawah untuk melihat Naori, di ruangan itu pak Seisen melihat Naori yang terbaring karena tidak bisa berdiri, pak Seisen pun berteriak "Ada apa nak? apa kau tidak sanggup berdiri!?"


Naori pun melihat pak Seisen dan mulai duduk bersila, 'apa yang kau katakan pak tua?"


Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!


Di telinga Naori hanya terdengar suara system yang berdengung di kepalanya berkali-kali tanpa jeda waktu, karena itulah ia tidak mendnegar perkataan pak Seisen.


"Apa ... ternyata bocah ini hanya bisa duduk, aku rasa harus meninggal bocah ini lebih lama lagi" ucap pak Seisen kembali pergi meninggalkan Naori.


Naori yang melihat pak Seisen kembali pergi malah heran seraya berkata "Apa yang sebenarnya pak tua ini lakukan?"


Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!


"Ugh, berisik sekali" ucap Naori menutup kedua telinganya untuk mengurangi suara notifikasi system yang terus berbunyi/ngespam.


"Alter, apa kau tidak bisa menghentikan ini?" tanya Naori.


Naori pun membaringkan tubuhnya kembali dengan kedua tangannya yang masih menutupi kedua telinga.


[Maaf Master, tapi System Dimensi telah mendeteksi kalau sedang terjadi peningjatan pesat pada statistik anda]


"Aahhh sial! telingaku rasanya mau pecah" teriak Naori mengeluh mendengar notifikasi system yang masih terus berbunyi, entah sampai kapan suara itu akan berhenti, hal itu sudah berlalu sejak setengah hari yang lalu saat Naori mampu berdiri sepenuhnya di Gravitasi yang menekannya.


"Sial! hentikan ini!" teriak Naori sekali lagi.


"Memangnya kenapa kalau statistik Strenghtku meningkat pesat!? setidaknya matikan notifikasi ini!"


Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!


[Statistik Strenght telah meningkat 1 poin]


[Statistik Strenght telah meningkat 1 poin]


[Statistik Strenght telah meningkat 1 poin]


[Statistik Strenght telah meningkat 1 poin]


[Statistik Strenght telah meningkat 1 poin]


....


"Hentikan!!!"


Naori pun terus berteriak "hentikan-hentikan" sampai pikirannya menjadi stres karena suara itu membuat telinganya menjadi sangat sakit mendengar suara itu selama berjam-jam tanpa henti.


Advanced In the Next Chapter~