
Dimulainya Penyiksaan Leona
Beberapa saat kemudian setelah Naori merasakan dengan Teknik Feeling bahwa Leona sudah selesai makan, ia pun turun ke bawah dan masuk ke dalam rumah.
Leona terkejut dan bersikap malu setelah dirinya ketahuan memakan makanan yang di suguhkan Naori, lalu Naori mengambil semua piring kotor itu dan membawanya ke dapur, Leona hanya duduk diam dan melihat sosok Naori.
Seseorang yang telah nembunuh ayahnya dan menghancurkan seluruh keluarganya, ia berpikir bagaimana cara untuk membunuhnya, hingga akhirnya sebuah cara terpikirkan olehnya karena pisau yang ia punya sebelumnya menghilang entah kemana.
Sudah beberapa waktu berlalu sejak mereka ada di Distorsi ruang, Naori tertidur di sebuah kamar yang ada di rumah tua itu, terlihat sosok bayangan Leona dari luar kamar, ia membawa sebuah kayu besar dengan ujung yang lancip di tangannya lalu memukulkan kayu itu ke arah Naori yang sedang tidur.
Brak!
Kayu itu hancur dengan tangan Naori yang menembus kayu itu, Naori bereaksi setelah ia merasakan adanya serangan dan menghentikan serangan itu, mata Naori masih terpejam dan belum membuka matanya karena ia masih tidur dengan nyenyak.
Leona mundur, ia berpikir bagaimana caranya bergerak dalam kondisi tidur, Leona pun bergegas pergi keluar dan berjongkok menundukkan kepalanya karena kecewa setelah rencananya gagal, "Kali ini aku pasti akan di bunuh olehnya" gumam Leona.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Naori bangun dan menyadari tangannya terjebak di dalam bongkahan kayu, Naori pun berkata "Leona" dan segera melepaskan tangannya yang terjebak di bongkahan kayu lalu pergi keluar untuk mencari Leona.
Di luar Naori menyadari Leona yang tidur bersandar di tembok dengan sebagian rambut yang menutupi pipinya membuat wajah Leona begitu cantik, Naori pun berkata "Cantik" tanpa sadar lalu menutup mulutnya.
"Mungkin aku berkata tanpa sadar mengingat rencana yang ingin aku lakukan, jadi setidaknya aku akan menghilangkan rasa benciku padanya dan membuka hati untuknya"
Naori melompat ke atas atap dan berkata "Alter ..."
[Master, apa anda tidak bosan meminum kopi setiap hari?]
Sebuah minuman kaleng rasa kopi pun muncul di tangan Naori, suara cess terdengar lalu Naori meneguknya satu kali tegukan dan berkata "Kau tau Alter, sejak terkena Narcolepsy dan sering tidur, aku ingin sekali minum kopi agar aku tidak mengantuk"
"Namun usaha itu sia-sia, efeknya akan tetap ada meskipun aku meminum banyak sekali minuman kopi"
"Karena itulah, setelah aku bebas dari efek Narcolepsy, aku ingin meminum kopi sebanyak yang aku inginkan agar aku hanya tidur beberapa jam dalam sehari" jawab Naori
Naori menghabiskan kopi itu secara perlahan sambil mengobrol dengan Alter, selama ini mereka sudah tidak mengobrol bersama dan hanya berbicara dengan singkat karena adanya efek Narcolepsy yang selalu membuat Naori tertidur.
Ekspresi Naori bahagia saat mengobrol dengan Alter, ia tidak bisa membuat raut wajah bahagia dengan begitu alami sebelumnya, Alter yang menyadari hal itu hanya diam dan tidak membahasnya karena mengingat balas dendam Naori belum selesai sepenuhnya.
"Hahaha kau ingat Alter? karena efek Narcolepsy aku hampir saja terbunuh saat terbang menyusul kereta waktu ingin ke Ibukota" ucap Naori tertawa riang
[Untung saja saya mampu menahan efeknya]
"Yah~ jika tidak aku mungkin sudah nati sekarang, dan entah kenapa mengingat kejadian-kejadian sebelumnya, itu membuatku tertawa tanpa berpikir lagi"
"Keluarga Arnolt sudah hancur, dan masalah akhirnya selesai, namun aku masih begitu sedih" ucap Naori menunduk melihat tangannya yang mengepal.
"Andai saja aku memiliki kekuatan ini di waktu itu, apakah aku mampu menyelamatkan ibu?" ucap Naori mendongak ke atas dan melihat dinding-dinding hitam yang mengelilingi tempat itu dan berkata sekali lagi "Aku harap apa yang di bilang Paman Trista itu hanyalah kebohongan"
Duk! Duk! Duk!
Suara pukulan Leona terdengar begitu keras, Naori tersenyum melihat hal itu lalu berkata "Apa yang kau lakukan?"
Leona terkejut, ia berbalik dan mencari asal suara Naori lalu mendongak ke atas dan melihat Naori duduk santai dengan minuman kaleng yang ia pegang di tangannya, Leona menatap Naori dengan tajam, namun yang ia tatap bukan Naori, melainkan minuman kaleng yang ia pegang, Naori meminum satu tegukan di ikuti dengan mata Leona yang bergerak mengikuti kaleng minuman.
Naori tersenyum kecil dan langsung menghabiskan kaleng minuman itu sekaligus lalu membuang kalengnya ke bawah dan segera berbaring di atap mengabaikan Leona.
Tuk! Tuk!
Suara kaleng minuman jatuh ke bawah, Leona memalingkan wajahnya dan berjalan ke dalam rumah, lalu ia pun keluar lagi secara diam-diam dan menghampiri kaleng minuman yang di buang Naori lalu memeriksanya, Leona membalikkan kaleng itu hingga beberapa tetes air menetes dan meminumnya, Leona langsung meletakkan kaleng itu lagi setelah selesai dan kembali ke dalam rumah.
Di atas atap Naori mulai tersenyum, "Sudah delapan jam terlewat sejak aku tidur ya" ucap Naori melihat layar panel system di pojok kanan atas yang selalu menunjukkan waktu yang sedang berjalan.
"Yah~ neraka itu akan menghampirinya, aku tidak bisa melepaskan rasa benci ku padanya begitu saja, karena itulah ... aku akan menyiksamu dengan siksaan paling ringan yang bisa aku pikirkan, Leona!"
Satu hari telah berlalu, Naori terus berada di atas atap rumah dengan memakan berbagai camilan serta menghabiskan waktunya, sedangkan di dalam rumah, Leona berbaring lemas karena tidak menemukan makanan maupun air untuk memenuhi asupan tubuhnya.
Leona pun bangun dari kasurnya dan berjalan keluar, sesampainya di luar rumah ia di kejutkan dengan beberapa bungkus keripik kentang yang di remas-remas dan kaleng minuman rasa kopi yang berserakan di samping rumah.
Leona terdiam sesaat setelah berjalan ke depan lalu berbalik dan melihat Naori yang sedang menikmati keripik kentang di atas sana dengan minuman kaleng yang ada di sampingnya, Leona menggertakkan giginya melihat Naori yang mengambil semua makanan untuk dirinya sendiri.
Naori menyadari keberadaan Leona dari tadi namun terus berpura-pura dan menghabiskan makanannya dengan cepat lalu membuangnya bungkusnya ke bawah, Naori pun bangun dan melihat Leona yang menatapnya dari bawah dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kau ..." Leona menggengam tangannya lalu berkata sekali lagi "berikan aku beberapa bungkus keripik kentang dan minuman!" perintah Leona.
"Kenapa juga aku harus memberikannya?" tanya Naori dengan senyum yang menyeringai di wajahnya.
Leona menggertakkan giginya sekali lagi dan berjalan ke dekat pintu lalu bersandar dan secara perlahan mulai duduk dengan wajahnya yang murung karena kelaparan.
Naori turun dari atap membawa satu kaleng minuman yang sudah terbuka dan berjalan mendekat di tempat Leona duduk, ia pun menumpahkan air dari kaleng itu seraya berkata "Jika kau mau menuruti semua kenginginanku maka aku akan memberikanmu makanan dan minuman sebanyak yang kau minta"
"Tsk" Leona mendecakkan lidahnya seraya berkata "Jangan harap aku akan melakukan itu"
Naori hanya melihat Leona dengan wajah datar dan segera menggaruk-garuk kepalanya, "Terserah kau saja" ucap Naori sambil melompat dan kembali ke atap.
Mata Leona langsung melihat tanah yang di basahi air dari kaleng yang Naori tumpahkan, Leona berpikir sejenak lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata "Bagaimana mungkin aku menyerahkan hidupku pada pria yang sudah membunuh ayahku?"
Advanced in The Next Chapter~