
Sayatan pisau!
"Kaori!" Teriak Naori yang terkejut dan langsung mendekati Kaori.
"Bagaimana bisa?" tanya Naori dengan panik.
"Aku mencoba memotong dagingnya menjadi lebih kecil, tapi pisaunya tidak sengaja mengenai jariku" ucap Kaori menjelaskan.
"Hah ... kurasa sebaiknya kamu duduk saja di sofa dan menunggu" Ucap Naori sambil menghela nafasnya.
"Tidak, aku mau membantu kakak memasak" ucap Kaori dengan memaksa.
"Baiklah, tapi lain kali hati-hati! pisau ini sangat tajam" ucap Naori memberi peringatan kepada adiknya.
Lalu Naori berjalan mendekati sebuah kotak kecil bertuliskan P3K yang di pasang di dinding dekat dengan Televisi.
Naori membuka kotak itu dan mengambil sebuah perban dan sebuah tisu, lalu ia pun kembali ke hadapan Kaori dengan perban dan tisu yang baru saja dia ambil dari kotak itu.
"Mana jarimu yang terluka!? kakak akan memasangkan perban" perintah Naori.
"Ini kak" ucap Kaori menunjukkan jarinya yang terluka akibat pisau itu.
"Lukanya lumayan besar juga" ucap Naori.
Lalu Naori menarik tangan adiknya itu dan membasahi tangannya.
"Uhh* itu sakit kak" ucap Kaori merintih kesakitan
"Tahan sebentar! aku akan membersihkannya sebelum memasang perban" ucap Naori yang membersihkan jari adiknya yang terluka menggunakan sebuah tisu.
"Kita harus mencegah kalau saja terjadi infeksi" gumam Naori.
"Baiklah sudah bersih", Lalu Naori menyiapkan perbannya dan berkata sekali lagi "Tahan! ini tidak akan sakit"
"Eemmm" Kaori hanya mengangguk
Lalu Naori melilitkan perban di jari Kaori yang terluka dengan pelan dan hati-hati karena takut Kaori akan merintih kesakitan lagi.
Setelah selesai memasangkan perban pada jari adiknya yang terluka itu Naori bertanya, "Apa sudah lebih baik?"
"Iya kak, ini sudah tidak sakit" jawab Kaori.
"Masih bisa memotong daging kan?"
"Bisa kak, aku akan berhati-hati" ucap Kaori dengan wajah serius.
"Baiklah, karena sepertinya airnya sudah hampir matang masukkan daging itu ke dalam panci saat sudah selesai di potong!"
"Baik" jawab Kaori menurut
"Bawang, lalu garam dan beberapa lainnya masih belum siap" gumam Naori.
Naori yang mengatakan itu langsung menyiapkan bumbu yang digunakan untuk membuat sup, seperti memotong bawang serta beberapa sayuran sebagai tambahan dalam membuat sup, menyiapkan garam dan beberapa hal lainnya.
"Kaori, apa kau sudah selesai memotong daging?" tanya Naori yang masih fokus menyiapkan bumbu masakannya.
"Sudah kak, akan segera aku masukkan ke panci" jawab Kaori.
Hup*
Kaori meletakkan semua daging yang sudah di potong kecil-kecil ke dalam panci itu.
"Panas" ucap Kaori tanpa sadar karena tangannya terkena uap dari air yang di masak itu.
Lalu Naori memasukkan beberapa bumbu dan sayuran yang sudah di siapkan dan mengaduknya secara perlahan.
Setelah beberapa lama Naori mengambil sedikit sup itu menggunakan sendok dan mencicipinya, "rasanya sudah pas lalu untuk sisanya tinggal menunggu sup ini matang"
Lalu lampu indikator di oven menyala yang menandakan bahwa daging yang di panggang sudah matang.
Lalu Naori mengambil sarung tangan dan memakainya, membuka ovennya lalu mengambil daging yang di panggang itu.
Sniff* Sniff*
"Kak, baunya enak" ucap Kaori sambil mencium bau dari daging itu.
Lalu Naori menusuk daging itu satu per satu menggunakan tusukan sate dan membaginya menjadi beberapa tusuk sate dan meletakkannya di 1 piring.
Sniff* Sniff*
"Baunya sudah harum" ucap Naori mencium bau yang wangi dari sup yang di masaknya, Naori mematikan kompornya dan membawa panci itu menggunakan sarung tangan yang dia pakai saat mengangkat daging dari oven.
Hidangannya sudah siap dan keduanya menyiapkan makanan di meja makan yang ada di ruangan itu
"Kak, aku rasa ada yang kurang" ucap Kaori dengan khawatir
"Yah~ karena kakak fokus mengajarimu memasak dan karena panik tadi, kakak lupa menyiapkan nasi" ucap Naori dengan canggung saat membalas perkataan adiknya.
"Sial, padahal aku sudah menunjukkan sisi kerenku pada adik ku, kenapa malah ada kejadian seperti ini" batin Naori.
"Tidak apa-apa kak, ayo siapkan nasi! kita bisa menunggu nasinya matang dengan memakan keripik kentang yang kakak belikan tadi" ajak Kaori yang mengajukan saran kepada kakaknya.
"Hah ... baiklah, kurasa kita harus menunggu sedikit lebih lama untuk makan" ucap Naori pasrah terhadap keadaan.
Lalu Naori menyiapkan nasi di rice cooker dan menunggu bersama Kaori dengan memakan Keripik kentang dan menonton Televisi.
"Kak, berapa banyak koin yang kau hasilkan hari ini?" tanya Kaori dengan penasaran.
"Eemmm ..." Naori menunda untuk memberikan jawaban, bukan karena tidak mau memberitahu tapi karena mulutnya yang penuh dengan keripik kentang membuatnya tidak bisa berbicara.
"... Kurasa sekitar 30 Koin Gold" ucap Naori sambil tersenyum.
"Banyak sekali, pekerjaan seperti apa yang kau lakukan kak? apa itu melelahkan?" tanya Kaori yang menanyakan keadaan kakaknya dengan ekspresi cemas.
"Kakak tidak bisa memberitahu rincinya, tapi ... itu sangat melelahkan" jawab Naori.
"Apa kakak akan bekerja lagi besok?" tanya Kaori untuk memastikan.
"Kurasa tidak, lagipula besok kakak harus ke sekolah kan?" jawab Naori
"Ohh iya, apa kakak boleh masuk lagi ke Kapsul Server World?" tanya Naori dengan mata yamg berbinar-binar.
"Ehh kakak ingin masuk lagi?" ucap Naori bertanya balik
"Iya" ucapnya singkat.
"Lagipula Segawa tidak ada jadi, tidak akan ada yang menghentikanku untuk masuk ke Server World" ucap Naori di dalam hatinya.
"Bagaimana kalau besok sore?" ucap Naori memberi saran untuk memasuki Server World.
"Waktu yang bagus kak, tapi kita harus makan dulu sebelum masuk" ujar Kaori.
"Baiklah, besok kita beli makanan saja di luar" ucap Naori.
Kaori mengangguk dan menurut dengan ekspresi ceria dan berkata "Besok akan aku ajari bagaimana caranya mengendalikan Magic Power kak"
"Memangnya kau sudah bisa melakukannya?" tanya Naori dengan ragu.
"sudah kok, kak Segawa yang mengajariku" jawab Kaori.
"Baiklah, kakak menantikannya"
Saking lamanya percakapan yang di lalukan kedua kakak beradik itu, tanpa mereka sadari nasi yang dimasak di Rice Cooker sudah matang.
"Sepertinya Nasinya sudah matang, ayo segera makan! perutmu pasti sudah lapar kan?" ajak Naori mengajak adiknya untuk segera makan.
"Ayo kak, aku sudah sangat lapar sejak tadi" ucap Kaori yang menanggapi ajakan kakanya untuk segera makan.
Hap*
"Uummm panas" ucap Kaori sambil mengipasi mulutnya yang kepanasan menggunakan tangan.
"Pelan-pelan saja, makanannya masih banyak" ucap Naori yang mengambil beberapa tusuk sate dan memakannya.
"Kak, ini enak" ucap Kaori yang memakan makanannya kembali dengan lahap.
"Aku senang dia mampu ceria kembali setelah kepergian ibu, mungkin hanya aku yang tidak bisa melepaskan kepergiannya" batin Naori.
"Keluarga Arnolt, aku akan segera mencari tau insiden ibu dan membalas semua perbuatan kalian!" ucapnya menundukkan kepalanya karena takut adiknya melihat ekspresinya.
To be Contiuned*