Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 108



Penyiksaan Leona


Beberapa jam kemudian, Leona tergeletak lemas karena sudah seharian tidak makan, Naori terus mengabaikannya dengan melihat-lihat layar panel System lalu membeli beberapa item menggunakan Point Statnya dan menaikkan beberapa Statistik miliknya yang masih rendah.


Beberapa jam berlalu lagi, Naori pun turun ke bawah dengan membawa sepotong roti kecil dan mendekat ke Leona, Naori mencengkram wajah Leona dan memasukkan roti itu dengan paksa ke dalam mulutnya.


"Uuumm!"


Leona meronta-ronta dan menggengam tangan Naori yang memasukkan roti ke dalam mulutnya, tanpa sadar Leona mengunyah roti yang di masukkan di mulutnya karena menuruti keinginan nalurinya, Leona langsung melepaskan tangan Naori karena menyadari mulutnya mengunyah roti tanpa sadar.


Naori tersenyum melihat hal itu dan berkata "Apa kau begitu kelaparan? bahkan roti bekas sisa dari mulutku pun kau makan dengan lahap"


Leona terkejut mendengar perkataan Naori dan langsung memukul perutnya dengan keras lalu memuntahkan roti yang baru saja ia makan, namun Leona tidak bisa memuntahkannya karena ia sudah menelannya, Naori bereaksi dan menendang perut Leona sehingga ia mampu memuntahkan roti yang baru saja ia makan.


Akh*


"Blerg"


Leona memegang perutnya yang kesakitan dengan memuntahkan roti yang ia makan, tidak sampai di situ saja, ia bahkan memuntahkan sebuah cairan warna kuning dari dalam perutnya yang di selimuti dengan air liurnya yang begitu banyak.


"Uhuk Uhuk ..." Leona batuk dan mencoba menghentikan rasa sakit yang ada di perutnya dengan memuntahkan semuanya, kemudian Naori berjongkok dan melihat Leona dengan tatapan puas lalu menarik rambut Leona dan mengarahkan wajah Leona untuk berhadapan dengan wajahnya.


Air liur Leona masih mengalir dari mulutnya setelah memuntahkan cairan kuning, "Aku rasa cairan empedunya sudah keluar" ucap Naori melepaskan rambut Leona dan kembali berdiri.


Naori melemparkan satu bungkus roti di depan Leona seraya berkata "Makan itu! Cairan empedumu keluar karena kau sudah tidak makan seharian ini"


Naori pun melompat dan kembali ke atap, sesampainya di atap ia pun bergumam "Mungkin saja kondisi pikirannya yang membuat Cairan empedunya keluar lebih cepat, aku tidak menyangka aku mampu membuatnya mengeluarkan cairan empedu hanya dalam sehari, saluran pencernaannya lemah sekali"


"Yah~ siapa juga yang tidak frustasi jika terjebak di dalam rumah sempit bersama orang yang dia benci" ucap Naori.


Hap* Hap*


Di bawah, Leona memakan habis roti itu dengan lahap lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah, ia ke dapur dan mencari air untuk di minum, sayang sekali tindakannya tidak bisa membohongi pikirannya, beberapa jam yang lalu Leona sudah mencari air di dapur namun tidak ketemu,


"Air ... Air ..." ucap Leona seperti orang yang hampir mati karena mencari air.


Karena sudah menyerah, Leona pun membaringkan dirinya ke kasur dan berpikir dengan tenang, "Apa aku minta air ke dia saja ya"


Leona menggeleng-gelengkan kepalanya dengan berkata "Tidak-tidak, apa yang kau pikirkan Leona, meskipun harus mati aku tidak bisa bergantung pada pria sepertinya"


Naori turun ke bawah lalu masuk ke dalam rumah dan melihat Leona yang terbaring lemas dengan bergumam "Air ... Air"


Naori ke dapur dan mengambil sebuah kain lalu membasahinya dengan air, Naori berjalan mendekat ke Leona dan menaruh kain itu untuk mengompres suhu badannya yang naik, merasakan adanya air pada kain itu Leona langsung terbangun lalu mengambil kain itu dan hampir memakannya, tindakannya di hentikan Naori hingga berakhir jari Naori di gigit oleh Leona.


Leona menyadari hal itu kemudian melepaskan gigitannya dan memalingkan wajahnya, "kau tidak ingin di kompres ya?" tanya Naori dengan wajah kesal.


Tidak ada jawaban, Leona mengabaikan Naori dengan memalingkan wajahnya dengan sikap yang dingin, namun sebenarnya wajah Leona memerah, ia begitu malu sehingga memalingkan wajahnya dari Naori karena kejadian yang baru saja terjadi.


Naori mengeluarkan sebuah obat dan gelas berisi air seraya berkata "minum obat ini! aku tidak tahan melihat kondisi tubuhmu yang sepertinya akan segera sakit" ucap Naori kemudian berdiri dan meninggalkan Leona di kamar itu, sesaat setelah Naori pergi, Leona langsung menyambar obat dan gelas itu lalu meminum semuanya sekaligus, segera setelah meminumnya ia pun berkata "Aahhh" dengan raut wajah puas.


Selesai minum Leona pun melihat kain yang di basahi Naori lalu mengambilnya dengan ekspresi tersenyum, "Apa pria ini juga punya hati? tetapi kenapa dia menghancurkan keluargaku" ucap Leona seraya membaringkan tubuhnya di kasur lagi dan mengompres dirinya sendiri menggunakan kain itu.


"Lagipula kenapa? ... kenapa aku harus terjebak di dunia entah di mana ini bersama dengannya? apa aku harus hidup bersamanya seumur hidupku?"


"Aku harap aku bisa keluar" ucap Leona kembali memejamkan matanya agar segera tidur untuk mengurangi rasa sakit di perutnya akibat kelaparan yang ia derita seharian ini.


Di atas atap Naori duduk bersila sambil memejamkan matanya untuk berlatih teknik Feeling yang ia pelajari dari Chloe untuk membuatnya menjadi lebih terbiasa menggunakan teknik itu, "Huff ..." Naori membuang nafasnya kemudian kembali menarik nafas panjang lalu membuangnya kembali.


Magic Powernya menyelimuti seluruh tempat itu, kemudian Naori memanggil beberapa Soul Knight untuk berdiri di ujung dari tempat itu dan diam di situ untuk membantu Naori berlatih teknik Feeling.


"Soul Knight, Bergerak!"


Beberapa Soul Knight berlari memutari tempat itu, ada yang berjalan dan ada juga yang masih diam, Naori menunjukkan ekspresi kesulitan, ia merasakan beberapa cahaya putih yang bergerak di bawah, ada yang bergerak lambat, ada juga yang diam.


Setelah menyetabilkan teknik Feelingnya, ia mencoba membuat beberapa Magic Ball yang terbuat dari elemen air lalu menembakkannya pada para Soul Knight!


Pyar! Pyar! Pyar!


Semua tembakan Naori meleset dan mengenai tanah, raut wajah Naori berubah, raut wajahnya menunjukkan kalau dia kelelahan, dan bukan hanya itu saja keringatnya mulai menetes dari dahinya menetes ke bawah.


Karena terus-terusan menembak Soul Knight dengan menggunakan teknik Feeling, Naori akhirnya mengenai salah satu Soul Knight yang sedang berjalan, ia pun membuka matanya seraya berkata "Kena!"


Naori menyeka keringatnya dan membuang nafas panjang, "Fiuh ... aku benar-benar harus melatih teknik ini dengan sempurna, di dalam pertempuran saat aku tidak bisa menggunakan mata, teknik ini akan menjadi andalan yang akan selalu membantuku menghadapi musuh"


"Jadi, aku rasa untuk menghabiskan waktu selama di sini, aku tidak boleh bermalas-malasan kan" ucap Naori melihat Soul Knight miliknya yang mulai bergerak kembali dan ia pun menutup matanya untuk berlatih teknik Feelingnya lagi.


Advanced in The next Chapter~