
Niat Sebenarnya Leona
Di tengah malam sesaat setelah misi harian dari Leveling System telah selesai dari penangguhannya, Naori langsung mengerjakan misi harian di mulai dari yang pertama Push Up sampai pada lari 10 KM.
Naori berlari begitu jauh sampai di sebuah komplek perumahan yang pernah ia kunjunhi, lalu dari seberang jalan terlihat sosok Kiyoshi yang sebenarnya adalah Chaos Kight yang menyamar melambaikan tangannya, lalu ia pun menyebrang jalan untuk menghampiri Naori dengan berkata "Master, apa yang anda lakukan di sini?"
"Aku hanga jalan-jalan Chaos, ... kau tau di mana Starlight dan Priestess? aku ingin tau di mana keberadaan Sparta" tanya Naori.
"Starlight dan Priestess menyamar dan masuk ke dalam organisasi Murder untuk mencari informasi, sedangkan saya bertugas di sini jika saja Master membutuhkan bantuan sebagai Kiyoshi seperti yang telah anda minta" ucap Chaos me jelaskan dengan menundukkan tubuhnya saat berbicara.
"begitu ya, kalau begitu aku akan pulang dulu Chaos, aku harus mempersiapkan diri kembali ke Ibukota" ucap Naori meninggalkan Chaos knight yang menunduk di sana.
"Selamat jalan Master, kami akan menjalankan tugas yang anda berikan dengan baik" ucap Chaos memberikan sebuah perkataan jaminan keberhasilan misi.
"Aku lupa satu hal, sembilan puluh jam lagi kalian bisa berburu Bahemoth untuk membantuku bertambah kuat" ucap Naori meninggalkan perkataan terakhir sebelum benar-benar pergi dari sana meninggalkan Chaos Knight.
"Baik Master, saya akan mengingatnya dan memberikan informasi ini pada Starlight dan Priestess" jawab Chaos.
Naori pun pergi, ia mendengar perkataan Chaos dan puas dengan hal itu, hanya saja ia merasa tidak enak, sudah sangat lama ia menyuruh ketiganya bekerja tanpa beristirahat, ia sendiri bahkan tidak pernah memberikan sebuah pujian lagi untuk memotivasi keyiga Knight miliknya hingga akhirnya Naori terpikirkan sesuatu dengan berkata "mungkin kapan-kapan aku harus memberikan mereka hadiah atas kerja keras yang telah mereka lakukan"
<--Setibanya di rumah-->
Naori langsung masuk ke dalam rumah dengan membuka pintu rumah yang tidak di kunci, Naori melihat ruangan tamu, ia melihat sosok Leona sedang menonton Televisi bersama dengan Kaori yang tidur di pangkuannya, Naori berjalan mendekat seraya berkata "Kaori sudah tidur?"
"Iya~ Kaori menunggumu" jawab Leona sembari mengelus rambut Kaori.
"Sepertinya kalian sudah akrab ya?"
"Mau bagaimana lagi kan? Kaori mengira kalau aku benar-benar pacarmu" ucap Leona dengan ekspresi datar mengingat tulisan di kertas yang pernah Naori tuliskan saat mengantar dirinya ke rumah ini pertama kali.
"Yah~ itu hanya alasan agar Kaori menerimamu, tapi ... Itu aneh Leona, sikapmu berubah ... apa yang membuatmu hingga seperti ini?" ucap Naori dengan raut wajah mengerikan.
"Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang aku lihat ini?" jawab Leona membalas Naori dengan membuat raut wajah mengerikan yang di tunjukkan oleh Naori kepadanya.
"Apa Skill Fate of Blessing mempengaruhinya? kenapa dia menurut padaku? aku rasa penyiksaan rasa lapar selama dua minggu tidak mungkin mencuci otaknya untuk bergantung padaku kan?" batin Naori.
"Ini benar-benar begitu aneh, Yah~ aku tidak peduli, asalkan dia memakai kalung itu, seluruh jiwa dan tubuh miliknya ada di dalam kendaliku" batin Naori melirik Leona dengan tajam.
Leona yang menyadari Naori meliriknya dengan tajam langsung mendekap tubuhnya sendiri dan memalingkannya ke samping seraya berkata "Mesum, apa yang kau lihat?"
"Kau pikir aku tertarik padamu?" ucap Naori dengan wajah meremehkan.
"Ohh kau tidak tertarik? padahal aku akan melakukannya jika saja kau menyuruhku, lagipula aku berada di dalam kendalimu kan?" ucap Leona menjawab perkataan Naori.
"Kalau begitu ayo lakukan! "
Leona langsung merubah wajahnya dengan cepat menjadi tatapan jijik seraya berkata "Apa hanya ada pikiran kotor di kepalamu? jangan kira hanya karena sudah mengendalikanku kau bisa melakukan semuanya, aku sudah memiliki kelemahanmu!"
"Aahhh kau mengincar Kaori? jangan harap bisa melakukan itu" ucap Naori mengcengkram tangan Leona lalu mengangkatnya ke atas dengan berkata sekali lagi "Meskipun begitu, Kau tidak akan bisa melakukannya karena aku akan membuatmu mati sebelum niat burukmu pada Kaori muncul" ucap Naori sembari memancarkan Killing Intent.
"Ba-Baiklah-baiklah, kau menang, lagipula aku tidak berniat melakukan itu, asalkan kau memberiku rumah dan makanan, aku akan selalu menurut, bahkan jika kau menyuruhku melakukannya ..." ucap Leona terpotong.
Naori melepaskan cengkraman tangannya pada Leona lalu membangunkan Kaori yang ada di pangkuan Leona dengan berkata "Kaori, kakak tau kau sudah bangun" ucap Naori sembari mencubit pipi adiknya.
"Aduh-duh, kak lepaskan! ini sakit" ucap Kaori yang bangun lalu memegang tangan Naori yang mencuvit pipinya agar tangan kakaknya itu melepaskannya.
Naori pun melepaskan cubitan pipi Kaori lalu menyeret Kaori untuk pindah dari pangkuan Leona ke sofa di sampingnya seraya berkata "kesini sebentar" ucap Naori.
Kaori pun duduk di antara Leona dan Naori di tenfah-tengah menghadap ke Naori, Kaori berbicara "Kakak dari mana saja? dan siapa anak kecil itu?" tanya Kaori sambil memegang pipinya yang masih sakit karena di cubit Naori.
Lalu Naori menjepit hidung adiknya itu dengan keras seraya berkata "itu tidak penting, yang terpenting apa kau mendengar permbicaraan kami?" tanya Naori dengan mendekatkan wajahnya ke arah adiknya itu bersamaan dengan Leona.
"A-Aku, ... aku tidak sengaja mendengarnya kak" ucap Kaori menahan nafasnya karena hidungnya swdang di jepit yang memaksanya bernafas menggunakan mulut, Naori melepaskan jepitan hidung Kaori lalu mengelus kepalanya seraya berkata "Tolong jaga Alya, kakak akan pergi tidur, lagipula kakak akan kembali lagi ke Ibukota besok" ucap Naori meninggalkan Kaori dan Leona ke kamarnya.
Sesaat setelah Naori pergi Leona juga ikut beranjak dari tempat duduknya dengan berkata "Kaori, aku tidur dulu ya "
Namun Kaori menghentikan Leona dengan memegang tangannya seraya berkata "Kak Leona tidak boleh tidur dulu" ucap Kaori menyeret Leona kembali duduk di sofa.
"Me-memangnya kenapa?" tanya Leona dengan ekspresi khawatir, di dalam hatinya ia tau kalau sebentar lagi Kaori akan menannyakan berbagai hal padanya.
"Kakak ipar~"
Leona terkejut, soalnya Kaori tiba-tiba saja menyebutnya kakak ipar setelah mendengarkan percakapan dirinya dengan Naori, Leona pun menyela perkataan Kaori dengan berkata "Apa yang kau katakan Kaori? tiba-tiba saja seperti ini?"
"Jangan malu kak, aku mendengar semuanya kok" ucap Kaori dengan senyuman jahat yang terlihat di wajahnya.
"Gawat, apa yang harus aku lakukan?" batin Leona.
"Jadi kakak ipar, apa kalian pernah berciuman?"
"Ha-hal sedalam itu, ... tidak-tidak Kaori, jujur saja kami bahkan bukan seorang pasangan sama sekali, hal itu hanya di lalukan agar kita bisa segera akrab" jawab Leona.
Kaori diam sejenak mendengar perkataan Leona lalu membuka mulutnya secara perlahan dan berbicara "Bukankah kak Leona sudah berada di genggaman kak Naori? apa perkataan yang kak Naori itu bohong?"
"Ti-Tidak juga" jawab Leona memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu kak Leona benar-benar telah menjadi milik kak Naori, secara Teori kak Leona adalah pacar kak Naori" ucap Kaori membenarkan perkataan Naori secara tidak logis.
"Apa benar seperti itu?" batin Leona di dalam hatinya
Kaori pun beranjak dari sofa lalu berjalan pergi dan meninggalkan Leona di sofa seraya berkata "aku tidur dulu kakak ipar~"
"Ba-baiklah" jawab Leona.
....
"Hah~ ... Apa bagus jika terus berjalan seperti ini? mungkin hal ini bagus jika saja Segawa tidak ada" ucap Leona mendongakkan kepakanya ke atas melihat langit-langit rumah.
"Aku akan mendepatkan Naori, bahkan jika harus memgorbankan tubuhku padanya" ucap Leona mengepalkan tangannya dan menetapkan tujuannya itu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dengan berkata sekali lagi "Karena Naori dan aku satu tujuan, Aku akan membalas semua perbuatan paman padamu ... Theodore!"
To be Contiuned*