Magic Blessing In Another World

Magic Blessing In Another World
Chapter 69



Soul Power


Keesokan harinya matahari terbit dengan indah, seperti yang di bilang Naori, dirinya akan berada di atas gedung itu setiap pagi dan melihat Sunrise (Matahari Terbit ).


Hari-hari terus berlanjut, hingga akhirnya Chaos Knight mampu membiasakan dirinya menjadi Kiyoshi dan mampu untuk bersosialisasi pada orang-orang, Naori yang telah yakin untuk mempercayakan peran Kiyoshi pada Chaos Knight pun pergi ke Distrik 18 dan menunggu di gerbang sekolah Arisu.


Terlihat sosok Arisu yang berjalan mendekati gerbang dan menyapa Naori, "Naoya? apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arisu.


"Aku ke sini untuk membatalkan permintaanku kepada kalian dan menggantinya, susah untuk menjelaskannya tapi ... Bertemanlah dengan Kiyoshi dan cari banyak informasi tentang kejadian-kejadian besar yang akan terjadi!"


Lalu Naori mulai pergi dan melambaikan tangannya seraya berkata "Sampaikan perkataanku ke Kiyoko!"


"Baiklah" jawab Arisu singkat dan menggenggam tangannya seraya bergumam "Apa Naoya sudah berhasil mengendalikan Kiyoshi!?"


Hari pun berlalu, malam hari telah tiba, Naori yang bersiap-siap menggunakan jaketnya dan berpakaian serba hitam keluar dari rumah dan berpamitan dengan Kaori.


"Kakak pergi bekerja dulu ya" ucapnya sambil membuka pintu dan berjalan keluar.


"Hati-hati di jalan kak" jawab Kaori yang mengantar kepergian kakaknya dengan melihatnya pergi dari ruang tamu.


Lalu Naori mulai berlari dan segera menyelesaikan misi harian miliknya, selesai melakukannya seperti biasa Naori langsung pergi ke mesin minuman dan membeli kaleng minuman dengan rasa Teh oolong dan duduk di kursi dekat dengan mesin minuman itu.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengan nenek" gumam Naori.


Lalu Naori bangun dan meregangkan tangannya lalu segera berjalan dan pergi dari tempat itu.


Dari kejauhan sosok hitam itu muncul dan melihat Naori pergi seraya berkata "Tidak, aku terlambat" ucapnya melihat Naori yang pergi dengan ekspresi pasrah.


"Dasar pria gendut brengsek! dia membuatku terlambat datang ke sini" ucap sosok itu menggertakkan kakinya ke tanah dengan perasaan kesal.


Di pintu masuk pasar gelap, Naori yang sedang mengintai langsung bergerak dengan cepat dan memukul leher ke dua orang yang menjaga pintu.


Naori merogoh saku mereka satu per satu dan menyentuh dahi mereka, terlihat dari dahi mereka keluar sebuah Chip penyimpanan, lalu Naori mengambil dan menyimpannya di Inventory System seraya berkata "Aku mengingat wajah kalian! ( Chapter 7 ) beraninya mereka masih menarik biaya untuk memasuki pasar gelap" ucap Naori melihat ke dua orang itu dengan tatapan membunuh.


Lalu melihat ada seseorang dari kejauhan yang akan mendekati pintu, Naori langsung berjalan masuk dan meninggalkan ke dua orang yang pingsan itu tergeletak di tanah.


Melihat toko nenek penjual pedang Naori mendekat dan menyapanya, "Nek aku kembali" ucap Naori.


"Cucuku, apa yang kau inginkan kali ini?" tanya nenek itu melihat Naori yang sepertinya membawa barang bagus.


Naori mengeluarkan Magic Stone dan mahkota yang di pakai Bahemoth yang terakhir kali ia bunuh di Gate, "Nek aku ingin menjual Magic Stone ini dan bertanya soal mahkota ini?"


"Hhmmm ... dari mana kau mendapat mahkota ini nak?" ucap Nenek itu yang mengambil dan melihat Mahkota itu dengan tatapan takjub.


"Aku menemukannya di sebuah Gate nek" jawab Naori yang membalas pertanyaan nenek itu.


"Sebuah Artefak!? Nak simpan ini di tempat yang aman! jangan menjualnya padaku" ucap nenek itu yang memberikan mahkota itu kepada Naori dengan paksa agar Naori menyimpannya di tempat yang aman.


"Tapi nek ..." Ucapan Naori terpotong.


"Cepat simpan!" nenek itu berteriak kepada Naori dan memaksanya untuk segera menyimpan mahkota itu.


Naori langsung menyimpannya di Inventory System secara terang-terangan di depan Nenek itu dan segera berbicara panjang lebar mengenai mahkota yang di tunjukkan Naori.


"... Jadi maksud nenek mahkota itu adalah sebuah benda Artefak?"


"Iya dan mungkin sebuah Artefak dengan fungsi yang belum di ketahui"


"Skill Observasiku tidak bekerja, padahal aku berharap nenek bisa mengetahui fungsi dari mahkota ini" Batin Naori.


Lalu Naori berpikir dan melamun sebentar, "kalau begitu aku hanya ingin menjual Magic Stone ini" ucap Naori yang menggeser Magic Stone itu mendekati nenek itu.


"Terima kasih nek, aku harus segera pergi" ucap Naori yang kemudian meninggalkan nenek itu dan pergi ke Distrik Timur pasar gelap.


"Hamka, di mana dia?" ucap Naori mencoba mencari Hamka di tengah-tengah kerumunan orang yang padat di pasar itu.


"Rumah besar itu! ..." Naori langsung berjalan ke arah rumah itu dan segera masuk, namun dirinya di hadang beberapa orang di gerbang masuk oleh orang-orang dengan berotot kekar.


"Minggir! atau kalian akan menyesal" ujar Naori memberitahu orang-orang itu untuk segera membuka jalan untuknya.


"Hah!? Kau tersesat? apa yang kau lakukan di sini nak? ini adalah tempat penguasa di sini" ucap salah seorang yang maju dan mendorong Naori dengan tangannya.


"Aku tau ... di lihat dari jauh saja sudah kelihatan" ucap Naori yang kemudian memadatkan Magic Power di tangannya.


"Beraninya kau- ..."


Duar!


Tempat itu meledak dan membuat Pingsan beberapa orang yang menghadang Naori, "Mengumpulkan lalu melepas semuanya, Kapten Yola memiliki sebuah Skill yang bagus" gumam Naori.


Ting!


[Skill Magic Explosion telah di peroleh]


[Skill telah di tambahkan ke daftar Skill]


Naori langsung masuk dengan santai setelah membuat ledakan itu dan segera menuju pintu dari rumah besar itu lalu mendobraknya.


Duar! Pintu itu habcur dan menimbukkan banyak asap, terlihat sosok Hamka yang waspada dari balik pintu dan dan bersiap untuk segera menyerang, "Hentikan Hamka!" ucap Naori dari luar dan memperingatkan Hamka


"Tuan!" hamka yang mendengar suara Naori langsung mengenali suara itu dan memanggilnya tuan lalu menyambutnya.


"Maafkan saya tuan, ada kebutuhan apa anda sampai datang ke sini?" ucap Hamka sedikit membungkuk di hadapan Naori.


"Lihat orang-orangmu! apa kau tidak bilang kalau aku adalah penguasa di sini? walau dari balik bayangan" gumam Naori.


"Maaf tuan, saya akan segera mendisiplinkan mereka" jawab Hamka.


Lalu Hamka memberikan kode dengan tangannya kepada para pelayan yang melihat kejadian itu untuk segera menyiapkan perjamuan.


"Lewat sini tuan! saya akan memandu anda ke ruang makan" ucap Hamka mempersilahkan Naori dengan tangannya.


"Baiklah" ucap Naori dengan ekspresi heran seraya berkata di dalam hatinya "Apa aku terlalu di hormati di sini?" batin Naori.


Sesampainya di ruang makan, Naori duduk di kuri yang paling mewah dengan Hamka yang duduk di sampingnya, terlihat para pelayan mondar-mandir menyiapkan banyak makanan untuk melayani Naori yang baru sampai.


Naori hanya diam dan memejamkan matanya sambil menunggu para pelayan menyiapkan perjamuan dan meletakkan seluruh makanan di meja itu.


Selesai mempersiapkan makanan, para pelayan minggir dan berdiri di pojok ruangan itu melihat Naori dan Hamka yang duduk di kursi, ada dua pelayan yang berdiri di belakang Naori dan Hamka masing-masing satu untuk melayani.


Lalu Naori mulai membuka matanya dan mulai berbicara kepada Hamka, "Hamka ..."


"Iya tuan"


"Aku ingin menanyakan sesuatu" ucap Naori dengan ekspresi seriusnya.


"Tanyakan saja tuan! saya akan menjawab seluruh pertanyaan tuan" ujar Hamka menjawab Naori.


"Apa ... kau tau sesuatu soal Soul Power!?"


To be Contiuned*