
Insiden Bus Meledak!
"Apa kau bilang? kapasitas Energy Dimensional penuh!?" ucap Naori di dalam hatinya.
[Benar Master]
[Sebentar lagi Main Quest akan segera muncul]
Naori yang diam membeku tidak bergerak membuat Kaori berinisiatif untuk mencoba menggerakkan kakaknya yang sepertinya melamun.
"Kak ..." ucap Kaori sembari memegang tangan kakaknya dan bertanya "Ada apa?"
"Aahh ..." Naori tersadar setelah Kaori memegang tanganya dari perasaan kaget karena adanya Quest utama.
"Aku tidak apa-apa Kaori, ayo segera pergi!" ajak Naori dan segera berjalan membuka pintu untuk pergi ke luar.
"Ada apa dengan kakak?" batin Naori yang mulai berjalan dan mengikuti kakaknya pergi ke luar rumah.
Mereka berdua pergi dari rumah itu dan mulai berjalan ke Halte bus untuk menuju kota.
Setelah menunggu beberapa menit di Halte, akhirnya bus yang di tunggu sampai, Naori dan Kaori memasuki bus itu dan berdiri karena tidak ada tempat duduk yang tersisa.
Ting!
[Skill Fate of Blessing aktif]
Naori yang mendengar notifikasi System mulai waspada dan melihat orang-orang di sekitarnya dengan tatapan tajam.
[Master, bahaya! ada seseorang di bus yang membawa sebuah peledak!]
"Di mana dia?" ucap Naori di dalan hatinya untuk bertanya di mans keberadaan orang yang mengancam.
[Orang itu di depan dengan tas berwarna hitam Master]
Summon: Soul Knight
Cahaya hijau muncul dan bergerak ke arah kerumunan orang-orang yang ada di depan.
"Orang ini ya?"
... Naori menggerakkan jari-jarinya dan mengarahkan jarinya ke dada dan Jleb! Cahaya hijau itu berubah menjadi tangan Bahemoth dan menembus dada dari orang yang membawa bahan peledak.
"Kyaa!" teriakan orang di depan terdengar dan bus yang tadinya melaju langsung berhenti, orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berlari ke luar dari bus dan segera pergi menyelamatkan diri.
"Kak ..." Kaori meremas baju Naori dengan tangan yang gemetaran, Naori yang merasakan tangan Kaori yang gemetaran dan takut dengan kejadian yang ada di depan mengelus kepala adiknya dan berkata "Ayo keluar!"
Lalu Naori menutup mata adiknya dan berkata "Pegang tangan kakak!"
Di saat seluruh orang berlari, Naori dan Kaori berjalan perlahan dan segera keluar.
Saat melewati mayat orang itu, Naori menatapnya dengan tajam dan segera kembali berjalan ke luar menuntun adiknya.
[Master, tas itu akan segera meledak!]
"Apa!?"
Naori langsung mengeluarkan dua kertas Skill yang di berikan Bibi Cyren dulu dan merobeknya, pelindung dari Magic Power terbentuk menyelimuti Naori dan Kaori.
"Lompat Kaori!" teriak Naori yang memperingati adiknya untuk segera melompat keluar dari bus.
Duar! bus itu meledak dan melukai orang-orang yang masih berada di dekat bus itu, Naori yang sudah memasang pelindung hanya terpental jauh dengan dirinya yang memeluk tubuh adiknya.
"Ugh* ... Kak!"
"Tenang Kaori! kita selamat" ucap Naori kepada Kaori yang ada di pelukannya.
Pelindung yang menyelimuti keduanya nenghilang, lalu Naori melepaskan pelukannya dan segera berdiri lalu mendekat ke arah orang-orang yang terkena ledakan itu karena masih berada di dekat bus.
"Pak! ... kau tidak apa-apa?" ucap Naori sembari menggerakkan tubuhnya.
Lalu Naori mencoba mengecek detak jantungnya dan memeriksa nafasnya seraya berkata "Dia pingsan"
Lalu Naori mendekati orang tua yang tergeletak di dekat bus, "Nek! ..." Naori mengecek detak jantungnya.
Lalu Naori mengecek nafasnya dan terkejut bahwa nenek itu sudah tidak bernafas, lalu Naori menggabungkan tangannya dan menekan dada nenek itu dengan posisi tangan yang tegak ke atas.
Hup* Hup* Hup*
Naori menekan dada bagian kiri nenek itu untuk memompa jantungnya yang sudah berhenti berdetak.
"Kumohon ..."
Setelah beberapa lama Naori menekan dada nenek itu untuk mencoba menyelamatkannya, banyak orang mulai mendekat dan membantu para korban yang terkena ledakan.
"Nak, apa yang terjadi dengan nenek itu? apa yang kau lakukan nak!?" tanya seseorang di belakang Naori.
Naori yang fokus menyelamatkan nenek itu mengabaikan pertanyaan orang di belakangnya dan mencoba menekan dada nenek itu lebih kuat.
"Kumohon!"
"Hah ..." Nenek itu tersadar dan membuka matanya, namun kembali pingsan, Naori mengecek detak jantungnya dan nafasnya.
"Berhasil ..."
Naori duduk dan menghela nafas lega seraya berkata "Syukurlah"
"Kau berhasil menyelamatkannya nak! apa yang kau lakukan? aku merasakan kalau nenek itu sudah mati tadi, bagaimana caramu membuat dia bisa hidup kembali?" tanya orang itu.
Naori menyeka keringat yang ada di dahinya lalu menjawab pertanyaan orang itu "Aku hanya membantu jantungnya memompa darah ke seluruh tubuh agar otak dan jantungnya kembali bekerja" jawab Naori.
"Jadi begitu, bisakah kau mengajarkanku apa yang baru saja kau lakukan itu?" tanya orang itu.
"Bisa, namun aku harus segera pergi ke kota jadi aku tidak bisa untuk sekarang"
"Aku yakin, ilmu pengobatan di sini tidak menggunakan ilmu seperti di bumi karena mereka mengandalkan Magic Power" batin Naori yang menebak.
"Perkenalkan, aku dokter Wang Xiu di rumah sakit Distrik 17" ucap orang itu memperkenalkan dirinya.
"Aku Naori Asake" ucap Naori.
"Bisakah kita bahas itu nanti? masih banyak orang yang terluka" ujar Naori.
"Kau benar nak, sudah tugasku sebagai dokter untuk merawat mereka" ucap dokter Wang dan mendekati nenek yang baru saja di tolong oleh Naori.
"Heal"
Luka bakar akibat ledakan yang ada di tubuh nenek itu langsung sembuh, Naori yang melihat orang ini menyembuhkan nenek itu secara instan berkata di dalam hatinya "Itukan Healer! jangan menganggap dirimu dokter jika aku mengandalkan Magic Power sialan!"
Raut wajah Naori langsung berubah, dan langsung berkata kepada dokter Wang "aku akan meletakkan nenek ini di sana, tolong bantu korban yang lain pak"
"Baiklah, tolong jaga nenek ini" ucapnya.
"Jangan bercanda, aku akan segera pergi dari sini setelah membawa nenek ini ke tempat yang aman" Batin Naori.
Lalu Naori menggendong nenek itu di pundaknya dan meletakkannya bersandar di sebuah tiang yang ada di sana.
"Ayo pergi Kaori! hanya ini yang bisa kita lakukan" ajak Naori kepada adiknya.
Kaori mengangguk sembari melihat nenek yang di gendong oleh kakanya dengan tatapan murung, Lalu Kaori berlari dan menyusul kakaknya yang sudah berjalan pergi seraya berkata "Kak, kenapa kakak tidak membantu mereka lagi?"
"Karena sudah ada dokter yang membantu di sana" jawab Naori.
"Tidak! bukan Dokter, melainkan Healer" batin Naori.
"Oohhh begitu" guman Kaori.
Lalu keduanya pun berjalan pergi dan kembali ke Halte bus sebelumnya dan menunggu bus yang selanjutnya, Lima belas menit berlalu, keduanya menunggu hingga bus muncul dan membawa mereka ke kota.
Setelah bus yang di tunggu sampai, mereka pun masuk dengan Kaori yang masih takut dan menggengam baju kakaknya.
"Jangan takut! ada kakak di sini" ujar Naori seraya mengelus kepala adiknya untuk menenangkannya dari ketakutan yang sebelumnya terjadi di bus yang meledak.
Keduanya pun naik ke dalan bus itu hingga akhirnya sampai di Halte bus di kota yang penuh dengan padatnya orang-orang yang berjalan kesana dan kesini.
To be Contiuned*