
"Mas tenangkan emosimu..."
bujuk Dewi.
Akhirnya mereka pun melanjutkan perbincangan diruang tamu bersama Rindu.
"Rindu.
kata Dewi berusaha membuka pembicaraan.
"Ya ma..
kata Rindu
"Begini Rindu. Kami sebenarnya tidak ingin kamu tinggal di rumah ini.
" Engkau tahu. Keluarga kami ialah terpandang dan dengan kondisimu seperti ini akan membuat berita buruk bagi keluarga kami.
kata Dewi dengan lembut.
Rindu tampak kesal.
Ia ingin sekali melawan namun dengan posisinya sekarang tidaklah mudah.
"Tapi ma. aku tidak akan pergi keluar rumah.
"Aku akan tetap dirumah sehingga tak ada orang yang tahu.
ujar Rindu berusaha tenang.
Agung pun berdehem.
Ia begitu marah tampak dari wajahnya yang dingin.
"Rindu cobalah mengerti.
"Papa Reino mempunyai banyak relasi bisnis yang terkadang datang berkunjung ke rumah ini.
"Masa iya. Kamu harus bersembunyi dikamar sepanjang waktu. Itu tidak bagus untuk calon bayimu.
kata Dewi lagi berusaha memberi pengertian.
Akhirnya Rindu menyerah. Ia akan segera pergi.
Ia pun minta diperbolehkan menginap untuk semalam saja sampai Reino datang dan membawa Rindu ke tempat yang lebih baik.
Di apartemen Reino.
"Terrttt... terrttttt..
terdengar bunyi getaran ponsel Reino beberapa kali membuatnya terbangun.
Kali ini Reino sangat tidak bersemangat melakukan apapun.
Ia tidak pergi keperusahaan papanya.
Hanya dengan memikirkan pertunangan dengan Rindu membuatnya frustasi.
Jam telah menunjukkan tengah hari.
Ia bangun dari tidurnya dan bersiap untuk makan karena belum diisi sama sekali.
Dilihatnya ponselnya.
Ada beberapa panggilan dari nomor mamanya.
Juga hampir sepuluh kali dari Rindu sang tunangan.
"Apa yang mau diperbuat perempuan itu lagi..
pikirnya melihat begitu banyak panggilan darinya juga mamanya dengan waktu yang bersamaan.
Ia pun keluar dari apartemen dan mencari makan di sebuah restoran yang dekat.
Dikenakan kaos biasa dengan celana jean panjang dan tak lupa topi kebanggaanya.
Bila dilihat ia tak tampak berumur dua puluh tujuh tahun sekarang.
Saat berada di restauran terdapat beberapa kaum hawa melirik dan mencuri pandang kearah Reino.
Wajah tampan dengan tubuh yang atletis dan sedikit mempunyai bulu bulu tampak dari lengan kekar pria itu. Manik cokelat matanya sungguh membuat tatapan yang tajam da menghanyutkan bagi perempuan manapun yang menatapnya.
Banyak yang memandang hingga tak mengedipkan mata beberapa saat.
Begitu juga dengan pramusaji yang melayani Reino.
Namun semua itu tak diperhatikan oleh pemuda itu.
Yang ada dipikiran sekarang hanyalah Cinta.
Betapa rasanya ingin menemuinya sekarang namun masih ia tahan rindunya itu.
Ada sekitaran sejam ia menghabiskan makan siangnya. Kemudian ia menghubungi bawahannya yang diperintah untuk memata matai kebiasaan Rindu.
Maka dihubunginyalah ingin mendapat kabar apa mengenai perempuan itu.
"Halo Bos.
"Nona Rindu sudah keluar dari apartemennya sejak semalam.
kata bawahannya tersebut.
"Terus kemana perempuan itu pergi...
katanya dalam hati.
"Apakah pulang ke rumah ibunya atau..
pikirnya lagi.
" Maaf Bos
" Non Rindu pergi ke rumah tuan besar.
katanya melanjutkan laporannya kepada Reino.
"Apa....?!!!""
Reino berdiri dari tempat duduknya dan tampak marah.
"Berani sekali perempuan itu..!"
umpatnya dalam hati.
Dikepal tangannya dan berusaha untuk menahan emosinya.
"Bagaimana Bos. Apa perlu saya awasi selama dikediaman tuan besar..?
kata bawahannya lagi.
"Lanjutkan pekerjaanmu.
"Bila ada yang mencurigakan. Segera laporkan.."
perintahnya lagi setelah itu menutup ponselnya.
Reino kembali duduk di kursi dan masih dalam restauran tersebut.
Masuk sebuah pesan dari perempuan yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Rindu Cantika.
"Reino.
"Kau pasti sudah tahu sekarang aku dimana.
"Lekas kemari atau ku perlihatkan poto poto bugil kita kepada mama tercintamu sekaligus ku share di media sosial.😅
I love U 😘😙
Melihat isi pesan itu ingin ia bantik ponsel senilai pukuhan juta tersebut. Namun masih sadar masih dalam khalayak umum ia tak jadi emosi dan segera pergi bergegas kerumah orangtuanya tersebut.
Di dalam perjalanan.
Banyak yang ia pikirkan.
Aku harus punya rencana membuat perempuan itu menyerah pikirnya.
'Aku tak ingin melukai fisiknya karena mengingat ia mencintaiku. Ia adalah perempuan baik namun tak bisa menerima kenyataan pahit yang sebenarnya membuat dia nekat melakukan ini semua...
"Bukan perasaan tulus seperti yang kupikirkan ketika masa sekolah... Dia sudah berubah sekarang.."
kata hatinya.
"Rinduuu.. Kamu menganggap aku lemah.
"Aku diam karena aku masih menghargaimu.
"Mengingat kita pernah mempunya perasaan dulu tapi kini aku semakin muak dan jijik padamu...!"
gumannya lagi dengan emosi.