
Reino masih berkutat didepan laptopnya.
Ia masih saja sibuk. Padahal ia setahun di Paris belum pernah memiliki waktu bersantai.
" Akhirnya selesai juga... "
" Pertemuan besok dengan Mr.Luis harus berjalan lancar agar proyek pembangunn hotel yang di Saint Cruiz berjalan lancar.
gumannya sambil memeriksa kembali berkas berkasnya.
Tinggal seminggu lagi aku di negara ini.
Tak terasa aku sudah setahun disini.
Bagaimana kabar gadis kecilku itu.
Reino pun menghubungi bawahannya yang disuruh menjaga Cinta dan mengawasi gerak gerik gadis itu selama ini.
" Bagaimana semuanya aman.. ?
tanya Reino.
" Semua baik baik saja Pak.
" Gadis itu masih kuliah dan kelihatannya ada pemuda bernama Ruben akhir akhir ini sering mengunjungi kediaman gadis itu..."
lapor bawahan Reino.
Reino termenung sejenak.
" Baiklah. Ruben bukan orang berbahaya. Tetap awasi terus. Bila ada yang mencurigakan. Segera laporkan.
" Jangan biarkan gadis itu dalam bahaya. Dan ikuti terus kegiatannya..."
perintah Reino.
Ponselnya pun dimatikan
Reino pun mengambil sebatang rokok dan menghisapnya.
Ia duduk tepat disamping jendela ruangannya.
Ia memandang keluar.
" Betapa indah pemandangan kota ini.
" Sayang sekali aku tak punya waktu untuk menikmatinya walau sebentar..."
Pikirnya.
" Seandainya salah satu dari mereka Cinta maupun Rindu berada disini. Aku pasti senang. Dan ada yang menemaniku diakhir pekan ini..."
" Tapi kenyataannya aku sendiri.
" Seorang Reino yang masih memegang prinsip dan komitmen serta hatinya... Aku pun butuh penghiburan. Aku lelah bekerja terus.
batinnya.
Tak lama terdengar suara pintu.
" Tokk... Tok...!"
bunyi ketukan pintu.
Reino heran. Biasanya sekretarisnya memberitahunya melalui telepon bila ada klien atau tamu yang datang.
Mengapa ada yang langsung datang tanpa ada janji..
" Masuklah...!
jawab Reino penasaran.
" Surrprissee...!!
suara laki laki.
Dan seketika Reino tak percaya.
" Rintooo... !
" Kenapa datang kesiniii..?
" Sendiri..mana Sinta...?"
tanya Reino seakan tak percaya kedatangan sahabatnya itu.
Ia merasa senang dengan kedatangan sahabatnya itu.
Seperti harapannya terkabul.
Ia akan menghabiskan akhir pekan ini dengan sahabatnya. Ia butuh refreshing sejenak sebelum kembali ke Indonesia.
" Aku merindukanmu kawan... sudah setahun.. keihatannya kamu baik baik saja.
Dan lagi,
" aku curiga padamu Rei.... aku datang.. bukannya disambut nanya kabarku gimana... malah tanya Sinta pacarku.... ! sahut Rinto.
"Sudahlah Rin... kamu seperti anak TK saja.."
" Hilangkan sifat posesifmu yang berlebihan itu...!
dan lagi,
" Gimana kabarmu dan Sinta.. hubungan kalian masih baik baik saja kan...?" tanya Reino.
Rinto dengan wajah datar menjawab.
" Sedikit ada masalah Reii..
" Tolong bantu aku kali ini..
pinta Rinto.
" Aku sudah tahu maksudmu.. Pasti ada gerangan makanya kamu tiba tiba disini muncul tanpa memberitahuku...."
kata Reino lagi kesal.
Rinto pun menceritakan kegundahan hati mereka.
Ia berencana ingin melamar Sinta pacarnya tepat di depan menara Eifel biar romantis seperti drama romantis di film holywood.
" Trus masalahnya dimana..?
tanya Reino lagi.
Rinto pun berusaha mengutarakannya lebih jelas lagi.
" Sinta ingin dilamar didepan keluarga serta sahabat - sahabatnya. Kan tak mungkin aku sewa satu jet pribadi untuk rombongannya ke Paris semua, penginapan dan lainnya...?"
" Bangkrutttt tiga turunan aku...!
kesal Rinto mengingat semua permintaan pacarnya itu.
" Haa.. haa...!
tawa Reino mengingat Sinta memiliki keluarga besar. Dan lagi ia pandai bergaul. Sahabatnya lebih dari sepuluh orang .
Bila di perkirakan ada tiga puluhan orang semuanya dan sudah bisa buat tour travel.
Reino mendengar semua perkataan sahabatnya itu seketika tertawa lepas.
Sudah lama ia tak tertawa seperti ini.
Ia teringat terakhir kali gadis kecilnya yang selalu membuatnya tersenyum dan sesekali tertawa.
" Hemmm.. Cintaa lagi.. "
kata Reino pelan mengingat gadis itu.
" Heii.. Reii.. aku sedang menceritakan Sinta kok kau sebut Cinta. Dasar jomblo akuttt...! pada ketawa lagi..." Rinto mulai kesal.
Reino pun berhenti tertawa dan berkata.
" Cinta memang butuh usaha dan pengorbanan Rinto. Tapi kamu lupa dibalik semuanya itu butuh satu dukungan yaitu uang..."
" Jadi kamu butuh berapa...?
Reino pun mengeluarkan cek dari laci meja kerjanya.
" 1 milyarr...!
seru Rinto.
Deg.
" Kamprettt luu.. sama saja sekalian minta biaya nikah kalian dari aku....!! Reino melotot ke arah Rinto.
" Haaa... ha.... !
kali ini Rinto yang tertawa dan berbalik mengerjai sahabatnya Reino.