
" Hallo.. halo.."
Reino pun menghubungi nomor tak dikenal yang semalam sms kepadanya memberitahu keberadaan Rindu. Gadis yang sangat dicintai dan dirindukannya.
Tak ada sahutan dari nomor tersebut namun panggilan dari Reino diangkatnya.
" Tolong beritahu, apakah kamu mengenal Rindu. Mengapa saya harus ke sekolah kami dulu... Haloo.. " seru Reino kembali.
Kemudian telepon terputus.
Reino geram dan berguman dalam hati.
Mengapa semua menjadi teka teki.
Sejak kepergiaannya ke luar negeri tidak ada kabar dari Rindu. Sms bahkan telepon dari Reino tidak ada balasan.
Ketika itu Rindu masi duduk dibawah 1 tingkat dari Rey. Mereka selisih setahun.
Rindu adalah sosok gadis sederhana, pendiam dan lemah lembut. Warna kulitnya yang putih dan hidung mancung serta bibir tipis. Reino masih mengingat wajah gadis pujaan hatinya tersebut.
" Rindu.. maukah engkau menungguku.."
" Hanya 3 tahun dan aku akan kembali.."
Reino meyakinkan.
" Aku akan melamarmu dan meyakinkan orangtuaku bahwa engkaulah pilihanku.. "
ujar Reino meyakinkan lagi.
Rindu menangis dan tak tahu harus memberikan jawaban apapun.
Hatinya sakit dan sedih karena sosok pemuda yang selama inu menjadi sandaran dan pelindung baginya harus pergi melanjutkan kuliah ke luar negeri.
Mereka pun berpelukan. Saling menangis dan Reino mengecup kening Rindu.
" Janji harus di tepati Reino.. "
" Kemanapun engkau pergi dan jauh dariku, Engkau harus mengingatku dan mencintaiku. Hanya Aku tak ada yang lain.
" Dan satu lagi, bila suatu saat aku tidak seperti Rindu yang engkau kenal, ku mohon tetap jadi Reino yang ku kenal. Jangan berubah.. tetaplah mencintaiku.."
Dan tiba saatnya Reino pergi ke luar negeri.
Di satu sisi gadis pujaannya menangisi kepergian Reino di sebuah kamar mewah dan elite.
Bukannya Rindu menangis karena tak berani mengantar keberangkatan Reino namun Rindu menangisi suratan nasib yang kejam dalam hidupnya yang memisahkannya dengan Reino.
" Rindu... sungguh aku merindukanmu ."
ujar Reino dalam hatinya saat pesawat sudah melaju.
Kata-kata terakhir yang Rindu ucapkan masih terus terngiang diingatan Reino sampai sekarang.
Namun Reino tidak begitu memahami maksud dari perkataan Rindu saat itu.
"Rindu yang tidak di kenal"..
mana mungkin batin Reino aku mencintaimu.
Reino menatap keluar jendela kamarnya.
Ia menatap sosok gadis yang menabraknya tadi pagi. Dan kebetulan sekali mereka tetangga dan Reino mengajar di kelasnya.
Dia membaca buku pelajarannya.
Membolak balik buku pelajarannya.
Dia hanya punya waktu belajar jam 10 malam setelah ia usai membantu pekerjaan rumah.
Pulang sekolah Cinta harus belanja kebutuhan katering bibinya. Setelah itu menyuci, menyetrika baju kemudian menyapu dan mengepel 2 lantai .
Ya rumah bibinya bertingkat.
Setelah pekerjaan selesai ia tidur jam 5-6 sore.
Sejam sudah sangat cukup. Karena setelah itu ia harus membantu bibinya mempersiapkan bahan -bahan yang akan dimasak besok pagi karena jam 4.30 Cinta bangun membantu Bibinya usaha katering dan tidak lupa mengantarnya ke beberapa langganan bibinya disekitar rumah mereka. Salah satunya Reino.
Cinta tak menyadari Reino sudah 1 tahun meyewa rumah di sebelah rumah bibinya dan menjadi tetangga mereka. Selama ini bibinya yang mengantar makanan untuk sarapan dan makan malam untuk Reino.
" Cinta tolong bantu bibi antar ini kerumah sebelah.." pinta bibinya.
" Bii.. sejak kapan ada yang pesan katering yang disebelah rumah kita..?. tanya Cinta
" Udah setahun belakangan ini... tapi bibi yang selama ini mengantar. "jawab bibinya.
" Sini bibi, biar saya antar.."
Cinta pun sekalian pamit kesekolahnya bersamaan mengantar makanan ke rumah kontrakan Reino.
Cinta tak pernah begitu memperhatikan Reino ketika Reino membuka pintu. Cinta memberikan makanan tersebut dan mengucapakan " Selamat Makan ya Om "
dan Reino membalas " Terima Kasih. Apakah saya sudah Om Om ".. ujar nya.
" Bukan begitu Pak.. " balas Cinta yang bingung harus memanggil apa.
"Maaf saya tak tahu harus memanggi apa.
" Dan saya tak salah kan memanggil Om atau Bapak karena selisih usia bapak jauh diatas saya.."
"Menarik. "
ujar Reino.
" Sampai jumpa kembali..." sahut Reino dan tersenyum.
" di kelas... batin Reino
Cinta bergegas dan pergi tanpa menghiraukan Reino yang memandanginya berlalu.