
Di restauran yang telah dijadwalkan Reino melihat Mr.Louis telah menunggunya.
" Silahkan duduk Reino.
ujar Louis menyapa laki laki tersebut yang usianya masih terpaut beberapa tahun dibawahnya
"Terimakasih Sir..
" Maaf saya terlambat.
balas Reino.
" Tidak apa. Saya yang datang terlalu cepat.
"Saya tiba disini tadi sore.
kata Louis sambil memanggil pelayan.
" Bagaimana proyek kita. Apakah berjalan sesuai rencana.. lanjut Louis.
" Ya Sir. Semua berjalan baik.
" Mungkin tiga hari lagi saya sudah balik ke Indonesia.
" Mungkin ini makan malam kita yang terakhir di sini.
ujar Reino.
"Jangan terburu buru Reino.
" Saya mengundangmu kemari karena ada proyek lainnya..
" Aku ingin mengajakmu kembali bekerja sama.
ujar Louis.
" Kerjasama bidang apa Sir... ?"
tanya Reino.
" Pelan pelan dulu.
"Kita nikmati saja jamuan makan malam ini.
kata Louis sambil tersenyum.
Merekapun menyantap hidangan makan malam.
Sesekali mereka membahas proyek mereka yang telah terlaksana.
" Rinduu..
" Bagaimana kabarmu..
Deg.
Tak lama Reino pun tersedak.
Ia kemudian mengambil air minumnya.
Ia menoleh tepat dibelakangnya.
Ia barusan mendengar suara laki laki yang menyebut nama Rindu.
Laki laki yang berperawakan tampan dan ideal seperti bos besar.
Siapa lagi kalau bukan David.
Tapi Reino tak mengenali pria tersebut dikarenakan David mengenakan kacamata hitam dan mulai brewokan.
Sementara Rindu tepat membelakangi Reino. Punggung mereka berada dalam jarak beberapa meter saja.
" Ada apa.. Reino.
tanya Louis kebingungan dengan sikap dan raut wajah Reino.
Reino pun kembali memasang wajah biasa dan mebalas pertanyaan Louis.
" Tidak apa Sir.
" Makanan ini sungguh enak rasanya belum pernah ada di Indonesia.
" Saya belum pernah makan ini sebelumnya. ujar Reino sedikit berbohong.
" Mungkin laki laki itu merindukan kekasihnya.. makanya mengatakan rindu...mana mungkin Rindu disini..." batin Reino.
Reino pun kembali menyantap makanannya
" Bagaimana bila bisnis restauran...?
tawaran Louis ke Reino.
" Tidak di Prancis.
" Tapi Indonesia.
kata Louis lagi
"Baiklah Sir. Saya akan pikirkan lagi.
" Tapi saya butuh liburan dari semua pekerjaan saya sementara ini.. ujar Reino.
" Oke. Saya menunggu kepastian darimu setibamu sampai di indonesia.. ujar Louis.
Sementara di tempat duduk lainnya Rindu masih tidak percaya dengan kehadiran David.
" Dav.. jawab pertanyaanku.. pleaseee...!
" Angin apa yang membawamu kemari..
tanya Rindu.
" Sudah kubilang aku merindukanmu Miss Sheila alias Rindu Cantika..
" Aku baru sampai tadi pagi dan kau tidak bertanya bagaimana kabarku... kau kejam Rindu .. ujar David sedih.
Ya David mempercepat jadwal keberangkatannya. Ia tak sabar menunggu minggu depan. Dan ia ingin memberi kejutan kepada Rindu akan kedatangannya.
Kenapa dipercepat.
Ya karena hari ini adalah hari ulang tahun Rindu.
Pemuda itu tak ingin Rindu melewati hari ulang tahunnya sendiri.
Ia ingin menjadi yang orang yang spesial di hati gadis itu saat ini.
Tak lama David menjentikkan jarinya dan memberikan kode.
Kemudian muncul pelayan membawa menu hidangan penutup.
" Ice Cream..
ujar Rindu pelan.
Lalu kata David,
" Makanlah pelan pelan. Bukankah ini makanan favoritmu...?"
Kemudian Rindu memakan es krem perlahan.
Saat suapan ketiga ia merasa ada yang aneh. Ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Deg.
" Cincin..
suara Rindu pelan.
Lalu datanglah beberapa pemain musik biola dan memainkan lagu selamat ulang tahun.
" Surprisee...!!
" Selamat ulang tahun Rindu..
" Itu hadiah dari ku ..
kata David.
Rindu merasa lupa bahwa ini adalah hari ulang tahunnya. Ya ia merasa terkejut dan sekaligus bahagia. Masih ada David yang mengingat dan memberikan hadiah padanya.
" Dav.. aku suka dengan konsepmu ini..
" Terima kasih tapi cincin ini.. cincin berlian yang bagus dan keluaran terbaru.
" Aku tidak bisa menerimanya...
suara Rindu pelan.
Pemuda yang berada dihadapan Rindu tersebut heran dengan sikap Rindu.
Kemudian David bertanya.
" Kenapa Rindu.
" Itu hadiah ulang tahunmu dan itu hanya sebuah cincin.. kenapa tidak bisa menerimanya.
Rindu pun membalas perkataan David.
" Ya bagimu ini hanya sebuah cincin.
" Tapi bagiku seperti lamaran.
" ya lamaran cinta darimu.
" Dan lagi...
" Aku menolakmu..
Deg.
Wajah pemuda itu berubah dingin.