Forever Love

Forever Love
Pernyataan Cinta



Selepas dati tidur mereka berdua pun mulai berbenah. Reino mengantar Cinta kembali ke hotel.


Dalam perjalanan di mobil banyak pertanyaan yang diajukannya kepada gadis itu.



" Mengapa kau datang kemari Cinta.. ?"


" Apakah kau diam diam mencari tahu keberadaanku dan ingin bertemu denganku..?"


Pria itu tersenyum dan memandanginya sesekali.



Cinta pun menatap Reino dengan tatapan yang sungguh membuat pria itu semakin menyukainya.



" Beasiswa.


katanya Cinta nada ketus.



Reino pun mulai mencari pertanyaan lain lagi.


" Mengapa kita tinggal di hotel yang sama tapi tak pernah bertemu sama sekali..?"



Cinta pun memikirkan jawabannya,


" Karena kita tidak saling memiliki ikatan.


kata gadis itu lagi.



Reino pun menghentikan monilnya karena mereka sudah sampai di parkiran hotel. Ia menatap gadis itu dekat hingga membuat Cinta semakin salah tingkah.



" Apa yang mau kau lakukan lagi Reino.


" Jawabanku kan benar. Seandainya kita memiliki ikatan sejak dulu pasti kita saling memberi kabar satu sama lain. Kita tidak mungkin bertemu seperti ini.


ujar gadis itu pelan.



Reino semakin mendekatkan wajahnya dan ingin menutup bibir manis gadis itu tapi masih bisa di tahannya.



" Kita memiliki sesuatu sejak dulu gadis kecilku. Hati ku sakit saat kau meringis kesakitan. Dan mataku perih saat kau menangis.


ujar Reino membenarkan duduknya kembali.



"Itu hanya kebetulan . Kau kasihan padaku Reino.


jawab Cinta lagi.



Reino mulai kesal dengan perasaannya sendiri.



" Ya aku memang kasihan padamu. Tapi kau meninggalkan secarik kertas dikamar mandi memberi petunjuk supaya aku datang menyelematkanmu.


" Apakah itu suatu ikatan atau kebetulan saja aku datang...?"


kata Reino lagi.



Cinta tak mampu menjawab.


Ia merasa sudah kalah. Ya ia sangat percaya saat itu pasti akan ada yang menolongnya dengan meninggalkan petunjuk. Tapi mengenai Reino yang akan datang. Itu diluar kendalinya Memang mereka memiliki ikatan.



" Mungkin memang ini suatu kebetulan saja


guman gadis itu pelan.




" Apa kebetulan..?"


kata Reino mendengar gumanan Cinta.



" Cinta tidak kah kau tahu aku sungguh memikirkanmu setahun ini. Aku merindukanmu. Aku selalu menyibukkan diriku dengan semua pekerjaan itu. Aku juga ingin kau menjadi...."


Reino tak melanjutkan lagi perkataannya.



kata Cinta menatapnya penuh harap.



Reino tak berani.


Ia masih saja seperti Reino yang dulu.


Ia masih khawatir akan perasaannya kepada Cinta bila suatu saat Rindu kembali.


Apakah perasaanya itu selamanya atau hanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan Rindu.



" Baikah. Bila aku bukan siapa siapa di hatimu. Tapi jangan buat aku seperti ini. Kau merindukanku tapi bagaimana aku tahu itu. Kau mengganti nomormu. Aku telah berusaha hidup tanpa bayangmu lagi Reino. Bila aku hanya sesaat bagimu. Kita akhiri saja disini semua."


Cinta mulai berterus terang. Ia tak ingin dilema ini berkepanjangan.



Reino pun merasa hatinya bersalah.


Ia sungguh tak ingin membuat gadis di sebelahnya menjadi bersedih.



" Maafkan aku.


kata Reino menggenggam tangan mungil Cinta.



" Aku yang bersalah padamu. Aku akui aku menyukaimu tapi tak berani berterus terang selama ini.


" Aku yang pecundang.


katanya lagi.



Cinta meneteskan airmata. Ia tak tahu bagaimana menjawab dilema ini.



Tanpa berpikir lama lagi Reino mencium bibir gadis itu.



" Jangan menangis.


" Aku akan menciummu dan tak melepaskannya. Berhentilah.


ujar Reino pelan.



Cinta menghentikan tangisnya dan memeluk Reino kuat.



" Aku mencintaimu Reino. Aku merindukanmu hingga sekarang.


balas Cinta.



" Ya aku mencintaimu juga gadis kecilku. Aku merindukanmu lebih dari yang kau tahu.


balas Reino sambil mengecup kening gadis itu dan mengusap rambutnya.



Adegan itu sungguh romantis tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka disisi mobil lainnya.



" Reinooo..


guman orang itu pelan menatap mereka.








"